Sampai-sampai diceritakan bahwa beliau menangis karena sangat takutnya. Kemudian Allah mengutus malaikat Jibril kepada beliau. Jibril berkata: “Wahai Ibrahim! Apakah Anda pernah melihat seorang kekasih yang menyiksa kekasihnya sendiri dengan api?” Beliau menjawab: “Wahai Jibril! Bila mengingat dosaku, maka aku pun lupa dengan belas kasih-Nya.”
Lalu Nabi Musa bin Imran a.s. Beliau tidak melakukan kesalahan selain satu tamparan untuk seseorang. Berulangkali beliau merasa takut, merendahkan diri dan meminta ampun. Beliau berkata:
Artinya: “Ya Tuhan! Sesungguhnya aku telah berbuat zalim kepada diriku sendiri, karena itu ampunilah aku.”
Di masa (Nabi Musa a.s.) itu pula hidup seorang Bal am bin Ba’ura yang jika memandang ke langit ia dapat melihat Arasy, Dialah yang dimaksud dalam firman Allah:
Artinya: “Dan bacakanlah untuk mereka kisah tentang seseorang yang Kami beri tanda-tanda kebesaran Kami dan ia melepaskan diri darinya.” (OQS. Al-A’raaf: 175)
Dia tidak melakukan kesalahan selain hanya merasa condong kepada dunia dan penghuninya serta meninggalkan (tidak menghormati) seorang kekasih-Nya (yakni Nabi Musa a.s.) Lalu Allah mencabut kemakrifatannya dan menjadikannya seperti seekor anjing yang terusir.
Lalu Allah berfirman:
Artinya: “ Perumpamaannya (Bal’am) adalah seekor anjing. Jika kamu mengejarnya maka iaakan menjulurkan lidahnya.” (Q.S. Al-A’raaf: 176)
Allah menjerumuskannya ke dalam lautan kesesatan dan kehancuran untuk selamanya. Sampai pernah kudengar seorang ulama mengatakan bahwa pada mulanya jika Bal am mengajar di suatu majlis, di situ terdapat dua belas ribu tempat tinta yang dipergunakan oleh murid-muridnya untuk menulis ilmu darinya. Lalu dia menjadi orang pertama yang mengarang sebuah kitab yang di dalamnya tertulis bahwa dunia ini tidak ada yang membuat.
Kita memohon perlindungan kepada Allah dari kemurkaanNya, siksaan yang pedih dan penghinaan dari-Nya yang kita semua tidak akan mampu menanggungnya.
Kemudian lihatlah keburukan dunia. Dengan apa mereka menarik para ulama pada khususnya.
Ingatlah bahwa urusan dunia ini sangat mengkhawatirkan, sedangkan usia ini amatlah pendek. Di dalam amal banyak terdapat kekurangan sedangkan yang Maha Mengintai selalu mengawasi.
Jika Allah mengakhiri amal-amal kita dengan kebaikan dan menghapus kesalahan-kesalahan kita, maka hal itu tidaklah sulit bagi-Nya.
Kemudian kisah Nabi Daud a.s. yang menjadi khalifah Allah di muka bumi. Beliau melakukan sebuah kesalahan lalu beliau menangisi hal itu sampi-sampai tumbuh rumput dari air matanya. Beliau berkata: “Ya Tuhanku! Adakah Engkau tidak merasa kasihan dengan tangis dan tadharru’ (perendahan diri)ku?”
Lalu ucapan tersebut dijawab: “Wahai Daud! Kamu melupakan dosamu dan mengingat tangismu.” Kemudian tobat beliau tidak diterima oleh Allah selama empat puluh hari. Bahkan ada yang mengatakan empat puluh tahun.
Lalu kisah Nabi Yunus a.s. Beliu satu kali merasa marah yang tidak pada tempatnya dan Allah mengurung beliau dalam perut ikan di dasar laut selama empat puluh hari. Kemudian beiau memanggil-manggil:
Artinya: “Sesungguhnya tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Para malaikat mendengar suara beliau dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami! Kami mendengar suara yang telah kami kenal dari sebuah tempat yang tidak kami ketahui.”
Allah berfirman: “Itu adalah suara hamba-Ku Yunus.” Lalu ara malaikat memohonkan pertolongan untuk beliau. Dan karena itu semua, Allah mengubah nama beliau dengan nama “DzunNuun”. Sebuah nama yang disandarkan pada tempat di mana beliau dikurung. Lalu Allah berfirman:
Artinya: “Lalu ia (Yunus) ditelan ikan, sedangkan ia dicela (karena melakukan sesuatu yang tidak pada tempatnya). Seandainya ia tidak termasuk orang yang mensucikan Tuhannya, niscaya ia akan tinggal di dalam perut ikan sampai hari semua orang dibangkitkan.”
Setelah itu Allah menyebutkan kenikmatan dan karunia-Nya. Dia berfirman:
Artinya: “Seandainya ia tidak tersusul oleh kenikmatan dari tuhannya, niscaya ia akan dibuang di tempat yang kosong dan menjadi orang tercela.”
Lihatlah siasat semacam ini, hai orang yang perlu dikasihani!
Begitulah yang terjadi, sampai apa yang terjadi pada penghulu (pemimpin) para rasul, makhluk Allah yang paling mulia. Allah berfirman kepada beliau:
Artinya: “Istiqamahlah sebagaimana kamu diperintahkan. Orang-orang yang bertobat ada bersamamu dan janganlah kamu semua melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.”
Bahkan Nabi Saw. pernah bersabda:
Artinya: “Surat Huud dan sejenisnya membuat kepalaku beruban.”
Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Nabi Saw. adalah ayat ini dan yang sejenisnya di dalam Al-Qur’an.
Kemudian Allah berfirman:
Artinya: “Dan mohonlah ampunan dari dosamu.” (Q.S. Al-Mu’ min: 55)
Sampai kemudian Allah mengaruniakan ampunan untuk beliau dan berfirman:
Artinya: “Dan kami hilangkan darimu dosa yang memberati punggungmu.” (Q.S. Al-Insyiraah: 2-3)
Dia juga berfirman:
Artinya: “Supaya Allah mengampuni dosa yang telah kamu kerjakan dan yang akan kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Fath: 2)
Setelah kejadian itu beliau selalu melakukan salat malam sampai kedua kaki beliau membengkak.
Para sahabat bertanya: “Kenapa Anda melakukan semua in wahai Rasulullah. Padahal Allah telah mengampuni dosa yang telah Anda kerjakan dan yang belum Anda kerjakan.”
Beliau menjawab: “ Apakah aku tidak pantas menjadi seorang hamba yang bersyukur? Lalu beliau bersabda:
Artinya: “Seandainya aku dan Isa bin Maryam a.s. disksa lantaran dua orang ini, tentu kami akan disiksa dengan siksaan yang belum pernah ditimpakan pada seorangpun di seluruh jagad raya ini.”
Beliau menjalankan salat malam, menangis dan berdoa:
Artinya: “Aku berlindung dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, dengan rida-Mu dari kemarahan-Mu. Dan aku berlindung kepadaMu dari siksa-Mu. Tidak terhitung pujianku untuk-Mu seperti Engkau memuji pada Dzat-Mu.”
Perhatikan juga para sahabat yang hidup pada masa yang paling baik dan berada di tengah umat terbaik pula. Mereka tidak banyak bercanda. Kemudian turunlah firman Allah:
Artinya: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk dalam hati mereka karena mengingat Allah?” (Q.S. Al-Hadiid: 16)









One Comment