Yang terbaik adalah jalan yang terbentang di antara keduanya. Orang yang terlalu berharap akan menganggap bahwa dosa itu tidak berbahaya, bahkan dikhawatirkan ia akan menganggap semua yang diharamkan oleh Allah boleh dikerjakan, karena menganggap semua dosanya bakal diampuni. Orang yang terlalu takut tidak akan memiliki harapan. Artinya ia menjadi putus asa. Jadi, yang dimaksud di sini adalah jalan tengah, tidak boleh menitikberatkan pada salah satunya. Karena pada hakekatnya harapan sejati tidak lepas dari rasa takut dan ketakutan sejati tidak akan lepas dari berharap. Oleh karena itu, ada yang mengatakan bahwa harapan itu hanya dimiliki oleh orang yang merasa nyaman dan rasa takut hanya dimiliki oleh orang yang memiliki harapan, bukan orang yang putus asa.
Jika Anda bertanya: “ Apakah salah satu dari keduanya lebih unggul dari yang lain? Atukah salah satunya harus lebih banyak diingat karena suatu keadaan tertentu?”
Ketahuilah! Jika seorang hamba berbadan sehat dan kuat, maka yang terbaik baginya adalah rasa takut. Tapi jika ia sakit dan lemah, apalagi menjelang kematiaannya, maka yang terbaik baginya selalu berharap.
Begitulah yang kudengar dari pembicaraan para ulama.
Menurutku (Al-Ghazali) pendapat seperti itu berdasarkan firman Allah (dalam Hadis Qudsi):
Artinya: “Aku berada di sisi orang yang hatinya hancur karena takut kepada-Ku”
Maka jadilah harapan lebih baik baginya pada saat itu, karena hatinya telah remuk dan ketakutan yang dilakukannya telah ia jalani saat masih sehat, kuat dan mampu. Karena itulah dikatakan kepada mereka: “Janganlah kalian merasa takut dan bersedih hati.”
Jika Anda bertanya: “Bukankah telah banyak hadis yang menerangkan tentang berbaiksangka kepada Allah dan imingiming dalam hal itu?”
Ketahuilah bahwa termasuk di dalam berbaiksangka kepada Allah adalah berhati-hati (menjauh) dari maksiat, takut mendapat siksa-Nya dan bersungguh-sungguh dalam melayani-Nya?
Perlu pula diketahui bahwa dalam hal ini ada dua masalah yang sangat prinsip dan juga keterangan yang penting. Banyak Sekali orang yang keliru memahaminya, yakni perbedaan antara harapan” dan “hayalan”.
Harapan adalah sesuatu yang menyangkut persoalan yang mendasar, sedangkan hayalan sama sekali tidak menyangkut masalah itu. Sebagai contoh ada orang menanam padi. Ia bersungguh-sungguh dan mengumpulkan tempat mengerik padi lalu berkata: “Aku berharap mendapatkan seratus karung darinya”. Maka bagi orang tersebut ucapan itu adalah raja’ (harapan).
Ada lagi orang yang sama sekali tidak menanam padi, tidak mengerjakan sesuatupun barang sehari, laluia pergi tidur. Ia lalai sepanjang tahun dan bila tiba waktunya panen ia berkata: “Aku berharap mendapatkan seratus karung dari tanaman tersebut.” Lalu orang itu ditanya: “Dari mana datangnya harapanmu itu?” Sungguh ini adalah sebuah hayalan yang tidak mendasar.
Begitu juga seorang hamba. Jika ia bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah, menjauhi maksiat dan berkata: “Aku berharap semoga Allah menerima amalku yang sedikit ini, menyempurnakan kelalaianku, membesarkan pahala dan mengampuni kesalahanku, Dan aku berprasangka baik kepadaNya.” Inilah yang dinamakan raja’ (harapan) darinya.
Akan tetapi jika ia lalai dari ibadah, tidak berbuat taat, melakukan kemaksiatan, tidak peduli dengan murka Allah, keridaan, janji dan ancaman-Nya, lalu tiba-tiba ia berkata: “Aku mengharapkan surga dari Allah dan terbebas dari neraka”. Maka itulah yang dinamakan hayalan. Tidak ada yang didapat darinya. Sedangkan orang-orang menyebutnya sebagai harapan dan berbaiksangka. Sungguh itu adalah sebuah kesalahan dan kesesatan,
Seorang penyair mengungkapkan artian semacam ini dengan syair sebagai berikut:
Kamu berharap bisa selamat dan tidak menempuh jalannya,
Sungguh tidak ada perahu yang berlayar di daratan.
Di antara yang menerangkan hal penting ini adalah hadis yang kami riwayatkan dari Nabi Saw. Beliau bersabda:
Artinya: “Orang yang pandai adalah orang yang merendahkan diri (nafsu)nya dan berbuat sesuatu sebagai bekal setelah mati. Dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti keinginan nafsunya dan berhayal tentang Allah azza wajalla.”
Dalam hal ini Hasan Al-Bashri berkata: “Banyak orang yang terlena dengan hayalan tentang ampunan sampai mereka keluar dari dunia dalam keadaan bangkrut dan sedikitpun tidak memiliki kebaikan. Kemudian salah satu di antara mereka berkata: ‘Sesungguhnya aku telah berbaik sangka kepada Tuhanku. Dan Dia telah berbohong.’ Seandainya ia benar-benar telah berbaiksangka kepada Tuhannya, tentu ia memperbagus amal untuk-Nya.”
Kemudian Hasan Al-Bashri membaca ayat:
Artinya: “Barangsiapa ingin bertemu (menghadap) Allah maka hendaklah ia beramal saleh.” (Q.S. Al-Kahfi: 110)
Diteruskan dengan membaca ayat:
Artinya: “Yang demikian itu karena kesalahanmu berprasangka kepada Allah, yang akan mencelakakan dirimu. Maka kamu (orangorang yang berhayal) termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S. Fushshilat: 23)
Diceritakan dari Ja’far Adh-Dhab’i rahimahullah. Beliau berkata: “Aku melihat Abu Maisarah. Ia adalah seorang ahli ibadah dan terlihatjelas tulang iganya karena sangat bersungguhsungguh. Aku berkata: ‘Semoga Allah merahmatimu, karena rahmat Allah itu luas. Beliau marah dan berkata: ‘Adakah kamu melihat tanda-tanda keputusasaan dari rahmat Allah pada diriku? Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat bagi orang-orang yang berbuat baik.”









One Comment