Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

Kami berlindung kepada Allah yang Maha Pemurah dari siksaan yang pedih. Ketiga, kiamat.

Dalam hal ini renungkanlah firman Allah Swit.:

Artinya: “ (Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka jahannam dalam keadaan dahaga.” (Q.S. Marayam: 85-86)

Lalu seseorang bangkit dari kuburnya. Tiba-tiba seekor Bourag telah ada di atas kubur dengan membawa mahkota dan pakaian (kebesaran). Maka ia pun segera berganti pakaian dan naik Bourag tersebut menuju surga yang penuh kenikmatan. Karena kemuliaannya ia tidak diperkenankan pergi ke surga dengan berjalan kaki.

Di lain tempat seseorang bangkit dari kuburnya. Tiba-tiba Malaikat Zabaniyah telah menghadang dengan belenggu dan rantai di tangannya. Orang yang celaka tidak akan dibiarkan pergi ke neraka dengan berjalan kaki melainkan diseret ke tengahtengah neraka Jahim dengan tertelungkup.

Kami memohon perlindungan kepada Allah dari murka-Nya.

Aku pernah mendengar bahwa ada seorang ulama yang menceritakan sebuah hadis dari Rasulullah Saw. Beliau bersabda:

Artinya: “Bila hari kiamat telah terjadi, maka akan ada sekelompok orang yang bangkit dari kubur. Mereka mempunyai onta yang dipergunakan sebagai kendaraan. Onta-onta itu memiliki sayap yang berwarna hijau dan membawa mereka terbang ke padang mahsyar sehingga ketika mereka sampai ke dekat dinding surga dan dilihat oleh para malaikat, mereka (para malaikat) bertanya satu sama lain, “Siapa mereka itu?” Yang lain menjawab, “Kami tidak tahu. Mungkin termasuk pengikut Muhammad Saw.’ Lalu salah seorang malaikat datang dan bertanya kepada mereka, “Siapakah kalian dan termasuk pengikut siapa?” Mereka menjawab, “Kami adalah pengikut Muhammad Saw.’ Para malaikat bertanya, “Apakah kalian telah dihisab?’ Mereka menjawab, “Tidak.” Para malaikat bertanya, ‘Apakah amal kalian telah ditimbang?” Mereka menjawab, “Tidak. Para malaikat bertanya, “Apakah kalian membawa buku (catatan amal) kalian?” Mereka menjawab, “Tidak.’ Para malaikat berkata, ‘Kembalilah! Semua itu berada di belakang kalian’ Mereka berkata, ‘Adakah Anda memberi sesuatu kepada kami untuk dihisab?.’”

Dalam hadis lain dikatakan:

Artinya: “Mereka berkata, “Kami tidak memiliki sesuatu yang menyebabkan kami berbuat adil atau menyeleweng, tapi kami beribadah kepada Tuhan kami sampai kami semua dipanggil dan memenuhi panggilan-Nya.’ Kemudian terdengar seruan, ‘Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku itu benar. Tidak ada jalan untuk menahan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Adakah Anda tidak mendengar firman Allah:

Artinya: “Adakah orang yang dilempar ke dalam neraka itu lebih baik ataukah oran, yang datang dengan aman di hari kiamat?” (Q.S. Fushshilat: 40)

Alangkah agurgnya orang yang menyaksikan semua peristiwa yang mengerikan, menggemparkan dan peristiwa peristiwa lain tapi merasa aman. Tidak ada perasaan takut dan berat di dalam hatinya.

Kami memohon kepada Allah agar Dia berkenan merasuk. kan kami ke dalam golongan orang-orang yang beruntung seperti itu. Dan hal itu tidaklah sulit bagi Allah (untuk melakukannya).

Keempat, surga dan neraka.

Dalam hal imi renungkanlah firman Allah Swt. yang tercantum di dalam kitab-Nya.

Yang pertama adalah:

Artinya: “Dan Tuhan memberi mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan).” (Q.S. Al-Insaan: 21-22)

Allah juga menceritakan orang yang lain lagi dengan firman:

Artinya: “Ya Tuhan kami. Keluarkanlah kami dari padanya (dan kembalikanlah kami ke dunia). Maka jika kami kembali berbuat kekufuran tentu kami telah berbuat zalim. Dia Allah berfirman, “Tinggallah di dalamnya dengan hina dan jangan bertncara lagi pada-Ku.” (Q.S Al-Mukminuun: 107-108)

Diceritakan bahwa pada saat itu mereka telah berubah menjadi anjing-anjing yang saling menggonggong di dalam neraka. na’uzu billaahi, Tuhan yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih, dari siksa-Nya yang pedih.

Segala yang terjadi, menurut apa yang dikatakan oleh Yahya bin Mu’adz Ar-Raazi adalah: Kami tidak tahu manakah musibah yang paling besar, kehilangan surga ataukah masuk neraka. Sebab seseorang tidak sabar ingin segera memasuki surga danjuga tidak sabar jika harus tinggal di dalam neraka. Apapun keadaannya, kehilangan sebuah nikmat tentu lebih ringan daripada harus menahan sakitnya siksaan neraka.

Kemudian bencana yang terbesar dan musibah yang paling berat adalah keabadian dalam neraka. Karena apapun yang terjadi secara terpisah (terputus-putus) tentu lebih mudah. Tapi yang terjadi saat itu adalah keabadian yang tiada berujung. Hati siapa yang mampu menahannya? Perasaan siapa yang sabar merasakannya? Karena itulah Nabi Isa a.s. berkata: “Ingatan tentang keabadian orangrang yang abadi (dalam neraka) bisa memutuskan hati orang-orang yang takut.”

Dikatakan kepada Hasan Al-Bashri bahwa manusia terakhir yang keluar dari neraka adalah seorang lelaki yang bernama Hannad. Dia disiksa selama seribu tahun seraya memanggilmanggil dengan kata Ya Hannan, Ya Mannaan (wahai Tuhan Ynag Maha Pengasih, wahai Tuhan yang Maha Memberi anugerah). Mendengar itu Hasan Al-Bashri berkata: “Alangkah senangnya seandainya aku menjadi Hannad.” Orang-orang menjadi heran dengan hal itu. Hasan berkata: “Celaka. Bukankah suatu hari ia bisa keluar (dari neraka)?”

Aku (Al-Ghazali) berkata: “Jadi, segala sesuatu bermuara pada satu hal yang bisa membuat punggung menjadi patah, wajah memucat, hati menjadi hancur, putus asa dan mengeluarkan air mata darah bagi para hamba, yakni perasaan takut kehilangan makrifat (keimanan). Inilah puncak kekhawatiran orang-orang yang merasa takut dan ditangisi oleh orang-orang yang menangis.

Seorang ulama berkata: ” Kesedihan itu ada tiga macam: Sedih dalam berbuat taat karena takut taatnya tidak diterima, sedih melakukan maksiat karena takut tidak diampuni, dan sedih tentang makrifat (keimanan) karena khawatir dicabut.”

Orang-orang yang ikhlas (mukhlishuun) mengatakan bahwa Segala kesedihan itu pada dasarnya hanya satu, yakni tercabutnya makrifat (keimanan). Kesedihan yang lain dianggap remeh karena hal itu pasti akan berakhir.”

Kami juga telah mendengar bahwa Yusuf bin Al-Asbath berkata: “Aku datang ke tempat Sufyan Ats-Tsauri dan Ia menangis sepanjang malam. Aku bertanya, ‘Apakah Anda menangis karena mengingat dosa?” Yusuf berkata, ‘Bagi Allah dosa-dosa itu lebih ringan daripada ini. Tapi yang lebih kutakutkan adalah jika Allah sampai mencabut Islam dari hatiku.”

Kami memohon kepada Allah yang Maha Memberi anugerah semoga Dia tidak menguji kami dengan musibah-Nya, agar Dia berkenan menyempurnakan karunia-Nya dengan memberikan kenikmatan yang banyak dan mencabut nyawa kami dalam keadaan beragama Islam. Sesungguhnya Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.

Kami telah menyebutkan penyebab suu-ul khaatimah beserta keterangannya di dalam kitab “Ihya Ulumiddin”. Karena itu, renungkanlah keterangan yang ada di dalamnya. Sebab alam keterangan tentang itu di dalam kitab ini akan menyebabkan bertele-tele. Renungkanlah keterangan yang global ini. Semoga Anda mendapat petunjuk, sebab rinciannya lebih banyak dari apa yang terlintas dalam benak dan disebutkan oleh seseorang. Semoga Anda beruntung dengan pertolongan Allah dan taufik-Nya.

Jika Anda bertanya: “Manakah yang lebih baik, menempuh jalan khauf (takut) ataukah raja’ (mengharap)?”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker