Pasal kedua: Para ulama berkata: “Jika Anda ingin membedakan antara khathir buruk yang berasal dari setan, khathir buruk yang berasal dari hawa nafsu, atau khathir buruk yang berasal dari Allah pada permulaannya, maka lihatlah khathir tersebut dari tiga sisi:
- Bila Anda melihatnya kokoh dan menetap pada satu keadaan berarti khathir tersebut berasal dari Allah atau dari hawa nafsu. Jika Anda menemukannya berputar-putar dan berubah, maka ketahuilah bahwa khathir tersebut berasal dari setan.
Seorang ulama saleh mengatakan bahwa perumpamaan hawa nafsu adalah harimau. Kalau sudah menyerang ia tak akan berpaling kecuali karena adanya perlawanan yang teramat sangat. Atau seperti pemberontak yang berperang untuk membela agamanya. Ia tak akan pulang sebelum terbunuh. Perumpamaan setan adalah serigala. Jika Anda mengusirnya dari satu sisi, maka ia akan masuk dari sisi lain.
- Bila khathir tersebut muncul seiring dengan perbuatan dosa yang baru saja Anda kerjakan berarti khathir tersebut berasal dari Allah sebagai penghinaan dan siksaan disebabkan oleh buruknya dosa tersebut. Allah berfirman:
Artinya: “Sekali-kali tidaklah begitu. Bahkan hati mereka telah berkarat karena apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. AlMuthaffifiin: 74)
Guruku rahimahullah berkata: “Demikianlah. Suatu dosa akan mengantar seseorang pada kerasnya hati. Mula-mula hanya berupa khathir (gerak hati) dan akhirnya sampai pada kerasnya hati.”
Bila gerak hati ini muncul terlebih dahulu, tidak beriringan dengan dosa yang Anda kerjakan, maka ketahuilah bahwa khathir tersebut berasal dari setan. Hal ini terjadi pada kebanyakan orang, karena mula-mula ia hanya mengajak berbuat buruk.
- Bila khathir tersebut tiada melemah dan tidak berkurang dengan berdzikir kepada Allah serta tidak hilang, itu berarti khathir tersebut berasal dari hawa nafsu.
Bila Anda menemukan khathir tersebut Anda temukan melemah dan berkurang karena dzikir kepada Allah, berarti khathir tersebut berasal dari setan, seperti yang disebutkan di dalam tafsir firman Allah yang berbunyi:
Artinya: “(Aku berlindung kepada Allah) dari kejahatan setan yang suka mengganggu dan lagi suka mundur.”
Sesungguhnya setan itu bertengger dalam hati anak Adam. saat anak Adam mengingat Allah ia akan mundur. Dan saat anak Adam tersebut lalai ia akan kembali mengganggu.
Pasal ketiga: Jika Anda ingin membedakan antara khathir baik yang berasal dari Allah dan yang berasal dari malaikat, maka lihatlah khathir tersebut dari tiga sisi.
- Bila khathir tersebut tertanam dengan kuat dan kokoh, berarti khathir tersebut berasal dari Allah. Sedangkan bila khathir tersebut hanya mondar-mandir berarti khathir tersebut berasal dari malaikat Mulhim. Sebab kedudukan malaikat Mulhim ini seperti seorang pemberi nasehat yang bisa masuk dari segala arah dan memberikan nasehat dengan harapan Anda mau melakukan dan suka berbuat kebaikan.
- Apabila khathir tersebut muncul seiring dengan ijtihad dan ketaatan yang Anda kerjakan, berarti khathir itu berasal dari Allah Swt.
Allah berfirman:
Artinya: “Dan orang-orang yang berjuang karena mencari keridaan kami, tentu Kami menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Q.S. Al-Ankabuut: 69)
Firman-Nya pula:
Artinya: “Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambahkan petunjuk baginya.” (Q.S. Muhammad: 17)
Bila khathir tersebut muncul pertama kali (sebelum ijtihad dan berbuat taat), maka biasanya khathir tersebut berasal dari malaikat.
- Bila khathir itu menyangkut ibadah-ibadah pokok dan amalamal batin, berarti khathir tersebut berasal dari Allah. Dan bila khathir menyangkut cabang-cabang ibadah dan amal zhahir, maka kebanyakan khathir tersebut berasal dari malaikat Mulhim, karena seorang malaikat tidak memiliki cara untuk mengetahui batin seorang hamba.
Sedangkan khathir yang berasal dari setan, maka halitu hanya untuk menarik seseorang agar berbuat buruk dan semakin meningkat keburukannya.
Guru kami berkata: “Ketahuilah! Bila saat melakukan keinginan tersebut nafsu Anda terlihat giat tanpa merasa takut, tergesa-gesa, tidak berhati-hati, merasa aman, tidak merasa khawatir, tidak melihat akibat yang ditimbulkan, dan tidak waspada, maka ketahuilah bahwa khathir tersebut berasal dari setan. Karena itu, jauhilah.
Bila nafsu Anda nampak sebaliknya, yaitu melakukannya dengan rasa takut, tidak menggebu, berhati-hati, tidak tergesagesa, merasa takut, tidak merasa aman dan nampak waspada dengan melihat akibat yang ditimbulkannya, maka ketahuilah bahwa khathir tersebut berasal dari Allah atau dari malaikat Mulhim.
Menurutku, giat/ menggebu di sini adalah perasaan ringan pada diri seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan tanpa kewaspadaan dan tanpa mengingat pahala yang membuatnya giat melakukan hal tersebut.
Sedangkan perlahan-lahan adalah langkah terpuji, kecuali di beberapa tempat tertentu yang bisa dihitung.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Nabi Saw. disebutkan bahwa beliau bersabda:
Artinya: “Tergesa-gesa itu berasal dari setan kecuali dalam lima hal: Pertama, menikahkan anak perawan bila sudah mencapai umurnya. Kedua, membayar utang setelah jatuh tempo. Ketiga, mengurus jenazah setelah benar-benar mati. Keempat, menjamu ‘ tamu yang bertandang. Kelima, tobat setelah ia melakukan sebuah dosa.”
Adapun khauf (takut) bisa dalam kesempurnaan amal, pengerjaan yang sesuai dengan yang diinginkan (sebagaimana mestinya) dan penerimaan Allah terhadap amal tersebut.
Waspada terhadap akibat yang akan terjadi bisa dilakukan dengan cara mawas diri dan merasa yakin bahwa amal tersebut benar dan baik. Bisa gaja hal itu dilakukan karena melihat pahala di kemudian hari dan karena mengharapkannya.
Ketahuilah keterangan tersebut niscaya kamu akan mendapatkan taufik.
Itulah ketiga pasal yang harus Anda ketahui di dalam masalah khathir (gerak hati). Pelihara dan perhatikan sebaik mungkin sesuai kemampuan Anda, karena hal itu termasuk pengetahuan yang teramat halus dan dalam bab ini termasuk rahasia yang teramat mulia.
Hanya Allah yang memberikan taufik dengan anugerah-Nya.
Adapun pasal yang menerangkan tentang tipu daya dan bujukan setan, maka tempat berlaku dan contohnya adalah sebagai berikut:
Tipu daya setan terhadap keturunan Adam dalam hal ketaatan itu melalui tujuh cara:
- Menghalanginya dari melakukan ketaatan tersebut. Jika Allah memelihara, hamba tersebut menolak ajakannya dengan berkata: “Sungguh aku sangat membutuhkan ketaatan tersebut, karena mau tidak mau aku harus mencari bekal dari dunia yang fana ini untuk kehidupan akhirat yang tiada pernah berakhir.”
- Setan akan menyuruhnya agar menunda amal tersebut. Jika Allah memelihara, hamba tersebut menolak ajakan setan seperti dengan mengatakan: “Aku tidak menguasai batas akhir hidupku. jika aku menunda pekerjaanku hari ini dan kukerjakan esok pagi, lalu kapan aku mengerjakan pekerjaanku esok hari? Sebab setiap hari ada pekerjaan yang mesti diselesaikan.”
- Lalu setan pun akan melakukan dengan cara lain. Ia membujuk hamba tersebut agar tergesa-gesa dengan mengatakan: “Cepatlah! Cepat kerjakan agar segera selesai dan kamu bisa melakukan ini dan itu.” Jika Allah memelihara hamba tersebut, hamba itu pun menolaknya dengan berkata: “Sedikit pekerjaan yang dilakukan dengan sempurna lebih baik ketimbang pekerjaan yang banyak tapi penuh kekurangan.”
- Kemudian setan akan menggunakan cara lain. Ia akan membujuk hamba tersebut agar mau menyempurnakan amalnya dengan menampakkan amal itu di hadapan orang banyak. Jika Allah memelihara hamba tersebut, hamba itu pun menolak ajakannya dengan berkata: “Untuk apa aku menampakkan pekerjaanku di hadapan banyak orang? Tidakkah pandangan Allah telah cukup bagiku?”
- Cara lain lagi yang digunakan setan, ia menghendaki agar hamba tersebut tergelincir ke dalam sikap ujub. Ia mengatakan: “Betapa agungnya, betapa waspadanya, dan betapa mulianya Anda.” Jika Allah memelihara hamba tersebut, hamba itu akan menjawabnya dengan berkata: “Yang membuatku bisa begini adalah kebaikan Allah, bukan aku. Dia-lah yang memberiku keistimewaan dengan taufik-Nya. Dia juga yang menjadikan amalku berharga mahal dengan anugerah-Nya.” Jika bukan karena anugerah-Nya, bagaimana mungkin amalku ini bisa berharga bila melihat kenikmatan yang diberikan-Nya padaku, dan juga kemaksiatan yang kulakukan pada-Nya.”
- Maka setan punakan menggunakan cara yang lain lagi. Ia akan mendatanginya dengan cara keenam. Inilah tipuan yang paling licik dan tidak diketahui oleh orang-orang yang benar-benar waspada, yakni setan akan mengatakan: ” Bersunnguh-sunguhlah di saat tidak ada orang yang melihat, karena Allah akan menampakkanmu.” Ia pun akan mencampuri semua amal yang dikerjakan hamba tersebut. Dengan begitu, ia ingin agar hamba tersebut sedikit berbuat riya. Jika Allah memelihara hamba tersebut, hamba itu juga menjawabnya dengan berkata: “Hai makhluk terkutuk! Sampai saat ini kamu selalu mendatangiku dengan bujukan untuk merusak amalku. Tapi sekarang kau datang dengan bujukan untuk memperbaiki amalku dengan tujuan ingin merusaknya. Sesungguhya aku adalah hamba Allah. Dia-lah Majikanku. Bila menghendaki maka Dia akan menampakkan diriku. Dan bila menghenaki maka Dia akan merahasiakan (menutupi)ku. bila menghendaki maka Dia akan menjadikan aku sebagai orang yang berkedudukan tinggi. Dan bila menghendaki maka Dia akan menjadikan aku sebagai orang yang hina. Semua itu hanya kembali kepada-Nya. Aku tak peduli, mau ditampakkan di hadapan orang banyak atau tidak. Dan mereka tak akan bisa berbuat banyak.”
- Kemudian setan akan mencari cara lain. Ia akan mendatangi hamba tersebut dengan cara ketujuh. Ia mengatakan: “Sebenarnya kamu tidak memerlukan amal semacam ini. Sebab kalau memang kamu tercipta untuk menjadi orang beruntung, maka kamu tidak akan celaka hanya karena meninggalkan amal semacam ini. Dan kalau kamu memang tercipta untuk menjadi orang celaka, maka tiada gunanya kamu melakukan amal tersebut.” Jika Allah memelihara hamba tersebut, maka hamba itu akan menjawab ucapan setan dengan ucapan: “ Aku hanya seorang hamba. Dan dalam pengabdiannya, seorang hamba harus mengikuti perintah. Sedangkan Tuhan lebih tahu dengan sifat ketuhanan-Nya. Dia memutuskan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya. Dia akan melakukan apa yang diinginkan-Nya. Dan sesungguhnya apapun yang terjadi amal itu tetap berguna untukku. Karena bila aku,memang diciptakan untuk beruntung, maka amal itu kuperlukan untuk menambah pahala. Dan bila aku memang tercipta untuk celaka, maka amal itu kuperlukan agar aku tidak mencela diri sendiri. Hanya saja apapun keadaannya Allah tidak akan menyiksaku karena ketaatan yang kulakukan, dan Dia juga tidak akan mencelakaiku. Bila aku dimasukkan ke dalam neraka dalam keadaan taat, maka hal itu lebih kusukai ketimbang masuk ke dalamnya dalam keadaan durhaka. Bagaimana tidak, jika janjiNya selalu nyata dan ucapan-Nya juga pasti benar? Dia telah menjanjikan pahala atas ketaatan. barangsiapa bertemu Allah dalam keadaan iman dan taat, maka ia sama sekali tidak akan dimasukkan ke dalam neraka. Orang itu akan memasuki surga. Bukannya ia berhak memperoleh surga karena amal yang dikerjakannya, tapi semata-mata karena janji yang benar dari Allah. Maha Suci Allah.”
Karena artian semacam inilah Allah mengabarkan tentang keadaan orang-orang yang beruntung saat mereka telah masuk surga dan berkata:
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya untuk kami.”
Karena itu, sadarlah! Semoga Allah merahmatimu. Sebab segala sesuatunya telah Anda lihat dan Anda dengar. Jadikan semua itu sebagai kiasan untuk melangkah pada perbuatan yang lain. Mohonlah pertolongan kepada Allah. Mintalah perlindungan kepada-Nya, karena segala sesuatu berada di bawah kekuasaan-nya. Dia-lah yang memberikan taufik. Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah yang Maha Luhur dan Maha Agung.









One Comment