Adapun syukur berasal dari kesabaran dan penyerahan diri. Karenanya hal itu termasuk usaha batin, sebab syukur merupakan perbandingan dari kufur, dan puji perbandingan dari celaan.
Puji mempunyai arti yang lebih umum dan banyak, sedangkan syukur memiliki arti yang lebih sedikit dan tertentu (khusus).
Allah berfirman:
Artinya: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Q.S. Saba’: 13)
Jadi keduanya memiliki dua arti berbeda.
Pujian adalah sanjungan yang diberikan kepada seseorang karena adanya perbuatan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Sury kami rahimahullah.
Sedangkan tentang syukur, para ulama membahas artinya Secara panjang lebar.
Diceritakan dari Abdullah bin Abbas r.a. Beliau berkata: “Syukur adalah ketaatan dengan menggunakan anggota badan kepada Penguasa seluruh makhluk secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.”
Seorang guru kami juga berpendapat sama. Beliau berkata: “Syukur adalah menunaikan ketaatan secara lahir dan batin.”
Kemudian beliau mengulang kembali dengan mengatakan bahwa syukur adalah menjauhi maksiat secara lahir dan batin.
Ulama yang lain berkata: “Syukur adalah memelihara jangan sampai memilih kemaksiatan.” Anda harus memelihara hati, lisan dan anggota badan Anda, jangan sampai sedikitpun bermaksiat kepada Allah dengan menggunakan salah satu dari ketiganya.
Perbedaan antara pendapat ulama ini dengan pendapat sebelumnya adalah: Beliau menjadikan pemeliharaan sebagai arti yang menguatkan, sebagai penguat dari perkataan “ menjauhi maksiat.”
Menjauhi maksiat tidak akan terjadi kecuali bila seseorang tidak melakukannya saat ada hal yang menarik (mengajak)nya. Menjauhi maksiat bukanlah sebuah arti yang diperoleh, yang membuat seorang hamba menjadi sibuk karenanya dan memelihara diri dari kekufuran.
Guru kami berkata: “Sesungguhnya syukur adalah mengagungkan pemberi nikmat sebgai imbangan kenikmatan yang diberikannya sehingga ia dianggap tidak mengingkari si pemberi nikmat.
Jika Anda mengatakan bahwa mengagungkan seseorang yang berbuat baik sebagai imbangan kebaikannya, agar kesyukuran Allah kepada hamba-Nya dianggap benar, maka ungkapan tersebut baik dan di dalam hal ini ada beberapa rincian yang telah kami terangkan di dalam kitab “Ihya Ulumiddiin”. Tapi yang jelas kesyukuran seorang hamba adalah pengagungan yang mencegahnya dari anggapan “Mengingkari Dzat yang memberi kebaikan kepadanya.” Hal ini karena kebaikannya yang berulangulang, kebaikan orang yang bersyukur karena kesyukurannya, dan keburukan orang yang mengingkari nikmat karena pengingkarannya.
Menurutku, seorang pemberi nikmat paling tidak mengharuskan kenikmatan yang diberikan tidak digunakan sebagai sarana melakukan kemaksiatan. Alangkah jeleknya seseorang yang menjadikan kenikmatan sebagai senjata untuk mendurhakai pemberinya.
Kalau begitu, sehubungan dengan kewajiban syukur yang sebenarnya, seorang hamba harus melakukan pengagungan kepada Allah, yakni sesuatu yang menghalangi antara hamba tersebut dengan kemaksiatannya, sesuai dengan ingatannya kepada nikmat-nikmat Allah.
Jika ia melakukan hal semacam ini berarti ia telah melakukan sesuatu yang penting dalam bersyukur. Kemudian mengimbanginya dengan rajin melakukan ketaatan dan sungguhsungguh dalam pelayanannya. Karena hal itu termasuk hak suatu kenikmatan.
Jadi, memelihara diri dari kemaksiatan adalah suatu keharusan.
Jika Anda bertanya: “Apa saja sasaran syukur itu?”
Ketahuilah bahwa sasaran syukur adalah nikmat-nikmat di bidang agama dan nikmat duniawi sesuai dengan ukuran masingnasing.
Sedangkan berbagai kesulitan dan musibah di dunia yang menimpa diri, keluarga ataupun harta, masih diperdebatkan, apakah seorang hamba wajib mensyukurinya atau tidak.
Seorang ulama berkata: “Seorang hamba tidak wajib bersyukur karenanya, tapi ia wajib bersabar menghadapinya.”
Syukur dilakukan karena adanya nikmat, bukan karena hal lain.
Para ulama berkata: “Setiap kesulitan pasti didampingi oleh nikmat-nikmat Allah. Karena adanya nikmat yang mengiringi Itulah seorang hamba harus bersyukur, bukan karena kesulitan Itu Sendiri.
Kenikmatan tersebut adalah seperti yang dikatakan oleh Ibnu Umar: “Aku tidak pernah diuji dengan suatu bencana kecuali di dalamnya Allah memberikan empat macam kenikmatan:
- Bencana itu tidak menimpa agamaku.
- Bencana itu bukan yang lebih besar.
- Aku tidak terhalang untuk merelakan bencana tersebut.
4 Aku bisa mengharapkan pahala (dengan bersabar) menerimanya.
Dikatakan pula bahwa nikmat yang ada dalam bencana di antaranya adalah:
– Bencana itu akan hilang karena tidak selamanya menimpa seseorang.
– Bencana tersebut berasal dari Allah, bukan yang lain. Danjika bencana itu diberikan lewat seorang makhluk, maka bencana tersebut bermanfaat bagimu dan berbahaya baginya, bukan membahayakan dirimu dan bermanfaat baginya.
Dengan begitu seorang hamba harus bersyukur atas kenikmatan yang datang bersama dengan suatu bencana.
Ulama yang lain berpendapat bahwa kesulitan dunia termasuk hal yang harus disyukuri oleh seorang hamba, karena pada hakekatna kesulitan itu adalah kenikmatan. Buktinya hal itu dihadapkan pada seorang hamba agar ia mendapatkan berbagai manfaat yang besar, pahala yang banyak, dan imbalan yang mulia di kemudian hari, sesuatu yang tidak sebanding dengan kepayahan orang yang mengalami kesulitan ini. Manakah. kenikmatan yang lebih besar dari semua ini?
Pendapat inilah yang lebih utama menurut guru kami, Abu Bakr Al-Warraaq.
Contoh dari keterangan diatas adalah: Ada seseorang meminumkan jamu yang menyebalkan serta pahit untuk mengobati penyakit keras, atau mencandhuk (membekam) Anda karena suatu penyakit gawat yang sangat mengkhawatirkan. Semua itu membuat badan sehat dan kehidupan Anda juga bersih.
Jadi, kepedihan yang ia berikan kepada Anda dengan kepahitan obatatau goresan candhuk pada hakekatnya adalah kenikmatan yang sempurna, anugerah yang terlihat jelas meskipun bentuknya menyebalkan, ditakuti oleh watak manusia, dan dibenci oleh fiafsu. Karena itu Anda memuji orang yang melakukannya, atau bahkan memberinya berbagai macam kebaikan sesuai dengan kemampuan yang Anda miliki.
Seperti itulah arti bermacam bencana.
Tidakkah Anda melihat bagaimana Nabi Saw. memuji kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya atas berbagai kesulitan sama dengan pujian beliau atas berbagai kesenangan dengan berkata: “Segala puji bagi Allah atas hal yang buruk dan hal yang menyenangkan.”
Tidakkah Anda melihat bahwa Allah berfirman:
Artinya: “Siapa tahu kalian membenci sesuatu sementara Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisaa’: 19)
Apa yang disebut oleh Allah dengan “Kebaikan” tentu lebih banyak dari apa yang dijangkau oleh angan-anganmu.
Di antara hal yang menguatkan pendapat ini adalah: Kenikmatan bukanlah suatu kebaikan yang berasal dari kelezatan dan hal yang disenangi nafsu karena cocok dengan wataknya, Tapi nikmat adalah sesuatu yang menambah ketinggian derajat. ena itu ia dinamakan nikmat dalam arti “tambahan”.
Jika suatu kesulitan termasuk penyebab bertambahnya kemuliaan seorang hamba dan ketinggian derajatnya, maka pada hakekatnya kesulitan tersebut adalah nikmat meskipun di sisi luar boleh dikatakan sebagai kesulitan dan ujian.
Jika Anda berkata: “Siapa yang lebih utama, orang yang “Syukur ataukah orang yang bersabar?”








One Comment