Dalam sebuah hadis diceritakan bahwa pada saat Nabi Musa a.s. kembali dari bermunajat (kepada Allah), beliau menjadi gelisah dan tidak merasa nyaman bila harus berkumpul dengan masyarakat. Beliau memasukkan duajari tangan ke dalam telinga supaya tidak mendengar perkataan mereka. Di saat itu suara mereka bagi beliau sama persis dengan suara khimar di tengah kesunyian.
Oleh karena itu, hendaklah Anda selalu menjalani apa yang diperintahkan oleh guru kami Abu Bakr Al-Warraq rahimahulah:
Relakan Tuhanmu sebagai teman
dan tinggalkan masyarakat sejauh mungkin.
Cintai Allah dengan penuh kesungguhan,
baik di tengah masyarakat ataupun jauh dari mereka.
Perlakukan mereka sesuai kehendakmu,
maka pastilah kamu menemukan mereka bagaikan kalajengking.”
Kedua, memupus harapan dari mereka. Dengan begitu urusan mereka menjadi sepele bagi Anda. Sebab orang yang Anda tidak mengharapkan sesuatu (kemanfaatan) darinya serta tidak khawatir membahayakan, maka ada dan tidaknya bagi Anda sama saja.
Ketiga, melihat bahaya-bahaya mereka, mengingatnya, dan mengulang-ulang hal itu dalam hati.
Bila tiga komponen ini Anda jalankan, maka dengan sendirinya Anda akan terdorong untuk meninggalkan pergaulan bersama masyarakat menuju pintu Allah, menyendiri untuk beribadah kepada-Nya, membuat-Nya mencintai Anda dan menempatkan Anda di pintu-Nya.
Hanya Allah yang menguasai taufik dan pemeliharaan.
- Rintangan Ketiga: Setan
Kemudian hendaklah Anda memerangi setan dan mengalahkannya karena dua hal:
Pertama, ia adalah musuh yang menyesatkan dengan nyata. Tidak ada sedikitpun harapan kebaikan darinya. Dia takkan pernah membiarkan Anda dan bahkan sama sekali tidak merasa puas kecuali setelah melihat kerusakan pada diri Anda. Dengan begitu, tidak ada alasan untuk merasa aman dari musuh yang sifatnya seperti ini dan juga tidak boleh lengah. Renungkan dua ayat dari kitab Allah yang salah satunya adalah sebagai berikut:
Artinya: “Apakah Aku tidak menjanji (memerintahkan) kalian (hai anak Adam) agar tidak menyembah setan. Sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi kamu sekalian.” (Q.S. Yaa Siin: 60)
Yang kedua adalah ayat:
Artinya: “Sesungguhya setan itu adalah musuh bagi kalian, karena itu anggaplah dia sebagai musuh.” (Q.S. Faathir: 6)
Dua ayat ini adalah peringatan keras bagi kita semua.
Kedua, ia diberi watak untuk selalu memusuhi Anda. Ia juga telah mempersiapkan diri untuk memerangi Anda selamalamanya. Siang malam ia lemparkan panah ke arah Anda di saat lengah. Lalu apa yang terjadi?
Di sisi lain ada hal penting yang terjadi, yaitu Anda menjalankan ibadah kepada Allah dan mengajak masyarakat menuju pintu-Nya dengan perbuatan dan ucapan Anda Sedangkan hal semacam ini bertentangan dengan pekerjaan, cita. cita, keinginan, dan perbuatan setan. Sekali-kali Anda bersiaga dan menyingsingkan lengan baju untuk memancing kemarahan setan, melawan dan berusaha mengalahkannya. Pasti ia pun akan bersiap-siap, menyingsingkan lengan bajunya untuk memusuhi, memerangi dan berupaya dengan berbagai cara sampai berhasil merusak ibadah Anda, atau bahkan menghancurkan Anda secara total. Sebab ia tidak akan merasa aman dari Anda setelah melihat apa yang kusebutkan di atas, karena ia adalah makhluk yang membinasakan dan bertujuan merusak orang yang tidak membuatnya marah atau melawan, tapi malah membenarkan dan menyetujuinya seperti orang-orang kafir, orang-orang sesat dan orang-orang yang suatu saat mencintai setan.
Lalu apa tujuan yang hendak dicapainya dari orang-orang yang membuatnya marah dan memusatkan kekuatan untuknya?
Saat itulah ia akan memusuhi masyarakat secara umum dan memusuhi Anda secara khusus.
Sesungguhya urusan Anda teramat penting. Ia memiliki beberapa pembantu. Pembantu yanb paling berat untuk dihadapi adalah nafsu dan kesenangan diri Anda. Ia juga memiliki sejumlah penyebab dan beberapa pintu masuk di saat Anda lengah.
Benar sekali apa yang dikatakan Yahya bin Mu’adz: “Setan itu makhluk yang memiliki waktu luang, sedangkan Anda orang yang sibuk. Setan melihat Anda, sedangkan Anda tidak melihatnya. Ia juga tidak akan melupakan Anda, sementara Anda melupakannya. Dan di dalam diri Anda terdapat pembantu-pembantu setan yang akan merugikan.
Jika seperti itu yang terjadi, maka mau tidak mau Anda harus memerangi dan mengalahkannya. Jika tidak, Anda tidak akan bisa terbebas dari kerusakan dan kehancuran. Jika Anda berkata: “Dengan apa aku bisa memerangi setan? Dengan apa aku bisa mengalahkan dan menolaknya?”
Ketahuilah bahwa para ahli melakukan pekerjaan seperti ini dengan dua cara:
- Cara yang dikatakan oleh salah seorang dari mereka: “Cara terbaik untuk menolak setan tak lain adalah memohon perlindungan kepada Allah. Karena sesungguhnya setan adalah anjing yang diberi kewenangan mencelakakan Anda. Jika Anda sibuk memeranginya tentu akan merasa kesulitan, waktu Anda terbuang, lalu ia pun mendapatkan kemenangan dan bisa melukai Anda. Karena itu, kembali kepada pemilik anjing untuk memalingkannya dari Anda adalah langkah terbaik.
- Cara yang dikatakan oleh ulama lain bahwa cara yang benar adalah berjuang, senantiasa menolak dan tidak mengikutinya.
Menurutku (Al-Ghazali) cara yang benar dan lebih mencakup urusan tersebut adalah menyatukan dua cara. Mula-mula kita memohon perlindungan kepada Allah dari keburukannya seperti yang telah diperintahkan (kepada kita). Dia-lah Dzat yang memelihara dari kejahatan setan.
Jika kita melihatnya selalu menang, kita pun tahu bahwa itu adalah cobaan dari Allah agar Dia bisa melihat kesungguhan perjuangan kita, seberapa kekuatan kita dalam menjalankan perintah-Nya dan sampai di mana kesabaran kita. Seperti halnya ketika Dia menguasakan orang-orang kafir atas kita, sementara Dia mampu menyelesaikan urusan mereka. Juga keburukan yang mereka lakukan agar kita semua mendapat bagian berupa (pahala) perjuangan, kesabaran, kebersihan diri (dari dosa) dan mati syahid. seperti firman Allah Swt.:
Artinya: “Agar Allah mengetahui orang-orang yang (benar-benar) beriman dan menjadikan orang-orang yang mati syahid di antara kamu sekalian.” (Q.S. Ali Imran: 140)
Allah juga berfirman:
Artinya: “Apakah kamu sekalian mengira akan memasuki surga, sementara belum jelas orang-orang yang berjuang di antara kalian dan juga orang-orang yang bersabar (menghadapi ujian)?” (Q.S. Ali Imran: 142)
Demikian juga dengan apa yang sedang kita bicarakan sekarang ini.
Kemudian untuk bisa memerangi dan mengalahkannya, menurut para ulama ada tiga cara:
Pertama, mengenali tipu dayanya, dengan begitu ia tidak akan berani mengganggu Anda. Seperti halnya seorang pencuri. Bila ja tahu bahwa pemilik rumah menyadari kedatangannnya tentu akan lari.
Kedua, menganggap remeh ajakannya, maka hati Anda tidak akan bergantung padanya. Dan jangan mengikutinya. Karena ia bagaikan anjing menggonggong. Bila Anda menanggapinya maka ja akan merasa senang dan terus menggonggong. Tapi bila Anda berpaling tentu ia akan diam.
Ketiga, senantiasa berdzikir kepada Allah dengan lisan dar hati Anda.
Nabi Saw, bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya berdzikir kepada Allah itu bagi setan bagaikan penyakit menular bagi tubuh manusia.”
Jika Anda bertanya: “Bagaimana aku bisa mempelajari tipu dayanya, dan jalan mana yang harus ditempuh untuk mengetahui hal itu?”
Ketahuilah bahwa (yang pertama) ia mempunyai rasa waswas. Perasaan was-was itu bagaikan anak panah yang ia luncurkan. Hal itu akan tampak jelas dengan mengetahui gerakgerak hati dan berbagai macamnya.
Kedua, setan itu memiliki tipu muslihat. Tipu muslihat ini bagaikan jaring yang dipasangnya untuk menjerat. Hal itu akan tampak jelas dengan mengetahui tipuan-tipuan, sifat-sifat dan jalan-jalannya.
Para ulama telah banyak yang menerangkan berbagai hal tentang gerak hati (khathir). Dan kami telah menyusun sebuah kitab yang kami beri nama “Talbiisu Ibliis.” Kitab (Minhajul ‘Aabidiin) ini tidak banyak memuat tentang itu. Akan tetapi kami akan menerangkan masing-masing satu pokok yang sekiranya bisa mencukupi kalau Anda berpegang teguh padanya.
Mengenai Inti Khathir (Gerak Hati)
Ketahuilah bahwa Allah memberi kuasa kepada malaikat yang mengajak berbuat baik bagi hati seorang manusia yang bernama Mulhim. Ajakan malikat ini dinamakan ilham. Dan sebagai bandingannya Dia memberi kuasa kepada setan yang akan mengajak seorang hamba berbuat buruk bernama was-was. Ajakan setan ini dinamakan was-wasah. Karena itu, menurut pendapat kebanyakan ulama, malaikat Mulhim tidak akan mengajak seorang hamba selain pada kebaikan. Dan Was-was tidak akan mengajaknya selain pada keburukan.
Telah diceritakan dari guru kami rahimahullah bahwa sesungguhnya setan itu kadangkala mengajak berbuat baik, tapi yang menjadi tujuannya tetap buruk. Seperti halnya ketika ia mengajak melakukan suatu hal yang utama agar hamba tersebut tidak melakukan hal yang lebih utama. Atau mengajaknya berbuat baik agar hamba tersebut terseret ke perbuatan dosa, sekira keburukannya tidak sebanding dengan kebaikan yang ia kerjakan, seperb ujub dan sebagainya. Dua makhluk ini senantiasa mengajak dian bersemayam di dalam hati seorang hamba. Hamba tersebut akan mendengar dengan hatinya. Juga merasakan ajakan tersebut, Seperti telah diceritakan di dalam hadis-hadis pilihan bahwa beliau (Nabi saw.) bersbda:
Artinya: “Apabila seorang anak Adam dikaruniai seorang anak, maka Allah akan menyertakan bagi anak itu satu malaikat. Dan setan Juga menyertakan baginya satu setan. Setan akan bertengger di atas telinganya sebelah kiri. Sedangkan malaikat bertengger di atas telinganya sebelah kanan. Dan keduanya selalu mengajak anak tersebut (mempengaruhinya).”
Nabi juga bersabda:
Artinya: “Setan itu memiliki satu tempat pada diri anak Adam. Dan malaikat juga memiliki satu tempat.”
Artinya memiliki tempat untuk mengajak, berdasarkan ucapan para ulama: “Mengumpulkan di suatu tempat dan membuatkan sesuatu saat tinggal di sana.”
Kemudian di dalam diri seorang manusia, Allah menciptakan watak yang cenderung pada keinginan syahwat dan mencari kelezatan, bagaimanapun keadaannya, entah itu baik atau buruk.
Hal itu dinamakan keinginan nafsu yang menarik seseorang menuju pada kerusakan. Jadi, di dalam diri seseorang ada tiga hal yang selalu mengajak (mempengaruhinya). ketahuilah bahwa setelah pendahuluan ini masih ada yang perlu diketahui, bahwa yang dinamakan khathir (gerak hati) adalah pengaruh yang muncul dalam hati seorang hamba. Pengaruh tersebut akan membangkitkannya untuk melakukan sesuatu, meninggalkannya, atau menarik hatinya kepada perbuatan tersebut. Pengaruh itu dinamakan khathir (gerak hati), karena goncangan di dalam hati yang berasal dari perjalanan angin dan semisalnya.
Pada hakekatnya kemunculan semua itu di dalam hati seorang hamba berasal dari Allah Swt. Akan tetapi kemunculanya terbagi menjadi empat:
- Gerak hati yang pertama kali dimunculkan di dalam hati seorang hamba oleh Allah. Gerak hati semacam ini dinamakan “khathir”.
- Gerak hati yang dimunculkan sesuai dengan watak manusia. Gerak hati semacam ini dinamakan “hawa nafsu” dan dinisbatkan kepadanya (nafsu).
- Gerak hati yang dimunculkan seiring dengan ajakan malaikat Mulhim. Lalu gerak hati tersebut dinisbatkan kepadanya (Mulhim) dan dinamakan “ilham”.
- Gerak hati yang dimunculkan seiring dengan ajakan setan. Lalu dinisbatkan kepadanya (setan) dan dinamakan “was-wasah”. Was-wasah ini disandarkan (dinisbatkan) kepada setan, karena gerak hati itu memang berasal dari setan. Akan tetapi pada hakekatnya pengaruh itu muncul pada saat setan mengeluarkan ajakannya. Karena dalam hal ini setan bagaikan penyebab, tapi juga dijadikan sandaran (penisbatan).
Inilah empat macam gerak hati. Kemudian setelah pembagian-pembagian ini, ketahuilah bahwa gerak hati yang pertama kali berasal dari Allah kadang mengajak kepada kebaikan sebagai sebuah kemuliaan dan penetapan hujjah. Kadang juga mengajak berbuat buruk sebagai ujian dan pemberatan suatu ujian.
Gerak hati yang berasal dari malaikat Mulhim senantiasa mengajak berbuat baik, karena ia adalah pemberi nasehat dan pemberi petunjuk. Ia tidak diutus melainkan hanya untuk itu.
Gerak hati yang berasal dari setan senantiasa mengajak berbuat buruk untuk menyesatkan atau agar seseorang tergelincir. Kadang ia mengajak berbuat baik tapi hanya sebagai tipuan.
Gerak hati yang berasal dari hawa nafsu mengajak pada keburukan dan sesuatu yang tidak mengandung kebaikan sebagai pencegahan dan agar manusia tidak berpikir panjang.
Aku pernah menemukan sebuah pendapat dari seorang salaf bahwa hawa nafsu terkadang juga mengajak berbuat baik, akan tetapi yang menjadi tujuannya adalah agar ia berbuat syirik (bersekutu) pada setan.
Inilah macam-macam khathir (gerak hati).
Setelah mengetahui semua ini, ketahuilah bahwa sesungguhnya Anda sangat perlu mengetahui tiga pasal yang menjadi keharusan dan di dalamnya terdapat apa yang menjadi tujuan Anda.
- Perbedaan antara khathir baik dan buruk secara global.
- Perbedaan antara khathir buruk yang muncul di permulaan, dinisbatkan pada setan atau yang dinisbatkan pada nafsu dan juga dengan apa membedakan ketiganya, karena masingmasing saling bertolak belakang.
- Perbedaan antara khathir baik yang muncul di permulaan, yang dinisbatkan pada ilham, dinisbatkan pada setan, atau dinisbatkan pada nafsu agar Anda dapat mengikuti khathir yang berasal dari Allah atau malaikat Mulhim dan menjauhi khathir yang berasal dari setan.
Begitu juga khathir yang berasal dari hawa nafsu, menurut pemdapat orang yang mengatakannya.
Pasal pertama: Para ulama berkata: “Jika Anda ingin mengetahui khathir baik dan khathir buruk, serta membedakan antara keduanya, maka timbanglah hal itu dengan salah satu dari pertimbangan berikut, tentu keadaannya akan menjadi jelas bagi Anda.
- Apa yang tergerak di hati Anda hendaknya disodorkan pada aturan syarak. Jika keinginan tersebut menyamai jenisnya berarti keinginan tersebut baik. Dan jika yang terjadi itu kebalikannya karena adanya keringanan (rukhshah) atau syubhat berarti khathir tersebut buruk.
- Jika hal ini masih belum jelas bagi Anda dengan pertimbangan semacam ini, maka hendaknya gerak hati tersebut disodorkan pada panutan. Jika dalam mengerjakannya menganut orangorang saleh berarti itu adalah khathir baik. Tapijika yang terjadi adalah sebaliknya, dan hanya karena mengikuti orang-orang saleh berarti itu khathir buruk.
- Jika masalah ini belumjelas bagi Anda dengan ukuran semacam ini, maka sodorkanlah gerak hati tersebut pada hawa nafsu. Kemudian lihatlah! Kalau gerak hati tersebut termasuk hal yang ditinggalkan oleh nafsu menurut wataknya, bukan karena takut kepada Allah, maka khathir itu merupakan khathir baik. Jika hal itu termasuk sesuatu yang nafsu cenderung kepadanya, dan kecenderungan tersebut sesuai dengan wataknya, bukan karena kecenderungan berharap kepada Allah, maka khathir tersebut adalah khathir buruk, karena nafsu selalu mengajak berbuat buruk. Pada dasarnya ia tidak akan cenderung berbuat baik.
Dengan melihat berbagai macam ukuran seperti ini serta benar-benar merenungkannya, maka akan tampak jelas bagi Anda perbedaan antara khathir baik dan buruk.
Hanya Allah yang menguasai petunjuk dengan anugerahNya. sesungguhnya dia Maha murah lagi Maha Mulia.









One Comment