Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

Bukankah Anda tahu bahwa semua petunjuk tersebut menuju ke masalah iradah (keinginan)? Karenanya, dalam keadaan seperti Wu nadah amatlah penting. Akan tetapi jika hamba tersebut tekun dan rajin melakukan dua hal yang pertama, yaitu membagi (harta yanp dimiliki) dan tidak mencari-cari (harta yang bukan miliknya), maka ia masih bisa mengharap anugerah dari Allah agar Dia memberikan taufik untuk menolak keinginan.

Adapun pilihan itu berasal dari hati, karena sesungguhnya Dia (Allah) Maha Memberi anugerah dan Maha Mulia.

Kemudian, hal yang dapat memotivasi Anda agar tidak mencari-cari perkara yang tidak ada dan memberikan yang sudah menjadi milik kita serta dapat memudahkan hal tersebut adalah mengingat akibat buruk yang ditimbulkan dunia serta kekurangan-kekurangannya.

Telah banyak ulama yang membicarakan tentang hal ini. Di antaranya adalah ucapan seorang ulama berikut ini: “Kutinggalkan dunia karena manfaatnya hanya sedikit, sangat melelahkan, mudah (cepat) rusak dan kehinaan orang yang menjadikannya sebagai teman.”

Guru kami (Abu Bakr Al-Warraaq) berkata: “Pertanyaan seperti ini memang benar tapi masih semerbak berbau cinta. Sebab orang yang mengeluhkan suatu perpisahan tentu merasa senang bila bertemu kembali. Dan barangsiapa meninggalkan sesuatu karena adanya orang lain yang ikut memilikinya tentu akan merasa senang jika ia memilikinya sendirian. Oleh karena itu, ungkapan yang paling tepat adalah apa yang diutarakan oleh guru karhi: Sesungguhnya dunia ini adalah musuh Allah sedang Anda orang yang mencintainya, dan barangsiapa mencintai seseorang tentu akan ikut membenci musuh kekasihnya.”

Al-Ghazali berkata: “Sesungguhnya dunia berasal dari kotoran bangkai. Tidakkah Anda lihat dunia berakhir dengan keadaan kotor, binasa, rusak dan habis. Tapi karena bangkai tersebut diperciki wewangian dan dibungkus dengan perhiasan, maka orang-orang yang lalai menjadi tertipu dengan melihat sisi luarnya. Dan orang-orang yang sempurna akalnya akan pergi menghindar darinya.”

Jika ada pertanyaan: “Bagaimana hukumnya zuhud (meninggalkan dunia)? Wajib atau sunat?”

Ketahuilah bahwa zuhud bagi kami ditujukan pada barang halal dan haram. Meninggalkan yang haram hukumnya wajib. Sedangkan meninggalkan yang halal hukumnya sunat.

Kedudukan barang haram bagi orang-orang yang istiqamah dalam ketaatannya sama persis dengan bangkai yang menjijikkan. Mereka tidak mengambilnya kecuali dalam keadaan terpaksa dan hanya sekedar menolak datangnya bahaya.

Zuhud terhadap sesuatu yang halal adalah kedudukan yang dimiliki oleh para “Wali Abdal.” Bagi mereka barang halal itu seperti bangkai. Mereka tidak mengambilnya kecuali sekedar yang harus dimakan. Sedangkan barang haram bagi mereka sama dengan api. Tidak sedikitpun hati mereka tergerak untuk mendapatkannya. Inilah yang dinamakan buruudah (dinginnya hati). Artinya orang-orang yang berzuhud tentu memupus keinginannya terhadap dunia, menganggapnya kotor dan sangat mengingkarinya. Di dalam hatinya sedikitpun tidak tersisa pilihan atau keinginan untuk mmendapatkannya.

Jika Anda berkata: “Bagaimana mungkin dunia yang penuh kelezatan, menakjubkan dan banyak dicari oleh orang banyak bisa disamakan dengan api atau bangkai yang menjijikkan, kotor dan berubah, sementara diri dan tabiat kita tidak berubah?”

Ketahuilah bahwa orang yang diberi taufik secara khusus dan mengetahui bahwa pada dasarnya dunia itu rusak dan kotor, tentu dunia itu baginya sama dengan bangkai. Orang yang mengagumi masalah ini tak lain hanyalah para pecinta dunia yang tidak melihat cacat dan keburukannya, orang-orang yang tertipu dengan keadaan luar dan hiasannya. Aku akan memberikan berbagai perumpamaan tentang mereka yang beranggapan bahwa dunia itu seperti bangkai.

Ada seseorang yang membuat jenang dengan bahan lengkap seperti gula dan lain lain. Lalu ia memasukkan racun yang mematikan ke dalam adonan tersebut. Saat itu ada seseorang melihat kejadian tersebut dan ada seoranp lapi yang tidak melihatnya. Selanjutnya jenang tersebut diletakkan di hadapan kedua orang ini setelah dihias dan dipercantik. Orang yang melihat bahwa jenang itu telah dibumbuhi racun tentu tidak akan menginginkannya. Sedikitpun di dalam hatinya tidak terbersit keinginan untuk mengambil meski apapun keadaannya. Baginya jenang tersebut seperti api dan bahkan lebih dari itu karena ia tahu ada kebinasaan di dalannya. Ia tidak tertipu dengan keadaan luar dan hiasannya.

Sedangkan yang satunya, yakni orang yang tidak melihat pembuatan jenang tersebut pasti tertipu dengan keadaan luarnya yang telah dipercantik. Dia sangat menginginkan jenang itu dan bahkan dalam hal ini ia menganggap kawannya yang tidak mau mengambil sebagai orang bodoh.

Seperti inilah perumpamaan barang-barang dunia yang haram di mata orang-orang yang melihat sesuatu dengan mata hati serta istiqamah dan di mata orang-orang bodoh yang mencintai dunia.

Seandainya orang yang membuat jenang ini tidak membubuhkan racun tapi hanya meludah atau memberinya ingus kemudian memberi wewangian dan menghiasnya, orang yang melihat perbuatan itu tentu merasa jijik dan tidak mau memakannya. Ia tidak mau mengambilnya kecuali dalam keadaan sangat terpaksa dan amat membutuhkannya. Sedangkan orang yang tidak menyaksikan pembuatan jenang tentu tidak tahu apa yang terjadi padanya. Ia tertipu dengan keadaan luarnya, sangat menginginkannya, merasa asyik, kagum dan menyukainya.

Seperti inilah perumpamaan barang-barang dunia yang halal di mata dua golonngan, yakni orang-orang yang waspada (melihat sesuatu dengan mata hati) serta istiqamah dan di mata orang: orang yang mencintai dunia serta lalai.

Keadaan dua orang yang berwatak dan berperawakan sama ini berbeda hanya karena kewaspadaan dan pengetahuan yang dimiliki salah satu dari keduanya dan kebodohan serta ketertutupan hati yang dimiliki orang kedua.

Seandainya orang yanp mnenyukai dunia Ini tahu dan melihat apa yang diketahui oleh zahid (orang yang tidak menyukai dunia) tentu ia pun tidak merasa suka sama dengan si zahid. Seandainya zahid itu tidak tahu dan melihat apa yang tiduk diketahui oleh orang orang yang menyukai dunia tentu ia pun akan menyukainya dan sama dengan orang tersebut.

Dengan demikian, Anda pun tahu bahwa perbedaan itu hanya karena adanya kewaspadaan dan tidak terletak pada watak.

Semua ini merupakan inti permasalahan yang berguna, suatu keterangan yang benar dan bisa dicerna oleh orang berakal serta orang yang sadar.

Hanya Allah yang menguasai petunjuk dan taufik dengan anugerah-Nya. Jika ada yang mengatakan: “Mau tidak mau kita harus mengambil harta dunia ini sekedar menjadikannya sebagai penguat. Lalu bagaimana cara berzuhud dalam hal itu?”

Ketahuilah bahwa zuhud itu terletak pada kelebihan barang halal. Yakni sesuatu yang tidak dibutuhkan untuk menegakkan organ tubuh. Jadi, yang dimaksudkan di sini adalah kekuatan tubuh sehingga bisa beribadah kepada Allah, bukan makan, minum dan merasakan kelezatan.

Bila Allah menghendaki, maka Dia akan menegakkannya dengan suatu sebab. Dan bila menghendaki, maka Dia juga bisa menegakkannya tanpa sebab seperti halnya para malaikat.

Kemudian jika ingin menegakkannya dengan suatu sebab, bolehjadi Dia menegakkannya dengan sesuatu yang Anda peroleh atau dengan sesuatu yang Anda usahakan. Tapi bisa juga dengan hal lain yang diberikan-Nya tanpa pernah Anda perkirakan dan tanpa Anda cari sebagaimana firman Allah:

Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah maka Dia akan muanjadikan untuknya jalan keluar (dari kesulitan) dan memberinya rezeka dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Q.S. Ath-Thalaaq: 2-3)

Jika itu yang terjadi, Anda sama sekali tidak perlu mencari dan menginginkannya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker