Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

  1. Hadis Nabi Saw.:

Artinya: “Sesungguhnya memandang keindahan seorang wanita bagaikan panah beracun dari Iblis. Barangsiapa meninggalkannya akan dicicipkan rasa ibadah yang menyenangkannya.”

Temuan rasa manis beribadah dan lezatnya bermunajat bagi para hamba merupakan suatu posisi tersendiri.

Hal ini telah diujicoba dan dibuktikan oleh orang yang mengamalkannya. Sebab jika seseorang menahan pandangan dari hal-hal yang tidak berguna, maka ia akan menemukan kelezatan beribadah dan manisnya ketaatan. Hatinya juga merasakan kebeningan yang belum dia rasakan sebelumnya.

  1. Hendaknya Anda melihat setiap anggota tubuh. Apa saja yang pantas dikerjakan, dan sebaiknya digunakan untuk apa. Dengan begitu, Anda bisa menjaga dan memeliharanya.

Kaki digunakan untuk berjalan di taman surga dan istanaistananya. Tangan digunakan untuk memegang gelas minuman dan memetik buah-buahan (surga), dan seterusnya. Sedangkan mata hanya dipergunakan untuk memandang Penguasa alam semesta. Maha Suci Allah. Tidak ada kemuliaan di dunia dan akhirat yang lebih besar ketimbang memandang Penguasa alam semesta.

Jadi, sudah semestinya bila sesuatu yang ditunggu-tunggu dan diharapkan seperti kemuliaan ini dijaga, dipelihara, diagungkan dan dimuliakan.

Inilah tiga dalil pokok yang jika benar-benar direnungkan dengan baik cukup sebagai bekal mengamalkan pasal ini. Hanya Allah yang menguasai taufik. Dia-lah yang mencukupiku. Dan Dia-lah sebaik-baik tempat berserah diri.

Pasal Kedua: Telinga

Hendaklah Anda memelihara pendengaran dari omongan buruk dan tidak berguna. Hal itu harus dilakukan, karena adanya dua hal:

Pertama, karena telah diceritakan bahwa orang yang mendengarkan sama hukumnya dengan orang yang berbicara.

Dalam hal ini seorang penyair berkata:

Pilih jalan tengah di antara jalan yang ada.

Hindari persimpangan yang meragukan.

Jagalah telingamu dari mendengarkan hal buruk.

Seperti halnya menjaga mulut dari mengucapkannya.

Sebab ingatlah! Jika kamu mendengarkan hal buruk,

maka kamu menjadi pasangan orang yang mengucapkannya.

Kedua, mendengarkan hal buruk bisa membangkitkan berbagai gerak hati dan rasa was-was di dalamnya. Kemudian akan tampak kesibukan pada diri Anda dan tak satupun anggota badan dibiarkan beribadah.

Kemudian ketahuilah bahwa ucapan yang masuk ke dalam hati melalui pendengaran sama halnya dengan makanan yang masuk ke dalam perut. Kadang berbahaya dan kadang juga bermanfaat. Ada yang menjadi sumber energi dan ada yang menjadi racun. Bahkan ucapan yang telah menetap di dalam hati pengaruhnya lebih kuat dibanding makanan. Sebab pengaruh makanan itu bisa hilang dari perut dengan tidur dan sebagainya. Kadang pengaruhnya terasa beberapa saat lalu menghilang. Ada juga penawar untuk menghilangkan pengaruhnya dari tubuh seseorang. Akan tetapi kalau ucapan sudah masuk ke dalam hati, terkadang bersemayam sepanjang hidupnya dan tidak dapat dilupakan. Jika ucapan itu buruk maka tiada hentinya ia membuat payah dan tercela. Hal itu juga bisa mendatangkan berbagai kekhawatiran dan rasa was-was di dalam hati sehingga ia harus berpaling dan berusaha untuk tidak mengingatnya. Ia juga harus memohon perlindungan kepada Allah dari keburukannya. Ia tidak akan terbebas dari dorongan bebuat buruk sehingga yang terjadi adalah kerusakan besar-besaran karenanya.

Jika Anda memelihara pendengaran dari hal-hal yang tidak berguna, maka Anda akan merasa nyaman dari semua itu. Dan hendaknya orang yang berakal merenungkan keterangan di atas.

Hanya Allah tempat memohon taufik.

Pasal Ketiga: Mulut

Hendaknya Anda memelihara mulut dan mengendalikannya, karena ia adalah anggota tubuh yang paling sulit diatur, durhaka, serta banyak menimbulkan kerusakan dan permusuhan.

Diceritakan dari Sufyan bin Abdullah. Beliau berkata: “Aku bertanya (kepada Rasulullah), Wahai Rasulullah! Apa yang paling banyak Anda khawatirkan padaku? Rasulullah memegang lisannya sendiri dan berkata, “Ini.”

Diceitakan dari Yunus bin Abdullah. Beliau berkata: “Sesungguhnya aku menemukan diriku sendiri mampu menahan derita puasa saat panas yang teramat sangat di negeri Bashra dan tidak mampu menahan satu ucapan yang tidak berguna.”

Karena itu, hendaklah Anda bersungguh-sungguh dan mengerahkan seluruh kemampuan (untuk menjaganya).

Di sini kami akan menerangkan lima pokok bahasan: 1. Apa yang diceritakan dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa jika seorang keturunan Adam memasuki waktu pagi, maka seluruh anggota tubuhnya bersegera mendatangi mulut dan berkata kepadanya: “Kami memohon agar kamu bersumpah demi Allah akan berbuat lurus. Sebab jika kamu lurus, maka kami pun akan berbuat lurus. Tapi jika kamu bengkok (berbuat salah), maka kami pun akan bengkok.

Menurutku (Al-Ghazali) yang diinginkan dari perkataan tersebut adalah (wallahu a’lamu): Ucapan mulut memberikan pengaruh kepada seluruh anggota badan seseorang berupa taufik dan kehinaan.

Keterangan ini diperkuat dengan apa yang diceritakan dari Malik bin Dinar bahwasanya beliau berkata: “Jika kamu melihat kekerasan dalam hatimu, badanmu melemah dan rezekimu terhalang, maka ketahuilah bahwa kamu telah mengucapkan sesuatu yang tiada berguna.”

  1. Menjaga waktu. Kebanyakan hal yang dibicarakan oleh seseorang bukanlah dzikir kepada Allah. Jadi, paling tidak hal itu tidak berguna dan hanya membuang-buang waktu. loteng yang sedang dibangun dan berkata: “Sejak kapan loteng ini mulai dibangun?” Beliau pun segera menegur dirinya sendiri seraya berkata: “Hai nafsuku yang suka menipu! Kenapa kamu menanyakan sesuatu yang tidak berguna untukmu?” Kemudian beliau menghukum dirinya dengan puasa selama satu tahun. Beruntung sekali orang-orang yang memperhatikan diri mereka. Alangkah celakanya orang-orang yang lalai, melepas kendali nafsu dan mengumbarnya begitu saja.

Hanya Allah tempat memohon pertolongan.

Benar sekali ucapan seorang penyair di bawah ini:

Abillah keuntungan dua rakaat di kegelapan malam

saat kamu santai dan beristirahat.

Bila kamu ingin berbicara yang tidak berguna dalam hal-hal bathil,

maka gunakanlah waktu itu untuk membaca tasbih.

Tetap diam lebih baik daripada berbicara

meskipun kamu orang yang pandai berbicara.

  1. Menjaga amal saleh. Bila seseorang tidak memelihara lisannya dan banyak berbicara, maka bukan tidak mungkin ia terjerumus ke dalam pergunjingan mengenai orang lain, seperti ucapan seorang ulama: “Barangsiapa banyak bicara, maka sering pula pembicaraannya tergelincir.”

Menggunjing ibarat halilintar yang merusak ketaatan, sebagaimana dikatakan: “Perumpamaan orang yang menggunjing orang lain adalah memasang alat pelempar (sebangsa meriam). Ia melemparkan kebaikan ke arah timur dan barat, ke kanan dan ke kiri.”

Aku telah mendengar bahwa Hasan Al-Bashri pernah diberi tahu oleh seseorang: “Wahai Abu Said! Sungguh si fulan telah menggunjing Anda.” Maka Hasan mengirimkan nampan berisi roti untuk orang (yeng menggunjing) tersebut dan berkata: “Kudengar Anda menghadiahkan kebaikan-kebaikan padaku. Karena itu, aku merasa senang bila bisa membalas kebaikan Anda.”

Suatu saat ada gunjingan yang dikeluarkan di hadapan Ibnul Mubarak. Maka beliau berkata: “Seandainya aku menggunjing seseorang, tentu aku akan menggunjing ibuku, karena dialah yang lebih berhak atas kebaikan-kebaikanku.”

Diceritakan bahwa suatu malam Hatim Al-Asham tidak melakukan salat malam dan ditegur oleh isteri beliau. Beliau menjawab: “Kemarin malam orang-orang melakukan salat malam. Paginya mereka menggunjingku. Maka kelak di hari kiamat (pahala) salat-salat mereka akan berpindah ke timbangan amalku.

  1. Selamat dari bahaya dunia. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Sufyan Ats-Tsauri: “Jangan membicarakan sesuatu yang bisa memecahkan gigimu.”

Ulama lain berkata: “Jangan mengumbar mulut agar ibadahmu tidak hancur.”

Para ulama menggubah sebuah syair:

Pelihara mulutmu! Jangan sampai mengucapkan sesuatu yang menimbulkan petaka bagimu,

karena sesungguhnya petaka itu berpangkal dari ucapan.

Ibnul Mubarak menggubah sebuah syair:

Ingat! Jaga mulutmu.

Karena sesungguhnya mulut itu bisa mempercepat kematian.

Sesungguhnya mulut merupakan cerminan hati

yang bisa menunjukkan ukuran rasio seseorang.

Ibnul Muthi juga bersyair:

Mulut seseorang bagaikan singa di dalam kandang.

Jika dilepas pasti ia menerkam.

Jagalah mulut Anda dari bicara buruk dengan pengendali “diam”.

Niscaya pengendali itu jadi penghalang dari segala petaka.

Ada peribahasa yang mengatakan: “Banyak ucapan yang berkata kepada pemiliknya “Tinggalkan daku.”

Kami memohon taufik kepada Allah dengan rahmat-Nya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker