Ketahuilah! Ada yang mengatakan bahwa orang yang bersyukur itu lebih utama, dengan mengambil dasar firman Allah:
Artinya: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Q.S. Saba’: 13)
Allah menjadikan mereka sebagai orang-orang yang paling istimewa.
Dalam memuji Nabi Nuh a.s. Allah berfirman:
Artinya: “Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba ynag banyak bersyukur.” (Q.S. Al-Israa’: 3)
Mengenai Nabi Ibrahim Dia berfirman:
Artinya: “(Ibrahim adalah) orang yang bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya.” (Q.S. An-Nahl: 121)
Karena sesungguhnya syukur itu menempati kedudukan berbagai kenikmatan dan kesejahteraan, maka ada ulama yang berkata: “Sungguhjika aku diberi kenikmatan lalu bersyukur maka halitu lebih kusenangi ketimbang aku diuji dan bersabar karenanya.”
Ada yang mengatakan bahwa orang yang bersabar adalah lebih utama, sebab sabar itu lebih besar tingkat kesulitannya, jadi lebih besar pahalanya dan lebih tinggi kedudukannya.”
Allah berfirman:
Artinya: “Kami menemukan Ayyub sebagai seorang penyabar. Dan sebaik-baik hamba adalah Ayyub.” (Q.S. Shaad: 44)
Allah juga berfirman:
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bersabar dipenuhi pahala mereka tanpa hisab (perhitungan).” (Q.S. Az-Zumar: 10)
Firman Allah:
Artinya: “Dan Allah mencintai orang-orang yang bersabar.” (Q.S. Ali-Imran: 146)
Bagiku, pada hakekatnya orang yang bersyukur tak lain adalah orang yang bersabar. Dan orang yang bersabar pada hakekatnya adalah orang yang bersyukur. Sebab orang yang bersyukur di tempat penuh ujian ini tentu tidak pernah lepas dari ujian yang mau tidak mau harus dijalani dengan sabar dan tidak merasa jemu.
Karena sesungguhnya syukur adalah mengagungkan sang pemberi tikmat dalam batas tidak mendurhakainya. Sedangkan rasa bosan termasuk suatu kemaksiatan.
Orang yang bersabar tidak lepas dari kenikmatan. Seperti pernah kami terangkan di depan bahwa pada hakekatnya kesulitan adalah nikmat. Dengan begitu jika ia bersabar, maka pada hakekatnya dia bersyukur, karena dia menahan dirinya dari tasa bosan demi mengagungkan Allah. Hal ini dianggap syukur karena menahan diri dari rasa bosan adalah pengagungan yang mencegah perbuatan maksiat. Di samping itu, orang yang bersyukur tentu mencegah dirinya dari pengingkaran (kekufuran). Lalu dia menahan diri dari maksiat dan mengajak nafsunya agar mau bersyukur dan bersabar menjalankan ketaatan. Jadi, pada hakekatnya ia orang yang bersabar.
Orang yang bersabar akan mengagungkan Allah sampai | pengagungan tersebut mencegahnya dari rasa bosan menghadapi apa yang menimpa dirinya , mampu membawa dirinya kepada rasa sabar, dan dia benar-benar bersyukur kepada Allah. Jadi, pada hakekatnya ia orang yang bersyukur. Sebab ia menahan diri dari pengingkaran (nikmat), semantara nafsu sangat menginginkannya. Dan halitu hanya bisa ditahan oleh orang yang bersyukur.
Tertolongnya orang yang bersabar dan terpeliharanya dari kekufuran adalah suatu kenikmatan yang disyukuri oleh seorang penyabar. Karena itu, salah satu dari keduanya tidak bisa lepas dari yang lain, sebab mata hati yang mendorongnya hanya satu, yakni kewaspadan istiqamah-Ini menurut pendapat salah seorang ulama kita.
Dari sisi inilah aku bisa mengatakan kalau keduanya tidak bisa lepas satu sama lain. Perhatikanlah keterangan ini.
Hendaknya Anda mengerahkan seluruh kemampuan untuk melewati tahapan yang biayanya murah tapi banyak memberikan faedah, berunsur tinggi dan berkedudukan agung ini.
Perhatikan dua hal pokok berikut ini:
Pertama, kenikmatan hanya diberikan kepada orang yang mengetahui kedudukannya. Sedangkan orang yang mengetahui kedudukan nikmat adalah orang yang bersyukur.
Pijakan keterangan yang kusampaikan ini adalah firman Allah yang menceritakan orang-orang kafir dan menolak pendapat mereka, yaitu:
Artinya: “Apakah orang-orang miskin itu diberi kenikmatan oleh Allah dari kami. Tidakkah Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur?.” (Q.S. Al-An’aam: 53)
Orang-orang bodoh itu mengira bahwa kenikmatan yang besar dan anugerah yang mulia itu diberikan kepada orang-orang yang hartanya paling banyak, paling berkedudukan serta berketurunan paling mulia. Lalu mereka berkata: “Menurut kalian, apa perlunya orang-orang miskin bersama pemimpin para hamba dan orang merdeka itu diberi kenikmatan besar seperti ini?
Mereka berkata dengan nada sombong dan menghina: “Apakah orang-orang miskin itu diberi kenikmatan oleh Allah dari kami?”
Kemudian Allah menjawabnya dengan halus dan bercahaya:
Artinya: “Tidakkah Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur?” (Q.S. Al-An’aam: 53)









One Comment