Tergesa-gesa
Tergesa-gesa adalah sesuatu yang tersusun rapi dalam hati seseorang dan mendorongnya untuk melakukan segala macam keinginan dengan segera tanpa menyelidikinya terlebih dahulu.
Kebalikan dari sikap ini adalah al-anat, yaitu sesuatu yang tersusun rapi di dalam hati dan membangkitkan kehati-hatian dalam segala hal, berpikir tentang hal itu dan tidak tergesa untuk mengukuti dan mengamalkannya.
Tawaquf (kebimbangan) adalah kebalikan dari Ta’assuf (melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang, teledor — Pen).
Guru kami berkata: “Perbedaan antara kebimbangan (tawaquf) dan perlahan-lahan (ta’anniy) adalah: Sesungguhnya kebimbangan itu dilakukan sebelum memulai suatu pekerjaan sampai ia merasa yakin bahwa apa yang akan dikerjakan itu memang benar. Sedangkan perlahan-lahan dilakukan setelah memulainya sehingga ia bisa melakukan bagian-bagiannya dengan sempurna.
Permulaan “anat” (perlahan-lahan) adalah mengingat kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul dalam segala hal yang dihadapkan kepadanya. Mengingat kerusakan yang ditakutinya, mengingat keselamatan yang diperoleh dengan kehati-hatian dan mengingat apa yang diperoleh dengan tawagguf dan isti’jal (tergesa-gesa) seperti penyesalan dan cemoohan.
Semua ini dan yang sejenisnya merupakan hal-hal yang membangkitkan seseorang untuk perlahan-lahan dan bimbang dalam melakukan sesuatu serta mencegahnya dari ketergesagesaan dan keteledoran.
Hanya Allah yang menguasai pemeliharaan dengan rahmatNya.
Kesombongan
Ketahuilah bahwa kesombongan adalah gerak hati untuk menganggap agung diri sendiri, dan akibatnya bersikap sombong.
Adapun dhi’ah atau rendah diri adalah merendahkan diri, dan akibatnya muncul sikap tawadhu’. Masing-masing bersifat umum dan khusus.
Tawadhu’ yang bersifat umum adalah mencukupkan diri pakaian, tempat tinggal dan kendaraan yang tidak mewah.
Kesombongan yang menjadi bandingannya adalah bermewah-mewah dalam hal tersebut.
Tawadhu’ yang bersifat khusus adalah melatih diri untuk menerima kebenaran dari siapapun datangnya, baik orang yang hina ataupun mulia.
Kesombongan yang menjadi bandingannya adalah hanya menerima kebenaran yang datang dari orang-orang yang mulia.
Kesombongan semacam ini merupakan dosa besar dan kesalahan yang fatal.
Kemudian benteng tawadhu’ yang bersifat umum adalah mengingat asal-muasal, kesudahan dan apa yang terjadi saat ini, – Seperti kerusakan dan hal-hal yang kotor.
Sebagian ulama berkata: “Permulaanmu adalah setetes air mani yang menjijikkan. Kesudahanmu adalah bangkai yang berbau, dan kamu hidup di antara keduanya sambil membawa kotoran.
Benteng tawadhu’ yang bersifat khusus adalah mengingat Siksaan bagi orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dan terus menerus berada dalam kebathilan.
Inilah keterangan yang bisa dianggap cukup oleh orang yang waspada.
Hanya Allah yang memberikan taufik dengan anugerah-Nya,
Pasal Kelima: Perut dan Pemeliharaannya
Wahai orang yang berkehendak untuk beribadah! Hendaklah Anda senantiasa memelihara perut dan meperbaikinya. Sebab perut merupakan anggota tubuh yang paling sulit diperbaiki oleh orang yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya. Perut juga banyak memerlukan biaya, banyak menyita waktu, sangat berbahaya dan juga sangat berpengaruh. Semua itu disebabkan karena perut merupakan sumber segala macam penyakit. Dari situ akan muncul beberapa hal yang berhubungan dengan anggota badan lain seperti kekuatan, ketidakmampuan, pemeliharaan diri (iffah) tak mau beribadah, dan lain-lain.
Jadi pada awalnya Anda harus senantiasa memeliharanya dari barang haram dan syubhat. Setelah itu baru memeliharanya dari kelebihan barang halal kalau Anda memang memiliki keinginan kuat untuk menjalankan ibadah.
Anda harus menjauhkannya dari barang haram dan syubhat karena tiga hal:
- Memelihara diri dari api neraka Jahannam. Allah Swt. berfirman:
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim itu sebenarnya mereka memasukkan api ke dalam perut mereka. Dan mereka akan masuk ke dalam neraka sa’iir.” (QS. An-Nisaa’: 10)
Nabi Saw. juga bersabda:
Artinya: “Setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka api neraka lebih berluk membakarnya.”
- Orang yang memakan barang haram dan syubhat ditolak menghadap Allah dan tidak akan mendapat taufik untuk menjalankan ibadah, karena tidak ada yang pantas melayani Allah selain orang-orang yang suci dan bersih. Menurut pendapatku, bukankah Allah telah melarang orang yang sedang junub masuk ke dalam rumah-Nya (masjid)? Ia juga melarang orang yang berhadas memegang kitab suci-Nya.
Allah berfirman:
Artinya: “Dan (jangan mendekat ke masjid) ketika sedang junub kecuali hanya melewati jalan sampai kalian semua mandi.”
Allah juga berfirman:
Artinya: “Tidak diperbolehkan menyentuhnya selain orang-orang yang suci.” (Q.S. al-Waqiah: 79)
Padahal junub dan hadas adalah sesuatu yang timbul dari Sesuatu yang diperbolehkan. Lalu bagaimana jika yang melakukannya adalah orang yang berlepotan lumpur haram dan barang syubhat yang najis? Kapan hal itu akan mengajaknya untuk melayani Allah yang Maha Luhur dan mengingat yang Maha Mulia?
Tak mungkin. Hal itu selamanya tak mungkin akan terjadi.
Mu adz Ar-Raazi berkata: “Ketaatan itu tersimpan di dalam gudang Alah. Kunci untuk membukanya adalah doa. Dan gigi anak kuncinya adalah barang halal. Bila kunci itu tidak bergigi, maka pintunya tidak akan terbuka. Dan bila pintu gudang tida terbuka, maka bagaimana mungkin bisa sampai dan mengambil ketaatan yang ada di dalamnya?
- Orang yang memakan makanan haram dan syubhat akan terhalang dari malakukan kebaikan. Apabila secara kebetulan ja melakukannya, maka kebaikan itu pun ditolak. Jadi, ia tidak menghasilkan apapun selain kepayahan, kesukaran dan buangbuang waktu.
Rasulullah Saw. bersabda:
Artinya: “Banyak sekali orang yang beribadah di malam hari dan yang didapatkannya hanyalah begadang. Banyak orang yang berpuasa dan yang didapatkan dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga.”
Diceritakan dari Ibnu Abbasr.a.: “Allah tidak akan menerima salat dari orang yang di dalam perutnya terdapat barang haram.”
Camlan hal ini baik-baik!
Adapun kelebihan barang halal, maka ketahuilah bahwa itu adalah kerusakan bagi para ahli ibadah dan bencana bagi orang yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya.
Kemudian aku merenung dan menemukan sepuluh kerusakan yang sangat pokok dalam hal ini:
- Banyak makan membuat seseorang berhati keras.
Diceritakan dari Nabi Saw. beliau bersabda:
Artinya: “Jangan membunuh hati kalian dengan banyak makan dan minum, karena hati akan mati bagai tanaman yang terendam air”
Orang-orang saleh menggambarkan bahwa perut itu bagaikan periuk yang berada di bawah hati dan dididihkan. Uapnya naik ke atasnya (hati). Uap yang banyak akan membuat hati menjadi keruh dan hitam.









One Comment