Diceritakan dari sahabat Ali. Beliau berkata: “Berapa banyak orang yang terpedaya dengan diberi kebaikan. Banyak orang yang terfitnah dengan ucapannya yang baik. Dan banyak orang yang tertipu dengan menutupi keburukannya.”
Ditanyakan kepada Dzun-Nuun Al-Mislri: “Cobaan apa yang digunakan untuk memperdaya seorang hamba?” Beliau menjawab: “ Dengan belas kasih dan kemuliaan.”
Itulah sebabnya Allah berfirman:
Artinya: “Aku akan memperdayakan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Ku dari arah yang tidak mereka ketahui.” (Q.S. Al-A’raaf: 182)
Seorang ‘Arif berkata: “Kami melimpahkan nikmat atas mereka dan kami membuat mereka lalai dari bersyukur.”
Seorang penyair berkata:
Engkau berprasangka baik pada hari-harimu karena ia berbuat baik,
tapi kamu tidak mengkhawatirkan keburukan takdir yang akan datang kepadanya.
Kamu diselamatkan oleh malam-malam dan kamu tertipu dengannya.
Dan saat malam-malammu jernih akan muncul kekeruhan.
Ketahuilah bahwa saat engkau lebih dekat dengan Allah, maka urusanmu lebih mengkhawatirkan dan lebih sulit. Berhubungan dengan-Nya lebih berat dan lembut. Kekhawatiranmu bertambah besar karena setiap perkara yang lebih tinggi bila terbalik maka lebih sulit kejadiannya.
Burung tidak akan terbang dan meninggi kecuali sama seperti ia terbang dan terjatuh.” Jadi, tidak ada jalan untuk merasa aman, melupakan syukur, dan meninggalkan sikap rendah diri dalam hal memelihara, apapun keadaannya.
Ibrahim bin Adham mengatakan: “Mungkinkah Anda merasa aman, sementara Nabi Ibrahim Al-khalil mengatakan (dalam firman Allah):
Artinya: “Dan jauhkanlah diri dan anakku dari menyembah berhala.” (Q.S. Ibrahim: 35)
Yusuf Ash-Shaadiq mengatakan: “Ya Allah! Semoga Engkau mengambil nyawaku dalam keadaan Islam.”
Sufyan Ats-Tsauri tiada hentinya berdoa sebagai berikut: “Ya Allah! Selamatkanlah aku. Selamatkanlah aku.” Seolah beliau berada di atas perahu dan takut tenggelam.
Sampai pula kepada kami cerita tentang Muhammad bin Yusuf rahimahullah. Beliau berkata: “Suatu malam aku merenungkan Sufyan Ats-Tsauri. Beliau menangis sepanjang malam. Aku pun bertanya kepada beliau: ‘ Apakah tangis Anda ini karena dosa? Muhammad mengatakan bahwa beliau kemudian mengambil batu bata dan berkata: ‘Bagi Allah, dosadosa itu lebih ringan dari (batu bata) ini. Tapi yang kutakutkan adalah kalau sampai Allah mencabut Islam dariku.”
Aku juga pernah mendengar seorang seorang “Arif mengatakan: “Salah seorang Nabi bertanya tentang Bal am bin Ba uraa dan pengusirannya setelah ia memperoleh berbgagai tanda dan kemuliaan (keramat). Maka Allah berfirman: “Suatu hari ia tidak mau bersyukur kepada-Ku atas nikmat yang Kuberikan kepadanya. Seandainya ia mensyukuri nikmat tersebut sekali saja tentu Aku tidak mencabut nikmat tersebut.”
Oleh karenanya, sadarlah! Peliharalah tang-tiang syukur dengan sungguh-sungguh. Memujilah kepada Allah atas nikmatrikmat-Nya di bidang agama. Nikmat yang paling tinggi adalah Islam dan makrifat, dan yang terendah adalah kenikmatan yang serupa dengan taufik (pertolongan), tasbih, atau terpelihara dari ucapan yang tak berguna. Siapa tahu Allah menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya kepada Anda dan tidak menguji Anda dengan pahitnya kehilangan nikmat. Sebab sesuatu yang paling pahit dan berat adalah terhina sesudah dimuliakan, terusir setelah didekatkan dan berpisah setelah bertemu.
Hanya Allah yang Maha Agung, penuh belas kasih dan Maha Penyayang.









One Comment