Pada saat itulah Anda telah menjadi bagian dari golongan orang-orang yang makrifat (‘arif), orang-orang yang amat berpengetahuan di bidang agama. Menjadi golongan orang-orang yang bertobat, suci, zuhud di dunia, tekun melayani Allah, bisa mengalahkan setan, bertakwa dengan semestinya menggunakan hati dan anggota badan, pendek angan-angan (lawan kata thuulul amal), memberi nasehat, khusyuk, tawadhuk, bertawakal, berserah diri, rela, sabar, takut (dari siksaan), berharap (mendapatkan rahmat), mukhlish, mengingat anugerah dari Allah, dan mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan mereka, yakni Penguasa alam semesta.
Setelah mendapatkan semua itu berarti Anda akan menjadi orang yang istiqamah, mulia, dan benar-benar beriman.
Renungkanlah apa yang kubicarakan ini. Semoga Anda mendapat petunjuk.
Jika Anda berkata: “Bila seperti itu keadaannya, berarti sedikit sekali orang yang menyembah Allah dan bisa wushul (sampai) kepada tujuan. Dan siapa yang kuat menanggung biaya (ibadah) ni dan memenuhi syarat-syarat serta kesunatannya?”
Ketahuilah bahwa Allah juga menyatakar seperti itu. Dia berfirman:
Artinya: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Q.S. Saba’: 13)
Dia juga berfirman:
Artinya: “Akan tetapi sebagian banyak manusia tidak bersyukur.”
Di lain tempat Dia berfirman:
Mereka tidak mau berpikir.
Dan di lain tempat lagi Dia berfirman:
Mereka tidak mengetahui.
Dan sesungguhnya hal itu menjadi mudah bagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah untuk melakukannya.
Kewajiban seorang hamba hanyalah berusaha dengan sun -sungguh, dan Allah-lah yang memberikan petunjuk (hidayah). Allah berfirman:
Artinya: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari (keridaan)-Ku, niscaya akan Kutunjukkan pada mereka jalan-jalan menuju keridaan)-Kami.” (Q.S. Al-Ankabuut: 69)
Jika seorang hamba yang lemah telah memenuhi kewajiban nya, maka menurutmu apa yang akan dilakukan oleh Allah yang Maha Kuasa, Maha Kaya, Maha Mulia, dan Maha Pengasih?
Jika Anda berkata: “Umur yang ada teramat pendek, sementara tahapan ini panjang dan sulit. Lalu bagaimana caranya agar umur (yang pendek) itu cukup untuk menyempurnakan syarat-syarat dan melewati beberapa tahapan (yang panjang) seperti ini?”
Sumpah demi umurku. Sesungguhnya tahapan ini memang anjang dan syarat-syarat memang berat. Tapi jika Allah memang ingin mengambil hamba-Nya, tentu Dia akan memendekkan (tahapan) yang panjang untuknya serta meringankan syarat-syarat ang berat untuknya. Sehingga setelah berhasil melewatinya hamba tersebut akan mengatakan: “Heran. Betapa dekatnyajalan ini, dan betapa pendeknya. Betapa ringan urusan ini dan betapa mudahnya.”
Begitu juga denganku. Setelah sampai pada puncak semacam ini aku berkata:
Tanda-tanda jalan menuju kebaikan telah nampak jelas bagi orang yang menginginkannya
dan kulihat hati manusia telah menjadi buta dari jalan ini.
Aku sungguh heran pada orang yang binasa, sementara keselamatan telah nampak.
dan sungguh aku merasa kagum dengan orang yang selamat.
Sampai-sampai di antara mereka ada yang berhasil melewati tahapan-tahapan ini setelah menempuhnya selama 70 tahun. Ada yang berhasil setelah menempuhnya 20 tahun. Ada yang 10 tahun. Ada yang setahun. Ada yang sebulan. Bahkan ada yang berhasil dalam waktu satu minggu, satu hari atau bahkan sekejap mata dengan petunjuk khusus dan pertolongan yang telah ditetapkan Oleh Allah.
Tidakkah Anda ingat kisah Ashhaabul-Kahfi yang mendapatnnya dalam sekejap mata saat melihat perubahan pada wajah Diqyanus raja mereka? Lalu mereka berkata:
Artinya: “Tuhan kami adalah penguasa langit dan bumi. Kami tidak akan pernah mengakui Tuhan selain Dia.” (Q.S. Al-Kahfi: 14)
Mereka berhasil mendapatkan kemakrifatan dan melihat kebenaran-kebenaran yang ada di jalan ini dan melintasinya kemudian jadilah mereka orang-orang yang berserah diri, bertawakal dan istiqamah ketika mereka berkata:
Artinya: “Pergilah mengungsi ke dalam goa, niscaya Tuhan kalian akan menebarkan rahmat-Nya kepada kamu semua.” (O.S. AlKahfi: 16)
Kesemuanya itu berhasil mereka dapatkan dalam waktu satu jam atau malah sekejap.
Ingatkah Anda pada para penyihir Firaun. Waktu mereka untuk mendapatkan hal itu tak lain hanyalah sekejap, yaitu saat mereka melihat mukjizat Nabi Musa a.s. Mereka berkata:
Artinya: “ Kami beriman kepada Tuhan alam semesta, Tuhan Musa dan Harun.” (Q.S. Asy-Syu’araa: 47-48)
Mereka melihat jalan (menuju Allah) dan menempuhnya sesaat demi sesaat. Jadilah mereka orang-orang yang rela dengan keputusan Allah, bersabar menghadapi cobaan-Nya, bersyukur atas karunia-Nya, dan sangat rindu untuk bertemu dengan-Nya. Mereka berteriak:
Artinya: “Tidak apa-apa. Sesungguhnya kami semua akan kembali kepada Tuhan kami.” (Q.S. Asy-Syu’araa: 50)









One Comment