Ketiga: Seorang raja memiliki kebiasaan dilayani oleh raja-raja lain dan para pembesar. Di hadapannya berdiri para majikan, orang-orang besar dan dilayani oleh para cendekiawan dan ahli hikmah. Orang-orang pandai dan para ulama mengharapkan pujiannya. Para pembesar dan para pemimpin mengawal di depannya.
Seandainya raja semacam ini memberikan izin kepada seorang pedagang pasar atau penduduk desa karena merasa kasihan atau ingin menolongnya, untuk menghadap di hadapannya sehingga mendesak para raja, para majikan, para pembesar dan orang-orang yang mulia, supaya ia bisa melayani dan memujinya. Raja tersebut juga memberikan tempat yang sudah ditentukan di hadapannya serta memandang pelayanannya dengan tatapan senang meskipun pengabdian tersebut masih dirasa kurang. Apakah tidak pantas kalau ada orang yang berkata: Sungguh besar karunia yang diberikan kepada hamba yang rendah ini dari sang raja. Betapa besar pertolongan yang diberikan kepadanya.
Jika hamba yang rendah itu mengungkit-ungkit sang raja atas pengabdian yang masih kurang dan menganggap agung pengabdian tersebut serta merasa kagum dengannya, bukankah orang tersebut teramat bodoh, gila, dan sedikitpun tidak berpikir?
Setelah semua ini dimengerti, maka sesungguhnya Tuhan kita yang Maha Suci adalah Maharaja. Langit, bumi dan seeluruh isinya membaca tasbih untuk-Nya. Tak satupun makhluk yang tiada membaca tasbih dengan memujinya. Dia-lah Dzat yang selalu disembah. Seluruh penghuni langit dan bumi bersujud kepadaNya, baik dengan ketaatan ataupun karena terpaksa.
Pelayan yang berada di sisi-Nya antara lain: Malaikat Jibril Al-Amin, malaikat Mikail, Malaikat Israfil, Malaikat Izrail, para pemikul Aarasy, Malaikat Karubiyyun, Malaikat Ruhaniyyun dan para malaikat lain yang berada tak jauh dari sisi Allah. Dan jumlahnya juga tidak bisa dihitung terkecuali oleh Allah sendiri. Mereka menetap di tempatnya masing-masing yang sangat mulia. Jiwa mereka adalah jiwa yang suci dan ibadah mereka sangat agung.
Makhluk lain yang melayani di sisi-Nya antara lain Nabi . Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad Saw. Seorang pilihan yang terbaik di seluruh alam beserta seluruh nabi dan rasul a.s. Mereka menempati kedudukan yang amat tinggi, memiliki kehormatan yang mulia, berpangkat tinggi dan ibadah mereka juga agung serta amat bernilai.
Setelah itu baru para ulama, para pemimpin yang baik dan orang-orang yang zuhud. Mereka menempati kedudukan yang tinggi dan megah. Tubuh mereka bersih suci dan ibadah mereka pun banyak, murni, dan saling menolong.
Pelayan terrendah yang ada di sisi-Nya antara lain: Raja-raja dunia, dan pemimpin yang semena-mena. Mereka menyungkurkan dagu untuk bersujud dan merasa hina. Mereka melumuri muka dengan debu sambil menunduk, memanjatkan permohonan sambil menangis, meratap dan merendahkan diri. Mereka mengakui kehambaan yang disandangnya hanya untuk Allah, menyadari kekurangan yang ada pada dirinya sambil bersujud dan merendahkan diri sampai suatu saat Allah melihat ke arah mereka, dan dengan anugerahnya Dia memberikan apa yang mereka butuhkan. Atau dengan kemuliaan-Nya Dia memaafkan kesalahan yang mereka perbuat.
Dengan semua keagungan dan kesempurnaan yang dimilikiNya, Dia mau memberikan izin kepada Anda yang hina, penuh cela dan kotor. Padahal seandainya Anda meminta izin kepada seorang kepala desa saja belum tentu ia mengizinkan. Seandainya Anda mengajak bicara kepada seorang bupati, kadang ia tidak mau berbicara dengan Anda. Dan seandainya Anda bersujud di hadapan seorang raja, kadang raja tersebut menolehpun tidak mau.
Sekarang ini, Allah yang Maha Agung memberi izin kepada Anda sehingga Anda boleh menyembah, memuji, dan berbicara dengan-Nya. Kadang Anda mengajukan permohonan. Kadang dengan berbagai alasan Anda berusaha mendapatkan apa yang Anda butuhkan dan bisa menggapai cita-cita.
Kemudian Diajuga rela dengan salat dua rakaat yang masih kurang sempurna dari Anda. Bahkan Dia menyiapkan pahala yang agung bagi keduanya untuk diri Anda. Pahala yang belum pernah terbersit di hati manusia.
Sementara itu Anda masih saja kagum dengan dua rakaat yang belum sempurna tersebut, menganggap bahwa itu suatu amal yang banyak dan agung. Anda tidak melihat bahwa hal itu adalah anugerah dari Allah yang diberikan kepada Anda. Buruk sekali hamba semacam itu. Alangkah bodohnya manusia semacam ini.
Hanya Allah tempat memohon dan mengadu dari kebodohan yang dilakukan oleh nafsu. Dan kepada-Nya aku berserah diri.
Jika dilihat dari segi yang lain, seorang raja yang agung jika memberi izin kepada rakyatnya untuk menyampaikan hadiah, tentu di hadapannya banyak para pemimpin, pembesar, kepala negeri, para bangsawan dan para jutawan yang datang membawa bermacam hadiah berupa permata yang mahal harganya, barangbarang simpanan yang sangat indah serta harta yang banyak jumlahnya. Kemudian jika ada seorang pedagang sayur yang datang membawa seikat sayuran atau seorang penduduk desa yang datang membawa sekeranjang anggur seharga satu keping uang dan masuk ke hadapannya, berdesakan dengan para pembesar dan jutawan yang membawa banyak hadiah serta bagus-bagus. Lalu sang raja mau menerima hadiah dari orang hina tersebut, berkenan melihatnya dengan pandangan menerima dan rela. Kemudian ia memerintahkan bawahannya agar memberikan pakaian yang paling indah kepada orang tersebut serta memberinya kemuliaan. Bukankah hal itu merupakan anugerah dan kemuliaan besar yang diberikan oleh seorang raja?









One Comment