Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

Bagaimana mungkin kita berharap dapat mengetahuinya, sementara Allah telah berfirman:

Artinya: Maka tak seorangpun mengetahui apa yang disimpan untuk mereka berupa apa saja yang menyenangkan pandangan mata,(Q.S. As-Sajdah: 17)

Kemudian Rasulullah Saw. juga telah bersabda:

Artinya: Di dalam surga Allah telah menciptakan apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum ada telinga yang mendengar dan belum pernah terbersit dalam hati manusia.

Para mufassir mengartikan firman Allah:

Artinya: Niscaya lautan akan kering sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku.(Q.S. Al-Kahfi: 109): dengan keterangan sebagai berikut: Yang dimaksud dengan kalimat-kalimat di sini adalah kalimat yang dikatakan oleh Allah bagi penghuni surga dengan lembut dan memuliakannya. Dan kenyataannya memang begitu. Kita tidak mungkin sampai pada satu bagian dari sejuta bagian itu, sementara kita hanya seorang manusia. Atau bagaimana mungkin pengetahuan seorang makhluk bisa mencakupnya? Tentu saja tidak. Bahkan cita-cita seseorang pasti akan terhenti dan akal-akal terlalu pendek untuk memikirkannya. Memang itulah kenyataan yang terjadi.

Demikian itulah anugerah Tuhan yang Maha Mulia dan Maha Mengetahui, sesuai dengan anugerah-Nya yang Agung dan setara dengan kemurahan-Nya yang besar.

Ingatlah! Hendaklah orang-orang yang ingin beramal segera melaksanakannya, dan orang-orang yang bersungguh mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendapatkan kedudukan yang agung. Dan hendaknya mereka juga tahu bahwa Semua itu amatlah sedikit dibanding apa yang mereka butuhkan, yang mereka cari dan mereka usahakan.

Hendaknya mereka juga tahu secara global bahwa seorang hamba harus memiliki empat hal: Ilmu, amal, ikhlas dan takut.

Pertama kali ia harus mengetahui jalannya. Jika tidak maka la menjadi buta. Kemudian ia beramal menggunakan ilmunya. Danjika tidak pasti ia akan tehalang. Selanjutnya ia harus ikhlas. Karena jika tidak, maka ia akan merugi. Dan selanjutnya ia tidak takut dan menghindari noda-noda sampai ia merasa aman. Kalu tidak maka ia akan tertipu.

Benar sekali apa yang dikatakan Dzun-Nuun: Semua makhluk ini mati selain para ulama. Semua ulama tertidur kecuali ulama yang beramal. Orang-orang yang beramal semuanya tertipu kecuali orang-orang yang ikhlas. Dan orang-orang yang ikhlas semua berada dalam kekhawatiran yang besar.

Yang lebih mengherankan adalah empat hal

Pertama, orang-orang yang memiliki akal tapi tidak berilmu.

Apakah ia tidak mementingkan dirinya untuk mengetahui apa yang ada di hadapannya? Apakah ia tidak berusaha mencari tahu apa yang akan dilihatnya sesudah mati dengan merenungkan dalil-dalil, perumpamaan, mendengar ayat-ayat dan peringatan, merasa bimbang dengan hal-hal yang mengkhawatirkan serta memiliki keberanian membabi buta di dalam dirinya? Allah berfirman: ..

Artinya: Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah.(Q.S. AlA’raf: 185)

Firman Allah:

Artinya: Tidakkah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar.(Q.S. Al-Muthaffifiin: 4-5)

Kedua, seorang alim yang tidak beramal dengan ilmunya. Apakah ia tidak tahu pasti bahwa hal-hal gawat dan besar serta tahapan-tahapan yang sulit ditempuh berada di hadapannya?

Berita seperti ini adalah berita heboh yang Anda semua berpaling darinya.

Ketiga, orang-orang yang beramal tapi tidak ikhlas.

Apakah ia tidak berpikir tentang firman Allah:

Artinya: Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.(Q.S. Al-Kahfi: 110)

Keempat, orang-orang yang ikhlas tapi tidak merasa takut.

Apakah ia tidak merenungkan apa yang dilakukan-Nya terhadap orang-orang pilihan dan kekasih-kekasih-Nya serta para pelayan-pelayan-Nya yang menunjukkan jarak antara Dia dengan makhluk-Nya. Sampai-sampai Dia berfirman kepada makhlukNya yang paling mulia:

Artinya: Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu.”(Q.S. Az-Zumar: 65)

Dan lain sebagainya, hingga diceritakan bahwa Nabi Saw. bersabda:

Artinya: Yang membuatku beruban adalah surat Huud dan Sejenisnya. “

Jadi, inti permasalahan dan perinciannya terdapat pada empat ayat firman Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an Al-Aziz. Firman Allah:

Artinya: “Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kara menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?(Q.S. Al-Mukminuun: 115)

Kemudian Dia berfirman:

Artinya: Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Q.S. Al-Hasyr. 18)

Artinya: Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari (keridaan)-Ku, niscaya akan Kutunjukkan pada mereka jalan-jalan mertuju keridaan)-Kami.(Q.S. Al-Ankabuut: 69)

Kemudian Dia mengumpulkannya dalam satu ayat:

Artinya: Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya Jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.(Q.S. Al-Ankabuut: 6)

Kami memohon ampunan kepada Allah dari setiap langkah kaki yang terpeleset dan kesalahan goresan pena. Kami juga memohon ampunan kepada-Nya dari ucapan-ucapan yang tidak sesuai dengan amal perbuatan kami. Kami memohon ampun kepada-Nya dari apa yang kuakui dan kuperlihatkan berupa pengetahuan tentang agama Allah, padahal aku masih gegabah dalam melaksanakannya. Aku memohon ampun kepada-Nya dari gerak hati yang mengajakku membuat-buat, menghias diri dalam kitab yang kutulis, ucapan yang kubuat bersusun (nazham) dan pemikiran yang kuajarkan.

Kami memohon kepada-Nya agar Dia berkenan menjadikan kami serta Anda sekalian, wahai saudara-sudaraku! Sebagai orang-orang yang beramal dengan ilmunya dan mengharap wajah (keridaan)-Nya, serta tidak menjadikan ilmu-ilmu itu sebagai bencana.

Semoga Dia berkenan meletakkannya dalam timbangan amalamal baik saat amal-amal tersebut dikembalikan kepada kami. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

Al-Ghazali berkata: “Inilah yang ingin kami terangkan di dalam kitab penjabaran tata cara meniti jalan akhirat, dan kami telah memenuhi tujuan tersebut. Segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan-Nya amal-amal baik menjadi sempurna. dan dengan anugerah-Nya bermacam berkah diturunkan.

Rahmat Allah semoga tersanjung kepada manusia pilihan yang mengajak umatnya untuk menyempah sesembahan terbaik, yakni Muhammad yang menjadi nabi, dan keluarganya.

Sernoga Allah memberikan kesejahteraan yang banyak, bagus, dan diberkahi dalam segala keadaan (kepada beliau dan keluarganya).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker