Ketahuilah bahwa kemunafikan itu dapat menghancurkan amal. Perasaan riya mengharuskan amal tersebut dikembalikan atau tidak diterima. Mengungkit-ungkit dan menyakiti orang lain bisa menghancurkan sedekah sampai tidak tersisa dalam waktu sekejap. Dan menurut seorang guru kami, keduanya menghilangkan kelipatan pahala. Penyesalan akan menghancurkan amal secara keseluruhan. Ujub akan menghilangkan kelipatan pahala. Sedangkan mengeluh, meremehkan dan takut dicela orang lain akan meringankan suatu amal dan menghilangkan bobotnya.
Menurut para peneliti, diterima atau ditolaknya suatu amal itu kembali pada bermacam pengagungan dan perasaan ringan dalam beramal.
Yang dimaksud dengan ihbath(hancur) adalah hilangnya manfaat yang keluar dari suatu pekerjaan dan berbagai penyebabnya. Kadang kehilangan tersebut berupa hilangnya pahala, dan kadang berupa hilangnya kelipatan pahala.
Yang dimaksud dengan pahala adalah suatu manfaat yang bisa dicerna oleh akal, baik bentuk, tanda-tanda maupun keadaannya.
Kelipatan pahala adalah tambahan dari (pahala) ini.
Yang dimaksud dengan razanah(bobot suatu amal) adalah tambahan yang diberikan sesuai dengan tanda-tanda pekerjaan lain seperti berbuat baik pada seseorang yang baik, kedua orang tua, dan salah seorang nabi. Jadi, bisa saja amal memiliki bobot tapi tidak memiliki kelipatan pahala,
Semua ini kami terangkan untuk meringkas apa yang telah kami kemukakan dalam masalah ini. Camkan hal itu dengan baik. Hanya kepada Allah kita memohon taufik.
Sebaiknya Anda menyelesaikan tahapan yang sangat mengkhawatirkan, penuh penghalang dan perusak ini dengan menjaga diri secara maksimal. Sebab orang yang memiliki perniagaan ketaatan benar-benar bisa menyelesaikan tahapan ini dan menahan kesukarannya sehingga ia berhasil mendapatkan harta perniagaan dari ibadah yang mulia bernilai tinggi. Ia tidak akan takut kehilangan dagangan selain di jalan (tahapan) yang rumit ini, karena di dalamnya terdapat banyak perampok yang dikhawatirkan akan merampas dagangannya di tengah jalan. Selain itu, juga terdapat banyak tempat yang rusak dan dikhawatirkan bisa menimbulkan bahaya sehingga merusak ketaatannya.
Kemudian kekhawatiran yang paling besar dan sering terjadi adalah adanya dua penghadang atau perampok berupa ujub dan riya. Dan sebaiknya kami menerangkan beberapa pokok, masing-masing diterangkan secara tersendiri agar dapat memuaskan dan Anda merasa cukup hanya dengan mendalaminya.
Masalah Riya
Pokok yang pertama, kami akan mengemukakan satu pokok, yakni firman Allah Swt.:
Artinya: “Allah-lah yang telah menciptakan tujuh langit, dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah, Ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.(Q.S. Ath-Thalaaq: 12)
Dengan ayat ini seolah Allah berfirman: Sesungguhnya Aku telah menciptakan langit, bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya dengan segala kebaikan dan keindahannya. Bagiku cukuplah kiranya jika kamu mau melihat semua itu serta kamu mengetahui bahwa Aku Maha Kuasa dan Maha Tahu. Kamu hanya melakukan salat dua rakaat yang memiliki kekurangan dan tanpa berpikir (mengerjakannya dengan lalai) tapi kamu tidak merasa cukup dengan pandangan dan pengetahuan-Ku, pujian dan terimaksih dari-Ku sehingga kamu lebih suka jika salat tersebut diketahui orang lain agar mereka memujimu karenanya. Apakah itu yang namanya menepati janji? Apakah seperti itu pikiran yang diinginkan seseorang bagi dirinya? Celaka. Apakah kamu tidak berpikir?
Pokok yang kedua, seseorang memiliki berlian yang indah dan laku jika dijual dengan harga satu juta dinar dan ia menjualnya seharga satu keping uang tembaga. Bukankah itu suatu kerugian yang besar, tertipu dengan tipuan yang amat buruk, bukti nyata rendahnya cita-cita, keterbatasan ilmu, kelemahannya dalam berpikir dan tipisnya rasa penghambaan.
Sesuatu yang didapatkan seorang hamba dari orang lain berkenaan dengan amalnya seperti pujian dan hal-hal lain yang tidak berguna, jika diukur dengan keridaan, syukur, sanjungan dan pahala dari Allah, maka hal itu nilainya lebih kecil daripada sekeping uang tembaga yang dibandingkan dengan uang satu juta dinar, dua juta, atau berjuta-juta. Bahkan itu tetap lebih kecil meski sekeping tadi dibandingkan dengan dunia seisinya, lebih banyak lagi ataupun lebih besar dari semua itu.
Bukankah sebuah kerugian nyata jika diri Anda kehilangan kemuliaan yang sedemikian itu hanya karena urusan sepele dan rendah?
Selanjutnya. Kalau memang mau tidak mau Anda harus melakukan pikiran keji semacam ini, maka hendaklah yang menjadi tujuan Anda adalah akhirat, niscaya dunia akan mengikuti Anda. Bahkan (kalau bisa) usahakan mencari rida Tuhan yang Maha Esa, pasti Anda akan diberi keuntungan dunia dan akhirat karena Dia-lah yang menguasai keduanya.
Hal ini sesuai dengan firman Allah:
Artinya: Barangsiapa yang menghendaki keuntungan dunia (maka ia akan merugi) karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat.(Q.S. An-Nisaa’: 134)
Nabi Saw. juga bersabda:
Artinya: Sesungguhnya Allah benar-benar akan memberikan dunia karena seseorang melakukan amal akhirat. Akan tetapi Dia tidak akan memberikan (pahala) akhirat karena seseorang melakukan amal dunia.
Jika Anda memurnikan niat dan pikiran untuk akhirat, maka Anda akan memperoleh balasan akhirat dan dunia sekaligus. Jika Anda ingin mendapatkan dunia saja, maka akhirat akan lari dengan seketika dan terkadang Anda tiaak memperoleh dunia eperti yang Anda inginkan. Kalaupun bernasil mendapatkannya maka hal itu tidak akan kekal. Dengan begitu Anda akan rugi dunia akhirat. Camkanlah semua itu.









One Comment