Telah kami ceritakan bahwa Allah Swt. berfirman (dalam hadis qudsi):
Artinya: “Barangsiapa tidak rela dengan keputusan-Ku, tidak bersabar atas cobaan-Ku dan tidak bersyukur atas nikmat-nikmatKu hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku.”
Ada yang mengatakan bahwa seakan-akan Allah berfirman: “Orang ini tidak merelakan Aku menjadi Tuhannya ketika dia marah, karena itu hendaklah ia membuat tuhan lain yang ia relakan.”
Ayat ini merupakan sebuah ancaman yang sangat tajam dan menakutkan bagi orang yang berakal.
Benar sekali apa yang dikatakan oleh seorang ulama salaf saat beliau ditanya: “Apa yang dinamakan pengabdian dan ketuhanan itu?” Beliau menjawab: “Tuhan itu berhak memutuskan dan seorang hamba berhak merelakannya.” Jika Tuhan memutuskan dan hamba itu tidak merelakannya, maka tidak ada pengabdian dan tidak ada ketuhanan. Karena itu, renungkanlah hal penting ini dan lihatlah diri Anda sendiri, semoga Anda selamat dengan pertolongan Allah dan taufik-Nya.
Kesabaran adalah obat yang pahit dan minuman yang tidak menyenangkan namun mengandung berkah, mendatangkan banyak kegunaan dan menolak setiap bahaya dari Anda. Karena itu, jika ada obat yang ciri-cirinya semacam ini, tentu orang yang berakal akan memaksakan diri untuk meminum dan menelannya, menahan rasa pahit dan bau yang menyengat darinya kemudian berkata: “Kepahitan sesaat berarti rasa nyaman setahun.”
Manfaat yang Diperoleh dengan Kesabaran
Ketahuilah bahwa sabar itu ada empat macam:
– Sabar menjalankan ketaatan
– Sabar menjauhi maksiat
– Sabar menjauhi kelebihan dunia
– Sabar menghadapi ujian dan berbagai musibah.
Jika sesorang telah mampu menahan pahitnya kesabaran dan ia bersabar di dalam empat tempat ini, berarti ia telah berhasil mendapatkan ketaatan dan berbagai macam tingkatannya seperti istiqamah dan menerima pahala yang agung di hari kemudian. Ia tidak akan terjerumus dalam kemaksiatan dan berbagai bencananya di dunia serta imbasnya kelak di akhirat. Ia tidak diuji dengan mencari keduniaan, tidak disibukkan di dunia dan tuntutan di akhirat karenanya. Pahala sesuatu yang diujikan kepadanya dan apa yang ia tinggalkan tidak akan terhapus. Dengan begitu, karena kesabarannya tadi ia bisa mendapatkan ketaatan, berbagai tingkatan yang mulia, pahala, ketakwaan, kezuhudan, pengganti dan pahala yang agung dari Allah.
Rincian keterangan di atas adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh Allah.
Bahaya yang Ditolak oleh Kesabaran
Mula-mula ia akan terbebas dari berkeluh-kesah dan penderitaannya di dunia, kemudian terbebas dari dosa dan siksaannya di akhirat.
Adapun orang yang tidak mampu bersabar dan memilih jalan berkeluh-kesah, maka ia akan kehilangan semua manfaat dan menemui berbagai bahaya. Sebab ia tidak bersabar menjalankan beratnya ketaatan, lalu ia tidak menjalankannya. Ia tidak bersabar memelihara taatnya, lalu ia meleburnya. Atau ia tidak sabar melangsungkan ketaatannya sehingga tidak sampai pada kedudukan tertinggi, yakni istiqamah. Atau ia tidak sabar menjauhi maksiat lalu terjerumus di dalamnya. Atau tidak mampu menjauhi kelebihan dunia lalu ia sbuk mencarinya. Atau ia tidak sabar menghadapi musibah dan terrhalang dari pahala kesabaran.
Kadang-kadang ia banyak mengeluh sehingga kehilangan pengganti karenanya. Ia pun mendapatkan dua musibah, yakni kehilangan sesuatu dan kehilangan pahala, pengganti, menerima hal yang tidak menyenangkan dan terhalang dari kesabaran.
Ada yang mengatakan: “Kehilangan kesabaran menghadapi musibah lebih berat daripada musibah itu sendiri.”
Lalu apa gunanya sesuatu yang dapat menghilangkan apa yang sudah ada dan tidak dapat mengembalikan sesuatu yang telah hilang? Karena itu usahakan jika Anda kehilangan salah satunya jangan sampai kehilangan yang satunya lagi.
Di antara ungkapan yang mencakup hal ini adalah apa yang kami riwayatkan dari sahabat Ali bin Abu Thalib k.w. bahwa beliau menjenguk seorang laki-laki dan berkata: “Jika kamu bersabar maka takdir Allah akan terjadi padamu dan kamu diberi pahala. Jika kamu mengeluh maka takdir Allah akan terjadi padamu dan kamu menanggung dosa.”
Kesimpulannya adalah: Sesungguhnya memutuskan hati dari berbagai ketergantungan yang sudah lazim akan mencegah nafsu dari kebiasaan yang sudah tertanam kuat dengan kemurnian tawakkal kepada Allah yang Maha Agung Asma-Nya, tidak merancang segala sesuatu dan menyerahkannya kepada Allah tanpa mengetahui rahasia yang tersimpan di dalamnya, menahan nafsu dari kebencian dan keluhan yang selalu diburunya, memaksa nafsu dengan kendali “rela” dan menelan pahitnya kesabaran yang selalu dijauhinya adalah hal yang pahit, pengobatan yang sangat keras dan sebuah beban berat, tapi juga aturan yang benar dan sebuah jalan yang lurus. Akibatnya juga terpuji dan mengalami keadaan yang menguntungkan.
Apa yang Anda katakan jika ada orang tua yang penuh kasih Sayang dan kaya mencegah anaknya tercinta dari makan kurma atau apel karena ia sedang menderita sakit mata? Kemudian ia menyerahkannya kepada seorang guru yang keras, yang mendidik dan menahannya sepanjang hari di hadapan beliau sampai ia bosan lalu membawanya ke tukang canduk sampai ia merasa kesakitan dan gelisah? Apakah orang tua tersebut mencegahnya karena pelit? Bagaimana mungkin, sementara ia memberi orang lain dan melapangkan mereka. Atau mungkinkah, karena ia berlaku keras kepada anaknya? Padahal ia menyimpan apa yang dimiliki untuk anaknya.
Atau mungkinkah orang tua tersebut bermaksud menyakiti anaknya karena marah? Bagaimana mungkin, sedangkan anak itu adalah penyejuk mata dan buah hatinya yang seandainya ditiup angin saja ia akan merasa sangat kasihan?
Tidak. Orang tua itu melakukan semua ini karena ia melihat itulah yang terbaik untuk anaknya. Dengan sedikit jerih payah ini anak itu akan memperoleh banyak kebaikan dan mendapatkan manfaat yang sangat besar.
Apa yang Anda katakan jika ada seorang dokter ahli yang memberi nasehat dan mencintai pasiennya, lalu ia melarang pasien tersebut minum air, sementara ia sangat dahaga dan kerongkongannya seperti terbakar dan malah memberinya obat pahit yang sangat dibencinya dan membuat diri (pasiennya) mengeluh? Adakah dokter itu melakukannya karena ia memusuhi dan ingin menyakitinya? Tidak. Tapi ia bermaksud memberi nasehat dan berbuat baik, karena ia tahu pasti bahwa jika ia memberikan keinginan pasiennya berarti itulah saat kehancurannya dan ia memberikan kebinasaan kepadanya. Dan dengan mencegahnya berarti itulah obat dan kelangsungan hidupnya.
Renungkanlah wahai orang yang jantan. Apabila Allah menahan sepotong roti atau satu dirham dari Anda, sementara Anda tahu dengan nyata bahwa Dia memiliki apa yang Anda inginkan dan mampu menentukannya untuk Anda. Dia juga memiliki kemurahan, anugerah dan mengetahui keadaan Anda sehingga tidak ada sesuatupun yang samar dari-Nya.









One Comment