Jika hamba tersebut, di depan pintu rumah sang raja melihat seorang perawat kuda sedang makan roti, atau melihat seekor anjing yang menggigit tulang, kemudian hamba tersebut sibuk melihatnya sehingga lupa dengan pelayanan untuk raja. Ia juga tidak melihat pakaian kebesaran dan kemuliaan yang disandangnya. Hamba itu berlari dan meminta sepotong roti – kepada perawat kuda, atau berebut tulang dengan anjing serta menganggap roti atau tulang tersebut sebagai hal besar. Bukankah jika sang raja melihat semua yang dilakukan hamba tersebutakan berkata: “Bodoh benar orang ini, betapa rendah keinginannya, tidak mengetahui betapa tingginya kemuliaanku, tidak melihat betapa besar kemuliaan yang kuberikan kepadanya berupa pakaian-pakaian kebesaran, memuliakannya di sisiku, serta apa yang kulakukan terhadapnya seperti pertolongan dan berbagai simpanan serta anugerah yang kuperintahkan untuknya. Orang Seperti ini tak lain adalah orang yang bercita-cita rendah, teramat bodoh dan tidak bisa membedakan. Lucuti pakaiannya dan lemparkan ia dari hadapanku!”
Seperti inilah keadaan orang alim jika ia cenderung melihat dunia, dan keadaan seorang ahli ibadah yang mengikuti hawa hafsunya setelah ia dimuliakan oleh Allah dengan beribadah kepada-Nya, mengetahui pertolongan yang diberikan-Nya, dan mengetahui syariat beserta hukum-hukum-Nya.
Kemudian ia tidak mengetahui kedudukan semua itu, maka ladialah ia orang yang paling hina di hadapan Allah. Ia mencintai dunia, rakus untuk mendapatkannya. Dunia itu menjadi sesuatu yang agung dalam hatinya, lebih ia cintai ketimbang nikmat-nikmat mulia yang diberikan kepadanya seperti ilmu, ibadah, hikmah, dan bermacam kebenaran.
Demikian juga keadaan orang yang diberi keistimewaan oleh Allah dengan berbagai macam petunjuk, pemeliharaan, dan dihiasi-Nya dengan cahaya-cahaya pelayanan dan ibadah kepadaNya, selalu diperhatikan oleh-Nya dengan pandangan rahmat, dalam banyak kesempatan, dibanggakan di kalangan para malaikat-Nya, diberikan kepemimpinan di hadapan-Nya, ditempatkan pada tempat syafaat dan didudukkan oleh-Nya pada kedudukan tinggi. Sampai-sampai jika orang itu memanggil pasti Dia akan menjawab dan mengiyakannya. Jika meminta kepadaNya pasti diberi. Jika mensyafaati orang lain tentu ia diberi syafaat untuk mereka dan Dia meridainya. Jika bersumpah atas namaNya tentu dikabulkan (dipenuhi). Jika di hatinya terbersit sebuah keinginan, Dia akan memberikannya sebelum ia meminta dengan mulutnya.
Barangsiapa keadaannya seperti ini, kemudian tidak mengerti kedudukan derajat tinggi lalu berpindah menuruti keinginan nafsu yang rendah dan tidak punya rasa malu, atau menjilati dunia yang hina dan tiada kekal, tidak melihat kemuliaan-kemuliaan, pakaian kebesaran, hadiah-hadiah, anugerah-anugerah, pemberian, pahala besar yang dipersiapkan untuknya di akhirat, dan kenikmatan yang sempurna untuk selamanya. Betapa hinanya keadaan diri yang seperti ini, betapa buruknya hamba tersebut, alangkah mengkhawatirkan andai dia tahu dan alangkah keji yang dilakukannya jika ia memahami.
Kami memohon kepada Allah, Dzat yang Maha Berbuat baik dan Maha Pengasih. Semoga Dia berkenan memperbagus kami dengan anugerah-Nya yang merata dan rahmat-Nya yang luas. Sesungguhnya Dia lebih pengasih di antara para pengasih.
Jadi, sebaiknya Anda mengerahkan seluruh kemampuan sehingga bisa mengetahui kedudukan nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada Anda.
Jika Dia memberikan kenikmatan agama, maka berhatihatilah. Jangan menoleh pada dunia dan hal-hal tak berguna di dalamnya. Sebab perbuatan semacam itu hanya menjadi sebuah penghinaan atas anugerah yang dikuasakan oleh Allah kepada Anda berupa kenikmatan-kenikmatan dalam agama. Tidakkah Anda mendengar firman Allah yang ditujukan kepada pemimpin para rasul sebagai berikut:
Artinya: “Dan benar-benar telah Aku turunkan kepadamu tujuh ayat yang diulang-ulang (Al-Faatihah) dan Al-Qur’an Al-‘Azhim. Janganlah memanjangkan pandangan matamu pada berbagai kesenangan yang kuberikan kepada orang-orang kafir.” (Q.S. Al-Hjjr: 87-88)
Uraian ayat ini sebagai berikut:
Setiap orang yang diberi Al-Qur’an Al Azhim tidak boleh memandang dunia yang hina ini dengan menganggapnya manis, bagus, apalagi mencintainya. Hendaklah ia meneruskan kesyukurannya kepada Allah atas nikmat (diberi Al-Qur’an) tersebut. Nikmat itulah kemuliaan yang sangat diinginkan oleh kekasih-Nya, Ibrahim a.s. agar dianugerahkan kepada ayah beliau tapi tidak dikerjakan (oleh Allah).
Hal itu juga diinginkan oleh kekasih-Nya Muhammad Saw. agar dianugerahkan kepada paman beliau (Abu Thalib) tapi hal itu tidak dikerjakan (oleh Allah).
Adapun harta dunia yang berguna adalah sesuatu yang Ditimpakan kepada orang-orang kafir, Fir’aun, orang yang menyeleweng, kafir zindig, orang bodoh dan orang fasik. Mereka Adalah makhluk Allah yang paling hina di hadapan-Nya, sehingga la tenggelam di dalamnya. Dunia itu menjauhkannya dari Nabi, orang terpilih Shaadiq, para alim dan abid, yaitu makhluk yang paling mulia di hadapan Alah. Sampai sampai mereka nyaris tidak pernah mendapatkan sepotong roti atau secarik kain. Allah memberi mereka anugerah dengan tidak mengotori mereka.
Bahkan Allah berfirman kepada Musa dan Harun a.s.: “Seandainya aku ingin menghias kalian berdua dengan perhiasan, yang jika Firaun melihatnya dia akan tahu bahwa kekuasaannya tidak mampu mendatangkan perhiasan semacam itu, tentu Aku dapat melakukannya. Tapi Aku melarangnya untuk kalian berdua dan membuat kalian membencinya. Begitulah Aku memperlakukan orang-orang yang Ku-kasihi.
Sungguh Aku mencegah mereka dari nikmat dunia, seperti penggembala yang penuh kasih mencegah ontanya dari tempattempat kudis berkembang biak. Aku menjauhkan mereka dari ketenangan dan kehidupan (gerak hidup) dunia, bukan karena kehinaan mereka di sisi-Ku, tapi agar mereka dapat menyempurnakan kemuliaan-Ku yang menjadi bagian mereka.”
Allah berfirman:
Artinya: “Dan seandainya seluruh manusia bukanlah umat yang satu, niscaya Kami akan membuatkan rumah yang beratap perak untuk orang-orang yang kufur kepada Dzat yang Maha Pengasih.” (Q.S. Az-Zukhruf: 33)
Lihatlah perbedaan dua hal tersebut jika Anda memang orang yang waspada. Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi anugerah pada kami seperti anugerah yang diberikan kepada para kekasih dan orang-orang pilihan-Nya, memalingkan fitnah musuh-musuh-Nya dari kami, agar kami memperoleh bagian.” Dan hendaklah kamu mengkhususkan diri dengan syukur yang sempurna, pujian terbesar atas anugerah yang besar dan kenikmatan yang agung, yakni agama Islam, karena nikmat islam itulah yang lebih utama dan lebih pantas, dengan cara tidak henti-hentinya mensyukuri nikmat tersebut siang dan malam. Jika Anda tidak mampu mengetahui kedudukannya, maka ketahuilah dengan kenyataan yang ada, yaitu seandainya Anda diciptakan sejak permulaan dunia, lalu Anda mensyukuri nikmat Islam dari awal hidup sampai akhir hayat, tentu Anda belum bisa memenuhi syukur tersebut dan Anda belum bisa memenuhi sebagian hak Allah karena di sana terdapat keutamaan dan keagungan.









One Comment