Jika ditanyakan: Tapi rezeki madhmun juga mempunyai sebab. Apakah kita tidak berkewajiban mencari penyebabnya?
Jawabannya adalah: Anda tidak wajib mencari penyebab tersebut. Karena seorang hamba tidak memerlukannya. Sebab Allah melakukannya dengan atau tanpa sebab. Lalu dari mana datangnya kewajiban kita mencari sebab?
Kemudian Allah menjamin Anda secara mutlak tanpa syarat berusaha (mencari) maupun bekerja. Allah Swt. berfirman:
Artinya: Dan tidak ada seekor binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.(Q.S. Huud: 6)
Lalu benarkah Allah memerintahkan seorang hamba untuk mencari sesuatu yang tidak ia ketahui di mana tempatnya sehingga ia bisa mencarinya? Tak lain karena ia tidak tahu mana penyebab yang mendatangkan rezekinya dan apa yang menjadi penyebab dirinya kuat serta meningkat.
Jadi, masing-masing dari kita tidak mengetahui penyebab tersebut secara benar dari mana ia memperolehnya, karena itu pembebanan terhadap hamba tersebut tidak benar. Renungkanlah! Niscaya kau dapatkan petunjuk, karena hal itu sudah jelas adanya.
Cukuplah menjadi pelajaran bagi Anda bahwa para nabi a.s. dan para kekasih Allah yang bertawakal pada umumnya tidak mencari rezeki dan malah memfokuskan diri mereka untuk beribadah. Dan secara keseluruhan mereka tidak meninggalkan perintah Allah dan tidak mendurhakai-Nya dalam hal itu.
Dengan demikian, jelaslah bagi Anda bahwa mencari rezeki dan segala penyebabnya bukanlah suatu hal yang wajib dilakukan oleh seorang hamba.
Jika Anda bertanya: Adakah rezeki itu bisa bertambah dengan usaha (pencarian) dan berkurang karena ditinggalkan (tanpa melakukan usaha)?
Ketahuilah bahwa urusan rezeki itu telah dicatat di Lauh Mahfuzh, telah ditentukan jumlah (ukuran) dan waktunya. Padahal tidak ada yang bisa mengganti hukum Allah. Tidak ada yang bisa mengubah pembagian dan catatan-Nya.
Ini adalah pendapat yang sahih menurut para ulama kita. Berbeda dengan pendapat yang dipegang oleh para murid Hatim dan Syaqiiq. Mereka berkata: Sesungguhnya rezeki itu tidak bisa bertambah dan bisa berkurang karena perbuatan seorang hamba. Tapi kalau harta bisa bertambah dan berkurang karenanya.
Pendapat seperti ini adalah salah, karena dalil yang menunjukkan dua hal (rezeki dan harta) ini hanya satu, yakni ketetapan (catatan Allah) dan pembagian. Dan juga ini yang diberi isyarat oleh Allah dengan firman-Nya:
Artinya: (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang yang diberikannya kepadamu.(Q.S. Al-Hadid: 23)
Seandainya rezeki itu bisa bertambah dengan pencarian dan berkurang dengan meninggalkan (tidak mencari)nya tentu ada tempat susah dan senang, karena jika ia seorang hamba tidak serius dan menunda-nunda ia akan kehilangan (rezeki). Dan jika ia bersungguh-sungguh ia bersemangat ia akan memperolehnya.
Rasulullah bersabda kepada seorang pengemis:
Artinya: Ambillah (kurma) ini. Seandainya kau tidak mendatanginya pasti kurma ini datang kepadamu.
Jika ada pertanyaan: Pahala dan siksaan juga telah tertulig di Lauh Mahfuzh, sementara kita juga wajib mencari pahala dan meninggalkan hal yamg mengharuskan adanya siksa. Lalu apakah pahala itu bisa bertambah dengan mencari dan berkurang dengan meninggalkannya?
Ketahuilah bahwa sesungguhnya mencari pahala itu wajib, Hal itu karena Allah telah memerintahkannya dengan suatu perintah pasti! Dan mengancam jika hal itu ditinggalkan. Allah juga tidak menjamin pahala tanpa adanya perbuatan (yang mendatangkan pahala) dari kita. Sementara bertambahnya pahala tergantung pada perbuatan seorang hamba.
Adapun perbedaan antara keduanya terdapat pada satu titik, yaitu apa yang dikatakan oleh seorang ulama kita bahwa sesungguhnya apa yang tertulis di Lauh Mahfuzh itu ada dua macam:
Pertama, perkara yang tertulis secara mutlak, artinya tanpa embel-embel syarat dan ketergantungan terhadap perbuatan seorang hamba, yaitu berbagai macam rezeki dan ajal. Tidakkah Anda melihat bagaimana Allah menyebutkan keduanya secara mutlak dengan tanpa syarat? Allah berfirman:
Artinya: Dan tidak ada seekor binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.(Q.S. Huud: 6)
Dan Allah berfirman:
Artinya: Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya.(Q.S. Al-A’raaf: 34)
Rasulullah Saw. bersabda:
Artinya: “Ada empat hal yang telah ditetapkan yaitu: Makhluk, budi pekerti, rezeki dan ajal (kematian).
Kedua, perkara yang tertulis tapi disertai suatu syarat dan digantungkan pada sesuatu, yakni dengan syarat adanya perbuatan seorang hamba. Hal itu adalah pahala dan siksa.
Adakah Anda tidak melihat bagaimana Allah menyebutkan kedua hal itu di dalam kitab-Nya dengan menggantungkan keduanya kepada perbuatan seorang hamba?
Allah befirman:
Artinya: Dan sekiranya ahli kitab beriman dan bertakwa, tentu Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan.(Q.S. Al-Maaidah: 65)
Kiranya hal ini sudah jelas, pahamilah!
Jika ada pertanyaan: Kami telah menemukan banyak orang yang berusaha mencari rezeki dan mereka menemukan rezeki serta harta. Dan kamijuga melihat orang yang tidak mencari rezeki tidak mendapatkan apa-apa serta menjadi fakir.
Jawaban untuknya adalah: Sepertinya Anda tidak pernah melihat orang yang berusaha lalu tidak berhasil dan menjadi fakir.
Anda juga tidak melihat orang yang tidak mencarinya serta menganggur diberi rezeki dan menjadi kaya.
Memang benar bahwa kebanyakan itulah yang terjadi agar Anda tahu bahwa hal itu (rezeki) adalah ketentuan (takdir) dari Tuhan yang Maha Agung dan Maha Mengetahui. Dan juga merupakan pengaturan dari Maharaja yang bijaksana.
Abu Bakar Muhammad bin Saabig Al-Waa’izh Ash-Shiqli di negara Syam melantunkan syair:
Banyak sekali orang kuat dan jernih pendapatnya rajin mondarmandir bekerja,
tapi rezeki itu berpaling darinya.
Banyak orang lemah yang tidak rajin mondar-mandir bekerja
tapi ia seakan-akan tinggal menangguk rezeki itu dari tepi laut.
Ini adalah bukti bahwa Tuhan mempunyai suatu rahasia
yang tersimpan rapat hingga tidak bisa disingkap oleh makhluk-Nya.
Jika Anda bertanya: Mungkinkah seseorang memasuki daerah pedalaman tanpa membawa perbekalan?









One Comment