Diceritakan bahwa ada seorang lelaki yang menjamu Sufyan Ats-Tsauri dan para sahabatnya. Lelaki tersebut berkata kepada keluarganya: “Bawa kesini talam itu. Jangan talam yang kubawa dari haji yang pertama, tapi ambillah talam yang kubawa dari haji kedua.” Sufyan Ats-Tsauri menatap orang tersebut dan berkata: “Kasihan. Orang ini telah merusak kedua ibadah hajinya dengan kata-kata seperti ini.”
Sisi lain yang merugikan adalah: Sedikit ketaatan yang bebas dari riya dan ujub akan mendapatkan nilai yang tak terhingga dari Allah. Akan tetapi amal yang banyak jika sampai terkena penyakit riya semacam ini, maka hal itu tidak berharga sama sekali, kecuali jika amal tersebut disusul dengan anugerah dari Allah, sebagaimana diceritakan dari sahabat Ali r.a. Beliau berkata: “Pahala amal yang diterima oleh Allah tentu tidak akan berkurang. Lalu bagaimana mungkin amal yang diterima itu berkurang?
An-Nakha’i pernah ditanya tentang amal ini dan itu serta apa yang menjadi pahalanya. Beliau menjawab: “Pahalanya tidak terhitung apabila amal tersebut diterima (oleh Allah).”
Diceritakan dari Wahb. Beliau berkata: “Pada zaman dahulu kala ada seorang lelaki yang beribadah selama tujuh puluh tahun dengan cara berpuasa. Ia hanya berbuka (tidak berpuasa) setiap hari sabtu. Kemudian ia memohon suatu kepentingan kepada Allah, dan permohonan tersebut tidak dikabulkan. Ia pun memaki dirinya sendiri dengan berkata: ‘ Karena kamu, kepentingan itu akan terpenuhi. Seandainya kamu memiliki kebaikan, tentu kebutuhan akan terpenuhi. Kemudian Allah menurunkan malaikat Jibril. Lalu (kepada orang tersebut) Jibril berkata: “Hai anak Adam. Waktu sebentar yang kau gunakan untuk menghina nafsumu lebih baik dari ibadah yang telah kau kerjakan.”
Menurutku (Al-Ghazali) sebaiknya orang yang memiliki akal merenungkan pembicaraan (kisah) ini. Bukankah termasuk bencana jika ada seseorang yang telah bersungguh-sungguh dan dengan susah payah beribadah selama tujuh puluh tahun kemudian ada orang lain yang hanya berpikir sesaat. Dan pada akhirnya pikiran yang hanya sesaat itu lebih utama di hadapan Allah ketimbang ibadah yang dilakukannya selama tujuh puluh tahun. Bukankah sangat rugi bila Anda memiliki waktu sesaat yang nilainya lebih baik daripada tujuh puluh tahun tapi meninggalkanya begitu saja untuk hal yang tidak Anda perlukan? Tentu. Demi Allah halitu adalah kerugian yang sangat besar. Dan jika hal itu dilupakan tentu amat merugikan, karena nilainya yang sangat berharga dan derajatnya sangat tinggi. Anda harus berhatihati dan menjauhinya.
Karena arti semacam inilah pandangan orang-orang yang waspada tertuju pada urusan yang pelik ini. Dan mementingkan rahasia-rahasia semacam ini agar terlebih dahulu mengetahui dan menjauhkan diri darinya sebagai langkah kedua. Mereka tidak merasa kaya dengan banyaknya amal-amal zhahir. Mereka berkata behwa yang penting adalah kejernihan hati bukan banyaknya amal. Mereka juga berkata bahwa sebutir permata lebih baik dari seribu kalung plastik.
Adapun orang-orang yang pengetahuannya dangkal serta tidak jelas dalam melihat hal seperti ini, maka mereka tidak akan mengerti arti semacam ini, melupakan cacat yang ada di hati mereka dan sibuk memayahkan diri dengan rukuk, sujud, menahan diri dari makanan, minuman dan sebagainya. Mereka terbuai dengan jumlah yang banyak dan tidak berpikir tentang anugerah serta kejernihan hati. Buah pala yang banyak tidak akan berguna jika tak ada isinya. Atap yang tinggi tidak akan berarti jika pondasinya tidak diperkuat.
Tidak ada yang memikirkan kenyataan semacam ini selain orang-orang yang beramal karena Allah dan terbuka mata hatinya (orang-orang yang mukasyafah). Hanya Allah yang menguasai petunjuk dengan anugerah-Nya.
Tahapan sangat mengkhawatirkan karena dilihat dari beberapa sisi:
Pertama: Tuhan yang disembah adalah Maharaja yang kemuliaan dan keagungannya tiada batas. Dia telah memberikan hikmat-nikmat yang jumlahnya tidak terhingga, dan Anda hanya memiliki tubuh yang banyak cacat, masih samar (tidak nampak), penuh penyakit dan hal-hal yang menakutkan. Bila Anda terpeleset, sementara nafsu terus mengejar dan Anda harus membuahkan amal yang bersih dan utuh dari badan yang penuh cacat dan nafsu yang cenderung ingin melakukan hal-hal buruk serta mengajak berbuat jahat, untuk dihadapkan ke hadirat Tuhan semesta alam dengan kemuliaan-Nya yang tinggi dan banyaknya pertolongan serta anugerah (yang diberikan)-Nya serta harus menempati keridaan serta penerimaan-Nya. Danjika tidak, maka Anda akan kehilangan keuntungan yang sangat besar dan kadangkadang nafsu Anda tidak akan memberikan toleransi jika sampai tidak mendapatkannya, atau bahkan Anda mendapatkan musibah yang tidak mampu Anda tanggung. Sungguh demi Allah. Ini adalah hal yang amat penting dan pembakar semangat yang sangat besar.
Kemuliaan dan keagungan sang raja (bisa dibuktikan) dengan adanya para malaikat Mugarrabiin yang baik-baik berdiri tegak mengabdi kepada-Nya sepanjang hari. Sampai-sampai di antara mereka ada yang sejak diciptakan sampai saat ini selalu berdiri. Ada yang selalu rukuk, bersujud, membaca tahlil dan tahajud. Malaikat yang berdiri tidak menyempurnakan berdirinya, yang rukuk tidak menyempurnakan rukuknya, yang sujud tidak menyempurnakan sujudnya, yang membaca tasbih tidak menyempurnakan tasbihnya, dan yang membaca tahlil tidak menyempurnakan tahlinya. Masing-masing memanjangkan suaranya sampai terompet kiamat. Kemudian setelah menyelesaikan pengabdian yang besar ini mereka berseru dengan kompak:
Artinya: Maha Suci Engkau. Ya Allah. Kami tidak beribadah kepadamu sebagaimana mestinya.
Rasulullah Muhammad Saw. seorang pemimpin rasul, orang terbaik di jagad raya, dan yang paling alim serta utama dibanding seluruh makhluk, mengatakan:
Artinya Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu sebanyak Engkau memuji Dzat-Mu.”
Beliau mengatakan:
Artinya Aku tidak mampu memuji-Mu dengan pujian yang pantas bagi-Mu, apalagi beribadah dengan sesuatu yang pantas bagi-Mu.
Beliau adalah seseorang yang pernah mengatakan:
Artinya Tidak ada seorangpun yang masuk surga karena amalnya. Para sahabat bertanya, Termasuk Anda ya Rasulullah?”Beliau menjawab, Termasuk aku kecuali jika aku diliputi dengan rahmat Allah.
Kenikmatan dan anugerah Allah adalah sebagaimana firmanya:
Artinya Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya.(Q.S. An-Nahl: 18)
Juga seperti apa yang telah diceritakan bahwa kelak di hari kiamat manusia akan dikumpulkan sambil membawa tiga catatan: Catatan amal baik, catatan amal buruk dan catatan kenikmatan. Catatan kebaikan diperbandingkan dengan nikmat-nikmat (yang telah diterimanya). Pada setiap satu kebaikan didatangkan satu kenikmatan sampai semua kebaikan menutupi semua kenikmatan. Yang tersisa hanya keburukan serta dosa-dosa dan hal itu terserah pada Allah (diampuni atau tidak).
Mengenai cacat-cacat dan penyakit pada diri seseorang telah kami terangkan di depan di dalam babnya sendiri.
Yang menjadi kekhawatiran adalah: Ada seorang hamba yang telah bersusah payah melakukan ibadah dan mengalami kesulitan selama tujuh puluh tahun dan tidak memperhatikan cacat serta penyakitnya. Bisa jadi tak satupun dari ibadah tersebut yang diterima. Kadang ia bersusah payah selama beberapa tahun dan dirusak oleh (perbuatan yang dikerjakan dalam) waktu sekejap.
Yang lebih mengkhawatirkan dari semua itu adalah jika Allah melihat seorang hamba yang berbuat riya kepada orang lain dengan ibadah dan pengabdian yang dikerjakannya. Yaitu secara lahir dilakukan karena Allah, tapi secara batin dilakukan karena orang lain. Lalu Allah mengusir orang tersebut sampai ia tidak menemukan jalan untuk kembali.
Semoga Allah melindungi kita semua.
Aku pernah mendengar bahwa ada seorang ulama yang bercerita tentang Hasan Al-Bashri setelah beliau wafat. Di dalam mimpi beliau ditanya tentang keadaan yang dialaminya. Beliau menjawab: Allah menempatkan diriku di hadapan-Nya. Lalu Dia berfirman Hai Hasan! Apakah kamu masih ingat? Suatu saat kamu salat di dalam masjid. Tiba-tiba orang-orang melayangkan pandangan mereka kepadanu, lalu kamu menambah kebaikan salatmu. Seandainya tidak karena niatmu yang murni karena Aku pada saat memulainya, tentu sudah kuusir kamu dari sisi-Ku dan kuputuskan hubunganmu denganKu satu kali.
Karena urusan ini secara umum amat rumit dan sukar, maka orang-orang yang waspada merenung dan mengkhawatirkan diri mereka. Sampai-sampai ada di antara mereka yang tidak menoleh pada amal-amal yang terlihat oleh orang lain.









One Comment