Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

  1. Mengingat bahaya akhirat dan akibat yang ditimbulkannya.

Dalam hal ini aku akan mengemukakan satu pokok yang penting, yaitu bahwa pembicaraan Anda tidak akan pernah lepas dari dua kemungkinan: Pembicaraan yang diharamkan dan yang diperbolehkan berupa membicarakan sesuatu yang tidak bermanfaat secara berlebihan.

Bila pembicaraan tersebut diharamkan, maka Anda berhak mendapat siksa dari Allah yang tidak mampu ditanggung.

Telah kami ceritakan dari Rasulullah bahwa beliau bersabda:

Artinya: “Pada malam ketika aku diisra’kan, aku melihat sekelompok orang di dalam neraka yang sedang memakan bengkai. Kemudian aku bertanya, “Wahai Jibril! Siapakah mereka itu?” Jibril menjawab,

‘Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia.’

Beliau juga pernah bersabda kepada Mu’adz:

Artinya: “Hentikan menggunjing para ahli Al-Qur’an, dan para penuntut ilmu. Jangan mencabik-cabik orang lain dengan mulutmu agar dirimu tidak dicabik-cabik anjing neraka.” Diceritakan dari Abu Qilabah. Beliau berkata: “Sesungguhnya gunjingan itu menyimpan kerusakan hati dari petunjuk Allah.”

Kami memohon pemeliharaan kepada Allah dengan anugerah-Nya.

Inilah akibat pembicaraan yang terlarang. Sedangkan dalam pembicaraan yang mubah Anda harus memperhatikan empat hal:

  1. Kesibukan malaikat pencatat amal karena harus mencatat halhal yang tidak ada kebaikan dan manfaaatnya, sudah semestinya seseorang merasa malu kepada keduanya dan tidak menyakiti mereka.

Allah Swt. berfirman:

Artinya: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada Ragib dan “Atid (malaikat yang mengawasi dan menunggu). (Q.S. Oaf: 19)

  1. Dengan melakukan itu berarti kita mengirimkan buku catatan kepada Allah dalam keadaan kosong. Dan hendaknya seorang hamba menjaga dirinya dari hal itu serta merasa takut kepada Allah Swt.

Telah diceritakan bahwa ada ulama yang melihat seorang lakilaki sedang mengeluarkan kata-kata keji. Kemudian ulama tersebut berkata: “Wahai saudara! Sungguh celaka. Kamu sedang mengirim tulisan kepada Tuhanmu. Karena itu, perhatikan apa yang kau tulis untuk-Nya.”

  1. Pembacaan buku catatan amal tersebut pada hari kiamat di hadapan para raja yang Maha Perkasa, di depan para saksi, di tengah suasana sulit dan bebagai goncangan dalam keadaan dahaga, telanjang, lapar, jauh dari surga dan terhalang dari kenikmatan.
  1. Cercaan dan cemoohan karena ucapan yang Anda keluarkan, kehilangan hujjah dan rasa malu kepada Allah.

Ada ulama yang mengatakan:

Artinya: “Janganlah kamu berlebihan dalam bicara karena perhitungannya akan panjang.”

Kiranya keterangan ini sudah cukup sebagai nasehat bagi orang yang mau menerima nasehat.

Kami telah menerangkan hal ini secara panjang lebar dan memuaskan di dalam kitab “Asraari Muaamalat Ad-Diin.” Pelajarilah! Semoga Anda mendapatkan pengobatnya.

Pasal Keempat: Hati

Sebaiknya Anda senantiasa menjaga hati, memperbagus dan mengawasinya dengan baik dan sekuat tenaga. Sebab hati adalah anggota badan yang paling mengkhawatirkan, paling berpengaruh, paling rumit, paling sulit diperbaiki dan susah perawatannya.

Dalam hal ini aku akan menerangkan lima pokok bahasan yang sangat urgen.

  1. Firman Allah Swt.:

Artinya: “Dia Maha mengetahui (pandangan) mata yang berkhianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Q.S. Al-Mu’min: 19)

Juga firman Allah:

Artinya: “Dan Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hatimu.” (Q.S. Al-Ahzab: 51)

Firman Allah:

Artinya: “Sungguh Allah Maha mengetahui segala isi hati.” (Q.S. Al-Anfal: 43)

Berapa kali Allah menyebut dan mengulang masalah ini di dalam Al-Qur an. Cukuplah kiranya pengawasan Dzat yang Maha Mengetahui sebagai peringatan bagi hamba-hamba pilihan. Sebab muamalah (bergaul) dengan Dzat yang Maha Mengetahui segala urusan gaib adalah hal penting yang berbahaya. Karena itu, perhatikanlah apa yang diketahui-Nya dari hati Anda.

  1. Hadis Nabi Saw.:

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa dan kulitmu, melainkan Dia hanya memandang hatimu.”

Hadis ini menunjukkan bahwa hati adalah pusat pandangan Tuhan semesta alam. Alangkah mengherankan bila seseorang hanya mementingkan wajah yang hanya menjadi pusat pandangan makhluk. Orang tersebut membasuhnya, membersihkannya dari kotoran dan menghiasinya semampu mungkin agar orang lain tidak melihat kekurangan pada dirinya. Dia tidak mementingkan hati yang menjadi tempat pandangan Tuhan semesta alam. Tidak mau membersihkan, menghias dan mengharumkannya agar Allah tidak melihatnya dalam keadaan kotor, jelek, rusak, dan cacat. Bahkan sebaliknya, ia justru memenuhinya dengan hal memalukan, kotor dan keji, yang seandainya orang lain melihat salah satunya saja tentu mereka akan menyingkir dan membiarkannya begitu saja, atau bahkan mengusirnya.

Hanya Allah tempat memohon pertolongan.

  1. Sesungguhnya hati bagaikan seorang raja yang ditaati, Bagaikan pemimpin yang diikuti (anak buahnya). Adapun seluruh anggota badan bagaikan pengikutnya. Bukankah jika pemimpinnya baik anak buahnya juga baik? Jika rajanya berbuat lurus rakyatnya juga lurus?

Keterangan ini diambil dari hadis yang diriwayatkan dari Nabi Saw. bahwasanya beliau bersabda:

Artinya: “Sesungguhnya di dalam jasad (manusia) terdapat segumpal darah yang apabila baik, maka baik pula seluruh jasad. Dan apabila rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ingatlah! Itulah hati.”

Jika kebaikan segala sesuatu tergantung padanya (hati), maka sudah seharusnya kita mencurahkan seluruh perhatian padanya.

  1. Sesungguhnya hati adalah tempat penyimpanan segala macam permata indah bagi seorang hamba dan juga menyimpan berbagai hal penting.

Yang pertama akal dan puncaknya adalah makrifat kepada Allah yang menjadi salah satu penyebab kebahagiaan dunia akhirat.

Kemudian disusul oleh bermacam pengetahuan dan hikmah yang menjadi kemuliaan seorang hamba, serta seluruh akhlak mulia dan perbuatan-perbuatan terpuji yang digunakan untuk mendapatkan jenjang kedudukan orang-orang mulia, seperti yang telah kami jelaskan secara panjang lebar di dalam kitab ” Asraari Mu’aamalat Ad Diin.”

Sudah sepantasnya simpanan seperti ini dipelihara dari bermacam kotoran dan kerusakan. Dijaga dari para pencuri atau perampok. Dan juga dimuliakan dengan bermacam kemuliaan agar permata tesebut tidak kotor dan diambil musuh.

  1. Setelah kurenungkan keadaannya ternyata aku menemukan lima hal yang tidak dialami oleh anggota tubuh lain:

Pertama, musuh yang selalu mengintai dan berusaha mempengaruhinya. Sebab setan selalu bertengger di atas hati manusia, tempat tinggal ilham dan was-wasah yang membisikkan dua ajakan berbeda untuk selamanya, yakni bisikan malaikat Mulhim dan setan.

Kedua, kesibukan yang harus dijalani karena akal dan nafsu tinggal bersama di dalamnya. Hati adalah medan tempur antara dua pasukan, yakni pasukan hawa nafsu dan pasukan akal. Selamanya hati tetap berada di tengah pertempuran dan luncuran panah mereka. Karena itu, sudah seharusnya kalau tempat itu dijaga, dibentengi dan tidak dilupakan.

Ketiga, di dalam hati terdapat banyak rintangan. Bermacam gerak hati seperti panah yang tiada hentinya menghunjam. Bagaikan hujan yang tiada pernah reda, malam dan siang tiada henti. Sementara itu Anda tidak mampu mencegahnya.

Hati tidaklah sama dengan mata yang berada di tengah kedua kelopaknya. Bisa dipejamkan dan merasa nyaman. Atau diletakkan di tempat sepi dan gelap sehingga pandangannya bisa terhambat.

Hati juga tidak sama dengan lidah yang ada di belakang dua sekat, gigi dan bibir. Anda masih mampu menahannya dan membuatnya diam.

Akan tetapi hati adalah obyek bermacam gerak hati yang bagaimanapun juga Anda sendiri tidak mampu menahan dan menjaga diri darinya. Gerak hati tersebut sedetikpun tak bisa lepas dari Anda. Sementara itu hawa nafsu cepat sekali ingin mengikutinya.

Untuk mencegah hati dari semua itu dengan sekuat tenaga merupakan hal berat dan ujian yang paling besar.

Keempat, pengobatannya yang sulit karena tidak bisa Anda lihat, Hampir saja Anda tidak tahu sampai perlahan-lahan merasakan adanya kerusakan di dalamnya dan juga terjadi halhal baru. Untuk itu, Anda harus membicarakannya dengan sempurna, kekuatan penuh, perenungan mendalam dan banyak riyadhah.

Kelima, kerusakan yang lebih cepat menjalar ke dalamnya, karena pergolakan yang terjadi di dalamnya juga amat cepat. Bahkan ada yang mengatakan bahwa pergolakan hati lebih cepat dibanding air mendidih dalam kendil.

Karena itu dalam syair disebutkan:

Tidak dinamakan hati selain karena pergolakannya.

Adapun pikiran bisa menciptakan berbagai keadaan pada manusia.

Kemudian bila hati telah tergelincir — semoga Allah melindungi kita semua — maka pasti gelincirannya lebih keras dan jatuhnya juga lebih buruk, karena paling tidak hati menjadi keras dan cenderung kepada selain Allah. Sedangkan puncaknya adalah diakhiri (mati) dengan membawa kekufuran.

Tidakkah Anda pernah mendengar firman Allah:

Artinya: “Dia (Iblis) membangkang dan menyombongkan diri. Dia termasuk golongan orang-orang kafir.” (Q.S. al-Baqarah: 34)

Kesombongan yang bersemayam di hatinya mendorong untuk berani membangkang dan secara lahir berbuat kufur.

Adakah Anda tidak mendengar firman Allah:

Artinya: “Akan tetapi (Bal’am) lebih senang abadi di muka bumi dan mengikuti hawa nafsunya.” (Q.S. Al-A’raaf: 176)

Kecenderungan mengikuti hawa nafsu bersemayam di hati Bal’am. Dan hal itu mendorongnya melakukan dosa buruk yang tercela.

Adakah Anda tidak mendengar firman Allah:

Artinya: “Kami membolak-balikkan hati dan mata mereka sebagaiamana pertama kali mereka tidak beriman kepada Al-Jur’an. Dan Kami membiarkan mereka berada dalam kedurhakaan dalam keadaan bingung.” (Q.S. Al-An’aam: 110)

Karena arti semacam inilah para hamba Allah yang terpilih senantiasa mengkhawatirkan hati mereka, menangisinya dan mencurahkan seluruh kekuatan untuk menjaganya.

Allah berfirman tentang gambaran mereka:

Artinya: “Mereka takut pada suatu hari (yang ketika itu) hati dan penglihatan menjadi bergoncang.” (Q.S. An-Nuur: 37)

Semoga Allah berkenan menjadikan kita semua bagian dari orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dari contoh-contoh yang ada dan mendapat petunjuk di tempat-tempat berbahaya dan mendapatkan taufik untuk memperbagus hati mereka dengan pemikiran yang baik. Sungguh Dia Maha Pengasih di antara para pengasih.

Jika ada yang berkata: “Urusan hati seperti ini memang penting sekali. Karena itu, tolong jelaskan usaha apa saja yang bisa memperbagaus dan kerusakan macam apa yang menghadang dan merusaknya. Siapa tahu aku mendapat taufik untuk bersungguh-sungguh menjalaninya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker