3, Anda juga harus tahu bahwa segala sesuatu tidak akan sempurna tanpa usaha dan perjuangan maksimal. Mereka (orang-orang saleh) juga mempunyai daging, darah, tubuh dan nyawa. Bahkan keadaan tubuh mereka lebih kurus, anggota badan mereka lebih rapuh dan tulang mereka lebih kecil dari Anda. Akan tetapi mereka memiliki kekuatan ilmu, cahaya keyakinan, dan cita-cita tinggi dalam urusan agama. Sehingga mereka mampu melakukan mujahadah (perjuangan melawan nafsu) dan tetap menempati kedudukan tersebut. Oleh karena itu, lihatlah diri Anda. Semoga Allah memberikan rahmat pada kita semua. Obatilah diri Anda dari penyakit yang sulit disembuhkan ini. Semoga Anda beruntung.
Setelah mengutarakan semua ini kami akan menerangkan hal penting yang bisa bersemayam dalam hati, jika Anda mau mengingat dan mencukupi ongkos yang diperlukannya. Di samping itu Anda juga akan melihat jalan kebenaran yang nyata jika mau merenung dan beramal dengannya.
Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua.
Pertama, sebaiknya Anda mengetahui bahwa Allah Swt. telah menjamin semua rezeki bagi hamba-Nya di dalam Lauh Mahfuzh. Allah telah menjamin rezeki dan menanggungnya bagi Anda. Apa yang akan Anda katakan jika ada seorang penguasa di dunia yang akan menjamu Anda malam ini dan ia sudah mengundang Anda untuk makan. Sedangkan Anda berprasangka baik bahwa ia adalah orang yang jujur, tak pernah bohong dan ingkar janji. Bahkan seandainya ada seorang pedagang pasar yang menjanjikan hal itu, atau mungkin orang Yahudi, Nasrani atau bahkan Majusi yang belum Anda ketahui dengan pasti serta masih perlu berhati-hati dengan ucapannya, Bukankah Anda percaya pada janjinya dan merasa tenang dengan ucapannya. Lalu Anda tak lagi memperdulikan urusan makanan, karena sepenuhnya percaya sepenuhnya kepada orang tersebut di malam itu.
Kemudian apa yang terjadi dengan Anda? Bukankah Allah telah berjanji akan menjamin rezeki Anda dan menanggung hal itu bagi Anda? Bahkan Dia telah bersumpah berulangkali. Kenapa Anda tidak merasa tenteram dengan janji-Nya dan tidak merasa tenang dengan firman dan janiman-Nya? Anda tidak melihat bagaimana Dia membagi rezeki. Bahkan hati Anda berguncang dan merasa sedih. Alangkah malunyajika Anda melihat kenyataan sebenarnya. Alangkah besarnya musibah ini jika Anda mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Diceritakan dari sahabat Ali bin Abu Thalib. Beliau berkata:
Adakah kau mencari rezeki Allah dari orang lain
dan merasa aman dari kesudahan yang menakutkan.
Apakah kau rela dengan penukar uang yang akan menjaminmu walau dia seorang musyrik
dan tidak rela dengan jaminan yang diberikan Tuhanmu? Seakan-akan kau tidak membaca apa yang tertulis dalam kitab-Nya sehingga pagi-pagi sudah berpindah keyakinan secara terangterangan.
Jika melihat makna semua ini, jelaslah bahwa urusan rezeki Japat menyeret seseorang ke arah kebimbangan dan syubhat (hal meragukan) yang mengkhawatirkan pemiliknya kehilangan makrifat dan agama.
Karena makna seperti ini pula, Allah Swt. befirman:
Artinya: “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Q.S. Al-Maaidah: 23)
Dia juga berfirman:
Artinya: “Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin itu bertawakal.” (Q.S. At-Taubah: 51)
Cukuplah kiranya satu keterangan singkat ini bagi seorang mukmin yang mementingkan urusan agamanya.
Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah yang Maha Luhur lagi Maha Agung.
Kedua, hendaknya Anda mengetahui bahwa rezeki itu telah dibagi. Hal itu sudah jelas disebutksn dalam Al-Qur’an dan berbagai hadis Rasul Saw.
Anda juga harus tahu bahwa rezeki tersebut tidak dapat diganti dan diubah. Jika Anda mengingkari pembagian tersebut dan menganggap mungkin bisa berkurang, berarti Anda telah mengetuk pintu kekufuran. Naudzubillah. Jika Anda tahu bahwa hal itu benar-benar tidak dapat diubah, untuk apa mementingkan dan mencari (rezeki). Tidak ada yang diperoleh selain kehinaan dan kenistaan di dunia serta kesulitan dan kerugian di akhirat.
Karena itulah Rasul Saw. Bersabda:
Artinya: “Telah tertulis di atas punggung ikan dan sapi, rezeki untuk si fulan. Jadi orang yang rakus tidak akan mendapat tambahan selain kepayahan.”
Dalam hal ini guru kami berkata: “Sesungguhnya apa yang telah ditakdirkan menjadi kunyahanmu tidak akan dikunyah orang lain. Karena itu, makanlah rezekimu dengan kemuliaan dan jangan memakannya’dengan kehinaan.
Ini adalah keterangan ringkas yang memuaskan bagi orang-orang yang jantan.
Ketiga, apa yang kudengar dari guru kami Imam Haramain yang menceritakan Al-Ustadz Abu Ishag rahimahullah. Beliau berkata: “Sebenarnya di antara hal yang membuat diriku puas dalam urusan rezeki adalah karena aku mengingat dan berkata dalam hati. Bukankah rezeki ini diperuntukkan bagi makhluk yang masih hidup. Sedangkan orang yang telah mati tidak mendapatkan rezeki.” Jika kehidupan seorang hamba berada di dalam gudang Allah dan di bawah kekuasaan-Nya, berarti seperti itu pula urusan rezeki. Bila Dia menghendaki tentu Dia memberiku rezeki. Sedangkan hal itu belum jelas bagiku. Kuserahkan hal itu kepada Allah yang akan mengaturnya sesuai apa yang Ia kehendaki. Aku akan merasa tenang dalam masalah ini.
Keterangan singkat ini lembut sekali dan memuaskan para ahli tahqiq.
Sesungguhnya Allah menjamin rezeki seluruh hamba dan yang Dia jamin adalah rezeki madhmun, berupa bahan penguat dan pendidikan. Rezeki madmun inilah yang menjadi penguat dan bahan persiapan untuk taat.
Adapun mengenai bermacam penyebab seperti makanan dan rainuman, maka jika seorang hamba menfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah dan menyerahkan diri (bertawakal) kepada-Nya, bisa saja penyebab-penyebab tersebut tertahan darinya.
Dia tidak perlu mempersiapkan hal itu dan merasa jemu, karena ja tahu benar bahwa jaminan mendapat penguat tubuh dan tawakal kepada Allah hanya berhubungan dengan tegaknya tubuh, tidak ada hubungannya dengan yang lain. Hal yang ditunggu-tunggu dari Allah hanya itu. Sesungguhnya Allah pasti memberinya kekuatan agar ia bisa memenuhi hak-hak ibadah dan pengabdian selama umur serta tuntutan beribadah masih ada padanya. Bantuan semacam inilah yang menjadi tujuan. Dan Allah Maha kuasa terhadap apa yang Ia kehendaki. Jika menghendaki, Dia akan memberi penguat tubuh hamba-Nya dengan perantara makanan dan minuman. Atau dengan tanah liat dan debu. Atau dengan tasbih dan tahlil seperti halnya para malaikat. Dan jika menghendaki, Dia akan memberi penguat tanpa perantara semua itu. Yang dicari seorang hamba tidak lain hanyalah penguat tubuh dan kekuatan untuk beribadah, bukan makan dan minum, syahwat dan keinginan yang menggebu serta merasakan kenikmatan. Jadi, semua penyebab itu di luar perhitungannya. Oleh karena itu, orang-orang yang tekun beribadah dan berzuhud mampu menempuh berbagai perjalanan serta melipat malam dan siang. Di antara mereka ada yang tidak makan selama sepuluh hari. Ada yang tidak makan selama satu atau dua bulan dan mereka tetap kuat seperti biasa.
Di antara mereka ada yang menelan pasir, lalu Allah menjadikannya sebagai bahan penguat, seperti cerita tentang Sufyan Ats-Tsauri. Beliau kehabisan bekal di Mekkah dan hidup dengan memakan pasir selama lima belas hari.
Abu Mu’awiyah Al-Aswad berkata: “Aku melihat Ibrahim bin Adham memakan tanah liat selama dua puluh hari.”
Diceritakan dari Al-A’masy, beliau berkata: “Ibrahim At-Taimi berkata kepadaku, ‘Aku belum makan selama satu bulan’” Aku bertanya: “Satu bulan?” Ibrahim menjawab: “Tidak. Sebenarnya malah dua bulan, hanya saja seseorang bersumpah demi Allah agar aku memakan setangkai anggur, lalu aku memakannya dan perutku terasa sakit,”
Menurutku Anda tidak perlu heran terhadap hal semacam ini. Sesungguhnya Allah mampu mewujudkan apa yang Dia hendaki seperti halnya orang yang sedang sakit. Ia tidak makan Selama sebulan dan terlihat masih hidup. Apapun yang terjadi
orang yang sedang sakit tentu lebih lemah keadaannya dan lebih lembek ketimbang orang yang sehat.
Adapun orang yang mati kelaparan, itu adalah ajal yang mendatanginya, sama halnya dengan orang yang mati kekenyangan.
Aku pernah mendengar bahwa Abu Sa’id Al-Kharraz rahimahullah berkata: “Seperti biasanya, Allah memberiku makan tiga hari sekali. Lalu aku masuk ke pedalaman. Sudah lebih dari tiga hari aku tidak makan. Pada hari keempat aku merasa lemas dan duduk di tempatku berada saat itu. Tiba-tiba terdengar hatif (Suara tanpa rupa): “Hai Abu Said! Apa yang lebih kamu sukai, penyebab atau kekuatan?” Aku menjawab: “Tidak. Aku tidak butuh selain kekuatan.” Lalu aku berdiri perlahan-lahan dan bisa mengangkat tubuh. Akupun tinggal selama dua belas hari tanpa makan, dan aku tidak merasa sakit karenanya.”
Sedangkan bila seorang hamba melihat penyebab yang tertahan untuknya dan mengetahui ada perasaan tawakal dalam dirinya, maka yakinlah bahwa Allah akan memberinya kekuatan. Jangan merasa bosan dengan hal semacam itu, tapi sudah seharusnya ia bersyukur kepada Allah dalam hal ini dengan syukur yang sebanyak mungkin. Karena sesungguhnya ia mendapat anugerah dan perlakuan yang halus tanpa mengeluarkan biaya tapi mendapat pertolongan. Dia berhasil mendapatkan inti dan tujuan, terhindar dari hal berat dan perantara, terlepas dari ketergantungan pada kebiasaan.









One Comment