Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

Kemudian jika orang yang rendah ini mengungkit-ungkit hadiah tersebut kepada sang raja, merasa bangga dengan hadiah itu dan menganggapnya sebagai sesuatu yang berarti serta lupa dengan karunia yang diberikan oleh sang raja, bukankah ia boleh dikatakan sebagai orang yang gila, dungu, tolol, tidak sopan dan teramat bodoh?

Jadi, sekarang jika suatu malam Anda telah selesai mengerjakan salat dua rakaat karena Allah, maka sebaiknya Anda berpikir. Pada malam ini berapa banyak orang yang bangun melakukan salat malam di seluruh pelosok bumi di darat, di laut, di gunung, ataupun di kota-kota. Mereka adalah orang-orang yang istiqamah, jujur, takut kepada Allah, sangat merindukan-Nya, para pejuang (orang yang bersungguh-sungguh) dan juga merendahkan diri. Berapa bnyak amal yang sampai ke hadapanNya pada saat ini berupa amal ibadah yang bersih dan pengabdian yang tulus, yang dihaturkan oleh jiwa-jiwa khusyuk, mulut-mulut yang bersih, mata-mata yang menangis, hati yang penuh takwa, dada yang bersih dan anggota badan yang bertakwa.

Sedangkan salat Anda, meskipun sebenarnya Anda sudah mengerahkan seluruh kekuatan untuk memperbagus, merapikan dan mengikhlaskannya tidak sedikitpun kelihatan bagus di hadapan raja yang Maha Mulia, tidak tampak jelas di tengahtengah ibadah yang dihamparkan di hadapan-Nya. Bagaimana mungkin bisa pantas bila salat tersebut berasal dari hati yang lengah, bercampur aduk dengan berbagai macam cacat, dari badan kotor yang penuh lumpur dosa, berasal dari mulut yang berlepotan maksiat dan hal-hal tak berguna. Pantaskah hal seperti ini dihadapkan pada persembahan yang (agung) semacam ini? Pantaskah hal itu dihadapkan pada penguasa yang Maha Agung?

Guru kami berkata: Wahai orang yang mau berpikir! Renungkanlah. Apakah pantas jika kamu mengirimkan satu di antara salat-salatmu. Sebagaimana kamu mengirim satu macam hidangan ke beberapa rumah orang kaya.

Abu Bakr Al-Warraaq berkata: Setiap kali selesai salat aku merasa sangat malu, lebih malu dari seorang perempuan yang habis melakukan zina.

Kemudian Allah yang Maha Suci dan Mulia, dengan kemurnian, kemuliaan dan anugerah-Nya telah membesarkan derajat salat dua rakaat ini dan menetapkan pahala yang telah Dia janjikan sebagai balasannya. Anda hanyalah seorang hamba Yang berbuat menurut kehendak-Nya, mengerjakan segala sesuatu dengan pertolongan dan kemudahan yang diberikan-Nya. Meski begitu Anda masih saja merasa bangga dan lupa dengan anugerah yang telah diberikan oleh Allah. Sungguh ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan. Hal seperti ini tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang bodoh yang tidak bisa berpikir, orang lupa yang sama sekali tidak bisa mengingat atau orang yang hatinya telah mati, kosong dan sedikitpun tidak memiliki niat baik.

Camkanlah hal ini. Kami memohon kepada Allah agar diberi kecukupan yang baik dengan anugerah dan karunia-Nya.

Setelah kami menerangkan semua ini, maka bangkitlah dari tidur Anda saat melewati tahapan ini. Bila tidak, maka pasti Anda akan merugi. Sebab tahapan ini amat sulit, berat, pahit dan berbahaya di antara tahapan-tahapan yang menghadang di depan Anda. Buah dari tahapan-tahapan yang Anda lalui akan berakhir di sini. Bila dalam tahapan ini Anda selamat, maka pasti Anda akan beruntung. Dan bila tidak selamat maka sia-sialah usaha yang Anda kerjakan selama ini, sirnalah semua lamunan dan hidup Anda terbuang percuma.

Kemudian yang terpenting adalah bahwa dalam tahapan ini terdapat tiga hal yang harus diketahui:

Pertama, tahapan ini adalah tahapan yang sangat pelik. Kerugian yang ditimbulkan besar sekali dan sangat mengkhawatirkan. Tahapan ini dianggap pelik, karena jalan yang dilalui riya dan ujub amatlah kecil dan bisa terlihat dengan inayah (pertolongan) dari Allah. Hampir tidak nampak kecuali jika dilihat oleh orang yang ilmu agamanya sangat mendalam, mata hatinya terjaga dan juga selalu memelihara diri mereka. Orang-orang yang bodoh suka bermain-main, lalai dan banyak tidur tidak mungkin dapat melihatnya.

Kami pernah mendengar salah seorang guru-guru kami di Naisabur bercerita bahwa ‘Atha’ As-Salami menenun selembar kain yang yang dibuat serapi dan sebagus mungkin. Lalu ia membawa kain tersebut ke pasar dan memperlihatkannya kepada seorang pedagang kain. Seorang pedagang menawarnya dengan harga murah dan berkata: Kain ini memiliki cacat begini dan begini.’Atha’ mengambil kembali kain itu dan duduk sambil menangis sejadi-jadinya. Pedagang tersebut menyesali perkataannya dan mengakui kesalahannya. Kemudian pedagang tersebut memberikan harga berapapun yang beliau minta. ‘ Atha’ pun menjawab: Yang kutangisi bukanlah seperti yang engkau perkirakan. Tapi karena aku telah melakukan pekerjaan ini dengan sungguh-sungguh. Aku berusaha membuat kain ini serapi dan sebagus mungkin sampai aku mengira tidak ada cacatnya. Setelah kain kuperlihatkan pada orang yang ahli (mengetahui cacatnya) tampak masih ada cacat yang terlewatkan karena kelalaianku. Lalu bagaimana jika aku memperlihatkan amal-amalku kelak di hadapan Allah. Berapa banyak cacat dan kekurangan akan terlihat, yang pada hari ini aku melalaikannya?

Diceritakan dari orang saleh. Beliau berkata: Pada suatu malam aku berada di sebuah kamar yang ada di pinggir jalan. Menjelang pagi aku membaca surat Thaha. Setelah selesai aku tertidur sejenak dan bermimpi melihat seseorang turun dari langit membawa sebuah lembaran dan membentangkannya di hadapanku. Di lembaran tersebut terdapat tulisan surat Thaha. Di bawah setiap kalimat terdapat sepuluh kebaikan yang telah ditetapkan kecuali hanya satu kalimat yang terhapus dan di bawahnya tidak terdapat sesuatu. kemudian aku berkata, Demi Allah aku telah membaca kalimat ini dan tidak melihat pahalanya serta pahala tersebut belum ditetapkan. Lalu orang itu berkata, ‘Kamu benar. Kalimat itu telah kamu baca dan kami telah menuliskan pahalanya. Hanya saja terdengar seruan dari balik Arasy Hapuslah tulisan tersebut dan gugurkan pahalanya.Dan kami pun menghapus tulisan itu.

Kemudian aku menangis dalam tidur dan bertanya: Kenapa Anda melakukan semua itu?Orang tersebut menjawab: Ketika Anda sedang membaca ada seseorang yang lewat dan Anda mengeraskan bacaan tersebut karenanya. Maka hilanglah pahala dari bacaan ayat tersebut.Camkan baik-baik.

Tahapan ini dianggap sangat merugikan, karena riya dan ujub adalah penyakit ganas yang terjadi dalam waktu sekejap dan bisa Merusak ibadah yang Anda kerjakan selama tujuh puluh tahun.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker