- Kenikmatan.
Seorang hamba harusrela terhadap yang Mentakdirkan (Allah), takdir itu sendiri, dan hal yang ditakdirkan (kenikmatan). Ia juga harus bersyukur atas nikmat tersebut, karena hal itu adalah sebuah kenikmatan. Dan ia juga harus menampakkan kenikmatan tersebut dengan memperlihatkan hasilnya kepada Allah.
- Kesulitan.
Dalam kesulitan, seorang hamba juga harus rela dengan yang Mentakdirkan (Allah), takdir itu sendiri, dan sesuatu yang ditakdirkan. Ia juga harus bersabar dalam menghadapi kesulitan yang menimpanya.
- Kebaikan.
Seorang hamba harus rela dengan yang Mentakdirkan kebaikan (Allah), takdir itu sendiri, dan sesuatu yang ditakdirkan. Ia juga harus mengingat bahwa itu adalah anugerah, karena memang kebaikan tersebut telah ditunjukkan padanya.
- Keburukan.
Seorang hamba harus rela dengan yang Mentakdirkan keburukan (Allah), takdir itu sendiri, dan sesuatu yang ditakdirkan, karena hal itu sudah menjadi takdirnya. Bukan karena hal itu perbuatan buruk.
Hal itu termasuk sesuatu yang ditakdirkan jika melihat pada takdir dan yang Mentakdirkan secara benar. Sama halnya dengan jika Anda rela terhadap mazhab lain yang Anda ketahui sebagai sebuah pengetahuan, tidak sebagai mazhab.
Pengetahuan tersebut kembali pada ilmu. Jadi, kerelaan dan kecintaan Anda sebenarnya kembali pada ilmu (pengetahuan) tentang mazhab tersebut, bukan pada mazhab itu sendiri. Begitu juga halnya rela dengan sesuatu yang ditakdirkan.
Jika ada yang bertanya: Apakah orang yang rela boleh meminta tambahan?
Jawabnya adalah boleh. Tapi dengan catatan hal itu mengandung kebaikan dan maslahat tanpa harus memastikannya. Hal itu tidak membuatnya terlepas dari sikap rela, bahkan hal itu menunjukkan bahwa ia merasa rela dan itu lebih baik. Sebab orang yang kagum terhadap sesuatu dan merasa rela tentu akan berusaha mencari tambahannya.
Apabila ada susu yang dihaturkan kepada Nabi Saw. maka beliau berdoa:
Artinya: “Ya Allah, berkatilah rezekiku ini dan berilah tambah untuk kami darinya.Dalam kesempatan lain beliau berdoa:
Artinya: Dan berilah tambahan untuk kami (susu) yang lebih baik darinya.
Tak satupun dari keduanya yang menunjukkan bahwa beliau tidak rela dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah bagi beliau.
Jika Anda bertanya: “Kenapa Nabi tidak menyebut pengecualian dan syarat kebaikan serta kemaslahatan?
Ketahuilah! Sesungguhnya semua ini hubungannya adalah dengan hati, dan mengucapkannya hanya sebagai suatu Ungkapan. Jadi, beliau tetap mengatakan hal itu di dalam hati meski beliau tidak mengungkapkannya. Ketahuilah hal itu dan yakinlah.
- Bermacam Bencana dan Musibah
Untuk menghadapinya Anda cukup dengan bersabar. Hendaklah Anda bersabar dalam segala sisi kehidupan karena dua hal:
Pertama, agar wushul dalam beribadah dan mencapai tujuan. Sebab semua bentuk ibadah dibangun di atas kesabaran dan kemampuan menanggung jerih payah.
Barangsiapa tidak bersabar, dia tidak akan pernah mencapai tujuan dengan benar. Karena orang yang bermaksud melaksanakan ibadah kepada Allah dan memfokuskan diri untuk itu, tentu akan dihadapkan pada berbagai kesulitan, cobaan dan musibah dari berbagai segi:
- Kesukaran
Tidak ada ibadah yang tidak mengandung kesukaran. Karena itulah diberikan iming-iming dan janji pahala untuknya, sebab tidak mungkin seorang hamba dapat melaksanakan ibadah tanpa meredam keinginan dan mengalahkan nafsu yang selalu menghindar dari kebaikan. Tidak menuruti keinginan dan mengalahkan hawa nafsu adalah beban yang paling berat bagi seseorang.
2.Sikap berhati-hati
Seorang hamba yang merasa kesulitan dalam melakukan kebaikan harus berhati-hati agar ibadahnya tidak rusak. Sedangkan menjaga amal dari kerusakan itu lebih berat ketimbang melakukan amal itu sendiri.
- Ujian
Dunia ini adalah tempat menguji. Siapa saja yang hidup di dalamnya mau tidak mau harus menghadapi berbagai kesulitan dan musibah. Ujian tersebut bermacam-macam. Ada yang berasal dari keluarga, kerabat dekat, saudara dan sahabat, seperti kematian, kehilangan dan perpisahan. Ada musibah yang menimpa diri seperti berbagai penyakit yang menjangkitinya. Ada musibah yang menyangkut harga diri seperti ancaman pembunuhan, usaha penjatuhan, gunjingan dan penipuan yang dilakukan orang lain terhadapnya. Ada musibah yang menyangkut harta benda seperti kehilangan dan sebagainya.
Masing-masing dari musibah ini terasa bagaikan menyengat dan membakar yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, semua membutuhkan kesabaran tersendiri. Sebab jika tidak, tentu ia tidak akan merasa tenang dalam beribadah, karena selalu mengeluh dan bersedih.
- Cobaan
Orang yang ingin mendapatkan akhirat selamanya akan menghadapi cobaan dan ujian yang berat. Barangsiapa lebih dekat dengan Allah, tentu musibah dan cobaan yang dihadapinya lebih berat dan lebih banyak.
Tidakkah Anda mendengar sabda Nabi Saw.:
Artinya: “Orang yang paling keras mendapatkan ujian adalah para nabi, lalu para ulama, orang yang kedudukannya hampir sama dengan ulama dan seterusnya.”
Jadi, orang yang ingin berbuat baik dan memfokuskan diri untuk menempuh jalan menuju akhirat akan dihadapkan pada berbagai ujian. Orang yang tidak sabar menghadapinya dan tidak mau berpaling dari ujian tersebut, maka ia akan terputus di tengah jalan. Lalu ia menjadi sibuk dan jauh dari ibadah dan pada akhirnya ia tidak sedikitpun bisa sampai ke tempat tujuan.
Allah Swt. telah memberi pengertian agar kita selalu berhati-hati dalam menghadapi berbagai ujian, musibah dan cobaan yang menimpa kita. Dia menyatakan dan menguatkan pernyataan itu dengan firman-Nya:
Artinya: “Sungguh. Kamu akan diuji dengan hartamu dan diri kamu. Dan kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orangorang yang diberi kitab sebelum kamu, dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak nmenyakitkan hati.” (Q.S. Ali Imran: 186)
Kemudian Allah melanjutkan firman-Nya:
Artinya: “Dan jika kamu sekalian bersabar serta bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (Q.S. Ali Imran: 186)
Seakan dengan ayat itu Allah berfirman: “Kuatkan dirimu, karena sesungguhnya mau tidak mau kamu sekalian akan mendapat bermacam cobaan. Jika kamu sekalian bersabar, maka kamu semua adalah lelaki sejati, dan cita-cita kalian adalah citacita lelaki sejati.”
Dengan begitu, orang yang bercita-cita ingin beribadah kepada Allah mula-mula harus memiliki keinginan kuat untuk bersabar dalam jangka waktu yang cukup lama. Ia harus menguatkan diri untuk menanggung kesulitan-kesulitan besar yang datang silih berganti sampai mati. Jika tidak, berarti ia mencari sesuatu tanpa menggunakan alat dan mencarinya lewat jalan yang keliru. Telah diceritakan dari Fudhail bin Iyadh. Beliau berkata: “Barangsiapa ingin menempuh jalan akhirat, hendaklah ia menjadikan empat macam kematian dalam dirinya, yaitu mati putih, mati merah, mati hitam, dan mati hijau. Mati putih berarti yasa lapar. Mati hitam berarti celaan masyarakat. Mati merah berarti perselisihan dengan setan. Dan mati hijau berarti berbagai kejadian yang silih berganti.”
Kedua, kebaikan dunia dan akhirat yang ada di dalam kesabaran. Di antaranya adalah keselamatan dan keberhasilan.
Allah berfirman: :
Artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka Allah pasti
menjadikan untuknya jalan keluar (dari kesukaran), dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Q.S. Ath-Thalaaq: 2-3)
Maksudnya: Barangsiapa bertakwa kepada Allah dengan penuh kesabaran, maka Dia akan membuatkan jalan keluar untuknya dari berbagai kesulitan.
Di antara kebaikan yang diperoleh dengan kesabaran adalah mengalahkan para musuh. Allah berfirman:
Artinya: “Maka bersabarlah. Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Huud: 49)
Keuntungannya yang lain adalah mendapatkan apa yang diinginkan. Allah berfirman:
Artinya: “Dan telah sempurna perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka.” (Q.S, AI-A’raaf: 137)









One Comment