Ketahuilah bahwa hadis tersebut tidak dilontarkan di masa banyak fitnah seperti yang telah kami terangkan. Selain itu orang tersebut duduk di dalam masjid dan tidak mencampuri urusan mereka sehingga bila dilihat, dirinya bersama masyarakat tapi sebenarnya ia menyendiri dan jauh dari mereka.
Itulah makna yang terkandung di dalam ‘uzlah dan menyendiri yang telah kuterangkan, bukan menyendiri dengan tubuh dan tempat. Perhatikan hal ini. Semoga Allah memberimu rahmat.
Dalam hal ini Ibrahim bin Adham berkata: “Jadilah orang yang menyendiri di tengah masyarakat. Bersikaplah yang jinak pada Tuhanmu dan liarlah pada orang banyak (masyarakat).”
Jika ditanyakan: “Apa yang Anda katakan tentang tempattempat pendidikan para ulama akhirat, pondok-pondok para sufi yang mennempuh jalan akhirat dan bagaimana jika tinggal di dalamnya?”
Ketahuilah bahwa dalam hal ini, itulah cara paling mulia bagi ahli ilmu dan para mujtahid, karena dengan tinggal di dalamnya ja akan memperoleh dua faedah yang salah satunya adalah mengasingkan diri dari masyarakat, menyendiri dari pergaulan mereka, dan tidak ikut berebut di dalam urusan mereka.
Faedah kedua yaitu bisa bersama-sama dengan mereka dalam melakukan salat-salat Jum’at, salat berjamaah, dan memperbanyak syiar Islam. Dengan cara itu ia bisa memperoleh keselamatan yang didapat oleh orang-orang yang menyendiri. Dan juga memperoleh banyak kebaikan yang diberikan kepada masyarakat Islam pada umumnya, di samping keuntungan yang datang dari masyarakat seperti ketokohan (menjadi panutan), berkah dan nasehat. Dengan begitu tinggal di dalam pondok merupakan jalan tengah, keadaannya paling baik dan paling selamat.
Untuk mendapatkan yang seperti ini kebanyakan orang yang ‘arif tinggal di tengah masyarakat untuk memberikan kemanfaatan yang mereka miliki kepada hamba-hamba Allah di bidang agama, serta menekan tindakan yang menyakitkan mereka agar masyarakat melihat langsung budi pekerti dan tingkah laku mereka. Agar masyarakat bisa secara langsung mengikuti langkah mereka. Karena bahasa tindakan lebih mengena (fasih) ketimbang bahasa ucapan. Dengan begitu tempat-tempat tersebut bisa menjadi tempat penataan terbaik di bidang agama. Bisa menjadi tempat pengajian, beribadah dan tempat mencari pendapatpendapat yang kuat.
Jika dikatakan: “Apa yang harus dilakukan oleh seorang murid terhadap para mujtahid dan orang-orang yang berriyadhah? Berkawan dengan mereka ataukah menjauhi?”
Ketahuilah! Jika mereka masih menjalani cara hidup (mereka) yang mulia dan langkah mereka juga masih seperti yang mereka warisi dari para ulama pendahulu, maka mereka adalah saudara seiman yang paling agung, sahabat dan penolong untuk beribadah kepada Allah. Karena itu, Anda tidak boleh bersembunyi dan menyendiri dari mereka. Sebab seperti yang kudengar, mereka sama saja dengan ahli-ahli zuhud di gunung Lebanon dan lain sebagainya. Di antara mereka ada sekelompok orang yang saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran.
Akan tetapi bila mereka telah mengubah langkah dan meninggalkan cara-cara hidup mereka, tidak mengikuti langkah langkah yang diwarisi dari para pendahulu mereka yang salehsaleh, maka mujtahid dan orang yang berriyadhah seperti ini, hidup bersama mereka hukumnya sama saja dengan hidup bersama orang lain (masyarakat umum). Yakni tetap harus mengasingkan diri, bergabung dengan mercka dalam urusan kebaikan dan menjauhi mereka dalam urusan lain serta kerusakan yang mereka timbulkan. Maka ia pun ber’uzlah (mengasingkan diri) dari orangorang yang ber’uzlah dan menyendiri, jauh dari orang-orang yang menyendiri.
Jika Anda bertanya: “Bagaimana kalau orang yang bersungguh-sungguh dan berriyadhah ini memilih keluar dari lingkungan mereka, pergi ke tempat lain yang dirasanya bisa mendatangkan kebaikan dirinya dan untuk menjauhi kerusakan yang timbul dari pergaulan bersama mereka.”
Ketahuilah bahwa tempat-tempat belajar dan pondok-pondok (para sufi) ini bagaikan benteng kuat yang akan membuat para mujthid terpelihara dari perampok dan pencuri agama. Adapun di luar lingkungan pondok baginya seperti gurun tempat berkeliling pasukan-pasukan setan berkuda dan siap menyambar serta menawannya.
Lalu bagaimana jika ia keluar dari pondok dan memberi kesempatan kepada musuh yang datang dari segala arah dengan
bebas? Dalam keadaan seperi itu tak ada jalan lain bagi orang yang lemah seperti ini selain tetap tinggal di dalam benteng.
Sedangkan orang yang kuat dan waspada, yang tidak dapat dikalahkan oleh musuh dan merasakan kesamaan antara tinggal di dalam benteng dan di gurun, maka seandainya ia keluar tentu tidak perlu dikhawatirkan. Hanya saja bila tetap tinggal di dalam benteng, maka ia pun harus lebih berhati-hati dalam segala keadaan, sebab di luar benteng ia tidak akan merasa aman dari gangguan yang datang dengan tiba-tiba dan berkesempatan tinggal bersama kawan-kawan buruk.
Bila keadaaannya seperti ini, maka tinggal bersama orangorang pilihan Allah dan sabar menjalani payahnya pergaulan tentu lebih utama bagi orang yang berriyadhah dan berusaha mencari kebaikan walau dalam keadaan apapun.
Sedangkan orang telah kuat dan mencapai derajat istiqamah tidak memiliki alasan yang bisa mencegahnya untuk menyendiri dari mereka.
Pahami keterangan ini dan renungkanlah! Niscaya Anda beruntung dan memperoleh keselamatan.
Jika ada pertanyaan: “Bagaimana pendapat Anda tentang berkunjung pada saudara-saudara seiman dan bertemu dengan para sahabat untuk saling mengingatkan?”
Ketahuilah bahwa sesungguhnya berkunjung pada saudarasaudara seiman termasuk mutiara ibadah kepada Allah Swt. Di dalamnya terdapat pendekatan yang mulia kepada Allah dan bermacam faedah di samping kebaikan hati, tapi dengan dua Syarat:
- Kunjungan itu tidak terlalu sering dilakukan. Nabi Saw. bersabda:
Artinya: “Bekunjunglah dengan selang waktu, niscaya kecintaaan kepadamu akan bertambah.”
- Memelihara hak-hak berkunjung dengan cara menjauhi riya, mempermanis ucapan, kata-kata yang tak berguna, menggunjing dan sebagainya yang akan menjerumuskan Anda dan sanak famili ke dalam kerusakan.
Dikisahkan bahwa Fudhail bin Iyadh dan Sufyan saling mengingatkan. Setelah itu keduanya menangis. Lalu Sufyar berkata: “Wahai Abu “Ali! Aku berharap kita tidak berkumpul dalam suatu majlis yang lebih kuharapkan kebaikannya dari majlis ini.” Lalu Fudhail menjawab: “Aku belum pernah duduk dalam suatu majlis yang lebih kutakutkan daripada majlis ini.” Sufya” bertanya: “Kenapa bisa begitu wahai Abu ‘ Ali?” Fudhail menjawab: “Bukankah Anda telah merancang perkataan yang terbaik dan membicarakannya kepadaku? Aku juga merancang pembicaraan yang terbaik dan mengutarakannya pada Anda Anda mempermanis mulut padaku dan aku pun mempermanis mulut untuk Anda.” Kemudian Sufyan-pun menangis.
Hendaklah pertemuan Anda dengan saudara-saudara seagama tersebut secukupnya Saja, dilakukan dengan hati-hati dan pemikiran yang mendalam sehingga hal itu tidak merusak ‘uzlah dan pengucilan diri Anda dari masyarakat. Dan Anda tidak kembali dengan membawa bahaya serta kerusakan, tapi membawa banyak kebaikan dan manfaat yang besar.
Hanya Allah yang memberi taufik.
Jika Anda bertanya: “Apa yang bisa membangkitkan diriku untuk ber’uzlah dan dengan mudah bisa melaksanakannya?”
Ketahuilah bahwa yang mempermudah Anda untuk melaksanakannya ada tiga hal:
Pertama, menghabiskan seluruh waktu yang Anda miliki untuk beribadah. Karena di dalam ibadah tersebut terdapat suatu kesibukan, sementara beramah tamah dengan masyarakat termasuk tanda-tanda kebangkrutan.
Bila diri Anda terlihat ingin bertemu dengan masyarakat dan berbicara dengan mereka tanpa suatu kebutuhan dan tidak ada sesuatu yang mamaksa, maka ketahuilah bahwa itu termasuk fudhuul (sesuatu yang tidak bermanfaat) yang muncul karena terdorong oleh waktu yang kosong dan terlalu kagum saat mendapat kenikmatan.
Betapa indahnya syair tentang artian semacam ini:
Waktu kosong menuntunku pada keselamatan-Mu
Kadang-kadang orang yang menganggur berbuat sesuuatu yang tak berguna.
Bila Anda telah menjalani ibadah sebagaimana mestinya niscaya Anda merasakan manisnya bermunajat, merasa tenteram dengan kitab Allah, melupakan masyarakat dan tidak merasa nyaman berkawan serta berbicara dengan mereka.









One Comment