Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

Benar sekali seorang penyair yang mengatakan:

Mata yang tadak tidur semalaman untuk selain Engkau tiada gunanya.

Dan tangisan selain karena kehilangan selain Engkau akan sia-sia.

Katakan pada nafsumu!: Hai nafsu! Mana yang lebih baik, surga yang abadi ataukah berlumur keharaman dunia serta halhal tak berguna yang mudah rusak? Sementara itu ketaatan yang kamu lakukan mampu menghasilkan kenikmatan yang abadi. Jangan menjadi orang yang bercita-cita rendah, berkeinginan tidak baik, dan berbuat hina. Apakah kamu tidak pernah melihat seekor merpati yang bisa terbang tinggi? Bagaimana harganya menjadi mahal dan kedudukannya meningkat?

Angkatlah cita-citamu setinggi langit. Dan murnikan hatimu untuk Allah yang Esa dan menguasai segala urusan. Jangan siasiakan ketaatanmu untuk mendapatkan sesuatu yang tiada berarti.

Begitu pula jika Anda merenung dengan baik dan melihat pertolongan serta anugerah-anugerah Allah yang agung, yang diberikan kepada Anda menjalankan ketaatan.

Mula-mula Dia memberi Anda kesempatan dan sarana untuk mengerjakannya. Kemudian menghilangkan berbagai rintangan sampai Anda selesai mengerjakannya sebagai langkah kedua. Langkah ketiga adalah mengistimewakan Anda dengan taufik dar pertolongan, memberi jalan yang mudah dan menghiaskannya di hati Anda sehingga Anda bisa mengerjakannya.

Kemudian dengan keagungan yang dimiliki-Nya, ketidakbutuhan-Nya pada ketaatan, dan banyaknya kenikmatan yang Dia berikan kepadamu, Dia juga masih menukar amal yang sedikit itu dengan sanjungan yang berlebihan dan pahala besar, yang sebenarnya kamu tidak berhak mendapatkannya sebagai langkah keempat.

Ditambah lagi Allah masih memuji Anda, menyanjung dengan sanjungan yang berlebih serta mencintaimu hanya karena amal yang sekecil itu sebagai langkah kelima.

Semua ini tak lain hanya karena anugerah-Nya yang agung. Jika tidak, apa hak Anda mendapatkan semua ini? Seberapa tinggi derajat amal Anda yang hina dan penuh cacat ini?

Hai nafsu! Ingatlah semua anugerah Tuhanmu yang Maha Mulia, yang membuatmu menjadi baik dengan ketaatan ini. Kamu harus merasa malu jika menengok pada amalmu. Tapi lihatlah karunia dan anugerah Allah yang diberikan kepadamu dalam keadaan apapun.

Setelah berhasil melakukan ketaatan ini, janganlah kamu menyibukkan diri selain merendah dan memohon agar Dia berkenan menerimanya.

Apakah kamu tidak mendengar ucapan kekasih-Nya (Nabi) Ibrahim sesudah beliau menyelesaikan pengabdiannya dengan membangun Ka’bah? Bagaimana beliau memohon anugerah Allah agar pengabdiannya diterima? Beliau berdoa begini:

Artinya: Ya Tuhan kami! Terimalah (amal ini) dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Setelah selesai berdoa, beliau memohon begini:

Artinya: Ya Tuhan kami! Terimalah permohonan kami.

Bila Allah berkenan memberi anugerah kepadamu dengan menerima dagangan (amal) yang campur aduk ini, berarti Dia menyempurnakan kenikmatan dan membesarkan anugerah-Nya. Alangkah untungnya, alangkah mulianya, alangkah agungnya, alangkah luhurnya, dan betapa terhiasnya dirimu. Karena bagimu semua itu adalah mahkota, kenikmatan, simpanan, dan kemuliaan.

Dan bila yang terjadi adalah sebaliknya, maka betapa ruginya, betapa kamu tertipu dan terhalang. Karena itu bersungguhsungguh dan sibukkanlah dirimu dengan hal seperti ini. Dan jika kamu tekun melakukan semuanya, mengulangnya dalam hati pada saat selesai mengerjakan ketaatan serta memohon pertolongan kepada Allah, niscaya Dia akan memalingkan kamu dari melihat semua makhluk dan diri sendiri, dari kesibukanmu dengan kesombongan dan kebanggaan, membangkitkan dirimu untuk tulus dan ikhlas karena Allah dalam menjalani ketaatan, dan selalu mengingat Allah dalam segala keadaan.

Kamu juga akan berhasil melakukan ketaatan yang lebih bisa diharapkan, lebih bersih, dan tidak memiliki kekurangan. Mendapatkan kebaikan yang murni, tiada campuran di dalamnya, dan ibadah yang diterima tak kurang sedikitpun.

Bahkan ketaatan semacam ini meski hanya dilakukan sekali seumur hidup, maka pada hakekatnya hal itu amatlah banyak.

Sumpah demi hidupku. Sesungguhnya meski amal itu jumlahnya hanya sedikit tapi amat berarti, kedudukannya tinggi, sangat bermanfaat dan pada akhirnya menjadi harum.

Adakah hadiah yang lebih mulia ketimbang yang diberikan oleh Penguasa alam semesta? Adakah usaha yang lebih mulia ketimbang usaha yang dipuji oleh Dzat yang memenuhi segala kebutuhan orang-orang yang sangat memerlukan, dan disanjung oleh Penguasa alam semesta? Adakah harta perniagaan yang lebih tinggi nilainya dari harta perniagaan yang dipilih serta diridai oleh Penguasa alam semesta?

Renungkanlah! Hai orang-orang yang perlu dikasihani! Berhati-hatilah. Jangan sampai kamu termasuk orang-orang yang merugi.

Jika semuanya telah berjalan seperti keterangan yang tersebut di atas berarti Anda termasuk orang-orang yang memurnikan amal karena Allah, merasa takut kepada-Nya, mengingat anugerah-Nya dan lagi diridai oleh-Nya.

Anda telah melewati tahapan yang menakutkan ini dan selamat dari bahayanya. Anda adalah orang yang lebih dulu mendapatkan kebaikan dan buah ketaatan, serta mendapat kebahagiaan untuk selamanya, dengan kemuliaan dan keberuntungannya.

Hanya Allah yang memberikan taufik dan pemeliharaan dengan anugerah dan kemuliaan-Nya.

Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah yang Maha Luhur dan Maha Agung.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker