Suatu saat malaikat hafazhah naik sambil membawa amal seorang hamba. Amal tersebut memiliki cahaya bagai matahari. Mereka membawa amal tersebut ke langit dunia dan menganggap bahwa amal tersebut sudah banyak serta bersih. Setelah sampai di depan pintu, seorang malaikat berkata kepada beliau, Pukulkan amal ini ke muka pemilikinya. Aku adalah malaikat yang menjaga gunjingan. Tuhan memerintahkan aku agar tidak membiarkan amal orang yang menggunjing melewatiku.’
Keesokan harinya malaikat hafazhah membawa amal baik yang bercahaya dan mereka anggap telah banyak lagi bersih. Sesampainya di pintu langit kedua, seorang malaikat berkata, Stop! Pukulkan amal ini ke muka pemilikinya. Karena dengan amal ini ia mengharapkan harta dunia. Tuhan memerintahkan aku agar tidak membiarkan amal orang tersebut melewatiku.”
Para malaikat mengutuk orang tersebut sampai sore hari.
Kemudian malaikat hafazah membawa amal hamba tersebut dengan girang karena di dalamnya ada sedekah, puasa dan banyak sekali kebaikan. Mereka menganggap amal itu sudah banyak dan bersih. Setelah sampai di pintu langit ketiga, malaikat penjaga pintu berkata, Stop! Pukulkan amal ini ke muka pemilikinya. Aku adalah malaikat yang menjaga kesombongan. Tuhan memerintahkan aku agar tidak membiarkan amal orang tersebut melewatiku. Sesungguhnya orang tersebut merasa sombong di hadapan orang banyak pada setiap majlismajlis mereka.”
Kemudian malaikat hafazah membawa amal hamba tersebut yang bercahaya bagaikan bintang bersinar terang. Amal tersebut bergemuruh dan membaca tasbih. Amal itu berisi puasa, salat, haji, dan umrah. Setelah sampai di pintu langit keempat, malaikat penjaga pintu berkata, Stop! Pukulkan amal ini ke muka pemilikinya. Aku adalah malaikat yang menjaga ujub. Tuhan memerintahkan aku agar tidak membiarkan amal orang tersebut melewatiku. Karena sesungguhnya jika beramal, ia juga memasukkan perasaan ujub (bangga) ke dalamnya.”
Kemudian malaikat hafazah membawa amal hamba tersebut dengan cepat seperti pengantin perempuan yang dibawa ke rumah suaminya. Sesampainya di pintu langit kelima dengan membawa amal baik berupa jihad, haji dan umrah, yang bersinar seperti matahari, seorang malaikat mengatakan, “Aku penjaga sifat hasud. Sesungguhnya ia selalu iri dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain karena kemurahan-Nya. Dia juga benar-benar tidak menyukai apa yang diridai oleh Allah. Tuhan memerintahkan aku agar tidak membiarkan amal orang tersebut melewatiku.’
Kemudian malaikat hafazah naik membawa amal hamba tersebut berupa wudu yang sempurna, salat yang banyak jumlahnya, puasa, haji dan umrah. Setelah mereka berhasil membawa amal baik tersebut sampai ke pintu keenam, seorang malaikat penjaga pintu mengatakan, “Aku penjaga rahmat. Pukulkan amal ini ke muka pemiliknya, karena ia sama sekali tidak merasa kasihan kepada seorangpun. Jika ada orang terkena musibah dia malah merasa gembira karenanya. Oleh karena itu Tuhan memerintahkan aku agar tidak membiarkan amal orang tersebut melewatiku.’
Kemudian malaikat hafazah membawa amal hamba tersebut berupa nafkah yang berjumlah banyak, puasa, salat, jihad, dan wara’. Amal itu menggelegar bagaikan suara petir dan bersinar seperti kilat. Sesampainya di pintu langit ketujuh, malaikat penjaga pintu berkata, ‘Aku penjaga sifat sum’ah (ingin menonjolkan diri dan terkenal di tengah masyarakat). Orang yang memiliki amal ini ingin terkenal di tempat-tempat pertemuan, berkedudukan tinggi di hadapan para sahabat, dan ingin mulia di hadapan para pembesar. Tuhan memerintahkan aku agar tidak membiarkan amal orang tersebut melewatiku.’
Setiap amal yang tidak tulus karena Allah adalah riya. Sementara itu Dia juga tidak menerima amal orang yang berbuat riya. Kemudian malaikat hafazah naik kembali membawa amal hamba tersebut seperti salat, zakat, puasa, haji, umrah, pekerti yang mulia, diam, dan dzikir (kepada) Allah. Amal tersebut diantarkan oleh malaikat tujuh langit sehingga melintasi semua dinding penutup dan berhenti di hadapan Tuhan yang Maha Agung. Mereka memberikan kesaksian bahwa amal tersebut baik dan diikhlaskan bagi Allah. Lalu Allah berfirman, “Kamu semua adalah para penjaga amal hamba-Ku. Dan Aku adalah Dzat yang selalu mengawasi isi hatinya. Sesungguhnya ia tidak menginginkan Aku dengan amal ini, melainkan menginginkan orang lain. Dia tidak ikhlas karena Aku, sedangkan Aku lebih mengetahui apa yang dia inginkan dengan amalnya. Dia berhak mendapat laknat-Ku. Dia bisa menipu keturunan Adam serta menipu kamu semua, tapi tidak bisa menipuku. Aku Maha tahu dengan hal-hal gaib, melihat segala isi hati. Bagiku tidak ada hal yang samar. Pengetahuan-Ku terhadap hal yang telah terjadi sama dengan pengetahuan-Ku terhadap hal yang akan terjadi. Ilmu-Ku terhadap hal yang sudah berlalu sama dengan ilmu-Ku terhadap hal yang akan datang. Ilmu-Ku tentang orang-orang terdahulu sama dengan ilmu-Ku tentang orang-orang yang hidup di kemudian han. Aku mengetahui segala rahasia dan hal-hal yang tidak terlihat. Bagaimana mungkin seorang hamba bisa menipu-Ku dengan amalnya? Ia hanya bisa menipu para makhluk yang tidak tahu. Sedangkan Aku Maha Mengetahui hal-hal gaib. Dia berhak menerima laknat-Ku.
Kemudian malaikat yang berjumlah 3007, yang mengantarkan amal tersebut berkata, Ya Tuhan kami! Semoga ia mendapatkan laknat Anda dan laknat kami.”
Dan penduduk langit berkata, Semoga ia mendapatkan laknat dari Allah dan laknat dari seluruh makhluk yang bisa melaknati.”Kemudian Mu’adz menangis tersedu-sedu seraya berkata, Ya Rasulullah! Bagaimana caranya agar kami bisa selamat dari apa yang Anda katakan tadi?”









One Comment