Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

Jika kamu merasa senang berada di bawah petunjuk para imam, maka tempatkanlah dirimu di jalan yang mengantarmu pada berbagai kenyataan

dengan hati yang tenang saat menghadapi hal-hal yang tidak disenangi disertai hati yang penuh kesabaran sebagai pencegah di dalam dada.

Lidahmu harus terjaga, pandanganmu terkendali,

rahasiamu tersimpan hanya untuk Tuhan,

dzikirmu tersembunyi, pintumu terkunci,

bibirmu tersenyum, perutmu lapar,

hatimu terluka, (dagangan) pasarmu tidak laku,

keutamaanmu terpendam dan kekurangan (cacat)mu menyebar luas.

Setiap hari kamu mereguk kedukaan

dari waktu dan saudara sementara hati tetap taat.

Siang hari kamu habiskan untuk sibuk mengurusi masyarkat tanpa imbalan.

Di waktu malam kamu sangat merindukan Tuhan tanpa ada yang tahu.

Untukmu malam ini. Ambillah sebagai sarana menyelamatkan

diripada hari yang banyak orang bermuka masam dan sedikit yang mau menolong.

Memang benar. Secara lahir beliau berkumpul dengan masyarakat tapi hatinya tetapjauh dari mereka. Dan sumpah demi umurku. Hal itu adalah sesuatu yang teramat sulit dan kehidupan yang amat berat.

Dalam masalah ini guruku Abu Bakr Al-Warraq mengatakan dalam wasiat beliau: “Wahai anakku! Hiduplah kamu bersama orang yang hidup di zamanmu dan jangan mengikuti mereka.” Kemudian beliau berkata: “Betapa beratnya kehidupan ini. Berkumpul dengan orang-orang yang masih bernafas tapi mengikuti (perbuatan) orang-orang yang telah tiada (mati).”

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a. Beliau berkata: “Bergabunglah dengan masyarakat. Tinggalkan mereka dengan menghadapkan hati kepada Allah. Danjangan melukai agamamu.”

Semua ini merupakan faedah yang sangat memuaskan.

Selanjutnya bila fitnah sudah bergejolak, susul menyusul satu sama lain, urusan agama terhalang (tidak terurus), masyarakat berpaling dari agama dan tidak mempedulikan hak-hak orang mukmin. Mereka tidak mencari orang yang alim, tidak memandang orang yang memberi faedah, dan urusan agama sama sekali tidak memberi manfaat pada mereka. Anda juga melihat fitnah yang sudah merata dan merembet kepada orang-orang khusus. Maka saat itulah orang yang alim memiliki alasan untuk ber’uzlah, menyendiri dan mengubur ilmunya. Dan aku takut kalau apa yang beliau katakan adalah zaman yang sulit sekarang ini.

Hanya Allah tempat memohon pertolongan. Dan kepada-Nya kita berserah diri.

Inilah hukum ‘uzlah dan mengasingkan diri dari masyarakat. Pahamilah dengan benar, karena kesalahan dalam hal ini adalah suatu masalah besar dan bahayanya juga tidak sedikit.

Jika dikatakan: “Bukankah Nabi Saw. telah bersabda:

Artinya: “Hendaklah kalian senantiasa berjamaah karena pertolongan Allah diberikan kepada jamaah. Dan setan, bagi manusia bagaikan serigala. Ia akan memakan kambing yang memencilkan diri dari teman-temannya.”

Beliau juga bersabda:

Artinya: “Sesungguhnya setan itu mendampingi orang yang menyendiri dan lebih menjauh dari dua orang (yang bersatu).”

Ketahuilah bahwa hadis semacam ini memang ada. Tapi ada juga hadis yang seperti di bawah ini:

Artinya: “Tetaplah tinggal di rumahmu, mengurus diri sendiri secara khusus dan tinggalkan urusan umum.”

Kemudian beliau memerintahkan ‘uzlah di zaman yang buruk. Dan tidak mungkin ada hadis Nabi yang bertentangan. Oleh karena itu, mau tidak mau kita harus menyatukan dua kebaikan dengan daya dan taufik-Nya.

Aku berpendapat bahwa sabda Nabi Saw.: “Tetaplah berjamaah” memiliki tiga kemungkinan:

  1. Yang dimaksud dengan kata “berkumpul” dalam hadis tersebut adalah “berkumpul dalam urusan agama dan hukum”, karena tidak mungkin umat ini disuruh bersatu (berkumpul) dalam kesesatan. Jadi, menyimpang dari kesepakatan ulama dan menghukumi sesuatu menggunakan cara yang berbeda dengan apa yang menjadi pegangan jumhur ulama adalah perbuatan bathil dan sesat.

Sedangkan bila ia mengasingkan diri dari mereka untuk kebaikan agamanya, maka hal itu tidak berpengaruh apa-apa.

  1. Maksud hadis tersebut adalah: Tetaplah berjamaah dengan cara tidak memisahkan diri dari mereka pada waktu salat Jum’at dan berjamaah, karena di dalamnya terdapat kekuatan agama, kesempurnaan Islam, serta (memancing) kemarahan orang-orang kafir dan orang-orang yang menyimpang dari agama. Jamaah semacam ini tidak pernah lepas dari berkah dan perhatian Allah dengan rahmat-Nya. Oleh karena itu, kami berpendapat bahwa orang yang menyendiri adalah orang yang bergabung dengan masyarakat secara luas dalam hal kebaikan serta menjauhi mereka dalam pergaulan dan berdesak-desakan di bidang lain, karena di dalamnya terdapat bermacam kerusakan.

Hadis tersebut dilontarkan oleh beliau sebelum zaman fitnah kepada orang yang lemah di bidang agama. Adapun orang yang waspada dan berpegang kuat pada perintah Allah, saat melihat zaman fitnah seperti yang telah diperingatkan oleh beliau kepada seluruh umat dan memerintahkan mereka agar ber’uzlah pada masa itu tentu baginya yang terbaik adalah ‘uzlah. Sebab dari pergaulan akan muncul berbagai kerusakan dan bahaya. Dan alangkah baiknya bila ia tidak memutuskan diri dari perkumpulan Islam dan kebaikan-kebaikan secara umum. Dan bila ia ingin menyendiri dari masyarakat secara total, hendaklah ia menetap di puncak gunung atau di tengah gurun pasir demi kebaikan yang ja lihat dalam urusan agamanya.

Menurut pendapatku orang semacam ini di manapun berada tentu diberi kesempatan oleh Allah untuk mendatangi jamaahjamaah, salat-salat Jum’at dan pertemuan-pertemuan Islami yang lain.

Oleh karena itu, sebaiknya ia datang agar tidak kehilangan bagian dari semua itu, karena pertemuan-pertemuan tersebut memiliki tempat tersendiri di sisi Allah walaupun manusia kebanyakan telah berubah dan menjadi rusak.

Begitulah yang kudengar dari para Wali Abdal. Mereka selalu menghadiri pertemuan-pertemuan yang Islami di manapun pertemuan itu berada. Mereka berjalan dari satu tempat menurut kehendak mereka, karena bumi ini bagi mereka bagaikan satu telapak kaki (selangkah).

Dalam banyak hadis diterangkan bahwa bumi ini terlipat bagi mereka. Mereka saling memberi penghormatan. Mereka juga dikelilingi dengan bermacam kebaikan dan karamah (kemuliaan). Alangkah enaknya apa yang mereka dapatkan.

Semoga Allah memperbagus kesabaran orang lalai yang tiada melihat dirinya serta menolong orang yang mencari dan belum sampai ke tempat tujuan seperti kita ini.

Sungguh aku telah disodori beberapa bait syair yang menerangkan keadaanku sebagai berikut:

Orang-orang yang mencari telah berhasil mendapatkan apa yang mereka cari. Orang-orang yang ingin “wushul” (mencapai derajat di sisi Allah) sudah bisa wushul.

Dan para kekasih telah beruntung bisa bertemu dengan kekasihmya.

Tinggal aku sendiri yang bingung ke sana ke mari di antara batas “wushul” (sampai kepada Allah) dan “ijtinab” (menjauh dari-Nya).

Aku mengharap kedekatan dengan menjauhkan diri.

Ini adalah suatu hal yang menurut akal sehat tak mungkin terjadi.

Karena itu berilah seteguk minuman penghilang kegelisahan dari sisi-Mu ya Allah.

Tunjukkanlah keadaku jalan menuju kebanaran, wahai Pengobat segala yang sakit, wahai Dzat yang menyembuhkan luka dan Penyembuh penyakit penyakit kronis.

Aku tak tahu dengan apa kusembuhkan lukaku atau dengan apa kuraih keberuntungan di hari perhitungan.

Hendaknya sekarang kuhentikan keterangan ini dan kembali ke tujuan semula tentang ‘uzlah, karena saat ini aku telah benar benar keluar dari pokok bahasan kitab ini.

Jika ada yang mengatakan: “Bukankah Nabi Saw. telah bersabda:

Artinya: “Ketekunan ibadah umatku adalah duduk di masjid.” Bukankah di dalamnya ada larangan menyendiri?”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker