Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

Ketahuilah bahwa semua ini diambil dari perilaku Nabi Saw. Yang menjadi tujuan adalah agar bisa mendapatkan rasa gana’ah serta persiapan beribadah. Bukan menuruti kerakusan, syahwat dan bukan karena tidak mampu menanggung kesulitan. Sebagian besar yang Anda lihat setelah melakukan hal itu adalah rasa cukup dalam hati, hilangnya rasa lapar yang rakus seperti anjing. Hatinya semakin melemah, merasa terhibur dan jauh dari makanan serta kesenangannya. Semua itu benar-benar telah dirasakan oleh orang yang pernah mencobanya.

Camkan keterangan ini niscaya Anda akan mendapat taufik. Insya Allah.

Cacat yang kedua adalah perasaan ujub (kagum pada diri Sendiri). Anda harus menjauhi perasaan seperti itu karena dua hal:

Pertama, perasaan seperti itu bisa menghalangi taufik dan pertolongan dari Allah Swt. Karena sesungguhnya orang yang Wub itu dibiarkan tidak tertolong. Jika seorang hamba tidak Mendapatkan pertolongan dan taufik dari Allah tak lama kemudian pasti ia akan celaka. Karena itulah Nabi Saw. bersabda:

Artinya: “Tiga hal yang bisa merusak, yaitu sifat kikir yang dituruti, nafsu yang diikuti dan merasa kagum dengan dirinya sendiri.”

Kedua, ujub itu bisa merusak amal saleh. Kaitannya dengan ini, Isa a.s. berkata: “Hai kaum Hawariyyin, banyak lampu padam disebabkan angin dan banyak ahli ibadah yang rusak ibadahnya disebabkan ujub.

Jika yang menjadi tujuan dan bisa bermanfaat adalah ibadah, lalu perasaan ujub seperti ini menghalangi seorang hamba sampaisampai ia tidak mendapatkan hasil sedikitpun, ataupun jika memperoleh kebaikan, dengan sedikit rasa ujub kebaikan tersebut rusak tidak tersisa, maka sudah semestinya hamba tersebut berhati-hati dan menjaga diri dari perasaan ujub seperti ini.

Jika ada yang berkata: Apakah hakekat ujub, arti, pengaruh dan hukumnya? Tolong jelaskan semuanya untuk kami!

Ketahuilah bahwa hakekat ujub adalah menganggap agung suatu amal baik.

Menurut para ulama kita, rincian ujub adalah penuturan seorang hamba terhadap kemuliaan suatu amal baik tanpa disandarkan kepada Allah, orang lain ataupun dirinya sendiri.

Kadang sikap itu jaga mengarah pada ketiganya, yakni menuturkan amal baik dengan disandarkan kepada Allah, orang lain atau dirinya sendiri. Kadang sikap ujub itu mendua seperti menyandarkannya pada dua arah, atau menyendiri dengan menyandarkannya pada satu dari ketiganya, yakni Allah, orang Jain dan dirinya sendiri.

Kebalikan dari sikap ujub adalah mengingat anugerah Allah. Yakni mengingat bahwa semua itu didapat dengan taufik dari Allah Swt. Dan Dia adalah Dzat yang memuliakan, membesarkan pahala dan kedudukan amal tersebut. Mengingat anugerah seperti ini harus dilakukan saat ada ketertarikan merasa ujub, dan sunat dilakukan pada kesempatan yang lain.

Pengaruh ujub pada amal, menurut seorang ulama kita adalah: Orang yang ujub berarti menanti kehancuran suatu amal. fikaia bertobat sebelum mati, maka ia akan selamat. Tapi jika tidak maka amal itu akan hancur.

Pendapat inilah yang dipilih oleh Muhammad Ibnu Shabir, seorang ulama aliran Kiramiyah. Sedangkan kehancuran amal baginya adalah hilangnya semua bentuk kebaikan yang ada pada amal sehingga hamba tersebut tidak sedikitpun berhak mendapat pahala atau pujian.

Adapun ulama lain mengatakan bahwa pengaruh ujub adalah hilangnya kelipatan pahala, dan yang lain tidak berubah sedikitpun.

Bagaimana mungkin orang yang makrifat tidak melihat dengan jelas bahwa sesungguhnya Allah-lah yang memberikan taufik terhadap amal saleh, meninggikan derajatnya serta memperbanyak pahala amal tersebut dengan anugerah dan karunia-Nya?

Ketahuilah bahwa dalam masalah ujub ini ada satu arti penting dan menjadi suatu simpanan yang mulia. Yakni bahwasanya semua manusia dalam hal ujub ini terbagi menjadi tiga golongan:

1, Orang-orang yang selamanya merasa ujub. Yakni orang-orang yang mengikuti aliran Mu tazilah dan Qadariyah. Mereka tidak sedikitpun melihat bahwa Allah yang memberikan anugerah di dalam pekerjaan yang mereka lakukan. Mereka mengingkari adanya pertolongan, taufik khusus dan kelembutan rahmat Allah. Hal itu terjadi karena ketidakjelasan yang menguasai perasaan mereka.

  1. Orang-orang yang selamanya mengingat anugerah yang telah diberikan oleh Allah. Mereka adalah orang-orang yang istiqamah. Mereka tidak sedikitpun merasa kagum meski dengan satu pekerjaan. Hal itu terjadi karena mata hati yang terbuka dan pertolongan khusus yanp diberikan kepada mereka.
  1. Orang orang yanp mencampur aduk. Yakni orang-orang ahli sunnah, Suatu ketika mereka terjapa dan menpinpat anugerah dari Allah. Di saat lain mereka lalai dan kagum dengan amal baik mereka. Hal itu terjadi karena adanya kelalaian yang secara tiba-tiba muncul, kelengahan dalam ijtihad, dan berkurangnya kewaspadaan.

Jika Anda bertanya: Bagaimana keadaan orang-orang Qadariyah dan Mu tazilah sehubungan dengan apa yang mereka lakukan?

Ketahuilah bahwa dalam hal itu para ulama berselisih pendapat.

Ada yang mengatakan bahwa amal tersebut hancur karena keyakinan mereka. Ada yang mengatakan bahwa amal tersebut tidak hancur secara total karena suatu keyakinan yang pada umumnya menyangkut bagian-bagian Islam, kecuali bila semua amalnya disertai ujub seperti halnya keyakinan para ahli sunnah bahwa ujub tidak bisa dihindarkan dari semua amal kecuali mengkhususkan amal tersebut dengan mengingat anugerah dari Allah.

Jika ada yang bertanya: Adakah sesuatu yang bisa merusak amal selain ujub dan riya?

Jawabnya adalah: Ada.Di dalam amal banyak sekali perusak selain ujub dan riya. Akan tetapi kami banyak menerangkan dua hal tersebut secara khusus, karena keduanya adalah inti dari kebanyakan perusak yang berada di sekelilingnya.

Seorang guru berkata bahwa seorang hamba, di dalam amalnya harus memelihara sepuluh perkara, yaitu munafik, riya, mencampur aduk antara ikhlas dan riya, mengungkit-ungkit amal yang telah dikerjakan, menyakiti orang lain, menyesal, ujub, mengeluh, menyepelekan dan takut dicela orang banyak.

Lalu guru kami, Syekh Abu Bakr Al-Warraq menyebutkan kebalikan dari sepuluh perkara tadi dan bahaya yang ia timbulkan ada amal.

  1. Kebalikan dari sikap munafik adalah ikhlas dalam beramal.

2.Kebalikan dari sikap riya adalah ikhlas mencari pahala.

  1. Kebalikan dari sikap mencampuraduk antara ikhlas dan riya adalah menyatkan tujuan (suatu amal).
  2. Kebalikan dari sikap mengungkit-ungkit adalah menyerahkan semua amal kepada Allah.
  3. Kebalikan dari sikap menyakiti orang lain adalah bersikap baik.
  4. Kebalikan dari sikap menyesal adalah memantapkan diri.
  5. Kebalikan dari sikap ujub adalah mengingat anugerah dari Allah.
  6. Kebalikan dari sikap mengeluh adalah mempergunakan kesempatan secara maksimal untuk kebaikan.
  7. Kebalikan dari sikap menyepelekan adalah menganggap agung taufik dari Allah.

10 Kebalikan dari sikap takut dicela adalah merasa takut kepada Allah semata.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker