Kemudian Allah menciptakan batas-batas aturan dan kesopanan untuk umat yang dipenuhi rahmat ini sampai-sampai Yunus bin Ubaid berkata: “Jangan merasa aman dari hukuman potong tangan disebabkan mencuri lima dirham, karena hukuman hukuman perbuatan itu kelak juga seperti ini.
Kami memohon kepada Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Maha Suci Allah. Semoga Dia tidak memperlakukan kita kecuali dengan kemurahan-Nya yang murni. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih di antara orang-orang yang mengasihi.
Jika dilihat dari sisi raja’ (harapan) maka bicaralah tentang rahmat Allah yang teramat luas, karena hal itu bukanlah suatu hal yang berbahaya.
Siapa yang mengetahui ujung rahmat-Nya atau mengetahui sifat dan penghabisan-Nya? Dialah yang menghapus kekufuran tujuh puluh tahun dengan keimanan sesaat.
Allah berfirman:
Artinya: “Katakanlah kepada orang-orang kafir, jika mereka mau berhenti (dari kekufurannya), niscaya dosa-dosa mereka yang telah lalu akan diampuni.” (Q.S. Al-Anfaal: 38)
Tidakkah Anda melihat bagaimana yang terjadi pada tukangtukang sihir Firaun. Mereka datang untuk melawan Allah dan bersumpah demi keagungan Firaun yang menjadi musuh-Nya, tak lain dan tak bukan. Setelah mereka melihat tanda-tanda Nabi Musa dan mengetahui kebenaran, mereka pun berkata: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam.” Dan Allah tidak menyebutkan bahwa setelah itu mereka menambah amal.
Kemudian lihatlah! Berapa kali Allah mengulang kisah mereka dalam bentuk pujian di dalam kitab-Nya yang mulia? Berapa banyak dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil mereka yang diampuni-Nya hanya karena keimanan sesaat, atau bahkan hanya sekejap. Mereka hanya berucap: “Kami beriman kepada Tuhan semesta alam.” Sebuah ucapan yang keluar dari hati yang benar.
Bagaimana Allah menerima mereka dan memberikan dosadosa yang telah lalu. Bagaimana Dia menjadilan mereka pemimpin-pemimpin para syuhada di dulam surga untuk selamanya?
Ini baru keadaan (kisah) orang yang mengenal dan mengesakan-Nya dalam waktu yang tidak lama setelah melakukan sihir, kafir, sesat dan kerusakan. Lalu bagaimana dengan orang yang menghabiskan umurnya untuk mengesakan-Nya dan tidak melihat seorangpun selain Dia sebagai keluarga karena mengesakan-Nya?
Apakah Anda tidak melihat bagaimana keadaan para Ashaabul Kahfi dan kekufuran mereka selama hidup?
Artinya: “Ketika mereka berdiri dan berkata, “Tuhan kami adalah penguasa langit dan bumi. Kami tidak akan menjadikan Tuhan selain Dia.”
Mereka berlindung kepada-Nya.
Bagaimana Allah menerima mereka dan memberikan anugerah-Nya kepada mereka, lalu memuliakan mereka?
Kemudian Allah berfirman:
Artinya: “Dan Kami (Allah) bolak-balikkan badan mereka ke arah kanan dan ke arah kiri.” (Q.S. Al-Kahfi: 18)
Bagaimana Allah membesarkan penghormatan kepada mereka, mengenakan pakaian kebesaran dan menakutkan pada mereka. Sampai-sampai Dia berfirman kepada makhluk yang paling mulia (Nabi Muhammad Saw):
Artinya: “Seandainya kamu melihat mereka, niscaya kamu berpaling dari mereka seraya berlari dan kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka.” (Q.S. Al-Kahfi: 18)
Bahkan lihatlah bagaimana Dia memuliakan seekor anjing yang mengikuti mereka. Sampai-sampai Dia menyebutnya di dalam kitab-Nya yang mulia dengan berulang-ulang, kemudian menjadikannya di dunia bersama mereka dalam keadaan haram lalu memasukkannya ke dalam surga dalam keadaan terhormat?
Begitulah anugerah Allah yang diberikan pada seekor anjing yang melangkah beberapa kali mengikuti sekelompok orang yang makrifat kepada-Nya dan mengesakan-Nya dalam beberapa hari tanpa beribadah ataupun melayani.
Lalu bagaimanakah anugerah yang Dia berikan kepada seorang hamba yang beriman, yang melayani, mengesakan dan menyembah-Nya selama tujuh puluh tahun? Dan bagaimana seandaiya hamba tersebut hidup selama tujuh puluh ribu hari? Tentu yang menjadi tujuannya hanyalah ibadah.
Adakah Anda tidak melihat bagaimana Allah mencela Nabi Ibrahim a.s. karena doa memohon kehancuran yang beliau panjatkan bagi orang-orang yang berdosa? Bagaimana Allah mencela Nabi Musa a.s. mengenai Oarun? Dia berfirman: “Oarun meminta pertolongan kepadamu dan kamu tidak mau menolongnya. Dan sumpah demi keagungan-Ku seandainya dia meminta pertolongan kepada-Ku, niscaya Aku akan menolong dan memaafkannya.”
Bagaimana ketika Allah mencela Nabi Yunus a.s. sehubungan dengan kaumnya: “Sesungguhnya merasa susah karena sebuah pohon labu yang Kutumbuhkan dalam waktu sesaat dan membuatnya kering dalam sesaat. Namun kamu tidak merasa sedih atas seratus ribu orang atau lebih (dari pengikutmu).”
Kemudian bagaimana Dia menerima alasan mereka dan memalingkan siksa atas mereka setelah sebelumnya Dia menyesatkan mereka?
Kemudian lihatlah bagaimana Allah mencela penghulu para rasul (Muhammad Saw.) seperti pernah diceritakan bahwa beliau memasuki Masjidil Haram lewat pintu Bani Syaibah. Lalu beliau melihat sekelompok orang yang sedang tertawa. Beliau kemudian berkata kepada mereka: ” Kenapa kalian semua tertawa? Semoga aku tidak melihat kalian tertawa lagi.” Kemudian sesampainya di Hajar Aswad beliau melangkah mundur dan berkata kepada mereka: “Malaikat Jibril datang kepadaku dan berkata: ‘Hai Muhammad! Sesungguhnya Allah berfirman kepadamu: “Kenapa kamu memupus harapan hamba-hamba-Ku dari rahmat-Ku?
Artinya: “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hijr: 49)
Kemudian Rasulullah bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya Allah lebih mengasihi hamba-hamba-Nya – daripada seorang ibu yang teramat mengasihi anaknya.”
Di dalam hadis yang sudah masyhur Nabi Saw. juga bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat (belas kasih). Kemudian satu di antara keseratus rahmat tadi Dia bagikan kepada jin, manusia, dan binatang. Dengan rahmat satu rahmat itulah mereka saling mengasihi dan menyayangi. Dan Dia masih menyimpan yang sembilan puluh sembilan (99) bagi ‘diri’-Nya sendiri untuk mengasihi hamba-hamba-Nya kelak pada hari kiamat.”
Dan ketika Allah benar-benar telah memberi Anda satu rahmat, yakni segala pemberian yang mulia berupa makrifat kepada Allah dan termasuk umat yang dikasihi serta mengetahui segala sunah nabi dan para sahabat, sampai kenikmatankenikmatan lain yang ada di hadapan Anda baik yang lahir maupun yang batin, maka yang juga harus kita harapkan dari anugerah-Nya yang agung adalah semoga Dia berkenan menyempurnakannya. Sebab orang yang memberi sesuatu dengan baik sudah semestinya menyempurnakannya. Dan semoga Dia memberikan bagian yang banyak kepada Anda dari 99 rahmatNya. Dan kami memohon kepada Allah, semoga Dia tidak menyianyiakan harapan kami akan anugerah-Nya yang agung. Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Pemurah dan Penuh belas kasih.









One Comment