Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

Ketahuilah bahwa di sini terdapat hal pokok yang sangat mendasar, yaitu sesungguhnya ibadah itu dibagi menjadi dua: Mengerjakan dan menjauhi.

Mengerjakan berarti menjalankan berbagai ketaatan. Dan menjauhi berarti mencegah diri dari berbagai perbuatan maksiat dan keburukan. Inilah yang disebut takwa.

Sesungguhnya dalam keadaan apapun menjauhi maksiat itu lebih menyelamatkanmu, lebih baik dan lebih utama bagi seorang hamba daripada mengerjakan ketaatan. Karena itulah, para pemula yang baru mencapai tingkatan pertama dari ijtihad dalam ibadahnya selalu sibuk mengerjakan ketaatan. Semua berkenginan puasa di siang hari, beribadah di malam hari, dan menjalankan ibadah yang sejenis dengan hal itu.

Orang yang telah mencapai puncak ibadah dan memiliki kewaspadaan akan sibuk dengan menjauhi maksiat. Yang menjadi keinginan mereka adalah menjaga hati dari kecenderungan kepada selain Allah, menjaga perut mereka dari kelebihan barangbarang halal, memelihara lisan dari kata-kata yang tidak berguna dan menjaga mata dari memandang apa-apa yang tidak bermanfaat bagi mereka.

Karena hal ini pula, orang kedua dari tujuh ahli ibadah berkata kepada Nabi Yunus: Hai Yunus. Sungguh di antara manusia ada yang dikaruniai perasaan suka melakukan salat sehingga ia tidak memilih ibadah lain untuk mengalahkannya. Sementara itu salat adalah tiang ibadah. (Ia melakukannya) dengan khusyuk, bersungguh-sungguh dan merendahkan diri (kepada-Nya). Di antara mereka ada yang dikaruniai suka berpuasa sehingga ia tidak memilih ibadah lain untuk mengalahkannya. Di antara mereka ada yang dikaruniai rasa suka bersedekah sehingga sama sekali tidak memilih ibadah lain yang dapat mengalahkannya. Hai Yunus. Aku akan memberi penafsiran keadaan-keadaan seperti in kepadamu.

Jadikanlah kesabaran menerima kesengsaraan dan penyerahan segala sesuatu kepada Allah sebagai salat panjangmu. Jadikanlah diam dari segala keburukan sebagai puasamu. Jadikanlah mencegah dari hal yang menyakitkan sebagai sedekahmu. Karena sesungguhnya kamu tidak bisa bersedekah dengan sesuatu yang lebih baik dari itu dan tidak bisa berpuasa dengan sesuatu yang lebih bersih darinya.

Jika Anda telah mengetahui bahwa menjauhi maksiat lebih utama daripada menjaga diri dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Jika Anda behasil melaksanakan keduanya, yakni berusaha dan menjauhi, berarti urusan Anda telah sempurna. Anda telah berhasil mencapai tujuan, kemudian selamat dan beruntung. Jika Anda tidak dapat mencapai keduanya dan hanya mampu meraih salah satunya, maka pilihlah menjauhkan diri dari maksiat. Maka pasti Anda selamat meski tidak beruntung. Jika tidak, maka Anda akan merugi dari keduanya.

Salat dan ibadah lain yang Anda kerjakan di malam hari tidak akan bermanfaat bila Anda mengharcurkannya dengan satu keinginan. Puasa yang Anda lakukan sepanjang hari tidak akan bermanfaat bila Anda merusaknya dengan satu kata.

Kami telah bercerita tentang sahabat Ibnu Abbas r.a. bahwasanya beliau ditanya tentang posisi dua orang lelaki. Yang satu banyak berbuat baik dan juga banyak berbuat buruk. Yang satu lagi sedikit berbuat baik tapi juga sedikit berbuat buruk. Beliau menjawab: Aku tidak menyamakan keselamatan dengan suatu apapun.

Perumpamaan dari apa yang telah kami bicarakan adalah keadaan orang yang sakit. Cara untuk mengobati orang yang sedang sakit terbagi menjadi dua. Cara pertama dngan obatobatan. Yang kedua dengan menjauhi pantangan. Jika dua cara tersebut digabung menjadi satu, maka si pasien seakan terbebas dari penyakit dan menjadi sehat. Jika tidak digabungkan, maka berpantang (menjauhi pantangan) saat sakit itu lebih baik. Obatobatan tidak akan berguna jika ia tidak menjauhi pantangan, tapi kadang-kadang berpantang itu bisa berguna meski tanpa memakai obat-obatan.

Sungguh Rasulullah Saw. telah bersabda:

Artinya: Inti setiap pengobatan adalah menjauhi pantangan.

Arti sebenarnya, hanya Allah yang mengetahuinya, adalah: Berpantang itu cukup sebagai ganti semua obat.

Oleh karena itu, ada yang mengatakan bahwa pengobatan terbaik yang dilakukan oleh orang India adalah berpantang, dengan cara melarang orang-orang yang sedang sakit dari makan, minum dan berbicara selama beberapa hari. Kemudian si penderita terbebas dari penyakit dengan cara tersebut, bukan dengan cara lain.

Dengan begitu, sekarang semua keterangan ini telah menjadi jelas bagi Anda, bahwa sesungguhnya ketakwaan adalah inti dan permata segala sesuatu (ibadah). Orang yang ahli dalam ketakwaannya menempati kedudukan tertinggi di antara para hamba. Oleh karena itu, curahkanlah seluruh kemampuan untuk mencapainya dan menggunakan segala pertolongan yang ada baginya.

Hanya Allah yang menguasai taufik dngan rahmat-Nya.

Kemudian peliharalah-empat inti anggota badan, yaitu:

  1. Mata

Dalam hal ini Anda cukup memeliharanya dengan berpikir bahwa semua urusan agama dan dunia bermuara di dalam hati. Dan sesungguhnya kekhawatiran, kesibukan, dan kerusakan hati kebanyakan berasal dari mata. Oleh karena itu, Sayyidina Ali bin Abu Thalib karramallahu wajhahu pernah berkata: Barangsiapa tidak bisa menguasai pandangannya berarti ia tidak menghargai hatinya.

  1. Mulut (Lisan) ,

Dalam hal mulut ini Anda cukup memeliharanya dengan merasa bahwa semua keberuntungan dan buah dari jerih payah Anda didapat karena ibadah dan ketaatan.

Sedangkan kehancuran ibadah dan kerusakannya yaitu mengada-ada, menggunjing dan lain sebagainya, yang kebanyakan berasal dari lisan. Hal itu akan merusak apa yang telah Anda kerjakan selama satu tahun atau bahkan lima tahun hanya dengan satu kata.

Karena itulah ada sebuah ungkapan yang berbunyi

Artinya: Tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk senantiasa dipenjara selain mulut.

Dikisahkan bahwa salah seorang dari tujuh ahli ibadah berkata kepada Nabi Yunus a.s.: Hai Yunus! Sesugguhnya jika para hamba itu bersungguh-sungguh dalam ibadah, maka tidak ada kekuatan yang lebih tepat untuk menjalaninya selain menahan diri dari ucapannya dalam waktu yang cukup lama.Kemudian ahli ibadah tersebut mengulang perkataannya tadi dan berkata: Jangan ada sesuatupun yang dipentingkan selain memelihara lisan Anda. Jangan sampai ada sesuatu yang lebih Anda perhatikan selain keselamatan diri Anda.

Camkan perkataan ini baik-baik.

Kemudian ingatlah bahwa nafas yang Anda pergunakan untuk membicarakan sesuatu yang tak berguna itu tidak akan membahayakan seandainya dipergunakan untuk mengucapkan kata astaghfirullah(aku memohon ampunan kepada Allah). Kadang saat itu bertepatan dengan saat yang mulia. Dengan begitu Allah akan mengampuni Anda dan modal Anda menghasilkan keuntungan. Atau Anda pergunakan untuk mengucapkan Iaa ilaaha illallah (tiada Tuhan selain Allah). Dengan begitu, Anda akan mendapatkan pahala dan simpanan yang tak terbayangkan sebelumnya. Atau Anda pergunakan untuk mengucapkan asalullaaha al ‘aaftyata (aku memohon keselamatan kepada Allah). Dan terkadang hal itu bertepatan dengan pandangan baik (dari Allah). Dengan begitu, Allah mengabulkan permohonan Anda dan Anda pun selamat dari berbagai bencana di dunia dan akhirat.

Bukankah suatu kergian yang nyata jika Anda melepaskan faedah-faedah yang mulia ini begitu saja dan menggunakan nafas serta waktu Anda hanya untuk hal tak berguna yang paling tidak menjadikan Anda tercela, dicemooh, dihisab dan tertahan pada hari kiamat?

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker