Di dalam kitab ini kami hanya menerangkan beberapa kalimat yang bisa mengantar Anda ke tempat tujuan, insya Allah. Dan hanya Allah tempat memohon taufik.
Pokok Pertama, Firman Allah Swt.
Renungkanlah firman-firman Allah yang ada di dalam kitab Al-Qur’an berupa ayat-ayat menyenangkan (iming-iming), menakut-nakuti, memberi harapan dan membuat takut (khawatir).
Di antara ayat yang memberi harapan adalah:
Artinya: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.” (Q.S. Az-Zumar: 53)
Artinya: “Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah.” (Q.S. Ali Imran: 135)
Artinya: “Yang mengampuni dosa dan menerima taubat.” (Q.S, Al-Mu’min: 3)
Artinya: “Dan Dia-lah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.” (Q.S. Asy-Syuura: 25)
Artinya: “Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.” (Q.S. Al-An’aam: 54)
Artinya: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Kutetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-A ‘raaf: 156)
Artinya: “Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Q.S. al-Baqarah: 143)
Artinya: “Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-Ahzaab: 43)
Inilah ayat-ayat yang berisi raja’ (harapan).
Di antara ayat-ayat yang menimbulkan rasa takut (khauf) adalah:
Artinya: “Maka bertakwalah kepada-Ku, wahai para hamba-Ku.” (Q.S. Az-Zumar: 16)
Artinya: “Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main saja, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Q.S. Al-Mukminuun: 115)
Artinya: “Apakah para manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa dimintai pertanggung jawaban)?” (Q.S. Al-Qiyaamah: 36)
Artinya: “Pahala dari Allah itu bukanlah menurut angan-anganmu dan tidak pula menurut angan-angan para ahli kitab. Barangsiapa mengerjakan kejahatan, niscaya ia akan dibalas dengan kejahatan , itu dan 1a tidak akan menemukan pelindung dan penolong selain Allah.” (Q.S. An-Nisaa’: 123)
Artinya: “Sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.” (Q.S. Al-Kahfi: 104)
Artinya: “Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan sebelumnya.” (Q.S. Az-Zumar: 47)
Artinya: “Dan Kami hadapi apa yang telah mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (Q.S. Al-Furqaan: 23)
Kami memohon kepada Allah agar Dia berkenan menyelamatkan kita semua dengan rahmat-Nya.
Di antara ayat yang mencakup khauf dan raja’ secara bersamaan adalah:
Artinya: “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (Q.S. Al-Hijr: 49)
Lalu Dia melanjutkan ayat tersebut:
Artinya: “Dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang teramat pedih.” (Q.S. Al-Hijr: 50)
Firman di atas dimaksudkan agar jangan sampai Anda dikuasai oleh raja’ (harapan). Firman Allah yang lain:
Artinya: “Maha keras hukuman-Nya.” (Q.S. Al-Mu’min: 3)
Lalu Dia melanjutkan lagi dengan firman:
Artinya: “Yang memiliki karunia, tiada Tuhan selain Dia.” (Q.S. Al-Mu’min: 3)
Firman di atas dimaksudkan agar Anda tidak dikuasai oleh khauf (perasaan takut).
Yang lebih menakjubkan lagi adalah firman-Nya berikut ini:
Artinya: “Dan Allah memperingatkan kamu dari diri (siksa)-Nya.” (Q.S. Ali Imran: 30)
Lalu Dia melanjutkan dengan firman-Nya:
Artinya: “Dan Allah sangat penyayang kepada hamba-hamba-Nya” (Q.S. Ali Imran: 30)
Ada lagi ayat yang lebih menakjubkan yaitu:
Artinya: “(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pengasih sedangkan Dia tidak kelihatan (olehnya).” (Q.S. Qaaf: 33)
Allah menyandarkan perasaan takut seorang hamba dengan asma “Ar-Rahmaan” (Maha Pengasih) tidak pada asma “AlJabbaar” (Maha Gagah), “Al-Muntaqiim” (Maha Membalas), ” Al Mutakabbir” (Maha Sombong) dan sejenisnya, agar perasaan takut tersebut bersatu dengan mengingat kasih sayang-Nya. Dengan begitu rasa takut tersebut tidak menerbangkan hati Anda, tapi membuat takut disertai rasa aman atau menggerakkan sesuatu sambil menenangkan. Sama halnya jika Anda berkata: “Apakah kamu merasa takut kepada seorang ibu yang penuh kasih sayang? Apakah kamu merasa takut kepada seorang ayah yang penuh belas kasih? Atau apakah kamu merasa takut kepada seorang raja yang dermawan?”
Yang diinginkan di sini adalah jalan tengah, jadi jangan sampai Anda memilih jalan “rasa aman” atau jalan “putus asa.”
Semoga Allah menjadikan kita semua orang-orang yang mau berpikir tentang ayat-ayat yang bijaksana ini dan bisa mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya. Sesungguhnya Dia Maha Memberi dan Maha Pemurah. Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah yang Maha Luhur lagi Maha Agung.
Pokok Kedua, Perbuatan Allah dan Pergaulan-Nya
Jika dilihat dari sisi khauf (rasa takut), ketahuilah bahwa sesungguhnya iblis telah beribadah selama delapan puluh ribu tahun. Menurut sebuah pendapat ia tidak pernah meninggalkan sejengkal tanahpun kecuali setelah bersujud kepada Allah satu kali di tempat itu. Lalu ia menolak satu perintah. Kemudian Allah melemparkannya dari pintu (hadapan)-Nya. Allah melemparkan (membuang) ibadah yang ia lakukan selama delapan puluh ribu tahun ke wajahnya. Dia melaknatnya sampai hari kiamat dan menyiapkan siksa yang pedih untuk selama-lamanya.
Bahkan diceritakan bahwa Rasulullah Saw. melihat malaikat Jibril a.s. bergelayut pada kelambu ka bah sambil berdoa dengan keras: “Ya Tuhanku! Janganlah Engkau mengubah namaku dan mengganti tubuhku.”
Kemudian Nabi Adam a.s. Beliau adalah manusia pilihan Allah dan juga nabi-Nya. Allah menciptakannya dengan “tangan – Nya, memerintahkan malaikat untuk bersujud dan memikulnya di pundak mereka untuk sampai ke hadapan-Nya. Lalu beliau memakan satu makanan yang tidak diizinkan-Nya, kemudian diumumkan: “Ingatlah! Orang yang durhaka kepada-Ku tidak boleh tinggal di dekat-Ku.”
Allah memerintahkan para malaikat yang menyangga tempat duduk beliau untuk menurunkannya dari langit hingga mereka meletakkan beliau di atas bumi dan Allah tidak menerima tobat beliau.
Menurut sebuah riwayat beliau menangisi hal itu selama seratus tahun.
Beliau menjadi hina dan mengalami berbagai cobaan yang Juga dirasakan oleh keturunan beliau untuk selamanya.
Kemudian Nabi Nuh a.s. Beliau adalah tetua para rasul. Orang yang menanggung beban perintah agama. Beliau tidak berkata Salah selain satu kalimat yang tidak pada tempatnya saat kemudian diumumkan:
Artinya: “Janganlah kamu meminta kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya Aku memberi nasehat kepadamu agar kamu tidak termasuk orang-orang yang bodoh.”
Sampai-sampai diceritakan bahwa beliau tidak mengangkat kepala ke arah langit selama empat puluh tahun karena merasa malu kepada Allah.
Lalu Nabi Ibrahim a.s., kekasih Allah. Beliau tidak melakukan dosa selain sebuah kesalahpahaman. Lalu berulangkali beliau merasa takut dan merendahkan diri sambil berdoa:
Artinya: “Demi Tuhan yang kuharapkan akan mengampuni kesalahanku kelak di hari kiamat.”









One Comment