Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

Rela dengan Takdir

Cobalah Anda renungkan dua hal pokok yang bisa memuaskan ini.

Pertama, faedah kerelaan yang didapat dengan seketika dan yang akan diperoleh di kemudian hari.

Faedah yang diperoleh dengan seketika adalah kosongnya hati dan berkurangnya keprihatinan yang tiada guna. Karena itulah sebagian besar orang zuhud berkata: “Jika takdir Allah telah nyata, niscaya keprihatinan itu tiada guna.” Dasar ungkapan ini adalah hadis Nabi Saw. Beliau berkata kepada Ibnu Mas’ud r.a.:

Artinya: “Kurangi keprihatinanmu. Apa yang telah ditakdirkan pasti terjadi, dan apa yang tidak ditakdirkan pasti tidak akan datang padamu.”

Ini adalah ucapan kenabian yang bersifat umum tapi cukup memadai, ringkas dan padat.

Adapun faedah yang akan diperoleh di kemudian hari adalah pahala dan kerelaan Allah. Allah Swt. berfirman:

Artinya: “Allah meridai mereka, dan mereka pun rida kepada-Nya.” (Q.S. At-Taubah: 100)

Kebencian terhadap takdir akan menimbulkan keprihatinan, kesedihan dan rasa jemu dengan seketika serta dosa dan siksaan di kemudian hari yang tiada berguna, Sebab takdir Allah pasti berlaku dan tidak mungkin berpaling karena keprihatinan dan kebencian Anda, seperti dikatakan seorang penyair:

Wahai nafsu! Bersabarlah dari apa yang telah ditakdirkan,

niscaya kamu terbebas dari sesuatu yang tidak ditakdirkan.

Lihatlah kenyataan! Sesungguhnya hal yang telah ditakdirkan

pasti terwujud untukmu baik kamu bersabar atau tidak.

Orang yang memiliki akal tentu tidak akan memilih keprihatinan yang tidak berguna, mendapatkan dosa dan siksaan, meninggalkan hati yang nyaman dan pahala di dalam surga.

Kedua, kekhawatiran yang terdapat di dalam kebencian, bahaya, kekufuran dan kemunafikan di dalamnya jika tidak diikuti oleh rahmat dari Allah.

Renungkan juga firman Allah di bawah ini:

Artinya: “Maka demi Tuhanmu. Mereka (Pada hakekatnya) tidak beriman sampai mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Q.S. An-Nisaa’: 65)

Dalam ayat ini keimanan ditiadakan dan Allah bersumpah bahwasanya orang yang membenci dan merasa keberatan terhadap keputusan Rasulullah Saw. tidak memiliki rasa iman. Lalu bagaimana dengan orang yang membenci keputusan (takdir) Allah?

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker