Barangsiapa menjalani ketakwaan yang pertama berarti ia menduduki kedudukan terendah dari takwa, yaitu kedudukan orang-orang yang istiqamah menjalani kataatan. Sedangkan orang yang menjalani ketakwaan kedua berarti ia menduduki kedudukan tertinggi dari takwa, yaitu kedudukan orang yang istiqamah meninggalkan hal-hal mubah.
Bila sesorang telah mengumpulkan keduanya, yakni menjauhi kemaksiatan dan kelebihan sesuatu yang halal berarti ia telah menyempurnakan arti takwa, menjalaninya dengan benar (sesuai haknya) dan mengumpulkan segala kebaikan di dalamnya. Takwa semacam ini dinamakan wara’ (kehati-hatian) yang sempurna, yang menjadi hal terpenting dari urusan agama. Hal ini juga dinamakan adab (tatakrama) di hadapan Allah Swt.
Inilah arti takwa dan keterangan globalnya. Pahamilah! Insya Allah Anda mendapat taufik.
Bila Anda berkata: “Kalau begitu sekarang tolong terangkan untuk kami arti takwa dan cara penggunaannya sehubungan dengan nafsu, karena kebutuhan untuk itu sudah muncul. Agar kami bisa mengetahui bagaimana caranya mengendalikan nafsu dengan ketakwaan seperti yang telah Anda terangkan rinciannya, yakni ketakwaan yang sebenarnya.
Menurutku (Al-Ghazali) memang harus begitu. Adapun rincian takwa tersebut sehubungan dengan ibadah adalah sebagai berikut:
(Langkah pertama) Anda harus menjaganya dengan keinginan yang kuat agar bisa mencegahnya dari segala perbuatan maksiat dan memeliharanya dari kelebihan sesuatu yang halal.
Kalau sudah begitu, berarti Anda telah bertakwa kepada Allah dalam urusan mata, telinga, mulut, hati, perut, kemaluan dan seluruh anggota badan serta mengendalikannya dengan kendali “takwa”.
Persoalan ini membutuhkan banyak sekali penjelasan dan kami telah menerangkannya di dalam kitab “Ihya Ulumiddin”. Sedangkan keterangan yang harus dijelaskan di dalam kitab ini adalah:
Barangsiapa ingin bertakwa kepada Allah, hendaknya ia melihat kembali pada lima inderanya. Sebab lima anggota badan inilah yang menjadi pokok permasalahan, yaitu mata, telinga, mulut, hati dan perut.
Ia harus menjaganya dari segala sesuatu yang membahayakan urusan agamanya seperti kemaksiatan, sesuatu yang haram, berlebihan dan boros dengan sesuatu yang halal.
Jika seseorang telah berhasil menjaga lima anggota badan ini berarti ia memiliki harapan anggota badan tersebut, maka yang lain bisa selamat.
Iajuga telah berhasil menjalani ketakwaan secara menyeluruh dengan semua anggota tubuhnya.
Sehubungan dengan hal ini tentunya diperlukan lima pasal tentang rincian lima anggota badan tersebut serta membuat beberapa pasal tentang apa yang diharamkan untuk masingmasing anggota badan sekedar yang sesuai dengan kapasitas kitab (yang dibuat ringkas) ini.
Pasal Pertama: Mata
Hendaknya Anda senantiasa memelihara mata, karena mata ini sering menjadi penyebab segala fitnah dan kerusakan. Dalam hal ini aku akan menerangkan tiga pokok yang sekira bisa mencukupi.
- Firman Allah
Artinya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman! Hendaklah mereka menahan pandangan dan menjaga kemaluan mereka. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Q.S. An-Nuur: 30)
Meskipun ayat ini pendek, setelah direnungkan ternyata menyimpan tiga arti yang mulia yaitu: Mendidik kesopanan (tata krama), peringatan dan menakut-nakuti. Arti yang mendidik kesopanan yaitu:
Artinya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman! Hendaklah mereka menahan pandangan mereka.” (Q.S. An-Nuur: 30)
Seorang hamba harus mengikuti perintah majikan dan bersikap sopan seperti diajarkan majikannya. Jika tidak, maka ia akan dianggap buruk budi pekertinya dan terhalang dari anugerah majikannya. Ia juga tidak diperbolehkan menghadiri pertemuan dan bersenang-senang di hadapan majikanya. Pahamilah keterangan ini dan renungkan apa yang tersirat darinya, karena di dalamnya terdapat manfaat yang besar sekali. Yang berisi peringatan adalah firman Allah:
Artinya: “Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.” (Q.S. . An-Nuur: 30)
Firman ini dipergunakan untuk dua arti.
Pertama, “yang demikian itu lebih membersihkan hati mereka.”
Kata-kata “Az-zakat” berarti “bersih”. Sedangkan “At-tazkiyat” berarti membersihkan.
Kedua, “yang demikian itu lebih meningkatkan kebaikan mereka.”
Kata-kata Az-zakat pada dasarnya memiliki arti “meningkat”.
Dengan begitu, di dalam ayat ini Allah mengingatkan bahwa dalam menundukkan pandangan terdapat penyucian hati dan memperbanyak (meningkatkan) ketaatan serta kebaikan. Hal itu terjadi karena apabila Anda tidak menundukkan pandangan dan melepaskannya begitu saja, tentu mata Anda akan memandang hal-hal yang tidak berguna. Kalau itu yang terjadi bukan hal yang tidak mungkin pandangan Anda akan jatuh pada hal-hal haram. Bila Anda dengan sengaja memandangnya maka hal itu merupakan dosa besar, dan kadang hal yang terlihat itu melekat di hati Anda. Dengan begitu, Anda akan binasa bila tidak diberi rahmat oleh Allah.
Telah diceritakan bahwa seorang hamba memandang sesuatu hanya sekilas, akan tetapi hatinya menjadi rusak karena sekilas pandangan tersebut seperti kulit yang dimasukkan ke dalam penyamakan, dan tidak bisa di manfaatkan untuk selamanya.
Jika yang Anda lihat itu sesuatu yang mubah, maka hati Anda akan menjadi sibuk. Lalu datanglah perasaan was-was dan khawatir karenanya. Bisa jadi Anda tidak bisa menggapai apa yang Anda lihat sehingga hati Anda tetap saja sibuk dan terputus dari kebaikan.
Seandainya Anda tidak melihat semua itu, tentu Anda akan merasa nyaman dari semuanya.
Sehubungan dengan arti semacam ini, dikisahkan bahwa Nabi Isa a.s. pernah berkata: “Hati-hatilah dengan pandanganmu, karena pandangan tersebut menanamkan keinginan (syahwat) di hatimu. Dan cukuplah hal itu sebagai fitnah bagimu.”
Dzun-Nuun Al-Mishri berkata: “Penghalang terbaik untuk syahwat adalah memejamkan mata.”
Sungguh indah gubahan seorang penyair berikut ini:
Bila suatu hari kau lepas pandanganmu sebagai utusan hati, maka apa yang terlihat akan membuatmu payah.
Kau melihat sesuatu yang tidak semuanya bisa kau raih. Dan engkaupun tidak sabar mendapatkan sebagian darinya.
Kalau begitu, sebaiknya Anda menahan pandangan dan memelihara mata. Jangan melihat hal-hal yang tidak bermanfaat dan sesuatu yang tidak penting, niscaya hati Anda akan bersih, lega dan nyaman dari rasa was-was. Diri Anda juga selamat dari berbagai kerusakan. Dan kebaikan Anda pun akan bertambah. Oleh karena itu, ingatlah keterangan yang menyeluruh ini.
Hanya Allah yang memberikan taufik dengan anugerah dan kemuliaan-Nya.
Sedangkan yang memiliki arti menakut-nakuti adalah firman Allah:
Artinya: “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Q.S. An-Nuur: 30)
Dia juga berfirman:
Artinya: “Dia Maha mengetahui (pandangan) mata yang berkhianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Q.S. Al-Mu’min: 19)
Ayat ini cukup sebagai teguran bagi orang yang takut dengan kekuasaan Tuhannya. Dan ini merupakan dasar utama yang berasal dari kitab Allah Swt.









One Comment