Pendapat dalam masalah ini banyak sekali dan tidak ada gunanya banyak menyadur setelah kebenaran itu tersingkap.
Nabi Saw, pemimpin orang-orang terdahulu dan orang-orang yang hidup belakangan, saat ditanya tentang keikhlasan bersabda:
Artinya: “Katakanlah “Tuhanku Allah’, setelah itu lakukanlah hal itu secara terus menerus (istiqamah) sebagaimana kamu diperintah.”
Artinya, janganlah kamu menyembah hawa nafsumu. Jangan menyembah kepada selain Tuhanmu dan istiqamahlah dalam beribadah kepada-Nya sebagaimana kamu diperintah.
Hadis ini adalah sebuah isyarat agar kita memutuskan hubungan dengan semua yang selain Allah dari ruang pandang kita. Inilah ikhlas yang sebenarnya.
Kebalikan dari ikhlas adalah riya, yaitu menginginkan kemanfaatan di dunia dengan amal akhirat. Dan riya ini juga terbagi menjadi dua, riya yang masih murni dan riya campuran.
Riya yang murni adalah jika Anda menginginkan kemanfaatan di dunia dengan amal tersebut serta tidak disertai keinginan lain.
Riya campuran adalah jika Anda menginginkan keduanya secara bersamaan. Artinya menginginkan kemanfaatan dunia dan kemanfaatan akhirat.
Inilah batasan ikhlas dan riya,
Ikhlas dan riya juga memiliki pengaruh, karena ikhlas dalam beramal akan membuat Anda menjadikan semua amal sebagai sebuah pendekatan diri kepada Allah. Sedangkan ikhlas dalam mencari pahala membuat amal yang Anda kerjakan diterima, berpahala dan menjadi agung.
Kemunafikan dapat menghancurkan semua amal, membuatnya tidak lagi menjadi sebuah pendekatan yang dapat menghasilkan pahala sesuai dengan janji dari Allah Swt.
Menurut seorang ulama, riya yang murni tidak akan timbul pada diri seseorang yang telah makrifat kepada Allah, walaupun hal itu dapat menghancurkan separoh pahala.
Menurut ulama yang lain, riya yang murni kadang bisa muncul pada diri orang yang telah makrifat dan menghapus separoh dari kelipatan pahala. Sedangkan mencampuradukkan niat bisa menghapus seperempat kelipatan pahala.
Menurut guru kami, pendapat yang benar adalah: Riya yang murni tidak akan timbul pada diri orang yang telah makrifat saat ia sedang mengingat akhirat dan bisa timbul bila ia sedang lupa.
Di antara pengaruh riya, menurut sebuah pendapat yang dipilih para ulama adalah amalnya tidak diterima dan pahalanya berkurang. Tidak jelas apakah berkurang separoh atau hanya seperempatnya, karena penjelasan dalam hal ini panjang sekali dan kami telah menerangkannya di dalam kitab Ihya Ulumiddinsecara lebih luas dan memuaskan di dalam babasraari mu’aamalat ad-diin,
Jika Anda bertanya: Sekarang di mana keikhlasan itu berada dan ketaatan macam apa yang membutuhkan keikhlasan serta yang wajib ikhlas di dalamnya?
Ketahuilah! menurut seorang ulama, semua amal itu terbagi Menjadi tiga:
- Amal yang bisa ditempati dua keikhlasan secara bersamaan Yaitu ibadah zhahir yang pokok.
- Amal yang tidak bisa ditempati oleh salah satu keikhlasan, yaitu ibadah bathiniyyah yang pokok.
- Amal yang bisa ditempati keikhlasan mencari pahala tapi tidak bisa ditempati keikhlasan dalam beramal, yaitu amal-amal mubah yang dipersiapkan sebelum beribadah.
Guru kami berkata: Setiap amal yang memiliki kemungkinan untuk dibelokkan ke arah selain Allah seperti ibadah-ibadah pokok itu bisa ditempati oleh keikhlasan beramal. Sedangkan ibadah-ibadah bathiniyyah itu kebanyakan bisa ditempati oleh keikhlasan beramal.
Para guru aliran Kiramiyah berpendapat bahwa keikhlasan mencari pahala tidak bisa bertempat pada ibadah-ibadah bathiniyyah, karena hal itu tidak b’sa dilihat seorangpun selain Allah. Dengan begitu, tidak mungkin di dalamnya ada ajakanajakan berbuat riya. Karena itulah dalam hal ini tidak diperlukan adanya keikhlasan mencari pahala.
Guru kami berkata: Jika seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah berkeinginan mendapatkan kemanfaatan di dunia dengan suatu ibadah, maka hal itu juga termasuk riya.
Menurutku (Al-Ghazali) Jika keadaannya seperti itu berarti kemungkinan adanya dua keikhlasan dalam ibadah bathiniyyah tidaklah jauh. Begitu pula ibadah-ibadah sunat. Ia harus menyertainya dengan dua keikhlasan sekaligus saat memulainya. Sedangkan amal-amal (ibadah) mubah yang dipergunakan sebagai persiapan hanya bisa ditempati oleh keikhlasan mencari pahala, bukan keikhlasan beramal. Karena ibadah yang mubah itu sendiri tidak pantas dijadikan sebagai pendekatan diri, tapi hanya sebagai sarana untuk mendekatkan diri (kepada Allah).
Jika Anda berkata: Ini semua baru tempat dua macam keikhlasan. Sekarang tolong terangkan kapan waktunya merasa ikhlas dalam suatu amal?
Ketahuilah bahwa keikhlasan beramal itu harus dibarengkan dengan amal itu sendiri dan tidak boleh merasa ikhlas setelah selesai mengerjakannya. Sedangkan keikhlasan mencari pahala bisa dilakukan setelah amal itu selesai.
Menurut seorang ulama, waktu yang mereka tentukan dalam keikhlasan mencari pahala adalah saat amal itu selesai. Jika amal itu selesai dengan rasa ikhlas atau riya, maka berakhir sudah urusan tersebut dan tidak mungkin bisa diikuti (disusul) dengan keikhlasan lagi.
Menurut ulama aliran Kiramiyah, jika hamba tersebut belum mendapatkan suatu manfaat yang ia harapkan dengan riya, maka ja masih berkesempatan menyusuli amal tersebut dengan keikhlasan. Tapijika ia telah mendapatkan suatu manfaat, berarti kesempatan merasa ikhlas itu telah hilang.
Menurut seorang ulama, dalam ibadah fardu seorang hamba memiliki kesempatan merasa ikhlas sampai ia mati. Adapun ibadah sunat, maka Anda tidak memiliki jalan selain yang telah disebutkan di atas. Perbedaannya adalah: Allah memasukkan seorang hamba di dalam sebuah kewajiban. Jadi, ada harapan Allah memberi anugerah dan kemudahan kepadanya. Sedangkan dalam ibadah sunat hamba itu sendiri yang masuk ke dalamnya dan membebani diri dengannya. Karena itu, ia harus memenuhi hak yang ia bebankan pada dirinya sendiri.
Menurutku (Al-Ghazali) dalam masalah ini terpetik satu faedah, yaitu orang yang terlanjur merasa riya atau meninggalkan keikhlasan masih mungkin mengikuti (menyusulinya) dengan keikhlasan sesuai dengan salah satu cara yang kami sebutkan sebelumnya.
Tujuan utama menerangkan pilihan (pendapat) para ulama dalam masalah yang pelik ini adalah agar kita semua tahu bahwa saat ini sedikit sekali orang yang merasa ikhlas, tidak banyak orang yang menempuhjalan ini, dan untuk memudahkan para pemula dalam beribadah. Jika ia tidak menemukan pengobat dalam pendapat yang satu ini, maka ia akan menemukannya dari tempat lain, karena adanya perbedaan penyakit, tujuan, kekurangan dalam berbagai amal dan kerusakannya. Pahamilah niscaya Anda termasuk orang yang pandai. Insya Allah.









One Comment