Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

Lihatlah! Berapa banyak ayat yamng diturunkan oleh Allah dalam hal ini. Berapa kali Allah mengungkapkan janji, jaminan, dan pembagian masalah rezeki ini. Tiada hentinya para nabi dan para ulama memberikan petuah kepada manusia, memberi penerangan tentang jalan mereka, menyusun berbagai macam kitab, membuat berbagai perumpamaan dan menakut-nakuti mereka dengan siksa dari Allah. Walaupun begitu mereka tetap tidak menerima petunjuk, tidak bertakwa, dan tidak merasa tenang. Bahkan mereka selalu tersiksa oleh hal itu. Tiada hentinya mereka khawatir kehilangan makan pagi dan sore yang kesemuanya berasal dari minimnya perenungan terhadap ayat-ayat Allah Swt. Minimnya berpikir tentang ciptaan Allah dan tidak mengingat sabda Rasul Saw., tidak merenungkan ucapan orang-orang saleh, membiarkan bisikan-bisikan setan, mendengar omongan orang-orang bodoh dan tertipu oleh kebiasaan orang-orang yang lalai. Setan menguasai mereka, dan kebiasaan (orang yang lalai) tertanam kuat dalam hati mereka dan hal itu menyebabkan hati menjadi lemah dan tipis keyakinannya.

Adapun orang orang terpilih yang memiliki kewaspadaan, kesungguhan dan bersunppuh sunppuh tentu akan melihat jalan langit sehinppa mereka tidak menghiraukan penyebab-penyebab yang ada di bumi. Mereka berpegang tepuh pada tali Allah, tidak peduli dengan berbagai ketergantungan terhadap para makhluk, merasa yakin pada tanda-tanda Allah dan memperhatikan jalanNya. Mereka juga tidak menoleh terhadap godaan setan, orang lain dan diri sendiri. Jika ada godaan dari setan, orang lain, ataupun diri sendiri (nafsu), maka ia tetap berdiri tegak, menentang, mengusir dan menyimpang sehingga orang lain yang menggoda akan berpaling. Para setan akan pergi memisahkan diri. Nafsu mau menurut (jinak), danjalan lurus menuju ibadah terbuka lebar. Begitulah. Seperti diceritakan dari Ibrahim bin Adham rahimahullah. Pada saat beliau berniat pergi ke pedalaman (hutan), setan datang menakut-nakuti bahwa hutan ini sangat berbahaya. Sedangkan kamu tidak membawa bekal dan alat yang lain. Kemudian beliau tetap bertekad memasukinya dan tidak akan berhenti melakukan salat seribu rakaat setiap kali menempuh jarak satu mil. Ternyata beliau berhasil menjalani apa yang diinginkan dan tinggal di hutan selama dua belas tahun, hingga suatu ketika Harun Al-Rasyid menunaikan ibadah haji pada tahun-tahun itu dan menemukannya sedang melaksanakan salat di bawah penunjuk jarak. Lalu ada yang berkata: “Ini adalah Ibrahim bin adham yang sedang salat.” Kemudian Harun Al-Rasyid mendatangi beliau dan bertanya: “Apa yang terjadi padamu hai Abu Ishaq?” Ibrahim menjawabnya dengan bersyair:

“Kutambal duniaku dengan merobek agamaku

dan tiada yang tersisa dari agamaku serta apa yang kutambal (duniaku).

Beruntung sekali seorang hamba yang memilih Allah sebagai Tuhannya

dan bermurah hati dengan hartanya untuk sesuatu yang akan terjadi.

Diceritakan bahwa ada orang saleh yang tinggal di daerah pedalaman. Lalu setan datang menggoda dengan mengatakan bahwa di sini Anda tidak mempunyai apa-apa sedangkan tempat ini berbahaya. Tidak ada kehidupan dan orang lain di dalamnya. Beliau tetap bersikeras untuk membiarkan dirinya tanpa memiliki bekal. Beliau menghindari jalan umum agar tidak meminta-minta pada orang lain dan tidak memakan sesuatu sampai ada samin dan madu yang diletakkan di mulutnya. Beliau berpindah dari jalan umum dan mengembara. Aku berjalan sesuai kehendak Allah dan tiba-tiba ada rombongan yang tersesat dari jalan. Mereka terus berjalan, dan saat aku melihat mereka, kulemparkan tubuhku ke tanah agar mereka tidak melihatku. Lalu Allah menjalankan mereka hingga semuanya berhenti di hadapanku. Aku memejamkan mata, lalu merekapun mendekat. Mereka berkata: “Orang ini terpisah dari rombongan dan pingsan karena lapar dan dahaga. Tolong ambilkan samin dan madu, biar kuletakkan di mulutnya. Siapa tahu ia bisa siuman.” Mereka datang membawa samin dan madu. Lalu kukatupkan mulut dan gigiku. Mereka mengambil pisau untuk merobek mulutku hingga terbuka. Aku tertawa dan membuka mulut. Melihat itu mereka bertanya padaku: “Apa kamu gila?” Aku menjawab: “Tidak. Segala puji bagi Allah.” Kemudian kuceritakan kepada mereka sebagian dari apa yang terjadi antara aku dan setan dan mereka kagum akan hal itu,

Diceritakan dari salah seorang guru kami. Beliau berkata: “Pada suatu ketika aku pergi untuk mengajar ke sebuah masjid yang jauh dari orang banyak. Aku tidak membawa bekal, seperti kebiasaan yang dilakukan oleh para wali kita. Lalu setan datang menggoda bahwa masjid ini jauh dari pemukiman orang banyak, Jika kamu mau berjalan ke masjid yang ada di tengah orang banyak, tentu penduduknya akan melihatmu dan memberikan kebutuhanmu. Aku berkata: “Aku tidak akan menginap selain di tempat ini. Aku berjanji tidak mau makan apapun selain manisan.

Dan aku tidak akan memakannya sampai manisan itu dimasukkan ke dalam mulutku sesuap demi sesuap.” Lalu aku melakukan salat Isya dan mengunci semua pintu. Setelah lewat tengah malam aku dikejutkan seseorang yang mengetuk pintu dan membawa pelita. Setelah berulangkali mengetuk aku pun membuka pintu. Ternyata aku bertemu dengan seorang nenek tua bersama seorang pemuda. Nenek itu masuk dan meletakkan nampan berisi makanan di hadapanku dan berkata: “Pemuda ini adalah anakku. Aku membuatkan makan ini untuknya. Lalu terjadi pembicaraan antara kami dan dia bersumpah tidak mau makan kecuali bersama dengan lelaki asing. Atu nenek tadi berkata “Orang asing yang ada di dalam masjid. Oleh karena itu makanlah. Semoga Allah memberikan rahmat padamu.” Kemudian nenek tadi mulai meletakkan sesuap makanan di mulutku dan sesuap yang lain di mulut anaknya sampai kami berdua merasa cukup. Lalu keduanya pergi dan ia menutupkan pintu untukku sambil merasa heran dengan apa yang terjadi.

Semua ini adalah contoh perjuangan orang-orang saleh dan perlawanan mereka terhadap setan.

Dari semua itu Anda bisa mengambil tiga hal yang bermanfaat:

  1. Anda harus tahu bahwa rezeki itu apapun yang terjadi tidak akan lenyap dari orang yang ditakdirkan menerimanya.
  1. Anda harus tahu bahwa urusan rezeki dan tawakal amatlah penting. Dan sesungguhnya setan selalu menggoda dan membuat kebimbangan, sampai-sampai orang yang zuhud seperti itu tidak bisa terhindar dari godaannya. Setan-setan itu tidak akan berputus asa dari mereka setelah melatihnya dalam waktu yang cukup lama dan perjuangan gigih yang dilakukan sejak dulu. Hingga untuk mengusirnya mereka memerlukan perlawanan semacam ini. Sungguh. Aku bersumpah demi umurku. Seseorang yang telah melatih diri selam tujuh puluh tahun tidak akan terbebas dari godaan setan dan hawa nafsu. Seperti mereka juga menggoda para pemula dalam beribadah. Apalagi orang berakal yang sedikitpun tidak pernah melatih diri. Jika kedapatan oleh setan dan hawa nafsu, maka keduanya akan memperlakukan dan merusak mereka seperti kerusakan orang orang yang lalai dan tertipu. Ini merupakan sebuah pelajaran bagi orang yang waspada,

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker