Jadi, poros perputaran ibadah itu ada tiga. Pertama taufik yang membuat Anda bisa mengerjakan amal. Kedua memperbaiki kekurangan sampai betul-betul sempurna. Dan ketiga diterima oleh Allah setelah amal itu menjadi sempurna.
Inilah tiga hal yang digunakan sebagai sarana untuk merendahkan diri kepada Allah oleh para hamba. Mereka meminta sebagai berikut: “Ya Tuhan kami! Berilah petunjuk agar kami taat kepada-Mu. Sempurnakanlah kekurangan kami dan terimalah ketaatan ini dari kami.”
Tetapi sebenarnya Allah menjanjikan semua itu bagi orang yang bertakwa, ia meminta ataupun tidak, pasti diberi. Karena itu hendaknya Anda selalu bertakwa bila ingin bisa beribadah kepada Allah Swt. Atau bahkan untuk meraih keuntungan dunia dan akhirat sekalipun.
Benar sekali ungkapan seorang penyair:
Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka akan didatangkkan baginya sesuatu yang menguntungkan, Seorang ulama menggubah syair sebagai berikut:
Tidak ada satupun yang mengikuti seseorang ke dalam kuburnya selain ketakwaan dan amal saleh.” Ulama yang lain bersyair:
Barangsiapa mengenal Allah dan tidak merasa cukup dengan Mengenal-Nya,
berarti itulah orang uang celaka.
Seseorang tidak menjadi mulia karena harta,
karena segala kemuliaan hanya dimiliki oleh orang yang bertakwa. Kesulitan yang dirasakan seseorang saat menjalani ketaatannya tidak akan mencelakakannya. Begitu juga apa yang ditemuinya.” Seorang ulama menulis sebuah syair di atas kubur (nisan):
Tiada bekal selain ketakwaan, karena itu ambillah ia sebagai bekal atau tinggalkanlah. hai nafsu!
Kemudian renungkanlah satu hal pokok, yaitu seandainya Anda telah mengalami kepayahan sepanjang hidup untuk beribadah, berjuang memerangi hawa nafsu dan bersusah payah hinpga berhasil mendapatkan apa yang Anda idam-idamkan. Bukankah yang terpenting dalam hal ini adalah “penerimaan?” Sementara Anda juga tahu bahwa Allah telah berfirman:
Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Maaidah: 27)
Dengan begitu segala sesuatunya kembali pada ketakwaan.
Karena hal itu pula Aisyah r.a. berkata: “Rasulullah Saw. tidak pernah merasa kagum dengan sesuatu atau seorangpun di dunia ini selain pada orang yang bertakwa.”
Diceritakan Qatadah. Beliau berkata: “Di dalam kitab Taurat tertulis:
Artinya: “Wahai anak cucu Adam! Bertakwalah kepada Allah dan tidurlah sesukamu.”
Aku pernah mendengar tentang “Amir bin abdi Qais. Saat menjelang kematiannya, beliau menangis. Padahal sehari semalam beliau melakukan salat seribu rakaat. Kemudian beliau mendatangi tempat tidur seraya berkata: “Hai tempat kembali segala keburukan! Demi Allah aku sama sekali tidak merasa rela kepadamu karena Allah, walaupun hanya sekejap.”
Suatu hari beliau menangis. Lalu ditanya: “Apa yang membuat Anda menangis?”
Beliau berkata: “(Yang membuatku menangis adalah) Firman Allah Swt.:
Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari – orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Maaidah: 27)
Setelah mengetahui semua itu, renungkan pula satu hal penting lain yang menjdi inti dari beberapa pokok masalah, yaitu apa yang pernah disebutkan bahwa salah seorang ulama berkata kepada gurunya: “Berilah aku wasiat!” Gurunya menjawab: “Aku berpesan kepadamu dengan sesuatu yang dipesankan oleh Allah kepada orang-orang terdahulu dan orang-orang yang hidup kemudian. Allah berfirman:
Artinya: “Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orangorang yang telah diberi Al-Kitab sebelum kamu dan juga kepadamu: ‘Bertakwalah kepada Allah”! (Q.S. An-Nisa’: 131)
Menurutku, bukankah Allah mengetahui kebaikan seorang hamba lebih dari siapapun? Bukankah Dia juga Dzat yang memberi nasehat, lebih pengasih dan lebih lembut kepadanya dibanding siapapun? Jika di dunia ini ada suatu perbuatan yang lebih baik bagi seorang hamba, lebih banyak mengumpulkan kebaikan, lebih besar pahalanya, lebih besar penghambaannya, lebih mulia kedudukannya, lebih baik keadaannya dan lebih bermanfaat di akhirat daripada ketakwaan ini, tentu Allah akan memerintahkan hamba-Nya dan berwasiat kepada orang-orang pilihan-Nya dengan hal itu karena kesempurnaan kebijaksanaanNya dan juga karena keluasan rahmat-Nya.
Ketika Allah berwasiat dengan satu pekerjaan ini dan juga menyatukan orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian dalam mengerjakannya dan Dia mencukupkan wasiat tersebut, maka Anda pun menjadi tahu bahwa ketakwaan itulah puncak yang tidak boleh dilewatkan dan juga tidak ada tujuan lain selain itu.
Sesungguhnya Allah benar-benar telah mengumpulkan segala nasehat, tanda-tanda, petunjuk, peringatan, pendidikan, pengajaran dan pembersihan dalam satu wasiat sesuai dengan kebijaksanaan dan keluasan rahmat-Nya.
Anda juga tahu bahwa ketakwaan inilah yang menyatukan dua kebaikan dunia dan akhirat, yang bisa memenuhi berbagai hal penting dan mengantarkan seseorang ke puncak derajat kehambaan.
Alangkah indah syair berikut ini:
Ingatlah bahwa ketakwaan berarti keagungan dan kemuliaan.
Dan kecintaanmu terhadap dunia itulah kehinaan serta kemiskinan.
Tiada kekurangan pada seorang hamba yang bertakwa
saat ia bersungguh-sungguh dengan ketakwaannya walaupun ia menjadi tukang tenun atau tukang candhuk.”
Inilah pokok yang tidak perlu ditambah lagi. Di dalamnya tercakup keterangan yang mencukupi bagi orang yang melihat cahaya dan mendapat petunjuk. Juga orang yang mau mengamalkan dan menganggapnya sudah cukup.
Hanya Allah yang menguasai taufik dengan karunia-Nya. Jika Anda berkata: “Sungguh besar kedudukan takwa dan begitu besar kebutuhan untuk mengetahui semua itu teramat mendesak. Oleh karena itu, mau tidak mau sekarang ketakwaan itu harus diterangkan secara rinci.”
Ketahuilah bahwa hal itu memang pantas dianggap besar kedudukannya, harus diusahakan dan perlu diketahui. Tapi Anda juga harus tahu bahwa setiap hal yang penting dan besar, untuk menariknya harus menggunakan banyak cara. Kesulitan yang harus dihadapi juga besar. Harus bertekad kuat dan bersungguh-sungguh. Dengan begitu, seperti halnya ketinggian derajat takwa dan juga kebesarannya, maka perjuangan untuk mencarinya, untuk bisa memenuhi haknya, dan pertolongan untuk bisa mendapatkannya merupakan hal besar. Sebab berbagai macam kemuliaan itu diukur dengan tingkat kesulitan. Dan semua kelezatan diukur dengan ongkos yang dikeluarkan.
Allah berfirman:
Artinya: “Dan orang-orang yang berjuang untuk mencari (keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka Jalan-jalan Kami.” (Q.S. Al-Ankabut: 69)
Dia-lah Dzat yang lemah lembut. Oleh karenanya, dengar, ingat, dan patuhi keterangan tentang takwa ini dengan baik sampai Anda mengetahuinya dan bersiap-siap untuk menjalaninya. Mohonlah pertolongan kepada Allah Swt. sampai Anda bisa beramal dengan apa yang telah Anda ketahui, karena segala sesuatunya berhubungan dengan pertolongan tersebut.
Hanya Allah yang menguasai taufik dan hidayah dengan anugerah-Nya.
Mula-mula ketahuilah bahwa ketakwaan itu menurut guru kami adalah membersihkan hati dari dosa yang belum pernah Anda lakukan sebelumnya sampai Anda benar-benar berkeinginan kuat meninggalkannya untuk menjaga antara Anda dengan kemaksiatan. Begitulah yang dikatakan guru kami.
Pendapat ini keluar karena sesungguhnya kata “taqwa” bila dilihat dari segi bahasa berasal dari kata dasar “waqwa” dengan huruf depan berupa wawu, dan keluar dari kata “wiqaayah”. Perubahan tasrifnya sebagai berikut: “waqa – yaqi – wiqaayatan – waqwan”. Kemudian huruf wawu diganti menjadi ta’ seperti penggantian yang terjadi dalam kata “wuklaan” menjadi “tuklaan” dan sebagainya, maka jadilah kata “taqwan”.









One Comment