Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

Ketahuilah! Jika Anda telah memiliki hati yang kuat terhadap Allah dan kepercayaan yang sempurna terhadap janji Allah, maka masuklah tanpa membawa bekal. Jika Anda belum memilikinya, maka lakukanlah seperti apa yang diperbuat orang pada umumnya dengan membawa segala kebutuhannya (membawa bekal).

Aku (Al-Ghazali) pernah mendengar bahwa Abu Al-Ma’aali rahimahullah berkata: Sesungguhnya barangsiapa berjalan (hidup) bersama Allah seperti kebiasaan manusia pada umumnya, maka Allah akan memperlakukannya seperti perlakuan-Nya kepada manusia dalam hal mencukupi kebutuhan.

Ini adalah ucapan yang sangat bagus. Di dalamnya terdapat banyak sekali faedah bagi orang yang mau merenungkan.

Jika Anda bertanya: Bukankah Allah telah berfirman:

Artinya: “Dan hendaklah kamu sekalian membawa bekal, karena sesungguhnya bekal yang terbaik adalah takwa.(Q.S. Al-Baqarah: 197)

Ketahuilah bahwa mengenai ayat ini ada dua pendapat:

  1. Yang dimaksud bekal di sini adalah bekal menuju akhirat. Oleh karena itu, Dia berfirman: Sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan tidak mengatakan: Harta dunia dan berbagai penyebabnya.
  2. Ayat ini berkaitan dengan orang-orang yang pergi beribadah haji tanpa membawa perbekalan karena merigandalkan pemberian orang lain. Mereka meminta-minta, mengeluh, nyinyir, dan merugikan orang lain. Kemudian mereka diperintahkan membawa bekal sebagai peringatan bahwa mengambil bekal dari hartanya sendiri itu lebih baik daripada mengambilnya dari orang lain dan mengandalkan mereka.

Demikian menurut pendapatku.

Jika Anda bertanya: Apakah orang yang bertawakal itu perlu membawa bekal saat bepergian?

Ketahuilah bahwa kadang-kadang ia membawa bekal tapi hatinya tidak terpancang pada bekal tersebut. Ia tidak berkeyakinan bahwa bekal tersebut memang menjadi rezekinya dan dari bekal itulah ia mendapatkan kekuatan tubuhnya. Akan tetapi ia menggantungkan hatinya kepada Allah dan bertawakal kepada-Nya seperti dengan mengatakan bahwa rezeki itu telah dibagi dan sudah selesai pembagiannya. Dan jika Allah menghendaki, maka Dia akan menegakkan tubuhku dengan bekal iri atau dengan yang lain.

Dan kadang ia membawa bekal dengan maksud lain, seperti untuk menolong seorang muslim dan sebagainya.

Yang dipermasalahkan di sini bukan membawa atau tidak membawa bekal, tapi yang dibicarakan adalah hatinya.

Jangan menggantungkan hati Anda kecuali pada janji Allah dan kebaikan jaminan-Nya. Berapa banyak orang yang membawa bekal tapi hatinya tetap bergantung kepada Allah. Dan betapa banyak orang yang tidak membawa bekal tapi hatinya tidak bergantung pada Allah. Dengan begitu yang terpenting di sini adalah hati.

Pahamilah keterangan-keterangan ini. Insya Allah Anda tidak akan kekurangan biaya hidup.

Jika ada yang mengatakan: Nabi Saw. juga membawa bekal. Begitu pua dengan para sahabat dan para pendahulu yang saleh.

Maka jawabnya adalah: Tak usah diragukan lagi bahwa urusan membawa bekal itu memang diperbolehkan, tidak dilarang. Tapi yang dilarang adalah menggantungkan hati pada bekal dan meninggalkan tawakal kepada Allah Swt. Camkan baik-baik!

Kemudian apa pendapatmu tentang Rasulullah Saw. saat Allah berfirman kepada beliau:

Artinya: “Dan bertawakallah kepada Dzat yang Maha Hidup, yang tidak akan mati.(Q.S. Al-Furqaan: 58)

Apakah dalam hal ini beliau durhaka kepada-Nya dan menggantungkan hati pada makanan, minuman, dinar, dan dirham?Tidak. Hal itu tak mungkin terjadi. Hatinya tetap bergantung kepada Allah dan tetap bertawakal kepada-Nya seperti yang diperintahkan kepada beliau. Karena sesungguhnya beliau adalah orang yang tidak menoleh pada dunia seisinya dan tidak menjulurkan tangan untuk membuka kunci-kunci penyimpanan bumi. Karena sesungguhnya pengambilan bekal yang dilakukan oleh beliau dan para pendahulu yang saleh didasari oleh bermacam niat baik, bukan karena kecenderungan hati mereka untuk meninggalkan Allah dan menggantungkan diri pada bekal.

Yang diperhitungkan adalah tujuan seperti yang telah kami terangkan pada Anda. Pahamilah! Bangunlah dari tidur Anda! Sadarlah dari kelalaian Anda, pasti Anda menjadi paham. Semoga Allah memberimu petunjuk.

Jika Anda bertanya: Manakah yang terbaik antara keduanya? Mengambil bekal ataukah meningalkannya?

Ketahuilah bahwa jawabannya berbeda menurut perbedaan keadaan. Jika orang tersebut menjadi panutan dan ingin memberi penerangan bahwa membawa bekal itu diperbolehkan, untuk menolong seorang muslim, atau menolong orang kesusahan dan sebagainya, maka baginya lebih baik membawa bekal.

Jika orang itu sendirian, hatinya berpegang kuat pada Allah Swt., dan masalah bekal malah membuat sibuk dan membuatnya lupa beribadah, maka baginya yang terbaik adalah meninggalkannya (tidak membawa bekal).

Pahamilah keterangan ini dan jagalah diri Anda dengannya. Semoga Anda mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

  1. Kekhawatiran dan Apa yang Menjadi Tujuannya

Rintangan ini bisa diatasi dengan berserah diri. Oleh karena itu, berserah dirilah kepada Allah dalam segala hal. Ini harus dilakukan karena adanya dua hal:

  1. Ketenangan hati yang diperoleh seketika. Sebab segala sesuatu yang besar dan belum diketahui secara pasti kebaikan serta kerusakannya akan membuat hati Anda menjadi bingung.

Nafsu Anda akan bertanya-tanya apakah hal itu membuat baik atau malah merusak? Jika Anda menyerahkan segalanya kepada Allah, maka Anda menjadi tahu bahwa tidak mungkin Allah menempatkan pada selain kebaikan. Anda pun merasa aman dari kekhawatiran dan kerusakan serta dengan seketika hati menjadi tenang.

Ketenangan, rasa aman dan kenyamanan dalam hati seperti ini merupakan keuntungan yang sangat besar.

Guru kami sering mengatakan dalam majlis beliau: “Serahkan segala urusan kepada Dzat yang menciptakanmu, niscaya kau akan merasa enak.

Dalam hal ini beliau menggubah sebuah syair:

Sesungguhnya orang yang tidak mengetahui

apakah orang yang dicintainya bisa memberi manfaat atau tidak,

maka sudah selayaknya ia menyerahkan apa yang tidak mampu diselesaikannya

kepada Dzat yang akan mencukupinya.

Yakni Tuhan yang Maha Baik,

yang kasih sayang-Nya melebihi ibu bapaknya.

  1. Kebaikan yang didapat di masa mendatang. Sebab segala sesuatu pasti memiliki kesudahan yang masih belum jelas. Berapa banyak keburukan yang berwajah kebaikan. Berapa banyak bahaya yang terdapat dalam perhiasan dan kemanfaatan. Berapa banyak racun yang berbentuk madu. Sementara itu Anda tidak mengetahui kesudahan dan bermacam rahasia.

Jika Anda menginginkan sesuatu secara pasti dan melakukannya sesuai keinginan Anda, maka tak berapa lama Anda telah terjerumus ke dalam kerusakan tanpa menyadarinya.

Telah diceritakan bahwa ada seorang ahli ibadah yang memohon kepada Allah agar bisa melihat Iblis. Kemudian ada yang mengingatkan hendaknya ia memohon keselamatan kepada Allah. Orang tersebut menolak dan tetap meminta hal itu. Lalu Allah memperlihatkan Iblis kepadanya. Setelah melihat Iblis orang tersebut ingin memukulnya. Maka Iblis berkata: Seandainya bukan karena kamu akan hidup seratus tahun lagi, tentu aku akan menghancurkan dan menyiksamu.Maka orang itu pun terbujuk dengan perkataan Iblis dan “berkata dalam hati Sungguh umurku masih teramat panjang. Aku akan melakukan apa saja yang kumau baru kemudian bertobat.Maka ia pun terjerumus ke dalam kefasikan, meninggalkan ibadah dan akhirnya binasa.

Dari cerita ini ada sebuah pelajaran bagi Anda agar tidak memastikan suatu keinginan dan bersikeras untuk mencapai apa yang Anda cari. Cerita ini juga mengingatkan Anda dari khayalan (panjang angan-angan), karena hal itu adalah penyakit yang paling besar.

Benar sekali apa yang dikatakan oleh seorang penyair:

Berhati-hatilah dari berbagai ketamakan dan khayalan.

Berapa banyak khayalan yang menyebabkan kematian.

Jika Anda menyerahkan segala urusan kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar berkenan memilihkan hal yang mengandung kebaikan untuk Anda, maka tentu Anda mendapat kebaikan dan tidak akan menemukan sesuatu kecuali yang baik

Allah Swt. berfirman tentang seorang hamba yang saleh:

Artinya: Dan kuserahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat kepada semua hamba. Kemudian Allah memelihara hamba tersebut dari kejahatan musuh-musuhnya dan menurunkan siksa yang buruk kepada kaum Fir’aun.(Q.S. Al-Mu min: 44-45)

Tidakkah Anda melihat bagaimana Allah menurunkan kesudahan dari penyerahan diri berupa pemeliharaan dari keburukan dan memberikan pertolongan untuk mengalahkan musuh serta mendapatkan apa yang diinginkan?

Renungkanlah. Semoga Anda mendapat taufik. Insya Allah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker