Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

Telah kami ceritakan bahwa Ibrahim bin Adham adalah orang yang memiliki harta melimpah. Kemudian ia berpindah menuju jalan ini. Belum lama berjalan dari Ablakh menuju Marwirudz, beliau melihat seseorang yang terjatuh dari jembatan ke dalam air yang deras. Beliau berteriak “Berhenti!”. Seketika orang tersebut berhenti di tengah udara, dan selamatlah ia.

Rabi ah Al-Bashriyyah adalah seorang budak perempuan yang sudah tua. Ia ditawarkan keliling pasar negeri Bashra. Tak seorangpun suka karena umurnya yang sudah tua. Seorang pedangang merasa kasihan dan membelinya seharga sekitar seratus dirham dan memerdekakannya. Dia kemudian memilih jalan ini dan menghadapkan diri untuk beribadah. Belum genap satu tahun, orang-orang zuhud negeri Bashra telah datang. Begitu juga para gurraa’ dan ulama negeri itu. Mereka datang karena ketinggian derajatnya.

Adapun orang-orang yang ditakdirkan tidak mendapat pertolongan dan tidak diberi perhatian dengan anugerah dan petunjuk, maka hal itu dibebankan pada dirinya sendiri. Kadang la masih berada di sebuah jalan sulit dari salah satu tahapan selama 70 tahun dan tidak bisa melewatinya. Berulang kali ia berteriak dan menjerit: “Betapa gelapnyajalan ini. Betapa berat dan sulitnya Urusan ini. Dan betapa berbahayanya.”

Hal ini disebabkan karena segala urusan kembali pada satu pokok, yakni takdir yang Maha Menang, Maha Mengetahui, Maha Adil dan Maha Bijaksana.

Jika Anda bertanya: “Kenapa orang ini diberi keistimewaan dengan taufik dan yang ini dihalang-halangi. Sementara keduanya Sama-sama berpegang pada tali-tali ibadah?”

Untuk menjawab pertanyaan semacam ini ada seruan dari tuang kemegahan yang Maha Agung: “Sebaiknya kamu tetap Sopan. Pahamilah rahasia ketuhanan dan hakekat penghambaan. Sesungguhnya Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, sedangkan mereka akan ditanya (oleh allah).

Jalan (menuju ibadah) yang ada di dunia ini seperti jalan lurus (shiraathalMustagiim) di akhirat, baik tahapan, jarak, ataupun perintangnya. Keadaan orang-orang yang melintasinya juga berbeda. Ada yang berjalan di atasnya seperti kilat yang menyambar. Ada yang berjalan seperti angin bertiup. Ada yang seperti kuda sembrani. yang lain seperti burung. Ada lagi yang berjalan kaki. Ada yang merangkak sampai hitam seperti arang. Ada yang mendengar teriakan Jahannam. Dan ada yang diambil dengan sebuah pengait lalu dimasukkan ke dalam Jahannam.

Begitulah keadaan jalan (ibadah) ini beserta para penempuhnya. Jadi, keduanya adalah dua macam jalan, dunia dan akhirat.

Jalan akhirat diperuntukkan bagi jiwa orang-orang yang waspada dan bisa melihat hal-hal menakutkan di dalamnya. Jalan dunia diperuntukkan bagi hati. Dan yang bisa melihat ketakutannya hanya orang-orang yang memiliki mata hati serta kecerdasan berpikir. Perbedaan keadaan orang yang berjalan di jalan akhirat itu karena perbedaan mereka saat (berjalan) di dunia.

Renungkanlah semua itu dengan benar.

Ketahuilah kebenaran yang ada dalam bab ini.

Sebenarnya jalan ini panjang dan pendeknya tidak sama dengan perjalanan yang ada, seperti yang sering dilakukan oleh orang-orang dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki, dan cara menyelesaikannya diukur dengan kekuatan dan kelemahan tubuh. Akan tetapi jalan ini adalah jalan rohani yang dilewati oleh hati dan ditempuh dengan akal pikiran, sesuai dengan keyakinan dan penglihatan mata hati. Jalan itu berasal dari cahaya langit dan pandangan ketuhanan yang jatuh ke dalam hati seorang hamba, Setelah itu ia merenung sejenak dan dengan perenungan tersebut ia bisa melihat urusan dunia dan akhirat dengan benar. Cahaya semacam ini terkadang dicari oleh seorang hamba selama seratus tahun tapi ia tidak bisa menemukannya, dan pengaruhnya juga tidak nampak. Hal ini terjadi karena ia salah dalam mencari, minimnya kesungguhan dan karena ketidaktahuannya padajalan (yang dicariya) ini.

Hamba yang lain bisa menemukannya dalam waktu 50 tahun. ada lagi yang menemukannya dalam waktu 10 tahun. Dan ada lagi yang menemukannya dalam waktu satu jam atau sekejap dengan mendapat pertolongan dari Tuhan yang Maha Mulia.

Hanya Allah yang menguasai petunjuk.

Di samping itu seorang hamba diperintahkan untuk bersungguh-sungguh. Karenanya, seorang hamba harus melakukan apa yang diperintahkan. Segala urusan telah dibagi dan ditentukan, sedangkan Tuhan adalah Dzat yang teramat bijaksana dan sangat Adil. Dia melakukan apa saja yang menjadi kehendak-Nya dan mengatur dengan apa yang diinginkan-Nya.

Jika Anda mengatakan: “Alangkah besarnya kekhawatiran ini. Alangkah sulitnya urusan ini. Dan alangkah banyaknya hal yang dibutuhkan oleh hamba yang lemah ini. Lalu semua perbuatan, kesungguhan dan usaha agar mendapatkan semua ini apa gunanya?”

Sumpah demi umurku. Ucapan Anda memang benar bahwa Urusan ini sangat berat kekhawatirannya amat besar. Karena itu Pula Allah berfirman:

Artinya: “Aku menciptakan manusia selalu dalam kesulitan.” (Q.S. Al-Balad: 4)

Allah juga berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya Kami menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tapi mereka menolak (enggan) menerima amanat tersebut. mereka takut terhadap amanat itu. Akan tetapi manusia mau menanggung amanat tersebut. Sungguh ia sangat zalim dan juga bodoh.” (Q.S. Al-Ahzaab: 72)

Karena hal itu juga Rasulullah Saw. bersabda:

Artinya: “Seandainya kalian semua tahu apa yang kuketahui tentu kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”

Diceritakan pula bahwa ada seruan dari arah langit yang berbunyi: “Kalau saja semua makhluk tidak diciptakan. Kalau saja saat dictptakan mereka mengetahui untuk apa semuanya diciptakan. Dan kalau saja saat mereka sudah tahu mau beramal dengan apa yang mereka ketahui.”

Para ulama salaf mengatakan: “Diceritakan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. beliau berkata “ Aku lebih suka menjadi dedaunan berwarna hijau sehingga hewan-hewan memakanku, sebab aku takut siksaan Allah.

Diceritakan dari Umar bin Al-Khaththab r.a. bahwa beliau pernah mendengar seseorang membaca ayat:

Artinya: “Adakah datang kepada manusia suatu saat dari masa yang tidak disebut-sebut sedikitpun ?” (Q.S. Al-Insaan: 1)

Umar berkata: “Semoga saja masa itu telah selesai.”

Ubaidah bin Al-Jarrah r.a. berkata: “ Aku lebih senang menjadi domba bagi keluargaku. Mereka memotong-motong dagingku dan mereguk kuahku dan aku tidak akan diciptakan kembali.”

Diceritakan dari Wahb bin Munabbih. Beliau berkata: ” Anak Adam diciptakan dalam keadaan dungu. Jika tidak karena kedunguannya tentu ia tidak merasakan enaknya kehidupan.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker