- Dunia
Dalam masalah dunia seharusnya Anda berhati-hati dan berzuhud di dalamnya. Karena segala sesuatu tidak pernah lepas dari tiga hal:
- Adakalanya Anda memiliki kewaspadaan dan kecakapan. Anda cukup mengatasinya dengan merasa bahwa dunia adalah musuh Allah sedangkan Dia adalah kekasih Anda. Dunia adalah perusak akal, sedangkan akal adalah harga diri Anda.
- Adakalanya Anda adalah orang yang memiliki keinginan luhur dan bersungguh-sungguh dalam beribadah, karena itu Anda cukup mengatasinya dengan merasa bahwa dunia, keburukannya saja bisa menghalangi Anda dari keinginan beribadah, menyibukkan pikiran hingga melalaikan Anda dari ibadah dan berbuat baik. Lalu bagaimana dengan dunia itu sendiri?
- Adakalanya Anda termasuk golongan yang lalai dan tidak memiliki kewaspadaan sehingga tidak bisa melihat kebenaran. Juga tidak memiliki keinginan luhur yang membangkitkan Anda untuk mencari berbagai kemuliaan. Kalau itu yang terjadi, maka Anda cukup mengatasinya dengan merasa bahwa dunia itu tidaklah abadi. Kadang Anda memisahkan diri darinya, atau dia yang memisahkan diri dari Anda. Seperti yang dikatakan oleh Hasan Al-Bashri: Jika dunia ini tetap ada untukmu, maka kamu tidak selamanya hidup di dunia.
Lalu manfaat apa yang Anda dapatkan jika mencari dan menghabiskan umur yang sangat berharga untuk mendapatkannya?
Sungguh indah ucapan seorang penyair berikut ini:
Anggap saja dunia ini digiring kepadamu dengan mudah.
Tapi bukankah pada akhirnya ia akan sirna?
Apa yang Anda harapkan dari kehidupan yang tiada abadi
dan tak lama lagi akan digantikan oleh malam.
Duniamu tak lain bagaikan bayang-bayang.
Menaungimu dan dengan segera pergi berlalu (meninggalkanmu).
Oleh karena itu, tidak sepantasnya orang yang memiliki akal sehat terbujuk olehnya.
Benar sekali apa yang diungkapkan oleh seorang penyair:
Bagaikan mimpi penghias tidur atau bayang-bayang yang sirna, Sesungguhnya orang yang cerdas tidak akan terbujuk oleh hal-hal seperti itu.
- Setan
Dalam masalah setan ini Anda cukup memperhatikan firman Allah Swt. kepada Nabi-Nya, Muhammad Saw.:
Artinya: Dan katakanlah hai Muhammad! Ya Tuhanku. Aku berlindung kepada-Mu dari bisikan setan-setan. Dan aku berlindung kepada-Mu wahai Tuhanku dari kedatangan mereka kepadaku.(Q.S. Al-Mukminuun: 97-98)
Padahal Nabi Muhammad adalah makhluk yang terbaik, terpandai, paling cerdas dan paling mulia di sisi Allah dibanding makhluk lain. Dia masih dianjurkan memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan setan. Lalu bagaimana dengan Anda yang bodoh, tidak sempurna dan lalai?
- Makhluk Dalam masalah makhluk ini Anda cukup mengatasinya dengan merasa bahwa jika Anda mencampuri dan mengikuti keinginan mereka, maka Anda telah berdosa dan merusak urusan akhirat Anda sendiri. Jika Anda meninggalkan mereka tentu akan sulit menghindari perlakuan yang menyakitkan dan pengingkaran mereka. Lalu hal itu bisa memperkeruh urusan dunia Anda. Anda juga tidak akan merasa aman dari desakan mereka sampai kadang memusuhi dan membenci mereka sehingga Anda terjerumus dalam keburukan mereka. Dan sesungguhnya jika mereka memuji dan mengagungkan, aku khawatir akan membuat Anda terkena fitnah dan merasa dirinya baik. Dan jika mereka mencela serta menghina, aku khawatir suatu saat Anda merasa sedih dan di saat lain merasa marah bukan karena Allah, dan dua hal ini adalah bencana yang merusak.
Kemudian ingatlah bagaimana keadaan Anda dengan mereka setelah terkubur selama tiga hari. Bagaimana mereka meninggalkan, menjauhi dan melupakan Anda. Mereka nyaris tidak meningat Anda. Seolah-olah Anda belum pernah melihat mereka, dan mereka juga belum pernah melihat Anda. Yang ada hanya tinggal Allah Swt. Bukankah rugi besar jika Anda menyianyiakan hari-hari Anda bersama makhluk-makhluk tersebut, sementara sedikit sekali dari mereka yang setia (memenuhi janji) dan tidak banyak yang abadi bersama mereka. Sementara itu Anda meninggalkan pelayanan kepada Allah, yang sebenarnya hanya kepada-Nya segala sesuatu akan kembali.
Kemudian tidak ada sesuatu yang abadi bersama Anda kecuali Dia, selamanya. Dia-lah yang mencukupi segala kebutuhan. Dialah yang menyelesaikan segala penyerahan diri. Segala pemeliharaan dalam keadaan apapun dan sesulit apapun, Dialah yang mengurusnya. Tiada sekutu bagi-Nya.
Oleh karena itu renungkanlah, hai orang yang miskin. Semoga Anda mendapat petunjuk. Dan hanya Allah yang menguasai petunjuk dengan anugerah-Nya.
- Nafsu
Dalam masalah nafsu ini Anda cukup melihat bagaimana keadaannya, kerendahan keinginannya, dan keburukan yang menjadi pilihannya.
Saat memiliki keinginan ia persis binatang piaraan. Saat marah bagaikan binatang buas. Saat terkena musibah persis anak kecil. Saat mendapat kenikmatan ia bagaikan Fir aun. Saat lapar seperti orang gila. Dan saat kenyang ia menjadi angkuh. Jika Anda membuatnya kenyang, maka ia menjadi sombong dan melonjak kegirangan. Dan jika Anda membuatnya lapar, maka dia akan menjerit dan mengeluh.
Dia (nafsu) seperti yang diungkapkan oleh seorang penyair adalah:
Bagai keledai yang jahat. Jika kau membuatnya kenyang
dia akan menyepak orang lain. Dan jika lapar ia merintih.
Benar sekali apa yang dikatakan oleh seorang saleh: Karena terlalu buruk dan bodohnya nafsu, jika ia ingin berbuat maksiat atau membangkitkan syahwat, kemudian Anda membelokkannya, atau memohonkan pertolongan untuknya kepada Allah Swt., para utusan-Nya, semua nabi, kitab-kitab-Nya dan semua orang saleh di masa dahulu di antara hamba-hamba-Nya, dan dia dihadapkan pada kematian, alam kubur, kiamat, surga dan neraka, maka ia tidak mau mengikuti dan tidak mau meninggalkan keinginannya. Kemudian jika Anda menghadapinya dengan tidak memberinya sepotong roti, maka ia akan tenang dan mau meninggalkan keinginannya. Ini kukatakan agar Anda mengetahui kerendahan dan kebodohannya.
Oleh karena itu, berhati-hatilah jangan sampai Anda lengah darinya. Sebab nafsu, seperti yang dikatakan oleh Penciptanya, yang lebih Mengetahui keadaannya, yang Maha Agung keagungan-Nya, adalah:
Artinya: Sesunggunya nafsu senantiasa memerintahkan berbuata jahat.(Q.S. Yusuf: 53)
Cukuplah ayat ini sebagai peringatan bagi orang yang berakal.
Ada sebuah cerita yang sampai kepada kami bahwa seorang ulama saleh yang disebut dengan nama Ahmad bin Argam AlBalkhi berkata: Nafsuku mengajak diriku keluar untuk pergi berperang. Lalu aku berkata, ‘Maha Suci Allah. Sesungguhnya Allah telah berfirman:
Artinya: Sesunggunya nafsu senantiasa memerintahkan berbuat jahat.(Q.S. Yusuf: 53)
Dan saat ini dia mengajakku berbuat baik, suatu hal yang selamanya tidak akan terjadi. Tapi ia tidak suka dan berkeinginan untuk berjumpa dengan orang banyak agar dapat menyenangkan mereka, agar banyak orang yang saling bercerita mengenai dirinya dan menyambutnya dengan keagungan, kebaikan dan kemuliaan. Aku pun berkata padanya, ‘Aku tidak akan menempatkan dirimu di hadapan orang banyak dan membiarkanmu terkenal. Dia mengiyakan, dan aku tetap berprasangka buruk terhadapnya. Aku bergumam, Allah Swt. adalah yang paling terpercaya di antara para pembicara.”Lalu aku berkata padanya, ‘Aku akan menghadapi musuh tanpa membawa senjata agar kamu menjadi Orang pertama yang terbunuh. Dia juga mengiyakan, dan aku memperburuk sangkaan serta berbagai hal untuk membujuknya. Ja pun mengiyakan semua itu.
Ahmad bin Arqam berkata: “Kemudian aku berdoa sebagai berikut, Ya Tuhan! Ingatkanlah dia untukku. Sungguh aku curiga kepadanya dan membenarkan Engkau.
Lalu terbukalah hatiku melihatnya. Seolah-olah ia berkata: Hai Ahmad! Setiap hari kamu berulangkali membunuhku dengan mencegahku dari keinginan dan perselisihan denganmu, sementara tak seorangpun mengenalku. Jika kamu berperang, maka aku akan terbunuh hanya satu kali, lalu aku terbebas darimu dan orang-orang saling membicarakanku. Mereka berkata, ‘Ahmad telah mati syahid’. Aku pun mendapat kemuliaan dan selalu diingat.
Ahmad bin Argam berkata: Kemudian aku berdiam diri di rumah dan tidak keluar untuk berperang pada tahun itu.
Oleh karena itu, lihatlah bujukan dan tipuan nafsu. Dia ingin menyombongkan diri kepada manusia setelah mati dengan perbuatan yang tak dapat ditemukannya setelah itu.
Benar sekali apa yang dikatakan oleh seorang penyair, betapa indah ucapannya:
Peliharalah nafsumu. Kamu tidak akan terbebas dari pengkhianatannya.
Sebab satu nafsu lebih buruk daripada tujuh puluh setan.
Oleh karena itu, —semoga Allah memberimu rahmatingatlah bujukan seperti ini yang selalu mengajak berbuat jelek. Mantapkanlah hati Anda untuk selalu tidak menurutinya dalam keadaan apapun, niscaya jika Allah menghendaki Anda akan bebuat benar dan menjadi selamat.
Kemudian Anda juga harus selalu mengendalikannya dengan kendali takwa, sebab memang tidak ada cara lain kecuali itu.









One Comment