Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

Jika ada yang berkata: Apakah seorang mufawwidh wajib diperlakukan dengan baik?

Ketahuilah. Bahwa mewajibkan sesuatu kepada Allah adalah hal yang mustahil. Allah tidak mempunyai satupun kewajiban kepada hamba-Nya. Kadang Dia memperlakukan seorang hamba dengan sesuatu yang terbaik, tapi bukan yang lebih utama sebagai hikmat dari perbuatannya.

Apakah Anda tidak tahu bahwa Allah pernah mentakdirkan rasul beserta para sahabat tertidur sepanjang malam sampai matahari terbit dalam sebuah perjalanan sehingga mereka kehilangan waktu salat malam dan salat fajar, sedangkan salat itu lebih utama daripada tidur.

Kadang Allah mentakdirkan bagi seorang hamba kekayaan dan kenikmatan walau sebenarnya kemiskinan itu lebih utama. Kadang Dia mentakdirkan baginya kesibukan mengurus isteriisteri dan anak-amak walaupun memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla itu lebih utama. Karena Dia Maha melihat dan Maha mengetahui terhadap hamba-hambaNya. Seperti halnya seorang dokter ahli akan memilihkan air syair bagi pasien walaupun air gula lebih utama dan lebih enak baginya karena dokter itu tahu bahwa sakitnya akan membaik dengan minum air Syair. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai seorang hamba adalah keselamatan dari kehancuran dan kerusakan, bukan keutaman dan kemuliaan yang disertai kerusakan dan kehancuran.

Jika ditanyakan: Apakah seorang mufawwidh berhak memilih?”

Ketahuilah. Pendapat yang sahih menurut ulama kita adalah seorang mufawwidh berhak memilih dan hal itu tidak mengurangi kebaikan tafwidhnya. Artinya, jika ia menemukan kebaikan dalam hal hal yang diutamakan dan hal yang lebih diutamakan.

Kemudian ia menginginkan agar Allah memberinya yang lebih utama. Seperti halnya pasien yang meminta kepeda dokter: Berilah aku obat dari air gula, bukan air syair jika keduanya baik bagi kesehatanku, agar aku bisa sekaligus dapat memperoleh keutamaan dan kesehatan.Begitu juga seorang hamba yang meminta kepada Allah agar kebaikannya diberikan pada hal yang lebih utama dan meminta penyebab kepadanya agar ia dapat sekaligus menyatukan keutamaan dan kemuliaan, tapi dengan catatan jika Allah memilihkan kebaikan yang terdapat dalam hal yang tidak lebih utama, maka dia akan merelakan hal itu.

Jika ditanyakan: Kenapa seorang hamba hanya diperbolehkan memilih yang lebih utama dan tidak diperbolehkan memilih yang terbaik (lebih pantas)?

Ketahuilah! Perbedaan antara keduanya adalah bahwa seorang hamba hanya mengetahui yang lebih utama dari hal yang utama, tidak tahu yang lebih baik (pantas) dari hal yang rusak agar ia bisa menginginkannya dengan pasti.

Kemudian yang dimaksud dengan pilihan seorang hamba terdapat hal yang lebih utama adalah: Seorang hamba yang menginginkan agar Allah menjadikan kebaikan pada perkara yang lebih utama, lalu Allah memilihkan hal itu dan mentakdirkan untuknya, bukan berarti hamba tersebut pasti mendapatkan apa yang dipilihnya.

Inilah sebagian kecil dari keterangan tentang ilmu tasawuf dan rahasia-rahasianya. Seandainya tidak diperlukan, tentu kami tidak akan mengemukakannya, karena hal tersebut termasuk pergolakan dari samudera ilmu mukasyafah. Hanya saja di dalam kitab ini kami meringkasnya menjadi kecil tapi bisa memuaskan dengan maksud memberi penjelasan agar dapat dimanfaatkan oleh ulama-ulama besar dan para pemula. Insya Allah.

Hanya kepada Allah kami memohon taufik.

  1. Qadha’ (Takdir) dan Berbagai Ragamnya

Rintangan seperti ini cukup dihadapi dengan sikap rela. Oleh karena itu hendaklah Anda merasa rela dengan takdir yang diberikan Allah.

Sikap rela seperti ini harus dilakukan karena adanya dua hal:

Pertama, agar bisa beribadah dengan leluasa, sebab jika Anda tidak bisa menerima keputusan Allah tentu Anda merasa sedih, dan hati pun sibuk berpikir untuk selamanya. Ia berpikir mengapa ini yang terjadi dan mengapa bisa terjadi?

Jika hati telah sibuk memikirkan kesedihan seperti ini bagaimana mungkin ia leluasa beribadah? Sebab Anda tidak memiliki hati kecuali hanya satu dan telah Anda penuhi dengan kesedihan serta berpikir tentang apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi dalam masalah dunia.

Kemudian di mana tempat untuk berzikir kepada Allah, beribadah untuknya dan berpikir tentang akhirat? Benar sekali apa yang dikatakan Sagig rahimahullah: Sungguh, menyesali apa yang telah terjadi dan merancang apa yang akan terjadi benarbenar dapat menghilangkan keberkahan usiamu ini.

Kedua, kekhawatiran mendapat murka berupa siksa dari Allah. Dalam beberapa hadis telah kami ceritakan bahwa salah seorang di antara para nabi mengadukan kepada Allah tentang pengalamannya yang tidak menyenangkan. Lalu Allah menurunkan wahyu kepadanya: “Adakah kamu mengadukanKu, sedangkan Aku tidak pantas dicela dan diadukan? Begitulah. Kelihatan sekali pengetahuanmu tentang ilmu gaib. Lalu kenapa kamu tidak menyukai keputusan-Ku? Apakah kamu ingin agar Aku mengubah dunia untukmu, atau mengganti Lauh Mahfuzh karenamu, lalu Aku memutuskan apa yang kau inginkan berupa sesuatu yang tidak Ku-inginkan? Agar kesenanganmu bisa terwujud, dan bukan kesenangan-Ku? Aku bersumpah demi keagungan-Ku. Jika pikiran semacam ini terlintas dalam hatimu di kemudian hari, pasti Ku-tanggalkan pakaian kenabianmu dan Aku tak peduli. Pasti Aku akan memasukkanmu ke dalam neraka.

Menurut pendapatku, alangkah baiknya orang yang bertawakal memperhatikan kalimat diplomatis yang agung dan ancaman yang pedih dari Allah kepada nabi dan kekasih pilihanNya. Lalu bagaimana sikap-Nya terhadap orang lain?

Kemudian perhatikan firman Allah: Jika pikiran semacam jni terlintas lagi dalam hatimu di lain waktu…Ancaman ini ditujukan pada bisikan dan kemondar-mandiran hati. Lalu bagaimana dengan orang yang berteriak minta tolong, mengadu, mengumpat dengan suara lantang tentang Tuhannya yang mulia dan Berbuat baik, di hadapan orang, lalu menjadikan mereka sebagai penolong dan sahabat? Ini baru orang yang hanya satu kali merasa murka kepada Allah. Lalu bagaimana keadaan orang yang selama hidupnya selalu murka (tidak rela) kepada Allah?

Ancaman ini ditujukan pada orang yang mengadu kepadaNya. Lalu bagaimana dengan orang yang mengadu kepada selain Dia?

Kami memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan jiwa kami dan keburukan amal perbuatan kami. Kami juga memohon agar Dia mengampuni dosa-dosa kami dan memaafkan ketidaksopanan kami serta memperbaiki kita semua dengan pengawasan terbaik dari-Nya.

Sesungguhnya Dia paling Maha Pengasih kepada hamba-Nya.

Jika ditanyakan: “Apa yang dimaksud dengan rida terhadap qadha (takdir), hakekat dan hukumnya?

Ketahuilah! Sesungguhnya para ulama kita berkata: Yang dinamakan rida adalah membuang kebencian. Sedangkan kebencian yaitu mengatakan bahwa apa yang tidak ditakdirkan oleh Allah itu lebih utama dan lebih bagus baginya dalam masalah yang belum diyakini kerusakan dan kebaikannya. Jadi, membuang kebencian merupakan syarat menjadi orang yang rida.

Jika Anda bertanya: Bukankah keburukan dan maksiat juga takdir Allah dan di bawah kekuasaan-Nya? Lalu bagaimana mungkin Allah rida bila hamba-Nya berbuat buruk dan mewajibkan hal itu?

Ketahuilah! Sesungguhnya yang harus direlakan adalah takdirbukan perbuatannya. Takdir buruk tidak berarti perbuatan buruk. Yang buruk hanyalah sesuatu yang ditakdirkan, jadi hamba tersebut tidak rida dengan perbuatan buruk.

Para guru kami berkata: Hal-hal yang ditakdirkan itu ada empat macam, yaitu kenikmatan, kesulitan, kebaikan dan keburukan.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker