Penjelasan pembicaraan di atas adalah: Seorang majikan yang mulia hanya akan memberikan kenikmatannya kepada orang yang mengerti kedudukan nikmat tersebut. Sedangkan orang yang mengerti kedudukan nikmat adalah orang yang menerima kenikmatan tersebut dengan diri dan hatinya. Ia memilih kenikmatan tersebut dan meninggalkan yang lainnya. Ia tidak mempedulikan beban yang harus ditanggungnya seperti ongkos yang harus dikeluarkan untuk mendapatkannya. Ia tidak bergeser dari pintu untuk memenuhi kesyukuran nikmat tersebut.
Menurut Ilmu-Ku yang terdahulu (gadiim), orang-orang lemah itu lebih mengetahui kedudukan nikmat ini. Tiada hentinya mereka mensyukuri. Dan mereka lebih pantas menerima kenikmatan ini daripada kalian. Kekayaan, jabatan, kemarahan dan keturunan (keningratan) kalian tidak diperhitungkan. Kalian menganggap bahwa kenikmatan hanyalah di dunia dan hal-hal yang tak berguna di dalamnya. Juga ketinggian dan kemuliaan keturunan, bukan agama, ilmu, kebenaran, dan pengetahuan tentang kebenaran. Kalian menganggap semua itu sebagai keagungan dan merasa bangga dengannya.
Tidak-tahukah kamu bahwa hampir saja kamu tidak bisa menerima agama, pengetahuan dan kebenaran ini tanpa adanya anugerah yang melekat pada diri orang yang datang membawakannya untukmu. Semua itu karena penghinaan kalian dan mernimnya kepedulian kalian kepadanya. Dan sesungguhnya orang-orang lemah itu rela membunuh diri mereka sendiri untuk mendapatkan semua itu. Mereka menyerahkanjiwa raga dan tidak mempedulikan apa yang hilang dari mereka, dan dengan siapa berhadapan. Agar kamu tahu saja bahwa mereka adalah orangorang yang mengerti kedudukan nikmat semacam ini. Dalam hati mereka tertanam kuat pengagungan nikmat tersebut, menganggap ringan kehilangan segala sesuatu demi mendapatkannya. Dengan senang mereka menahan beban kepayahan di dalamnya dan menghabiskan seluruh umur untuk mensyukurinya.
Karena itu semua, menurut pengetahuan Kami yang terdahulu, mereka berhak mendapatkan anugerah yang mulia serta kenikmatan yang agung ini. Dan Kami mengistimewakan mereka, bukan kalian. Camkan baik-baik keterangan ini.
Bagiku (Al-Ghazali), begitulah sekelompok orang yang diisttmewakan Allah dengan satu kenikmatan di antara nikmatnikmat agama berupa ilmu atau amal. Dan sesungguhnya Anda akan menemukan bahwa mereka sebenarnya adalah manusia yang paling mengerti kedudukan nikmat tersebut, lebih besar pengagungan terhadapnya, lebih bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya, lebih besar penghormatannya, dan lebih rutin mensyukurinya.
Adapun orang-orang yang dihalangi oleh Allah untuk mendapatkan hal itu adalah karena minimnya perhatian mereka dan pengagungan hak atas nikmat tersebut di samping karena takdir Allah yang telah terdahulu.
Seandainya pengagungan ilmu dan ibadah yang ada di hati orang-orang awam dan para pedagang pasar sama dengan yang ada di hati para ulama dan ahli-ahli ibadah, tentu mereka tidak memilih pasar mereka dan mengalahkan pengagungan nikmat serta merasa ringan meninggalkan pasar.
Tidakkah Anda tahu kalau seorang ulama fikih menemukan mecahan suatu masalah yang dulunya belum jelas. Betapa girang hatinya, betapa besar kebahagiaannya, betapa besar pengaruhnya di dalam hati. Sehingga jika seandainya dia menemukan uang seribu dinar pasti hal itu tidak bisa mengimbangi kebahagiaan tersebut. Kadang-kadang ia merasa prihatin memikirkan suatu masalah di bidang agama. Kemudian ja memikirkannya selama satu tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, atau bahkan lebih. Mereka tidak menganggap itu sebagai waktu yang lama serta tidak merasa jemu sampai akhirnya Allah memberinya pemahaman tentang masalah itu. Ia menganggap pemahaman tersebut sebagai anugerah terbesar dan kenikmatan yang paling agung. Dengan hal itu ia merasa dirinya paling kaya dan paling mulia. Bahkan kadang-kadang hal ini juga tampak pada seorang pedagang pasar atau seorang murid yang malas, yang menyangka dirinya telah menyamai ulama fikih dalam kecintaannya terhadap ilmu. Ia tidak mau mendengar hak-hak seorang ulama fikih.
Kadang-kadang jika pembicaraan masalah itu terlalu panjang ia merasa bosan atau tertidur. Jika masalah itu telah menjadi jelas, ia tidak menganggapnya sebagai hal besar.
Demikian juga orang yang kembali kepada Allah. Berapa lama ia bersungguh-sungguh dan rajin melatih dirinya, memelihara nafsunya dari keinginan-keinginan serta kelezatan, mengekang anggota tubuhnya dalam gerak dan diam, berharap suatu saat nanti Allah menyempurnakan dua rakaat yang memiliki adab dan kesucian untuknya.
Berulangkali ia merendahkan diri kepada Allah, berharap agar Dia memberinya waktu sesaat untuk bermunajat dengan hati yang bersih dan merasakan manis. Sungguh jika ia mendapatkan hal itu sekali dalam sebulan, sekali dalam setahun, atau bahkan sekali dalam seumur hidup, maka ia menganggapnya sebagai karunia yang terbesar dan kenikmatan yang paling agung. Betapa ia merasa bahagia, betapa bersyukurnya kepada Allah. Ia tidak mempedulikan kepayahan yang dialaminya di malam hari serta berbagai kelezatan dalam menghasilkannya.
Kami juga pernah melihat orang yang menganggap dirinya menyukai ibadah dan ingin memperoleh bagian darinya. Jika salah satu di antara mereka membutuhkan pengurangan sesuap makanan sore atau meninggalkan ucapan yang tak berguna, atau mencegah mata mereka dari tidur dalam waktu sesaat, tentu nafsu mereka tidak akan merasa lega dengan semua itu. Hati mereka tidak akan nyaman. Dan jika kebetulan mereka berhasil mendapatkan ibadah yang bersih, meski hal ini jarang terjadi, mereka tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang besar. Dan ia tidak mau mempersembahkan banyak syukur.
Orang-orang seperti ini akan besar kebahagiaannya dan secara lahir banyak memuji jika mereka berhasil mendapatkan yang satu dirham, mengumpulkan sesuatu yang bercerai-berai, memiliki lauk yang enak, atau tidur panjang dengan nyaman. Saat itulah mereka akan mengucapkan “Segala puji bagi Allah”. Semua ini berasal dari karunia Allah.
Bagaimana mungkin orang-orang yang lupa dan tidak mampu itu menyamai orang-orang yang beruntung, yang tekun dan bersungguh-sungguh. Karena itulah orang-orang miskin itu terhalang dari kebaikan dan orang-orang yang tertolong berhasil mendapatkan kebaikan ini serta beruntung karenanya. Dan seperti itu pula pembagian perkara yang dilakukan oleh Dzat yang Maha Bijaksanan. Dan Dia-lah Dzat yang lebih mengetahui alam seisinya. Inilah rincian firman Allah
Artinya: “Bukankah Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. Al-An’aam: 53)









One Comment