- Siksaan serta hinaan di dunia dan akhirat.
Hatim Al-Asham berkata: “Jangan sampai kamu mati saat melakukan salah satu dari tiga hal, yaitu sombong, rakus dan pamer kedudukan. Sebab orang yang sombong tidak akan dikeluarkan oleh Allah dari dunia ini sebelum kehinaannya ditampakkan kepada keluarga dan para pelayannya yang paling hina. Orang yang rakus tidak akan dikeluarkan oleh Allah dari dunia ini sebelum ia dibuat sangat membutuhkan sekerat roti atau seteguk air dan tidak bisa memperolehnya. Sedangkan orang yang pamer kedudukan tidak akan dikeluarkan oleh Allah dari dunia ini sebelum disungkurkan ke dalam air seni dan kotorannya.
Ada seorang ulama mengatakan: “Barangsiapa bersikap sombong tidak pada tempatnya, maka Allah akan mewariskan kehinaan yang nyata.”
- Neraka dan siksaan di akhirat seperti diceritakan bahwa Allah berfirman (dalam hadis qudsi):
Artinya: “ Kesombongan adalah selendang (sifat)-Ku. Keagungan adalah kain (sifat)-Ku. Barangsiapa mencopot salah satunya dariKu, maka Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Jahannam.”
Artinya keagungan dan kesombongan termasuk dari sifat-sifat yang khusus bagi-Ku. Karena itu tidak pantas kalau sifat itu ditempatkan pada selain Aku, seperti selendang dan kain yang khusus dipakai oleh seseorang tentu tidak pantas jika keduanya dipakai orang lain.
Jika ada sebuah sikap yang membuat Anda luput dari pengetahuan tentang kebenaran dan memahami arti ayat-ayat Allah dan hukum-hukumnya, segala hal yang menjadi inti agama dan membuahkan murka dari Allah Swt., membuahkan hinaan di dunia dan siksa neraka di akhirat seperti ini, maka tidak seharusnya orang yang memiliki akal lupa diri dan tidak memperbaikinya dengan cara menghilangkan sikap tersebut, menjaga diri dan memohon pertolongan kepada Allah dari hal itu. Dia Maha Agung yang menguasai pemeliharaan dan taufik dengan anugerah-Nya.
Demikianlah sedikit keterangan tentang apa yang bisa kami kemukakan tentang empat macam kerusakan (panjang angan-angan, Tergesa-gesa, dengki, dan Takabbur).
Orang yang berakal cukup melihat salah satunya, apa lagi jika melihat keempatnya, tentu ia akan lebih berhati-hati mementingkan urusan hatinya dan menjauhkan hal tersebut dari urusan agamanya.
Jika Anda bertanya: “Kalau demikian keadaannya maka hal itu harus diketahui hakekat dan batasannya. Oleh karena itu tolong terangkan agar kami mengetahui cara menjaga diri darinya.”
Ketahuilah bahwa masing-masing membutuhkan banyak keterangan. Hal itu sudah kami terangkan secara panjang lebar di dalam kitab “Ihya Ulumiddin” dan kitab “Asraari Mu’aamalat Ad-Diin”. Di dalam kitab ini kami hanya menerangkan secara garis besar dan apa yang memang harus diketahui. Karena itu, kami akan menerangkannya satu persatu.
Angan-angan
Para ulama mengatakan bahwa yang dinamakan angan-angan adalah keinginan untuk hidup dalam waktu yang cukup lama dengan penuh keyakinan (memastikan hal itu akan terjadi pada dirinya —Pen.). Adapun pendek angan-angan adalah tidak memastikan apa yang menjadi keinginannya seperti dengan cara menyandarkan keinginan tersebut pada pengecualian, kehendak Allah dan pengetahuan-Nya di dalam mengutarakan keinginan tersebut, atau dalam menginginkannya disertai syarat adanya kebaikan.
Dengan begitu, jika Anda mengatakan bahwa aku pasti hidup sampai tarikan nafas kedua, dua jam lagi, atau dua hari lagi, itu berarti Anda termasuk orang yang mengkhayal (panjang anganangan).
Hal itu bagi Anda termasuk sebuah kemaksiatan karena, memastikan sesuatu yang gaib.
Jika Anda menyandarkan ucapan tersebut pada kehendak dan pengetahuan Allah serta mengatakan: “Jika Allah menghendaki aku masih akan hidup” atau “Jika Allah mengetahui bahwa aku masih akan hidup”, maka Anda pun telah keluar dari hukum berangan-angan dan berpredikat meninggalkan angan-angan.
Begitu juga jika Anda secara pasti menginginkan hidup untuk kedua kalinya, maka Anda termasuk oang yang berangan-angan, Tapi jika Anda menyandarkan keinginan tersebut pada syarat adanya kebaikan, maka Anda telah keluar dari hukum beranganangan dan berpredikat pendek angan-angan, sebab tidak memasukkan kata pasti di dalamnya.
Oleh karena itu, sebaiknya Anda tidak usah memastikan sebuah kekekalan dan menginginkannya.
Yang dimaksud dengan “mengatakan” di sini adalah kata hati, yaitu memantapkan dan meneguhkan hati pada hal itu.
Pahamilah keterangan ini! Semoga Anda mendapat petunjuk. Insya Allah.
Kemudian angan-angan ini ada dua macam, yaitu anganangan yang bersifat umum dan angan-angan yang bersifat khusus.
Angan-angan yang bersifat umum yaitu bila Anda menginginkan kehidupan yang abadi untuk mengumpulkan kekayaan dunia dan bersenang-senang di dalamnya. Hal ini termasuk kemaksiatan murni dan yang menjadi kebalikannya adalah pendek angan-angan.
Allah berfirman:
Artinya: “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenangsenang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (Q.S. Al-Hijr: 3)
Sedangkan angan-angan yang bersifat khusus yaitu jika Anda menginginkan kehidupan yang kekal untuk mengumpulkan amal baik yang masih menyimpan kekhawatiran. Hal itu berupa amal yang belum diyakini kebaikannya, sebab terkadang amal itu baik dilakukan dengan sempurna atau tidak, tidak mendatangkan kebaikan bagi seorang hamba. Bisa saja saat melakukan amal tadi hamba tersebut terperosok ke dalam sifat ujub dan kerusakan yang tidak seimbang dengannya.
Kalau begitu berarti seorang hamba yang memulai ibadahnya tidak boleh memastikan bisa menyempurnakannya, karena penyempurnaan tersebut termasuk hal gaib. Ia tidak boleh menginginkan ibadah tersebut secara pasti, karena terkadang hal itu tidak membawa kebaikan. Akan tetapi hamba tersebut hendaknya menyandarkan amal itu pada pengecualian atau syarat adanya kebaikan agar ia selamat dari angan-angan yang tercela.
Allah berfirman:
Artinya: “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi. Kecuali (dengan menyebut) Insya Allah.” (Q.S. Al-Kahfi: 23-24)
Menurut para ulama kebalikan dari angan-angan semacam ini adalah niat terpuji. Mereka mengemukakan pendapat seperti ini karena semacam kelonggaran, yaitu orang yang memiliki niat terpuji biasanya tidak senang berangan-angan.
Inilah hukum angan-angan dan niat terpuji, karena hal itu memang sudah dibutuhkan dan perlu diketahui. Sebab masalah ini memang sangat penting.
Para ulama menyebutkan yang lebih luas lagi tentang hal ini. Mereka mengatakan bahwa niat yang benar dan terpuji adalah memastikan keinginan untuk melakukan suatu amal dan menyempurnakannya sebelum memulai amal yang baru disertai penyerahan diri dan pengecualian (Insya Allah) dalam menyempurnaannya.
Jika ada yang bertanya: “Kenapa pada saat memulai diperbolehkan memastikannya tapi untuk menyempurnakan harus disertai penyerahan diri dan pengecualian?”
Alasannya, karena saat memulai tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan dan hal itu belum terlambat. Juga karena adanya kekhawatiran saat menyempurnakan amal tersebut. Sebah saat menyempurnakan suatu amal ia sudah terlanjur melakukannya. Kemudian dari situ muncul dua kekhawatiran: Pertama khawatir tidak bisa wushul (sampai ke tempat tujuan). Ia tidak tahu entah bisa wushul atau tidak. Yang kedua adalah khawatir amal tersebut menjadi rusak. Ia tidak tahu apakah amal tersebut baik atau tidak.
Jadi, ia harus mengecualikan (dengan lafal Insya Allah) karena mengkhawatirkan sampai dan tidaknya amal tersebut. Ia juga harus berserah diri karena mengkhawatirkan kerusakannya.
Bila keinginan Anda sudah memenuhi syarat-syarat di atas berarti keinginan tersebut sudah masuk dalam kategori niat terpuji yang bisa mengeluarkan seseorang dari batas panjang anganangan dan kerusakannya.
Oleh karenanya, renungkanlah keterangan ini dengan sungguh-sungguh.
Ketahuilah bahwa benteng pendek angan-angan adalah mengingat kematian. Dan benteng yang menjadi penjaganya adalah mengingat maut yang selalu datang tiba-tiba, tanpa disangka-sangka dan datang di saat lengah.
Peliharalah semua keterangan ini. Semoga Allah memberikan taufik. Sebab kebutuhan untuk itu sudah mendesak. Jangan siasiakan waktu Anda untuk beromong kosong dan berselisih pendapat dengan orang lain.
Hanya Allah yang memberikan taufik dengan anugerah-Nya.
Kedengkian
Dengki adalah keinginan hilangnya nikmat-nikmat yang yang diberikan kepada Allah dari saudara-saudara yang beragama Islam berupa nikmat kebaikan.
Jika Anda tidak menginginkan hilangnya kenikmatan tersebut tapi hanya ingin agar diri Anda mendapatkan yang seperti itu, maka keinginan tersebut dinamakan ghibthah (bercita-cita ingin mendapat seperti orang lain tanpa merasa iri).
Cita-cita seperti inilah yang dimaksudkan oleh Rasulullah Saw. dalam sabdanya berikut ini:
Artinya: “Tidak diperbolehkan mendambakan nikmat milik orang lain kecuali dalam dua hal…
Beliau mengungkapkan “ghibthah” dengan kata “hasad” hanya untuk memberi kelonggaran, karena keduanya memiliki arti yang hampir sama.
Bila nikmat yang diberikan oleh Allah tidak mengandung kebaikan baginya, lalu Anda menginginkan hilangnya kenikmatan tersebut, maka hal itu dinamakan “ghirah” (kecemburuan).
Kebalikan dari sikap dengki adalah “nashihah”, yaitu keinginan agar nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada saudara Anda mengandung kebaikan tetap melekat padanya.
Jika ada pertanyaan: “Bagaimana caranya mengetahui bahwa nikmat itu mengandung kebaikan atau tidak, agar kami bisa merasa nashih atau merasa dengki?”
Ketahuilah bahwa kita pasti memiliki sebuah dugaan yang lebih kuat. Bagi kita dugaan kuat seperti itu bisa disejajarkan dengan pengetahuan.
Kemudian jika hal itu terlihat sama, artinya dugaan bahwa hal itu mengandung kebaikan dan tidak, sama-sama kuat, maka jangan sekali-kali menginginkan hilangnya suatu kenikmatan atau tetap melekatnya nikmat tersebut dari sesama muslim kecuali dengan menyandarkannya pada Allah dan dengan syarat hal itu mengandung kebaikan, agar Anda terbebas dari hukum kedengkian dan mendapatkan manfaat “nashihah”.
Benteng yang dapat melindungi pertahanan di atas adalah mengingat keagungan yang diberikan oleh Allah, seperti hak seorang mukmin dan kedudukan tinggi. Selain itu masih ada kemuliaan-kemuliaan yang akan diberikan Allah kelak di akhirat dan manfaat-manfaat lain yang diberikan-Nya di dunia seperti saling menolong, saling membantu, berjamaah, dan salat Jum’at. Kemudian syafaat (pertolongan) yang Anda harapkan di akhirat kelak.
Semua ini termasuk bagian dari hal-hal yang membangkitkan “nashih” kepada setiap muslim dan menjauhkan Anda dari perasaan dengki terhadap nikmat Allah yang diberikan kepada mereka.









One Comment