- Banyak makan menimbulkan fitnah bagi seseorang, membangkitkannya untuk mencari kelebihan barang halal dan membuat kerusakan. Sebab seseorang yang perutnya kenyang tentu akan melecehkan nikmat. Matanya selalu ingin memandang hal-hal haram yang tidak ada gunanya atau kelebihan barang halal. Telinganya ingin mendengarkan hal itu. Mulutnya ingin membicarakan hal haram dan tak berguna. Kemaluannya ingin mendapatkan apa yang disukainya. Dan kaki hendak melangkah ke arah itu.
Jika seseorang merasa lapar, maka seluruh anggota badannya akan tenang, dia, tidak menginginkan sesuatu dan tidak ada gairah untuk itu.
Al-Ustadz Abu Ja’far mengatakan bahwa perut adalah satu anggota tubuh. Jika ia lapar, maka seluruh badan menjadi kenyang (diam). Bila ia kenyang, maka seluruh badan menjadi lapar.
Intinya, semua perbuatan dan ucapan seseorang disesuaikan dengan makanan dan minumannya. Jika ada barang haram yang masuk ke dalamnya, maka yang keluar (muncul) adalah perbuatan dan ucapan haram. Jika yang masuk adalah kelebihan barang halal, maka yang keluar juga kelebihan barang halal (sesuatu yang tak berguna). Makanan bagaikan biji perbuatan dan ucapan yang akan tumbuh dan muncul darinya (perut).
- Banyak makan membuat seseorang berdaya pikir rendah dan kurang pengetahuan. Sebab perut yang penuh akan menghilangkan kecerdasan.
Benar sekali yang dikatakan oleh Ad-Daarani berikut ini: “Jika kamu memiliki suatu kebutuhan dari bermacam kebutuhan dunia dan akhirat, maka janganlah kamu makan sebelum mendapatkannya, sebab makan itu dapat merubah pikiran.”
Ini semua adalah sesuatu yang jelas dan diketahui oleh orang yang pernah mencobanya.
- Banyak makan bisa mengurangi ibadah seseorang. Sebab apabila seseorang terlalu banyak makan tentu badannya menjadi berat, matanya mengantuk, anggota badan mengendor dan tidak bisa melakukan ibadah sedikitpun. Ia tidak akan bersungguh-sungguh kecuali untuk tidur bagai bangkai yang ditelentangkan.
Ada orang yang mengatakan: “Jika kamu kenyang, maka anggaplah dirimu orang yang lumpuh.”
Telah diceritakan dari Nabi Yahya a.s. bahwa Iblis menampakkan diri pada beliau dengan membawa beberapa jerat. Lalu Nabi Yahya bertanya kepadanya: “Hai Iblis! Apa yang kau bawa itu?” Iblis menjawab: “Ini adalah syahwat yang kupakai untuk memburu keturunan Adam.” Yahya bertanya lagi: “Apakah kamu menemukan sesuatu pada diriku untuk kau jerat?” Iblis menjawab: “Tidak. Hanya saja pada suatu malam engkau merasa kenyang dan aku membuatmu merasa berat melakukan salat.” Yahya berkata: “Sungguh aku tidak akan makan kenyang setelah kejadian itu untuk selamalamanya.” Iblis berkata: ” Akujuga pasti tidak akan memberikan nasehat sebaik ini kepada siapapun untuk selamanya.”
Beginilah keadaan orang yang seumur hidup hanya satu malam merasa kekenyangan. Lalu bagaimana dengan orang yang seumur hidupnya tidak merasa lapar kecuali hanya semalam dan ia berharap bisa beribadah?
Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Ibadah bagaikan perusahaan. Kedainya adalah menyepi dan alat yang digunakan adalah lapar.”
- Banyak makan menghilangkan rasa manis dalam beribadah. Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata: ” Aku tidak penah merasa kenyang semenjak masuk Islam agar bisa merasakan manisnya beribadah kepada Tuhanku. Aku tidak pernah merasakan puasnya minum semenjak masuk Islam karena teramat rindu untuk segera bertemu dengan Tuhanku.”
Inilah ciri-ciri orang yang telah terbuka hijabnya. Karena itu, Abu Bakar telah menjadi orang yang mukasyafah, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullah Saw. dengan sabdanya:
Artinya: “ Kelebihan Abu Bakar atas kalian bukanlah karena puasa dan salatnya tapi apa yang tertanam kuat di dalam dirinya.” Ad-Daarani berkata: “Ibadah yang kurasakan paling manis adalah saat perutku lengket dengan lambungku.”
- Banyak makan menimbulkan kekhawatiran terjerumus ke dalam barang syubhat dan haram. Sebab barang halal yang datang kepada Anda tak lain hanya sebagai penguat.
Telah diriwayatkan dari Nabi Saw. bahwa beliau bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya tidak ada barang halal yang datang kepadamu selain hanya sebagai penguat, sedangkan barang yang haram datang kepadamu secara berbondong-bondong.”
- Banyak makan menimbulkan kesibukan pada hati dan badan, Mula-mula seseorang sibuk untuk mendaptkannya. Yang kedua ia akan sibuk menyiapkannya dan yang ketiga sibuk memakannya. Lalu yang keempat ia akan sibuk mengeluarkannya. Setelah itu ia akan sibuk menyelamatkan diri dari bahaya yang ditimbulkan seandainya makanan tersebut menimbulkan bahaya pada tubuhnya atau bahkan makanan tersebut bisa merusak agamanya.
Rasulullah Saw. pernah bersabda:
Artinya: “Inti segala macam penyakit adalah kekenyangan. Dan inti segala macam obat adalah mengurangi makan.” Artinya, lapar dan menghindari pantangan.
Diceritakan dari Malik bin Dinar bahwa beliau berkata: “Wahai sudara-sudaraku! Aku berulangkali masuk ke dalam jamban karena banyak makan, sampai aku merasa malu kepada Tuhanku. Alangkah senangnya bila rezekiku berada di dalam kerikil yang dapat kukulum sampai mati.”
Sehubungan dengan keterangan di atas, sehingga menjadikan orang yang ingin beribadah mau tidak mau harus mencari dunia, mengharap pemberian orang lain dan menyia-nyiakan waktu karena banyak makan selama ia tidak merasa takut.
- Kepayahan yang didapatkan di akhirat sulitnya sakaratul maut.
Diceritakan dalam beberapa hadis bahwa kesulitan sakaratul maut sesuai dengan kelezatan dunia. Barangsiapa yang memperbanyak hal itu (merasa lezat) maka sakaratpun terasa lebih sulit.
- Berkurangnya pahala di akhirat.
Artinya: ” Kalian telah menghilangkan keenakan-keenakan dalam kehidupan dunia dan bersenang-senang dengannya. Maka pada hari ini kalian akan dibalas dengan azab yang hina karena kesombongan yang tidak sepantasnya di muka bumi dan juga karena kalian berbuat fasik.” (Q.S. Al-Ahqaaf: 20)
Sesunggunya ukuran kelezatan yang Anda rasakan di dunia akan mengurangi kelezatan yang ada di akhirat. Karena itulah, saat Allah menampakkan dunia ini kepada Nabi Muhammad Saw. Dia berfirman: “Dan aku tidak akan sedikitpun mengurangi kelezatanmu diakhirat.” Prioritas seperti ini menunjukkan bahwa selain beliau akan mengalami pengurangan kecuali bila ia diberi anugerah oleh Allah.
Diceritakan bahwa Khalid bin Walid menjamu sahabat Umar bin Al-Khaththab. Beliau menyiapkan makanan tersebut. Maka sahabat Umar bertanya: “Makanan ini untukku. Lalu bagaimana dengan kaum fakir, para muhajirin, orang-orang yang mati kelaparan dan belum pernah merasakan kenyangnya makan roti gandum?” Khalid menjawab: “Wahai amirul mukminin! Mereka telah mendapatkan surga.” Umar berkata: “Jika mereka mendapatkan surga dan makanan ini bagian kita, maka mereka jelas sangat berbeda dengan kita.”
Diceritakan bahwa pada suatu hari sahabat Umar r.a. merasa haus dan beliau meminta air. Seseorang memberikan sebuah cawan berisi air rendaman kurma kepada beliau. Saat mendekatkan cawan tersebut ke mulut, beliau merasakan air yang amat dingin dan manis. Lalu beliau tidak jadi meminumnya dan mendesah. Maka orang yang mengambilkan cawan tersebut berkata: ” Wahai Amirul mukminin! Demi Allah, aku telah membuat minuman itu semanis mungkin.” Maka sahabat Umar menjawab: “Itulah yang membuatku tidak jadi minum. Seandainya tidak ada kehidupan akhirat tentu aku akan menyamai kehidupan kalian.”
- 10. Banyak makan menimbulkan penahanan, hisab, celaan dan cemoohan, karena mengambil kelebihan barang halal secara tidak sopan dan mencari kesenangan syahwat. Padahal harta dunia yang halal menimbulkan hisab, yang haram menimbulkan siksaan, dan perhiasannya membawa kerusakan.
Inilah sepuluh kerusakan yang berkaitan dengan kelebihan barang halal dan masing-masing kiranya sudah mencukupi bagi orang yang mau melihat kepada dirinya sendiri.
Oleh karena itu, hai orang yang bersungguh-sungguh, hendaklah Anda sangat berhati-hati dalam mencari makanan agar tidak terjerumus ke dalam barang haram atau syubhat yang membuat Anda berhak disiksa. Selain itu, hendaknya Anda mencukupkan diri dengan barang yang halal sekedar untuk persiapan melakukan ibadah kepada Allah sehingga tidak terjerumus ke dalam hal buruk yang membuat Anda tertahan.









One Comment