Rasulullah menjawab, Hai Mu’adz! Ikutilah keyakinan nabimu.”
Aku (Mu’adz) berkata, “Anda adalah utusan Allah. Sedangkan aku Mu’adz bin Jabal. Bagaimana aku bisa selamat?
Rasulullah berkata, “Benar kamu Mu’adz!. Jika ada kekurangan pada amalmu, maka jauhkanlah lisanmu dari membicarakan keadaan orang lain, lebih-lebih dari para penghapal Al-Qur’an. Sebaiknya kamu mengembalikan keadaan mereka pada kekurangan yang kau dapati pada dirimu sendiri. Jangan membersihkan diri dengan mencela saudara-saudaramu. Jangan mengangkat derajatmu dengan merendahkan saudara-saudaramu. Jangan memperlihatkan amalmu agar dikenal banyak orang. Jangan tenggelam ke dalam urusan dunia yang bisa membuatmu lupa dari urusan akhirat. Jangan bicara berdua dengan seseorang jika di sampingmu ada orang lain. Jangan merasa besar di hadapan banyak orang sehingga kebaikan dunia dan akhiratmu terputus. Jangan berkata buruk dalam suatu majlis sehingga mereka meninggalkanmu karena pekertimu yang buruk. Jangan mengungkit-ungkit orang lain dan mencabik-cabik hati mereka sehingga kelak kamu akan dicabik-cabik oleh anjing-anjing jahannam. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah Swt.: “Demi anjing yang mencabik-cabik dengan cabikan yang sebenarnya.(An-Naazi’aat: 2).
Allah berfirman bahwa anjing-anjing itu mencabik daging dari tulangnya.
Aku (Mu’adz) berkata, ‘Ya Rasulullah! Siapa yang mampu melakukan semua ini?”
Rasulullah menjawab, “Hai Mu’adz! Semua yang kukatakan kepadamu teramat mudah bagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah. Sedangkan kamu cukup melakukannya dengan cara mencintai orang lain seperti mencintai dirimu sendiri dan membenci sesuatu yang menimpa mereka seperti halnya jika hal tersebut menimpa dirimu. Dengan demikian kamu akan selamat.
Khalid bin Ma’dan berkata: Dalam setiap majlis (pertemuan)nya Mu’adz bin Jabal lebih banyak membaca dan menerangkan hadis ini ketimbang Al-Qur’an.
Jika Anda mendengar hadis ini atau diberi tahu seseorang tentang hadis yang kisahnya agung, sangat mengkhawatirkan, dan pengaruh yang ditimbulkannya amat pedih ini, cerita yang bisa membuat hati terbang melayang, pikiran bingung dan dada serasa sempit saat menampungnya serta orang-orang mengeluh karena cerita tersebut menakutkan, maka sebaiknya Anda memohon perlindungan kepada Majikan Anda, yakni Penguasa alam semesta. Tetaplah berada di pintu (yang menuju kepada)Nya, dengan kerendahan hati, tangis sepanjang malam dan di ujung hari, bersama dengan orang-orang yang merendahkan diri serta berdoa. Karena tidak mungkin selamat dari urusan ini kecuali dengan rahmat-Nya. Dan tidak mungkin terbebas dari lautan ini kecuali dengan pertolongan dari-Nya. Bangkitlah dari tidur orangorang yang lalai. Lakukan segala sesuatunya dengan benar. Perjuangkan nafsumu demi meniti tahapan yang mengkhawatirkan ini. Siapa tahu Anda tidak binasa bersama orang-orang yang binasa.
Hanya Allah tempat memohon pertolongan dalam segala hal. Dia-lah sebaik-baik penolong. Dia Maha Tinggi. Lebih pengasih di antara para pengasih. Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah yang Maha Luhur lagi Maha Agung.
Pendek kata, jika Anda merenung dengan baik dan melihat ketinggian derajat ketaatan kepada Allah serta ketidakmampuan seluruh makhluk, keterbatasan dan kebodohan mereka, maka sebaiknya Anda tidak menggubris mereka. Jangan terpancang dengan sanjungan, pujian, dan pengagungan mereka, karena semua itu tiada artinya. Jangan menginginkan sesuatupun dari mereka dengan menggunakan ketaatanmu. Dan jika kamu melihat betapa kejinya dunia, betapa hina dan cepat-musnah, maka janganlah kamu mengingikannya dengan menggunakan ketaatanmu kepada Allah. Katakan pada nafsumu sendiri: Hai nafsu! Sanjungan dan ungkapan terimakasih dari Allah lebih baik ketimbang sanjungan yang diberikan oleh makhluk-makhluk yang lemah dan bodoh. Mereka tidak mengetahui derajat amalmu serta apa saja yang kau rasakan di dalamnya. Mereka tidak memenuhi hak-hak yang semestinya kau peroleh dengan amalmu. Bahkan kadang-kadang mereka lebih mengutamakan orang-orang yang sebenarnya memiliki derajat di bawahmu dengan memberikan Seribu derajat, menyia-nyiakanmu yang sedang sangat membutuhkan serta melupakanmu. Meskipun mereka tidak melakukan semua itu, apa yang mereka miliki? Mereka juga berada dalam genggaman kekuasaan Allah yang akan memperlakukan mereka menurut kehendak-Nya. Hai nafsu! Jangan sia-siakan kemuliaan taatmu karena mereka. Jangan sampai kehilangan sanjungan-Nya yang penuh kemuliaan. Dan jangan sampai kehilangan anugerah Allah yang akan menjadi simpanan (bagimu).









One Comment