Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

Pokok ketiga, Janji dan Ancaman di Hari Kiamat

Hendaklah kita mengingat lima hal yang ada hubungannya dengan janji dan ancaman, yakni kematian, alam kubur, kiamat, surga dan neraka, termasuk apa yang terjadi di dalamnya seperti kekhawatiran yang teramat sangat bagi orang-orang yang taat, durhaka, lalai ataupun bersungguh sungguh.

Pertama, kematian.

Dalam membicarakan masalah kematian ini aku (Al-Ghazali) akan mengemukakan kisah dua orang lelaki. Salah satunya adalah yang diceritakan dari Ibnu Syabramah. Beliau berkata: “Aku pernah menjenguk sesorang yang sedang sakit besama Asy-Sya bi. Di dekat orang tersebut ada orang lain yang mengajarinya bacaan “Lan ilaaha Illallaahu wahdahu laa syariika lahu. Lalu Asy’Sya’ bi berkata: “Ajarkanlah dengan perlahan” Si sakit berkata: “Anda ajarkan atau tidak, aku tidak akan meninggalkan kalimat tersebut.”

Lalu ia membaca surat Al-Fath ayat 26 sebagai berikut:

Artinya: “Dan Allah menetapkan kalimat takwa, dan mereka adalah orang yang berhak atas kalimat tersebut dan pantas memilikinya.”

Asy-Sya’ bi berkata: “Segala puji bagi Allah. Dialah Dzat yang menyelamatkan sebagian dari kita.”

Yang satu lagi adalah kisah seorang murid Fudhail bin ‘Iyadh. Menjelang kematiannya Fudhail menjenguk dan duduk di sisi kepalanya sambil membaca surah “Yaasiin”. Murid tersebut berkata: “Wahai guruku! Janganlah Anda membaca surah ini.” Fudhail pun diam. Lalu beliau mengajarinya bacaan tahlil (laa Unaha illallaah). Ia berkata: “Aku takkan pernah membacanya sebab aku telah cuci tangan dari hal itu.” Lalu ia pun mati dalam keadaan (kufur) seperti itu.

Kemudian Fudhail masuk ke rumah beliau dan menangis Selama empat puluh hari serta tidak keluar dari rumah. Setelah itu beliau melihat (murid)nya di dalam mimpi sedang diseret ke neraka jahannam. Fudhail bertanya: “Apa sebabnya Allah mencabut kemakrifatan itu darimu? Padahal kamu adalah muridku yang terpandai.” Murid itu berkata: “Semua itu terjadi karena tiga hal:

  1. Adu domba.

Aku mengatakan kepada teman-temanku sesuatu yang lain dengan apa yang kuucapkan pada Anda.

  1. Irihati.

Sebab aku sering merasa iri pada teman-temanku.

  1. Aku menderita suatu penyakit. Kemudian kutanyakan penyakit itu kepada seorang dokter. Dia mengatakan: “Setahun sekali Anda harus meminum semangkuk arak. Jika hal itu tidak Anda lakukan maka penyakit tersebut tetap akan bersarang di tubuh Anda.” Karena itulah sejak saat itu aku meminum arak”

Al-Ghazali berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari murka-Nya yang tidak dapat kami pikul.”

Selanjutnya aku (Al-Ghazali) akan menceritakan dua orang lelaki lain . Salah satunya adalah tentang Abdullah Ibnul Mubaarak rahimahullah. Saat kematiannya hampir tiba beliau menengadahkan muka ke langit. Beliau pun tertawa dan berkata: “Seharusnya orang-orang itu melakukan hal semacam ini.”

Aku juga mendengar bahwa Imam Haramain bercerita tentang Al-Ustadz Abu Bakr. Sesungguhnya Abu Bakr berkata: “Pada masa belajar dulu aku memiliki seorang teman yang sangat tekun belajar, bertakwa, dan beribadah. Dengan kesungguhannya itu dia hanya berhasil mendapatkan sedikit pengetahuan. Aku pun menjadi heran karenanya.

Suatu ketika ia sakit dan tetap tinggal di pemondokannya sendiri yang berada di antara pondokan para wali (di dalam pesantren). Dia tidak masuk rumah sakit dan tetap tekun belajar walaupun dalam keadaan sakit. Setelah penyakitnya betul-betul parah aku pun duduk di dekatnya. Saat itulah tiba-tiba ia mengangkat pandangannya ke langit dan berkata: “Wahai Ibnu Faurak! Seharusnya oang-orang itu melakukan hal semacam ini.” Dan ia pun mati setelah mengatakan hal itu.”

Yang satunya lagi adalah cerita dari Malik bin Dinar. Beliau mendatangi seorang tetangga yang sedang sekarat (hampir meninggal dunia). Orang tersebut berkata: “Wahai Malik! Di hadapanku kini terdapat dua buah gunung dari api dan aku diharuskan mendaki keduanya.” Beliau berkata: “Mendengar itu aku bertanya kepada keluarga (isteri dan anak-anaknya). Mereka berkata bahwa ia memiliki dua takaran, satu untuk menimbang bagi orang lain dan yang satunya lagi untuk menimbang dari orang lain. Lalu aku meminta kedua barang itu dan memukulkan satu sama lain sampai keduanya pecah. Kemudian aku bertanya kepada laki-laki tersebut. Dia menjawab: “Yang kuhadapi malah semakin bertambah besar.”

Kedua, alam kubur dan kejadian yang dialami setelah kematian.

Dalam hal ini aku (Al-Ghazali) akan bercerita tentang dua orang lelaki. Salah satunya adalah cerita seorang saleh yang berkata: “Aku bertemu dengan Sufyan Ats-Tsauri di dalam mimpi setelah kepergian beliau. Aku berkata: “Bagaimana keadaan Anda wahai Abu Abdullah?” Beliau pun berpaling dariku dan berkata: “Saat ini belum waktunya memanggil dengan nama kuniyah (panggilan yang menggunakan kata “abu” dan “ummu”). Kemudian aku berkata: “Bagaimana keadaan Anda wahai Sufyan?” Maka beliau menjawab dengan sebuah syair:

Aku dapat memandang Tuhanku dengan jelas. Lalu Dia berfirman kepadaku:

“Selamat. Kamu mendapatkan keridaan-Ku hai Abu Said! Kamu beribadah bila malam telah gulita dengan penuh rindu dan cinta yang mendalam.

Ini semua untukmu. Karena itu pilihlah istana mana yang kamu inginkan

dan datanglah kepada-Ku karena Aku tiada jauh darimu.

Yang kedua adalah seorang lelaki yang dimimpikan (terlihat dalam mimpi) oleh seorang saleh. Laki-laki tersebut berwajah pucat sedangkan tangannya dibelenggu dengan lehernya. Kemudian ia ditanya: “Apa yang dilakukan Allah terhadapmu?” Dia pun menjwab dengan sebuah syair:

Masa yang kupermainkan telah berlalu

dan saat ini masa itulah yang mempermainkan aku.

Ada lagi kisah dua orang lelaki. Salah satunya diriwayatkan dari seorang saleh. Ia berkata: “Aku memiliki seorang anak yang mati syahid dan belum pernah melihatnya di dalam mimpi sampai pada suatu malam, saat Umar bin Abdul Aziz wafat, aku melihatnya. Aku bertanya: “Wahai anakku! Bukankah kamu telah mati?” Ja menjawab: “Tidak. Aku adalah orang syahid dan hidup di sisi Allah Swt. serta diberi rezeki.” Aku berkata: “Apa yang membuatmu datang ke mari?” Dia menjawab: “Ada pengumuman untuk para penduduk langit, Perhatian! Tidak boleh ada seorang nabi, seorang Shiddiq, dan seorang syahidpun yang tidak menghadiri salat (jenazah) Umar bin Abdul Aziz. Karena itulah, aku datang untuk menyalatkannya dan menemuimu untuk mengucapkan salam.”

Yang kedua adalah lelaki yang diceritakan dari Hisam bin Hasan. Ia berkata: “Aku memiliki anak yang mati muda. Setelah itu aku melihatnya dalam mimpi sudah penuh uban dan kutanya, ‘Wahai anakku! Kenapa kamu beruban?’ Ia menjawab, ‘Ketika si fulan datang kepadaku, neraka jahannam menyemburkan hawa panas untuk menyambut kedatangannya. Tak seorangpun di antara kami yang tidak beruban karena semburan tadi.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker