Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Minhajul Abidin

  1. Kekhawatiran dan bahaya besar yang timbul bila kita meninggalkannya (tawakal).

Bukankah Allah menyertakan rezeki kepada setiap makhluk? Dia berfirman:

Artinya: “Allah menciptakan kalian, kemudian memberi kalian rezeki…” (Q.S. Ar-Ruum: 40)

Ayat ini menunjukkan bahwa semua rezeki berasal dari Allah, bukan dari yang lain, seperti juga makhluk yang berasal dariNya. Kemudian Allah tidak cukup hanya menunjukkan, tapi juga memberikan janji. Allah berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya Allah, Dia-lah Maha Pemberi rezeki.” (Q.S. Adz-Dzaariyaat: 58)

Allah tidak hanya memberi janji tapi juga memberikan jaminan. Allah berfirman:

Artinya: “Dan tidak ada seekor binatang melata pun di muka bumi melainkan Allah yang memberinya rezeki.” (Q.S. Huud: 6)

Allah juga tidak hanya menjamin, tapi juga bersumpah (akan memberikan rezeki). Allah berfirman:

Artinya: “Demi (Allah) Penguasa langit dan bumi, sesungguhnya (rezeki) yang dijanjikan Allah itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.” (Q.S. Adz-Dzaariyaat: 23)

Di samping itu semua, Allah juga memerintahkan dengan keras agar kita bertawakal dan juga menakut-nakuti. Dia berfirman:

Artinya: “Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup kekal, yang tidak mati.” (Q.S. Al-Furqaan: 58)

Dia juga berfirman: .

Artinya: “Dan hendaklah hanya kepada Allah kamu sekalian bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Q.S. AlMaaidah: 23)

Barangsiapa tidak mau merenungkan firman Allah, tidak puas denganjanji-Nya, tidak merasa tenang dengan jaminan-Nya, tidak menerima sumpah-Nya dan tidak mempedulikan perintah, janji Serta ancaman-Nya, maka tunggulah apa yang akan terjadi serta cobaan apa yang akan menimpanya. Ini adalah musibah yang teramat besar tapi kita selalu melupakannya.

Nabi Saw. bersabda kepada sahabat Ibnu Umar:

Artinya: “Bagaimana jika kamu hidup di tengah-tengah kaum yang menyimpan makanan untuk setahun, karena mereka lemah keyakinannya?”

Diceritakn dari Hasan Al-Bashri. Beliau berkata: Allah melaknat suatu kaum yang telah diberi-Nya sumpah dan mereka tidak mempercayainya.”

Ketika ayat ini turun para malaikat berkata: “Demi Tuhan langit dan bumi, celakalah keturunan Adam. Mereka membuat Tuhan marah hingga ia bersumpah mengenai rezeki mereka.”

Diceritakan dari Uwais Al-Qarani. Beliau berkata: “Seandainya kamu beribadah seperti yang dilakukan oleh penghuni langit dan bumi, maka Allah tidak akan menerimanya hingga kamu membenarkan-Nya.” Kemudian ditanyakan: ” Bagaimana cara membenarkannya?” Uwais berkata: “Kamu merasa aman dan tenteram denganjaminan yang diberikan Allah dalam hal rezekimu, sehingga kamu berkesempatan melakukan ibadah kepada-Nya.”

Suatu ketika Haram bin Hayyan bertanya kepada beliau (Uwais): “Di mana Anda menyuruh aku bertempat tinggal?” Uwais memberi isyarat dengan tangannya ke arah negeri Syam. Haram bertanya: “Bagaimana dengan mata pencaharianku di sana?” Uwais berkata: “Sungguh celaka orang yang berhati lemah sepertimu. Ia telah bercampur dengan keraguan sehingga tiada gunanya diberi nasehat.”

Aku (Al-Ghazali) pernah mendengar ada seorang pencuri kain di kuburan yang bertobat di hadapan Abu Yazid Al-Busthami. Kemudian Abu Yazid bertanya tentang apa yang terjadi pada pencuri tersebut. Pencuri menjawab: “ Aku telah menggali seribu kuburan. Semua orang yang kugali tidak ada yang menghadap ke arah kiblat kecuali dua orang.” Abu Yazid berkata: “Kasihan mereka. Keraguan tentang rezeki telah memalingkan wajah mereka dari kiblat.”

Seorang kawan berkata kepadaku bahwa ia melihat seorang lelaki yang ahli berbuat baik. Lalu ia bertanya tentang keadaan lelaki tersebut: “Apakah Anda selamat karena keimanan Anda?” Ja menjawab: “Iman yang selamat hanya dimiliki oleh orang-orang yang bertawakal.”

Kami memohon kepada Allah semoga Dia berkenan memperbaiki kami dengan anugerah-Nya. Dan semoga Dia tidak menyiksa kami karena perbuatan (jelek) yang kami lakukan. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengasih dari para pengasih terhadap hamba-Nya. Ini adalah hal yang penting.

Jika Anda berkata: “Terangkanlah pada kami apa hakekat tawakal, bagaimana hukumnya, dan apa yang harus dilakukan seorang hamba dalam hal (tawakal) itu yang berhubungan dengan rezeki.

Ketahuilah bahwa pengertian tawakal itu dibagi menjadi empat yaitu arti lafal tawakal, kedudukan, batasan dan benteng tawakal.

Pasal Pertama: Arti Kata Tawakal

Kata tersebut berasal dari mashdar “wakalah” yang memiliki arti perwakilan. Jadi orang yang bertawakal kepada seseorang berarti ia menganggapnya sebagai seorang wakil yang melaksanakan (mengurusi) pekerjaannya, yang bertanggung jawab atas kebaikannya dan ia tidak perlu ikut mengerjakan, membebani diri sendiri, ataupun ikut prihatin.

Inilah pengertian kata tawakal secara global.

Pasal Kedua: Kedudukan Tawakal

Kata tawakal ini digunakan pada tiga kedudukan, yaitu kedudukan dalam hal pembagian rezeki, pertolongan dan rezeki Itu sendiri serta berbagai kebutuhan.

  1. Dalam hal pembagian rezeki, tawakal berarti percaya penuh bahwa Allah tidak mungkin keliru dalam membagikan rezeki. Nya kepada orang tersebut, karena hukum (ketetapan) Allah tidak dapat diubah. Dan tawakal dalam hal ini hukumnya wajib, berdasarkan Al-Qur’an dan hadis
  1. Dalam hal pertolongan, tawakal berarti percaya penuh dengan pertolongan yang dijanjikan-Nya selama ia benar-benar menolong dan berjuang karena-Nya. Allah berfirman:

Artinya: “Kemudian jika kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (Q.S. Ali Imran: 159)

Allah juga berfirman:

Artinya: “Jika kalian menolong Allah, niscaya Allah akan menolong kalian.” (Q.S. Muhammad: 7) Allah berfirman:

Artinya: “Dan sudah semestinya Aku (Allah) menolong orangorang yang beriman.” (Q.S. Ar-Ruum: 47)

  1. Dalam hal rezeki dan kebutuhan, sesungguhnya Allah menjamin segala kebutuhan yang Anda perlukan untuk beribadah sehingga Anda mampu melaksanakannya. Hal itu berdasarkan firman Allah:

Artinya: “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Q.S. Ath-Thalaq: 3)

Nabi Saw. bersabda:

Artinya: “Apabila kamu sekalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah memberikan rezeki padamu seprti Dia memberikan rezeki kepada burung. Pada waktu pagi ia lapar, dan di sore hari kembali (ke sarangnya) dengan perut penuh.”

Tawakal dalam bab ini merupakan kewajiban setiap hamba berdasarkan dalil agli dan syar’i.

Keterangan ini adalah pendapat terkuat, yaitu tawakal dalam masalah rezeki. Dan inilah yang kami inginkan dalam pasal ini.

Jadi, kedudukan tawakal di sini adalah rezeki yang sudah dijamin oleh Allah, seperti yang dikatakan oleh para ulama. Akan tetapi hal itu akan bisa menjadi jelas setelah Anda mengetahui macam-macam rezeki. Oleh karena itu, ketahuilah bahwa rezeki dibagi menjadi empat:

  1. Rezeki madhmun
  2. Rezeki maqsuum
  3. Rezeki mamluk
  4. Rezeki mau’ud

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker