DZIKIR YANG KE-17 DAN SYARAHNYA
Sayyidina Umar telah menjadikan dzikir ini sebagai “penutup ratib”, dan didalamnya terdapat isyarat yang halus akan harapan untuk Memperoleh (Akhir hayat yang baik). Beliau mengucapkan :
YA ALLAH KAMI MOHON RAHMATMUKIRANYA KAMI MEMPEROLEH KHUSNUL KHATIMAH (AKHIR HAYAT YANG BAIK) 3X
Asy Syalkh Ali berkata : Sayyidina Umar telah mengulang-ulang ucapan itu, karena perhatiannya yang amat sangat terhadap masalah itu. Hal itu disebabkan karena kecukupan amal dan kesempurnaan keadaan seorang hamba adalah pada saat tibanya ajal, yaitu ketika ia menjalani proses kematian, sedang pada saat itu ia dalam penyaksian yang hak (kenyataan) dan tak tampak keburukan-keburukan, ini tentu bagi hamba Allah yang shaleh.
Sebagian ahli Kasyaf menyebutkan bahwa Iblis menampakkan diri kepadanya dalam rupa manusia yang ia kenali, dalam keadaan badannya kurus, warnanya kuning, matanya menangis dan punggungnya bungkuk.
Ahli Kasyaf itu berkata kepada Iblis : “Wahai Iblis, apakah yang membuatmu menangis?” Iblis berkata : “Karena orang yang berangkat menunaikan hajji bukan untuk tijarah (berniaga), andaikata ia pergi untuk berniaga niscaya aku senang”.
Ahli Kasyaf itu berkata pula : “Dan apakah yang membuat badanmu kurus?” Ia (Iblis) berkata : “Ringkikan kuda yang berperang di jalan Allah, dan seandainya ringkikan kuda itu berada di jalanku, tentu aku senang”.
Ahli Kasyaf itu berkata pula : “Dan apakah yang merubah warna kulitmu? ” Dia (Iblis) berkata : “Bertolong-tolongan para jamaah atas perbuatan kebaikan, dan seandainya mereka bertolong-tolongan atas kemaksiatan, tentu aku akan lebih senang”.
Ahli Kasyaf itu berkata pula : “Dan apakah yang membual punggung mu bungkuk?”. Dia (Iblis) itu berkata : “Jalah ucapan seorang hamba : “Ya Allah, aku mohon kehadirat-Mu…husnul khatimah”.
Aku (iblis) berkata : “Celakalah kami, karena hamba itu seorang yang cerdas (tidak membanggakan diri dengan amalnya) akhirnya ia memperoleh husnul-khatimah (akhir hayat yang baik)”.
Dampak yang disebutkan oleh orang ‘arif ahli Kasyaf tersebut memperkuat dan menganjurkan agar kita banyak memohon “khusnulkhotimah”. Semoga Allah mengakhiri hayat kita, orang-orang tua kita, dan orang-orang yang kita kasihi dengan kebajikan. Amiin.
Marilah kita sekarang mulai mempelajari penjelasan tentang makna “Husnul khatimah”, dasarnya, hakikatnya, dan tanda-tandanya sesuai syari’ah,
Ketahuilah bahwa husnul-khatimah adalah : “husnul saabigah”, artinya “kebaikan yang telah ditentukan dari sejak masa lalu (sebelum lahir ke dunia). Maka barang siapa yang diciptakan oleh Allah sebagai ” ” (orang yang berbahagia), maka ia akan mati sebagai ” ” (orang yang berbahagia) pula, dan barang siapa yang diciptakan Allah sebagai ” ” (orang yang celaka), maka ia akan mati sebagai ” ” (orang yang celaka) pula.
Ini termasuk ilmu yang pasti dan tidak diragukan lagi kebenarannya karena berkesinambungannya dalil-dalil Al Gur’an dan As Sunnah dan dalil ‘aqli.
Adapun ayat-ayat Al Our’an yang berhubungan dengan “Husnul Khatimah”‘ adalah firman Allah Ta’ala :
“Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka”. (QS. Al Anbiya’ : 101).
“Barang siapa yang Allah kehendaki, akan memberikan kepadanya petunjuk niscaya Dlia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam”. (QS. Al An’aam : 125).
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”. (Al Insaan : 2-3).
“Dan kalau kami menghendaki, niscaya Kami akan berikan kepada tiaptiap jiwa petunjuk (bagi)nya”. (QS. As Sajadah : 13).
“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang dimuka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”. (QS. Yunus : 99).
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang Kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (QS. Al Oashash : 56).
“Dan dikala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya, maka diantara mereka ada yang celaka dan ada yang bahagia”. (QS. Huud : 105):
Kemudian Syaikh Ali berkata : “Pada permulannya mereka telah memperoleh pertolongan Allah, maka wajiblah mereka memperoleh kemuliaan pada kesudahannya”.
Al Waasithi telah berkata : “Beberapa bagian telah diuraikan dan beberapa sifat telah diteliti bagaimana caranya memperoleh husnul khatimah, yaitu dengan gerakan-gerakan atau dengan segala usaha”.
Telah berkata Abdullah Al Ourassyi : “Siapa yang tidak mempunyai ketentuan masa lalu (ketika di alam rahim) sebagai penolong, maka: tidak seorang pun yang dapat memberi manfaat kepadanya. Dan orang-orang yang ahli-ilmu mengetahui bahwa yang memberi atsar itu adalah Allah Ta’ala dan sebab-sebabnya pun demikian pula. Karena itu Nabi Allah Ya’kub as. telah berkata kepada anak-anaknya :
“Namun demikian, aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah”. (QS. Yusuf : 67).
Itu sebagai isyarat atau pertanda bahwa kehati-hatian tidak dapat menolak takdir. : Telah berkata Muharnmad bin Ka’ab : “Orang yang pada permulaannya (ketika di alam rahim) diciptakan Allah sebagai seorang yang sengsara ( ), iaakan menjadi orang yang sengsara pula, walaupun ia telah beramal dengan amal orang-orang yang berbahagia (ahli syorga) seperti halnya iblis yang sebelum dikutuk terkenal dengan nama ‘Azazil dan telah beribadah selama 100 tahun, karena keangkuhannya dan tidak tunduk kepada perintah Allah untuk sujud kepada Adam a.s. maka akhirnya ia kafir dan menjadilah ia makhluk yang celaka (ahli neraka). Dan orang yang pada awalnya, telah diciptakan Allah sebagai orang yang berbahagia ( ). maka ia pun akan menjadi orang yang berbahagia pula (ahli syorga) walaupun ia telah beramal dengan amal orang-orang yang celaka ( ) seperti tukang-tukang sihir Fir’aun ( ). Semula mereka beramal dengan amal orang-orang yang celaka, kemudian mereka menjadi orang-orang yang berbahagia (setelah beriman kepada Allah melalui Nabi Musa a.s.) hal itu adalah atas kehendak Allah dizaman azali yang telah berlaku baik mengenai hidayat maupun kesesatan.
Firman Allah Ta’ala : .
“Suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya”. (@S.. Al Maaidah : 54).
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Az Zukhruf : 32).
Maka perhatikanlah wahai hamba yang dirahmati Allah ketentuan kebajikan dimasa lalu (azali) yang dianugerahkan Allah kepada anda, seperti yang terdapat pada ayat, juga hidayat-Nya dan ridha-Nya bagi orang yang dikehendaki-Nya.
firman Allah Ta’ala :
l”Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Pia kehendaki) dan disisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh)”, (QS. Arra’d : 39).
Ketahuilah bahwa ayat-Nya menjadi hujjah (bukti) bahwa apa yang disebut atau akhir hayat yang baik itu, yang ditetapkan dimasa ( ) sudah cukup jelas karena yang dimaksud dihapus dan ditetapkan adalah bermacam-macam perkara, kecuali kebahagiaan (di syorga) dan kesengsaraan (di neraka), seperti yang diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair bahwasanya ia telah berkata :
“Allah mengahapus dosa-dosa para hamba atas kehendak-Nya kemudian mengampuninya, dan menetapkan (dosa-dosa itu) atas kehendak-Nya dan tidak mengampuninya”. ‘Ikrimah telah berkata :
“Allah menghapuskan atas kehendak-Nya dengan taubat dan menetapkan kebajikan-kebajikan sebagai pengganti dosa-dosa itu”. Al Baghawie menyebutkan bahwa ketika Umar r.a. sedang tawaf mengelilingi “Al Bait”, beliau menangis sambil mengucapkan :
Artinya : “Ya Allah seandainya Engkau catat namaku di dalam golongan orang-orang yang berbahagia ( ) maka tetapkanlah aku didalamnya, dan seandainya Engkau catat namaku didalam golongan orang-orang yang celaka ( ) maka hapuskanlah namaku, dan tetapkanlah aku di dalam golongan orang-orang yang berbahagia yang memperoleh ampunan. Sesungguhnya Engkau menghapus apa-apa yang Engkau kehendaki dan menetapkan (apa-apa yang Engkau kehendaki dan disisi-Mu ada Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh).
Ada yang menerangkan, sesungguhnya makna ayat ini adalah bahwa M Hafazhah (malaikat pencatat amal) mencatat seluruh amal anak cucu Adam termasuk ucapan-ucapan mereka, lalu Allah menghapus dari daftar Al Hafazhah amal-amal yang tidak berpahala dan tidak pula berdosa seperti kata-kata : “Aku masuk, aku keluar d.I.I sebagainya.
Al Kalbi berkata : “Semua ucapan itu dicatatnya sehingga apabila tiba hari Kamis, semua amal yang tidak berpahala dan berdosa itu ditinggalkannya (tidak dilaporkannya).
“Athiyyah telah berkata yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas : “Seorang laki-laki yang taat kepada Allah kemudian kembali melakukan perbuatan : maksiat kepada Allah, kemudian meninggal dunia di dalam kesesatan, maka dihapuskan kebajikan-kebajikannya. Adapun seorang laki-laki yang taat kepada Allah maka dialah yang ditetapkan sebagai orang yang berbahagia (Ahlil Jannah).
“Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah”. (QS. Yunus : 64).
“Tidak ada yang merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya”. (QS. Al-An’aam : 115).
Adapun hadist-hadist yang berkaitan dengan “Khusnul Khatimah” adalah sebagai berikut :
“Telah diriwayatkan dari Sayyidatuna “Aisyah r.a. ia telah berkata : “Nabi SAW. telah mendapatkan jenazah anak kecil dari anak-anak kaum Anshaar. maka berkatalah Sayyidatuna ‘Aisyah r.a. : “Berbahagialah seekor burung dari burung-burung syorga” Lalu bersabdalah Rasulullah SAW. kepadanya : “Tidakkah engkau tahu bahwa Allah SWT. telah menciptakan syorga dan menciptakan penghuni-penghuninya yang ketika itu mereka masih berada di tulang sulbi bapak-bapak mereka. Dan Allah telah menciptakan neraka dan menciptakan penghuni-penghuninya yang ketika itu masih berada di tulang sulbi bapak-bapak mereka”. (Dikeluarkan oleh Imam Muslim).
Telah bersabda SAW. : “Allah telah menentukan takdir makhluk-Nya, sebelum menciptakan langit dan bumi 50.000 (lima puluh ribu) tahun, dan adalah ‘Arasy-Nya di atas air”.
Telah bersabda a.s. : “Sesungguhnya hati anak Adam itu berada diantara 2 (dua) jari dari jari-jari Ar Rahman (Allah Yang Maha Pengasih) bagaikan satu hati, Dia merubah-rubahnya sekehendak-Nya, kemudian beliau berdo’a: “Ya Allah, yang merubah-rubah hati, rubahlah hati kami atas ketaatan kehadirat-Mu”.
Dari Abi Abdirrahman bin Mas’ud r.a. telah berkata : “Telah bersabda Rasullulah dan dialah yang selalu benar dan yang dibenarkan : “Sesungguhnya tiap orang diantaramu dikumpulkan pembentukannya (kejadiannya)di dalam rahim ibunya dalam 40 hari berupa nuthfah (air yang kental). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari) kemudian menjadi gumpalan seperti sekerat daging, selama itu juga, kemudian diutuslah kepadanya Malaikat, maka ia meniupkan roh padanyd Jon diperintahkan (ditetapkan) dengan 4 perkara : 1. Ditentukan rezkinya, ). Ajalnya (umurnya). 3. Amalnya (pekerjaannya). 4. Ja celaka (sengsara) atau bahagia.
Maka demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya seorang diantara kamu ada yang mengerjakan pekerjaan ahli syorga sehingga tidak ada antara dia dan syorga itu kecuali sehasta saja, maka mendahuluilah atasnya ketentuan (takdir) Tuhan, lalu ia mengerjakan pekerjaan ahli neraka, maka iapun masuk neraka. Dan sesungguhnya salah seorang diantara kamu mengerjakan pekerjaan ahli neraka sehingga tidak ada antara dia dan neraka kecuali sehasta saja, maka ia didahului ketentuan Allah atasnya, lalu ia mengerjakan pekerjaan ahli syorga, maka masuklah ja kedalam syarga. (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Dalam sebahagian riwayat Al Bukhari, SAW, telah bersabda : “Sesungguhnya seorang hamba melakukan pekerjaan ahli neraka, padahal ia dari ahli syorga, dan ia melakukan pekerjaan ahli syorga padahal ia dari ahli neraka, daa sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupannya”.
Dari Sahl Bin Hanif r.a. dari Rasullah SAW. Beliau telah bersabda : “Barang Siapa yang memohon kepada Allah (peringkat mati sebagai syahid) dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengabulkannya walaupun ia mali diatas kasurnya”.
Telah bersabda SAW. didalam hadits yang lain : “Ketahuilah, sesungguhnya unak Adam it telah diciptakan Allah dalam beraneka tingkatan: diantara mereka ada yang dilahirkan sebagai mukmin, hidup sebagai mu’min dan mati sebagai mu’min. Dan diantara mereka ada yang dilahirkan sebagai orang kafir, hidup sebagai kafir dan mati sebagai mu’min”. (HR. Abu Sa’id Al Khudri r.a.).
Telah bersabda SAW. : “Allah telah menciptakan Adam lalu ditepuk bahu kanannya, maka Allah mengeluarkan keturunan yang putih bersih, mereka bagaikan susu. Kemudian ditepuknya pula bahunya yang kiri, maka Allah mengeluarkan keturunan yang hitam bagaikan arang, kemudian Allah berfirman : “Mereka (yang putih) di syorga dan Aku tidak perduli, dan mereka (yang hitam) di neraka dan Aku tidak perduli”. (HR. Ibnu ‘Asakir dari Abi Darda’).
“inilah ketentuan yang mendahului yang memberi khabar gembira dengan “Khusnul khatimah” yang menyusul (diakhir hayat) atau sebaliknya yaitu yang terjadi sesudahnya, maka “kita ini adalah milik Allah dan kepadanya akan kembali” dan sesungguhnya kita akan kembali kepada Allah dan cukuplah bagi kita Allah sebaik-baik pemberi pertolongan dan sebaik pemberi perlindungan” dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah Yang Maha Tinggi Lagi Maha Agung”.
telah bersabda SAW. : “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hamba, ia (akan) dipeliharanya”. Ada yang bertanya : “Bagaimanakah (caranya) ia dipelihara ? Beliau bersabda : “(orang itu) akan diberi taufik untuk melakukan amal salih sebelum datangnya kematian, temudian (barulah) dicabut ruhnya”.
Dan Ibnu ‘Abbas r.a. ia telah berkata : “Kerika itu aku berada didekat Nabi SAW. Lalu beliau berpaling kepadaku seraya berkata : “Wahai nak. peliharalah (hubunganmu dengan) Allah. niscaya engkau akan mendapatkan-Nya (berada) di hadapanmu. Atau beliau bersabda : dimukamu.” Kenallah (ingatlah kepada Allah disaat engkau dalam kebahagiaan (niscaya) Dia akan mengenalimu di saat engkau dalam kesusahan. Jika engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. dan jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah kepada Allah. (Ketetapan) Al Oalam telah berlaku seperti apa adanya. Seandainya seluruh makhluk berusaha memberi manfaat kepadamu aras apa-apa yang belum ditentukan Allah, bagimu, niscaya mereka tak akan mampu. Dan Seandainya mereka berusaha mencelakakanmu atas apa-apa yang belum ditentukan Allah bagimu, niscaya merekapun tak akan mampu melakukannya”.
Jika dapat beramallah dengan penuh kesabaran dan keyakinan, maka lakukanlah! dan seandainya tak dapat, maka bersabarlah! Karena didalam sabar itu, terdapat banyak kebajikan. Dan ketahuilah, bahwa pertolongan Allah terletak pada kesabaran, kelapangan hati akan datang setelah hilangnya cobaan, dan kemudahan akan datang setelah lenyapnya kesulitan”.








One Comment