FASAL KE-EMPAT: MENGENAI MAKNA AL-ISTIGHFAR
Para Ulama berkata : “Lafazh istighfaar adalah dapat diganti dengan ucapan ( ). Mereka berkata bahwa makna Al Istighfaar adalah permohonan ampunan dari Allah Ta’ala. Telah diterangkan sebelumnya dari Fudhail bin ‘Iyadh bahwa apabila seorang hamba mengucapkan ( ) tafsirannya adalah “hapuskan”, Ini terambil dari kata artinya atau penutup. Maka arti ( ) adalah : ditutup dan dihapuskannya dosa. Begitu juga dengan kata ( ) maknanya dihapuskannya semua dosa. Dia berkata : “Maghfirah atau ampunan itu, tidaklah dapat diraih kecuali karena kurnia Allah Ta’ala semata. Para Ulama berbeda pendapat, apakah ( ) lebih utama dari Dan yang betuladalah”( ) “( )” lebih utama, karena ia mempunyai beberapa tingkatan, antara lain pengampunan atas bermacam-macam maksiat dan pengampunan atas kelalaian dari mengingat Allah ( ) dan ini khusus bagi orang-orang ‘arif. Dan intinya adalah pengampunan atas dosa yang terdahulu dan yang terkemudian, dan itu tidak terjadi pada diri seseorang di dunia ini, kecuali pada diri Nabi kita Muhammad SAW. Karena itu beliau menjadi pemilik kedudukan yang terpuji dan syafa yang agung). Kepada beliaulah ditujukan hadits syafa’at yaitu :
“Pergilah kamu sekalian kepada Muhammad SAW. ia seorang hamba yang jelah diampuni dosanya yang terdahulu dan yang terkemudian”. Ketika Allah Ta’ala telah memberikan ampunan yang sempurna kepadanya, yang meliputi di dunia, maka hilanglah rasa kesedihan karena malu dan berdirilah dalam kedudukannya sebagai pemilik kebenaran dengan penuh keceriaan dan sanjungan, maka bersabdalah beliau :
” (Aku untuk ummatku…..aku untuk ummatku. …), sedang seluruh para Nabi SAW. secara mutlak tidak mengisyaratkan memperoleh ampunan di dunia, dan mereka hanya dijanjikan memperolehnya diakhirat saja. Karena itulah isyarat do’a Nabi Ibrahim a.s. :
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu-bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari-kiamat)”. (QS. Ibrahim : 41).
“Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”. (QS. Asy Sy’araa’ : 82).
(PENUTUP )
Dalam membenarkan makna At Taubah, syarat-syaratnya, fardhu-fardhunya, kesempurnaannya dan apa-apa yang dapat membantu untuk memperolehnya, Seperti yang kami janjikan pada permulaan Kitab ini, sesuai ucapan Sayyiduna Umar ra. Setelah sempurna istighfaar 11x, diteruskan dengan ucapan dengan dasar keterangan Al Taubat dan Alhadits. Adapun ayat-ayat yang berhubungan dengan “At Taubah” adalah firman Allah Ta’ala .
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubar yang semurni-murninya”. (QS. At Tahrim : 8).
“Dan barang siapa yang tidak bertaubat. maka mereka itulah orang-arang yang zalim”. (QS. Al Hujuraat :11).
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah. hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS. An Nuur : 31). .
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS. Al Bagarah : 222).
Adapun hadits-hadits yang berhubungan dengan taubat antara lain, . seperti yang diriwayatkan oleh Abu Said r.a. bahwa Rasulullah SAW. telah bersabda :
Dahulu kala ada seorang yang telah membunuh 99 orang lalu ia bertanya tentang orang yang paling ahli ibadah. Ia diberi petunjuk kepada seorang Rahib. Maka datanglah ia kepadanya seraya berkata : “bahwa ia lelah membunuh 99 orang, apakah ia masih bisa bertobat? Rahib itu berkata Tidak”, Lalu iapun membunuhnya pula hinggu genap 100 orang.
Kemudian ia (si pembunuh) bertanya tentang seseorang yang paling Alim, Lalu ia diberi petunjuk kepada seorang ‘alim, dan datanglah dia kepadanya seraya berkata bahwe ia telah membunuh 100 orang, apakah masih ada harapan memperoleh taubat? Ia (orang alim itu) berkata: “Ya dan siapakah yang menghalangi antara engkau dan taubat itu? Pergilah (sekarang) engkau ke negeri anu…. disana engkau akan menjumpai orang-orang yang menyembah Allah. Beribadahlah bersama mereka, dan janganlah engkau kembali ke negerimu, karena negeri itu negeri yang buruk.
Lalu pergilah ia menuju negeri yang ditunjukkan oleh orang ‘alim itu. Dan ketika ia telah tiba dipertengahan perjalanan, tiba-tiba datanglah malaikatul-maut mencabut ruhnya. Maka berselisihlah antara Malaikar Rahmah dan Malaikat ‘Azab mengenai nasib si pembunuh ini. Maka berkatalah Malaikat Rahmah: “Sesungguhnya ia telah datang sebagai or. ang yang bertaubat dengan sepenuh hatinya menghadap Allah Ta’ala” Dan berkatalah Malaikat Azab : “Sesungguhnya ia belum melakukan sesuatu amal kebajikanpun”.
Kemudian datanglah malaikat yang lain dalam rupa manusia, dan ia dijadikan sebagai penengah mengenai nasib orang yang telah menjadi mayyit itu. Kemudian ia berkata: “Ukurlah jarak antara negeri asalnya dengan negeri yang dituju, mana yang lebih dekat dari keberadaannya sekarang, maka itulah bagiannya. Lalu mereka pun mengadakan pengukuran dan didapatinya bahwa negeri tujuan lebih dekat kepadanya satu hasta, maka diambillah ia oleh Malaikat Rahmah”. (Dikeluarkan oleh Syaikhan).
Didalam riwayat lain ditambahkan : “Maka ketika tiba di suatu jalan, maupun menjemputnya maka mengarahlah dengan dadanya ke arah negeri yang shalihah (baik), lalu ia dijadikan termasuk ahli negeri itu”
Telah bersabda SAW.: “Seandainya kamu sekalian telah melakukan kesalahan sehingga mencapai awan dilangit, kemudian kamu bertaubat, pasti Allah akan memberi taubat kepadamu”.
Diriwayatkan dari Al Hasan bahwa ia telah berkata : “Ketika Allah SWT. telah memberi taubat kepada Nabi Adam a.s., para malaikat pun memberikan ucapan selamat kepadanya, lalu turunlah Jibril a.s. dan para Malaikat a.s. itu seraya berkata: “Hai Adam, berbahagialah engkau atas pemberian taubat dari Allah SWT. kepadamu”. Maka berkatalah Adam : “Hai Jibril, sekiranya sesudah pemberian taubat ini masih ada permohonan maka dimanakah kedudukanku?”. Kemudian Allah SWT. mewahyukan kepadanya (dengan firman-Nya) : “Hai Adam, engkau telah mewariskan kepada keturunanmu rasa lelah dan capai, sedang Aku mewariskan untuk mereka “taubat”, maka siapa saja dari mereka yang berdo’a kepada-Ku, Aku kan penuhi seperti engkau ketika memenuhi panggilan-Ku, dan siapa yang memohon ampunan, Aku-pun tidak kikir atas ampunan itu, karena Aku adalal! Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan segala do’a. Hai Adam, Aku akan menghimpun orang-orang yang bertaubat dari kubur mereka dalam keadaan gembira ria, tertawa ria, karena do’a mereka telah Ku-kabulkan”.









One Comment