(PEMBAHASAN MENGENAI RUH)
Telah meriwayatkan Syaikhan dan Atturmudzi dari ibnu Mas’ud ra. ia telah berkata :”Rasulullah SAW. telah berlalu melewati beberapa orang Yahudi. Sebahagian mereka telah berkata:” Tanyakan kepadanya tentang ruh, dan sebahagian pula telah berkata:”Janganlah kalian menanya kepadanya, agar dia tidak mendengarkan kepadamu apa-apa yang kamu tidak sukai”. Mereka berkata:?Wahai Abal-Qosim (Gelar Nabi SAW)berbicaralah kepada kami tentang ruh!. Kemudian beliau berdiri sejenak sambil memandang. Maka akupun tahu bahwa beliau sedang memperoleh wahyu. Lalu beliau bersabda :
(Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. katakanlah :” Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit) (OS. Al-Isra’ : 85) Dalam riwayat Turmudzi dari Ibnu ‘Abbaas r.a., mereka berkata:” Kami telah diberi ilmu yang banyak dan kami telah diberi Taurat, dan barang siapa yang diberi Taurat berarti telah diberi ilmu yang banyak, maka tarunlah:”
(Katakanlah:”Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis kalimat Tuhanku).
(Dari Ali dan ibnu Abbaas r.a. bahwa Ruuh adalah seorang Malaikat yang momiliki 70.000 wajah, setiap wajah memiliki 70.000 lidah, setiap lidah memiliki 70.000 bahasa, dengan bahasa-bahasa itu semua, dia (Malaikat itu) bertasbih kepada Allah. Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi menciptakan dari setiap tasbih itu seorang Malaikat yang terbang bersama-sama Malaikat (lainnya) hingga hari kiamat).
(Dari Alhasan bahwa Arruuh itu adalah Alqur’an dan disaksikan oleh firman-Nya Ta’ala :”
(Dan demikian Kami wahyukan kepadamu wahyu (Alqur’an) dengan perintah kami). (OS: Asysyuura : 52)
adalah dari wahyu-Nya dan dari sebagian Jama’ah ahli tafsir : (bahwa ruh adalah yang dengannya dapat hidup semua makhluk yang hidup). ,
(Dari Ali bin Isa:”ruh itu adalah suatu jism yang halus bagaikan udara yang terdapat pada setiap bagian makhluk yang hidup: Ia berkata:”Maka semua makhluk yang hidup ada badan dan ada ruh”).
Imam Annawawi didalam kitabnya”Almajmu”telah berkata:”Para sahabat kami berkata:”Ruh itu adalah berjenis laki-laki dan perempuan, lagi merupakan jism yang halus ”.Telah berkata Asysyaikh Jalaluddin Assayuthi:”Ruh adalah ilmu Allah yang kita sendiri tidak mengetahuinya, karena itu kita membatasi diri dari ””menguraikannya”. sesuai firman Allah Ta’ala :
(Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. katakanlah :”Roh itu termasuk urusan Tuhanku). (OS. Al-isra : 85)
(BAB KETIGA : MENGENAI PENGETAHUAN TENTANG AOAL, RUH DAN JIWA)
Ketahuilah ! semoga Allah memberi petunjuk kepadamu, bahwa akal, ruh dan jiwa itu termasuk dari kehalusan ruhaniah yang disusun oleh Allah SWT. pada manusia yang telah diaturnya dengan kekuasaanNya sekehendakNya dan dengan kekuatanNya, Maha Suci Allah SWT…………..
(Adapun akal), ia adalah nur mulia yang lebih halus dari ruh sedangkan jiwa adalah tempat jadinya Oleh dan berasal darinya, akal yang sempurna yang dahulu diciptakan Allah dari Nur DzatNy, yang paling mulia. Sebagaimana kami telah kemukakan pada ”BAB PERTAMA” sebelum ini, dan sumber pekerjaannya serta ruhaniahnya adalah dari ruh kejadian yang telah kami sebutkan bahwasanya ia merupakan asal dari segala arwah dan ia merupakan pula : /sumber wahyu yang diperintah. Dari situlah adanya sumber ilmu, kekuasaan dan iradat Ilahi, dan dari situ pula yang datang kepada Nabi SAW. sebagai ilham yang dibicarakannya lalu menjadi wahyu bagi beliau dan ilham bagi orang lain. Firman Allah Ta’ala : .
(Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Alqur’an) dengan perintah Kami). (OS. Asy-syura : 52)
Karena itu, kita melaksanakan As-sunnah sesuai Alkitab, karena ia merupakan wahyu yang disyari’atkan sesuai firmanNya :
(dan tidaklah yang diucapkannya itu(Alqur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan(kepadanya)).
Maka akal adalah nur yang bersifat ilham dan nur nurani yang dapat mengembangkan ilmu ma’rifah, kemampuan atas kehendak Ilahi yang bersumber dari “Ruhul Amri” yang datangnya dari Allah kemudian diletakkan pada ruh kehidupan yang dijadikannya tenang oleh Allah didalam hati yaitu ruh kehidupan pada badan. ‘”
(Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ja mendapat cahaya dari Tuhannya(sama dengan orang: orang yang membatu hatinya) (OS. Azzumar : 22)
(telah bersabda nabi SAW. :”Jika nur (petunjuk) itu masuk kedalam hati, hati itu akan merasa senang dan lapang).
Maka nur akal yang diilhamkan kepada manusia dengan ilmu kemampuan dan kehendak, itu adalah nur Allah yang diletakkannya pada hati seorang mu’min.
Kemudian diingatkan dengan firman-Nya:
(Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah) yaitu dihati orang mu’min yakni N. Muhammad S.A.W. –
(adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus) , ”
yakni dadanya (yang didalamnya ada pelita besar) ya’ni nur akal itu, (Pelita itu didalam kaca) ya’ni kaca hatinya (dan) kaca itu seakan-akan bintang(yang bercahaya)seperti mutiara) ya’ni diumpamakan hati dengan bintang mutiara yang ketika bersinar dengan nur akal, ilmu dan ma’rifah, maka dengan tampaklah dan mensifati sesuai firmanNya: –
(yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh disebelah timur (sesuatu) dan tidak pula disebelah barat(nya), ya’ni pohon ilmu dan ma’rifah yang ditanamkan oleh Allah Ta’ala dihati seorang hamba yang Mu’min yang didalamnya terdapat “hikmah Allah” dan hukumNya yang dengan hukum itu ta(hamba) memutuskan perkara dengan adil dan tidak condong kekanan atau kekiri, ketimur atau kebarat
(Yang minyaknya saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api) adalah yang dimaksud dengannya” nur ilmudan ma’rifah” yang dikembangkan oleh nur akal dari “Ruhul-Amri” dari Allah’azza wa Jalla. Adapun bahan itu seperti minyak yang dengannya bersinarlah lampu itu untuk menyinarkan nur cahayanya, maka nur itu bersatu dengan nur seperti itu pula, sesuai firman-Nya:
(Cahaya diatas cahaya (berlapis-lapis). Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu). (OS. Azzumar : 35) Inilah sifat akal dan nurnya yang indah mengalir dengan hikmah Allah yang tinggi, dan dalam hal ini terdapat dalil bahwa ketika akal diciptakan Allah, kemudian Allah berfirman kepadanya:”Menghadaplah!” maka japun menghadaplah, dan “Membelakanglah” maka iapun membelakanglah. Lalu Allah berfirman:” Demi kemuliaan dan kebesaranKu, aku tidak menyusunmu kecuali pada seorang yang paling Aku cintai yaitu Muhammad s.a.w. karena itu menghadapnya. Karena dia minta pertolongan akan ilmu dan ma’rifah dari Allah Azza wa Jalla, dan membelakangnya, karena meminta pertolongan kepada makhluk sesuai yang dititipkan Allah kepadanya. :
Kemudian Asy-syaikh Muhammad telah berkata:” Adapun jiwa adalah ruh yang halus, yang amat panas. Karena ia telah diciptakan Allah dari bagian atas dan yang pertama muncul dari akal yang sempurna seperti yang telah kami kemukakan, kemudian ia ditenangkan didalam otak yang merupakan bagian badan yang paling dingin dan paling subur yaitu agar perangainya berlaku sedang-sedang saja.
Ia berkata :” Otak atau , didalam kepala adalah bagaikan rumahnya panca indera yang dijadikan Allah s.w.t. sebagai sumber perasaan dan gerakan jiwa dan sumber dari kehendak Allah kepada manusia dan sumber rohani jiwa dari tempat turunnya ruhul gudus (ruh suci) yang zhahir dan merupakan wahyu Allah yang bathin.
Dari padanyalah, seperti yang telah turun kepada Nabi s.a.w. sebagai wahyu (turunnya Alqur’anul-Kariim kedalam hati beliau)sebelum beliau sendiri mendengar dari Jibril a.s Firman Allah Ta’ala :
(dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan) (OS. Asy-syu’araa : 193-194)
(Katakanlah : Ruhul-Oudus (Jibril) menurunkan Alqur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, dan menjadi petunjuk serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri(kepada Allah). (OS. Annahl :102)
Karena itu, sewaktu-waktu Nabi s.a.w. berbicara perihal : Alqur’an sebelum beliau mendengarnya dari Jibril a.s. Kemudian dilarangnya oleh Allah s.w.t. dari hal itu (membicarakan Alqur’an sebelum beliau mendengarnya) dan beliau dengar dihatinya yang dalam, dari wahyu Ruh-Alqudus, hingga mendengarnya terlebih dahulu dengan pendengaran yang zhahir atas hatinya dari Jibril a.s. yaitu agar beliau mantap terhadap apa-apa yang disampaikan Jibril a.s.. Maka dengan demikian beliau akan merasa pasti untuk disampaikannya wahyu kerasulan itu, dan juga merupakan bukti nyata terhadap apa-apa yang di wahyu kan kepada beliau S.A.W. Firman Allah Ta’ala :
(dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Alqur’an sebelum disempumakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah : “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan). (OS.Thaahaa:114)
Kemudian Asysyaikh Muhammad berkata:”Dasar perbuatan jiwa adalah bahwasanya Allah SWT. telah menjadikannya sebagai ruh perantara antara ruh(yang sebenarnya) dengan jasad. Maka tepinya yang bawah berhubungan dengan otak jasad yang merupakan permulaan indera, dan tepinya yang atas berhubungan dengan ruh. Karena itu jiwa akan menjadi tenang pada beberapa keadaan karena hubungannya dengan jasad yang tenang -ketika tidak bergerak. Dan terkadang bergerak yaitu ketika akan kehendak karena hubungannya dengan ruh kehidupan yang pertama. Mengingat peliknya masalah ruh ini, maka sebaiknya kita membatasi diri dengan firman Allah SWT.:
(Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah:”Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit). (OS. Al-Israa : 85)








One Comment