(PEMBICARAAN MENGENAI : MELIHAT ALLAH TA’ALA)
Telah berkata Al-Imam Annawawi didalam syarah Shahih Muslim mengenai sabdanya s.a.w. :
(Kamu sekalian mengetahui bahwasanya tidak seorangpun dari kamu sekalian yang dapat melihat Tuhannya, hingga ia mati).
Almaaziri berkata :”Didalam hadits ini ada peringatan ( )tentang tetapnya melihat Allah di akhirat, dan itu adalah menurut madzhab ahlil-haggi. Secara ma’nawi, walaupun melihat Allah itu mustahil, seperti yang diakui oleh kaum Mu’tazilah, tetapi tidak terikat dengan kematian. Kemudian Annawawi telah berkata : “Dan hadits-hadits yang memberi peringatan seperti ini, telah banyak diterangkan didalam Kitab Al-iman yang sebuhayian dengan ayat-ayat Alqur’an. Dan pemecahan maslahnya telah diterangkan dengan jelas. Kemudian Annawawi berkata : “Telah berkata Algoodhii :”Menurut madzhab ahlil-haggi bahwasanya (melihatAllah didunia tidak mustahil bahkan mungkin (saja). Kemudian mereka berbeda pendapat tentang kejadiannya. Adapun orang yang berpegang teguh dengan hadits ini, telah mencegahnya dengan merujuk kepada firman Allah Ta’ala :
l(Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui). (OS. Al-an’aam : 103) kepada orang yang berpendapat dapat melihat-Nya di dunia.
Dia berkata :” Demikian pula, mereka berbeda pendapat tentang Nabi s.a.w. telah melihat Tuhannya dimalam Israa”.
Pada kalangan orang-orang salaf yang terdiri dari para sahabat dan tabi’iin yang kemudian diiringi oleh para imam, ahli figih ahli hadits dan para peneliti, terdapat juga perbedaan pendapat yang cukup terkenal.
Kemudian ia berkata :” Kebanyakan orang menahan diri dari pendapat dapat melihat-Nya di dunia, karena dasar dari anak Adam adalah lemah untuk memikul resikonya, seperti tidak dapat dipikulnya oleh Musa a.s.di dunia (yaitu ketika memohon dapat melihat-Nya).
Untuk meyakinkan bahwasanya Rasulullah s.a.w. telah melihat Tuhannya pada malam peristiwa Isra’ wal mi’raaj dengan mata kepalanya sendiri, maka hal itu tidak mustahil dalam kedudukannya sebagai pemilik dari warisan ahlil yagiin yang diperkuat dengan :
(Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira didalam kehidupan didunia). (OS. Yunus : 62-64) dan firman-Nya :
(dan(dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimatkalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar). (0S. Yunus : 64) dan firman-Nya :
(Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (syorga) dan tambahannya). (OS. Yunus : 26)
Telah diterangkan’didalam tafsir bahwa yang dimaksud (tambahan) adalah melihat wajah Allah Yang Maha Mulia, walaupun melihat Allah di dunia ini mustahil sesuai yang disabdakan oleh Nabi Isa a.s. :
(Wahai para hawariyyin, laparkanlah perut kamu sekalian, semoga hati | kamu dapat melihat Tuhanmu), dan sesuai pula dengan yang tertera dalam hadits-hadits Oudsi, bahwa Allah SWT berfirman :
(Wahai hamba-Ku, kosongkanlah perutmu niscaya engkau akan melihatKu lepaaskanlah dirimu dari urusan duniawi-mu niscaya engkau akan sampai kepada-Ku).
(IMAN ITU BERTAMBAH DAN BERKURANG )
Ketahuilah bahwa iman adalah membenarkan dan meyakini. Telah berkata Umair bin Habib :” Sesungguhnya iman itu mempunyai tambahan dan kekurangan. Ada yang berkata :”Maka apakah tambahannya ?”. Ja berkata :”Jika kita berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya, maka itulah tambahan nya. Dan jika kita melupakan-Nya dan melalikan-Nya maka itulah kekurangan-Nya.
(Umar bin Abdul Aziz telah menulis kepada Addi bin Addi :”Sesungguhnya pada iman itu terdapat urusan-urusan fardhu, syari’at, hukum dan sunnah. Barang siapa yang menyempumakannya, maka ia telah menyempurnakan iman dan barang siapa yang belum menyempurnakannya (berarti) ia belum menyempumakan iman).
Sungguhnya mengherankan, jika ada orang yang berlainan pendapat bahwa orang yang melanggar itu akan mengalami perubahan keimanan “bertambah atau berkurang”, sedang hal itu sudah cukup jelas dan kekuatan iman dapat diumpamakan seperti kekuatan sescorang dimasa mudanya dalam keadaan sehatnya, kuatnya dan kepemudaannya. Dan perumpamaan lemahnya iman seperti lemahnya seseorang dalam keadaan sakitnya, lemahnya dan masa tuanya atau iman itu diumpamakan seperti :
(Seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya). (OS. Alfathu:29) dan lawanya adalah kebalikannya, yaitu maka orang yang berakal tidak mengingkari adanya tambahan dan kekurangan iman itu. Atau dapat pula perubahan iman itu dimisalkan seperti perubahan bulan ( ), dari bulan sabit hingga bulan purnama yang terkenal dengan yaitu malam ke 13, 14 dan ke 15 dan selanjutnya fahamilah sendiri. : Telah berkata Abu Ishaq Al-Asfaroonii :”Ahlul-hag telah sepakat bahwa semua yang diucapkan didalam Tauhid mengenai DUA KALIMAT: Yang pertama ” Bahwa semua yang tergambar didalam khayalan dan pemahaman, maka Allah tidaklah demikian. Yang kedua ” Meyakini bahwa DzatNya tidaklah menyerupai sesuatu dan terbebas dari sifat-sifat kekurangan. Hal itu telah diperkuat dengan firman-Nya :” (dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia). ‘ (OS. Al-Ikhlas:4)









One Comment